Rabu, 05 Agustus 2020

17 BAHAYA DUSTA DALAM ISLAM YANG WAJIB DIKETAHUI

 Edisi Kamis, 6 Agustus 2020 M / 16 Dzulhijjah 1441 H

Dusta ialah mengucap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau mengurangi dan melebih lebihkannya. Dusta umumnya dilakukan karena ingin mendapatkan keuntungan pribadi yakni dengan menipu orang lain. semua orang tentu memahami bahwa dusta ialah perbuatan dosa yang tercela dan tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Sebab itu selalu diajarkan oleh orang tua kepada anaknya atau seorang guru pada muridnya untuk tidak melakukan perbuatan dusta.

Dusta bukanlah perbuatan orang beriman dan tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Rasulullah bahkan terkenal dan diakui sebagai manusia terbaik yang memiliki sifat paling jujur di seluruh alam dunia ini. 

Kenapa dusta tidak diperbolehkan, tentu saja karena akan menimbulkan bahaya atau keburukan baik pada diri sendiri maupun orang lain, apa sajakah bahaya dusta ? Berikut ini bahaya dusta dalam islam.

1. Penyebab Masuk Neraka 

“Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kezaliman, dan kezaliman itu akan mengantarkan ke arah neraka”. (HR Bukhari muslim). 

Bahaya dusta dalam islam adalah masuk neraka seperti firman Allah tersebut, dusta merupakan perbuatan yang zalim karena menipu orang lain dan beresiko menimbulkan salah paham hingga pertengkaran sebab itu dusta tak boleh dilakukan. dusta memang termasuk dosa besar dalam islam.

2. Tidak Mendapat Syafaat Rasulullah 

“Sesudahku nanti akan ada pemimpin yang berbuat zalim dan berdusta, siapa yang membenarkan kedustaannya dan membantu kezalimannya maka tidak termasuk golongan dari umat ku dan aku juga tidak termasuk darinya dan ia tidak akan datang ke telaga (yang ada di surga)”. (HR Nasa’i).  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berdusta seumur hidup beliau, sebab itu nantinya di akherat pun beliau tidak akan memberi syafaat pada orang yang suka berdusta. 

3. Tidak Mampu Melewati Ujian 

“Sungguh telah kami uji orang orang sebelum mereka agar Allah mengetahui orang yang jujur dan mengetahui orang yang dusta”. (QS Al Ankabut : 3). 

Setiap hamba Allah tentu selalu diuji untuk mengetahui kadar keimanan mereka. Orang yang ketika mendapat ujian tidak mampu berpegang teguh pada syariat islam dan berbuat dusta tandanya ia menjadi seseorang yang tidak mampu melewati ujian Allah dan memiliki derajat yang hina. Iman dalam islam akan menghindarkan manusia dari dusta.

4. Rezekinya Tidak Berkah 

Mencari rezeki dengan jalan dusta tidak akan mendapat keberkahan, misalnya ialah pekerjaan yang berhubungan dengan menipu orang lain atau pedagang tidak jujur yang berbohong dengan melebih lebihkan barang dagangannya hingga membuat pembeli tertipu dengan niat menghasilkan keuntungan untuk dirinya sendiri. “Pendapatan seeorang yang terbaik adalah dari jerih payah tangannya” (HR Muslim). Cara menjadi orang sukses tentu bukan dengan cara berdusta.

5. Dilarang Rasulullah 

“Janganlah kamu berdusta karena sesungguhnya siapa yang berdusta akan masuk ke neraka” (HR Al Bukhari). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang umatnya berdusta dan selalu menganjurkan agar melakukan apapun dan selalu jujur dalam keadaan apapun, jika ada seorang yang beragama islam tetapi sering melakukan perbuatan dusta tentu merupakan tanda bahwa imannya sangat lemah dan tidak mau mengikuti perintah Rasul sehingga kelak ia dimasukkan ke neraka. manfaat jujur dalam islam wajib dipahami agar terhindar dari dusta.

6. Perbuatan Maksiat 

“Mereka itu adalah orang yang suka mendengar berita bohong dan memakan yang haram” (QS Al Maidah : 42). 

Jelas bahwa dusta adalah perbuatan maksiat yang menimbulkan dosa besar sebab termasuk perbuatan pengkhianatan terhadap kepercayaan orang lain. orang yang berdusta sama seperti melakukan perbuatan yang maksiat dan menipu banyak orang, umumnya orang yang demikian akan susah mendapatkan kepercayaan jika ke depannya kedustaannya terungkap.

7. Membawa Pada Kemunafikan 

Diriwayatkan oleh Malik dari Sofwan bin Sulaim dalam kitab Al Muwatha : “Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam : Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut? Beliau menjawab ya. Lalu beliau ditanya lagi, apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil? Beliau menjawab ya. Lalu ditanyakan lagi apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong? Beliau menjawab tidak!”

Jelas dari hadits tersebut bahwa seorang muslim kemungkinan bisa khilaf dengan menjadi penakut, menjadi bakhil atau pelit, tetapi tidak dengan dusta. Orang yang berdusta tandanya ia bukan termasuk golongan orang yang mukmin sebagaimana orang kafir terdahulu yang selalu menyebarkan kebohongan untuk mencelakakan umat muslim.

8. Menjadikan Ragu dan Bingung 

“Dan sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan kepada keraguan atau kebingungan”.(HR At Tirmidzi no 2518). 

Orang yang berdusta akan sering terlihat bingung dan ragu dikarenakan kebohongannya sendiri. misalnya ialah hari ini berdusta mengenai suatu urusan dan besok ketika ditanya ia akan bingung serta kemungkinan mengungkapkan kisah lain dengan cerita yang berbeda karena bingung akan ucapan dusta yang telah dikeluarkannya.

9. Memberi Keselamatan yang Semu 

“Katakanlah yang benar walau itu pahit”. (HR Ahmad). 

Penjelasan dari hadits tersebut ialah jika seseorang sedang berada dalam suatu masalah dan kemungkinan pada waktu itu bisa selama jika ia berbohong, mungkin pada saat itu ia akan selamat, tetapi tentu saja itu hanya keselamatan semu yang menyelamatkan sementara, nantinya ketika pihak yang didustai sudah menyadari, ia akan terkena bahaya karena menyampaikan urusan yang tidak benar.

10. Menimbulkan Pertengkaran 

Dusta yang dilakukan kepada banyak pihak dapat menimbulkan salah paham dan pertengkaran sehingga mengarah kepada perbuatan fitnah. Hal demikian wajib dihindari oleh semua dan dapat berpengaruh pada kadamaian di area sekitar tersebut. Dusta yang berhubungan dengan orang banyak juga berpotensi menimbulkan ketakutan dan menipu yang nantinya akan terus menyebar kepada orang lain.

11. Memperbanyak Musuh 

Dusta tentu memperbanyak musuh sebab tidak ada orang yang ingin didustai atau ditipu, ketika sudah mengetahui dusta yang dilakukan kepadanya, bisa saja orang tersebut akan merasa tidak diterima sehingga timbul permasalahan baru dan ke depannya tidak memiliki rasa percaya lagi sehingga menjadi musuh akibat kesalahan yang dibuat oleh pendusta tersebut.

12. Masa Depan yang Hancur 

Hal ini berhubungan dengan kepercayaan seseorang. Contoh bahaya dusta yang menimbulkan masa depan yang hancur ialah jabatan tertentu yang didapatkan dengan cara berdusta, misalnya dengan membuat ijazah atau dokumen palsu, hal tersebut sama saja menipu pihak perusahaan dan nantinya ketika pihak perusahaan mengetahui ia akan mendapat masalah dan beresiko kehilangan pekerjaannya.

Hal tersebut tentu dapat menghancurkan masa depannya sendiri karena tidak mendapat kepercayaan ketika mencari pekerjaan di tempat lain dan diberi predikat sebagai pendusta. Sebagai manusia memang lebih baik jujur dan apa adanya sehingga selamat dari kerugian dan terhindar dari marabahaya.

13. Mendapat Predikat Pendusta Seumur Hidup 

Orang yang berdusta dan kebohongannya diketahui oleh orang lain, walaupun ia bertaubat ia akan tetap mendapat predikat sebagai pendusta seumur hidupnya, orang akan sulit percaya kepada dirinya lagi. Hal tersebut tentu akan menyulitkannya dari berbagai macam urusan di masa mendatang dan jika ia berbuat jujur sekalipun orang orang akan tetap sulit mempercayainya.

14. Merusak Hubungan 

Dusta juga dapat merusak hubungan orang lain atau merusak hubungan pribadi seseorang tersebut dengan keluarga, misalnya ialah hubungan antara suami istri yang dipenuhi dengan kebohongan, misalnya salah satu tidak terbuka akan masalah keuangannya, akan hubungannya dengan teman temannya. Tentu akan memudahkan prasangka timbul hingga akhirnya sering terjadi pertengkaran dan tidak memiliki kepercayaan satu sama lain.

15. Hati Tidak Tenang 

Dusta tentu selalu menimbulkan rasa khawatir pada orang yang melakukan sebab ia takut akan terungkap kedustaan yang dilakukannya sehingga hatinya sering merasa tidak tenang dan khawatir. Dusta tersebut membuat hari harinya merasa tidak tenang dalam tidur ia tidak tenang, ketika bertemu orang lain pun ia tidak tenang karena terus menerus merasa khawatir.

16. Melahirkan Dusta yang Baru 

Bahaya dusta dalam islam ialah akan menimbulkan dusta yang baru sehingga juga menimbulkan dosa yang baru dan dosa tersebut terus berlanjut hingga tiada henti. Misalnya ialah seorang yang berdusta tentang suatu peristiwa yang tidak terjadi, esok harinya ketika seseorang menanyakan padanya tentang peristiwa tersebut ia akan membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongannya yang lama dan begitu seterusnya hingga akhirnya dusta yang dilakukannya terungkap.

17. Memiliki Sedikit Teman 

Orang yang berdusta bahayanya dalam islam ialah memiliki sedikit teman karena ia tidak mendapat kepercayaan dari orang lain. tentu dalam sebuah hubungan pertemanan diperlukan kejujuran dan merasa sakit hati ketika didustai apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh teman yang memiliki hubungan dekat dalam waktu yang lama sehingga ia akan sulit mendapatkan teman karena ia sulit mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

Demikian artikel tausiah 17 sore ini mengenai dusta dalam islam yang wajib untuk dihindari setiap umat muslim, semoga menjadi wawasan islami yang bermanfaat untuk kita semua dan dapat menjauhkan dari perbuatan dusta yang tercela. Terima kasih sudah membaca. 

Referensi : DalamIslam.com 

Semoga bermanfaat ....

17 AYAT-AYAT AL QUR'AN TENTANG KEDUDUKAN SUNNAH RASUL

Edisi Rabu, 5 Agustus 2020 M / 15 Dzulhijjah 1441 H

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur-an kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan hak dan wewenang untuk menjelaskan Al-Qur-an, sehingga dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah manusia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus (ash-Shirath al-Mustaqim). Tidak ada jalan yang benar melainkan jalan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, mengamalkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, berdakwah (mengajak) ummat Islam untuk berpegang kepada keduanya, serta konsekuen dan konsisten di atas keduanya.

Ummat Islam sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meyakini bahwa As-Sunnah merupakan sumber ajaran Islam di samping Al-Qur-an. Bahkan As-Sunnah adalah wahyu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: 

أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ, أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ… (أخرجه أحمد 4/131 ولآجرّى في الشريعة 1/415 رقم 97 وغيرهما بإسناد صحيح) 

“Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al-Kitab (Al-Qur-an) dan yang sepertinya bersamanya. Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al-Qur-an dan yang sepertinya bersamanya.”

Hadits shahih riwayat Ahmad (IV/131).

Di antara dalil lain yang menegaskan keotentikan As-Sunnah sebagai sumber hukum, bahwasanya Allah Ta’ala telah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup seluruh Nabi dan Rasul dan syari’atnya sebagai penutup syari’at sebelumnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada manusia untuk beriman dan mengikuti segala ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari Kiamat. Allah telah menghapus segala syari’at yang bertentangan dengan syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syari’at yang abadi dan terpelihara. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan bagi setiap muslim bila berselisih tentang sesuatu untuk kembali kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah.

 فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “

… Dan jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisaa’: 59].

Berikut ini 17 Ayat-ayat Al -Qur'an tentang kedudukan Sunnah  Rasul :

1. QS An Nisa : 59 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

2. QS An Nisa : 65 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

3. QS An Nisa : 69

 وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

4. QS Al Araf : 158 

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.

5. QS Al Anfal : 1 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.

6. QS Al Anfal : 20 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),

7. QS Al Anfal : 24 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.

8. QS Al Anfal : 46 

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

9. QS At Tawbah : 71 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

10. QS An Nahl : 44 

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,

11. QS An Nur : 56

 وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.

12. QS Al Ahzab : 21

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

13. QS Al Ahzab : 36 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

14. QS Muhammad : 33 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.

15. QS Al Mujadilah :13 

أَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ ۚ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

16. QS Al Hasyr : 7 

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

17. QS At Taghabun :12 

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Semoga bermanfaat...

Selasa, 04 Agustus 2020

17 PERISTIWA PENTING DI BULAN DZULHIJJAH

Edisi Selasa, 4 Agustus 2020 M / 14 Dzulhijjah 1441 H

Dalam kalender Hijriyyah, bulan Dzulhijjah biasa disebut dengan bulan haji. Bulan ini juga termasuk satu di antara bulan-bulan haram (mulia). Dalam kitab Tahdzib al-Asma’ disebutkan bahwa secara harfiah, dzulhijjah terdiri dari dua kata, yaitu dzu yang artinya pemilik dan al-hijjah yang berarti haji. Dinamakan Dzulhijjah karena sejak zaman Jahiliyyah, orang-orang Arab telah melakukan ibadah haji untuk melestarikan ajaran Nabi Ibrahim.

Beberapa hari yang lalu kita telah melalui salah satu momen agung dan mulia dalam Islam, mulai dari 10 awal bulan dzulhijjah, hari Arafah, idul-adha hingga hari tasyrik. Mungkin banyak dari kita yang sudah khatam mengenai keutamaan dan kemuliaan bulan ini. Disamping juga identik dengan ritual haji karena termasuk dari bulan haji dan puncak pelaksanaan ibadah haji serta bulan hari raya, bulan ini juga termasuk dari salah satu bulan haram yang diharamkan menumpahkan darah di dalamnya dan seluruh amal kebaikan hingga amal keburukan pada bulan ini akan dilipatgandakan dosa maupun pahalanya. Sebelum bulan ini berakhir, baiknya kita merefresh kembali ingatan kita dan menambah wawasan kita, betapa bulan ini sejak dahulu menjadi saksi akan manis dan getirnya perjuangan Rasulullah dalam medakwahkan ajaran Islam.

Dalam kitab Durrat al-Nasihin, Ibnu Abbas meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. bahwasanya di bulan ini terjadi berbagai peristiwa besar di antaranya,

1. Nabi Adam diampuni Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Tanggal 1 Dzulhijjah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni kesalahan Nabi Adam. Kesalahan inilah yang menyebabkan Nabi Adam dan istrinya diusir dari surga setelah memakan buah terlarang. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 1 Dzulhijjah, niscaya akan diampuni dosa-dosa kecilnya.

2. Nabi Yunus dikeluarkan dari dalam perut Ikan 

Tanggal 2 Dzulhijjah, do’a Nabi Yunus dikabulkan Allah dan dikeluarkan dari dalam perut ikan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada hari kedua di bulan Dzulhijjah, pahalanya sebanding dengan berpuasa selama satu tahun tanpa mendurhakai Allah.

3. Doa Nabi Zakaria dilahirkan 

Kemudian tanggal 3 Dzulhijjah, Allah mengabulkan do’a Nabi Zakariya yang menginginkan seorang putra. Padahal Nabi Zakariya waktu itu sudah berumur 120 tahun. Setelah beliau mengetahui Maryam, puteri angkatnya selalu mendapat rizki dari Allah, berupa buah-buahan musim dingin, maka tergugahlah hati Nabi Zakariya untuk berdoa’ kepada Allah agar diberi keturunan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 3 Dzulhijjah, semua keinginannya akan dikabulkan Allah.

4. Maryam melahirkan Nabi Isa 

Tanggal 4 Dzulhijjah, Nabi Isa dilahirkan oleh ibunya, Maryam di sudut kota Batlehem dalam kedaan sehat, meski sempat menggegerkan kaumnya. Pasalnya, ia terlahir dari seorang yang masih perawan. Barang siapa yang berpuasa di hari keempat dari bulan Dzulhijjah, maka Allah akan menghilangkan kesusahan hidup dan kefakirannya, dan kelak di hari kiamat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mulia.

5. Nabi Musa lahir dan diasuh dilingkungan Firaun 

Tanggal 5 Dzulhijjah, Nabi Musa dilahirkan dengan nama Yakubad di desa Uksur, Mesir. Beliau kemudian diasuh oleh Fir’aun dan berbelok menentang Fir’aun karena keangkuhan dan kesombongannya. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 5 Dzulhijjah, niscaya akan dihindarkan dari sifat munafik dan siksa kubur.

6. Pintu kebaikan dibukakan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam 

Tanggal 6 Dzulhijjah, Allah membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 6 Dzulhijjah, Allah akan menurunkan rahmat-Nya dan terhindar dari siksa selama-lamanya.

7. Pintu-pintu Neraka ditutup dan dikunci 

Tanggal 7 Dzulhijjah, pintu-pintu neraka ditutup dan dikunci, dan baru akan dibuka setelah hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 7 Dzulhijjah, maka akan terhindar dari 30 pintu kesusahan dan dibukakan baginya 30 pintu kemudahan.

8. Allah perintahkan Nabi  Ibrahim untuk membangun Kabah 

Tanggal 8 Dzulhijjah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Ketika bangunan Ka’bah telah jadi, Nabi Ibrahim merenung apakah yang ia lakukan mendapat pahala atau tidak. Maka disebutlah hari kedelapan dari bulan Dzulhijjah dengan yaum al-tarwiyah yang artinya hari merenung dan berfikir.

Ada yang mengatakan Nabi Ibrahim bermimpi mendapat tugas dari Allah untuk menyembelih Ismail. Maka, seharian Nabi Ibrahim berfikir apakah perintah itu benar-benar dari Allah atau dari Setan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah, Allah akan memberinya pahala yang nilainya hanya Allah yang tahu.

9. Nabi Ibrahim yakin mimpinya dari Allah 

Lalu tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim yakin betul bahwa mimpinya di malam kesembilan itu benar-benar dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bukan dari Setan. Hari ini disebut yaumu arafah karena tempat yang digunakan untuk menyembelih Nabi Ismail dinamakan Arafah. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama satu tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang.

10. Diwajibkannya Haji dan Beberapa Ketentuan Terkait Haji 

Pada bulan Dzulhijjah ini Rasulullah memerintahkan Abu Bakr untuk menjadi pemimpin dan penanggung jawab kaum muslimin yang hendak berhaji ke Baitullah. Abu Bakr membawa rombongan dari Madinah sebanyak 300 lelaki dan 20 ekor hewan sembelihan guna disembelih ketika haji. Pada bulan ini juga diberlakukan ketetapan baru bagi pelaksanaan ibadah haji yang menyelisihi tradisi jahiliyah terdahulu dan berlaku hingga hari zaman, yaitu “Orang musyrik tidak diperkenankan lagi untuk melaksanakan haji setelah tahun ini dan tidak boleh lagi thawaf dalam keadaan bertelanjang di sekitar Baitullah!” Ini terjadi pada tahun 9 hijriyah. Ketentuan itu dimaklumatkan tepat hari raya idul-adha, 10 dzulhijjah tahun 9 hijriyah. Pada tahun ini syariat ibadah haji diwajibkan bagi kaum muslimin sekali seumur hidup. Syariat ini akan tetap berlaku hingga akhir zaman. Pada bulan ini juga Nabi mengumumkan pemutusan janji dengan seluruh orang musyrik Arab dan memberi mereka waktu selama 4 bulan saja untuk menyerah. Ini Allah abadikan di awal surat at-Taubah atau surat al-Baraah.

11. Masuk Islamnya Umar bin al-Khathab 

Pada dasarnya, ketika berbicara tentang Umar, pembahasannya menjadi lebih personalistik, bukan sebuah peristiwa. Namun persona Umar mau tidak mau diakui oleh sejarah amat berpengaruh terhadap perjuang Islam dan kaum muslimin. Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Kami terus merasa mulia (tidak lagi merasa disepelekan) semenjak Umar masuk Islam.” (Thabaqat Ibn Saad III/204). Ini merupakan pengaruh yang amat besar bagi perjuangan Islam era awal yang masih diliputi dengan banyaknya pelecehan dan penyiksaan bagi umat Islam, dimana keislaman Umar menjadi pukulan besar bagi kaum musyrikin Makkah waktu itu. Sebab, salah seorang pemuka dan tokoh yang sangat mereka segani dan mereka hormati ternyata berpindah haluan kepada musuh yang sangat mereka benci. Kaum muslimin pada saat itu baru bisa melaksanakan shalat terang-terangan di Masjidil-Haram setelah sebelumnya selalu diintimidasi dan diganggu setelah Umar masuk Islam. Umar masuk Islam pada tahun keenam setelah kenabian atau tahun ke 7 sebelum hijriyah pada bulan dzulhijjah. Waktu itu Umar masih berusia 26 tahun. Ibn Masud mengatakan: “Keislaman Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat (dari Allah).” (Thabaqat Ibn Saad III/204)

12. Awal Keislaman Kaum Anshar 

Hijrahnya Nabi ke Madinah dan berhasilnya Nabi menjadikan Madinah sebagai pusat kekuatan dan basis pergerakan dakwah Islam bukanlah terjadi kebetulan dan tiba-tiba begitu saja. Namun juga melalui beberapa tahapan dan proses yang lumayan panjang. Dimulai semenjak 3 tahun sebelum hijriyah atau 10 tahun setelah kenabian.

Sudah seperti biasanya, pada bulan Dzulhijjah berbagai kabilah bangsa Arab berdatangan ke Hijaz guna melaksanakan ibadah haji. Mulai dari proses thawaf di Makkah hingga pelemparan jumrah di Mina, tepatnya di hari-hari tasyrik. Pada saat itulah Rasulullah mulai menawarkan diri beliau dan ajaran yang beliau bawa ke berbagai kabilah yang beliau temui. Semuanya menolak dan mengatakan: “Sukumu dan keluargamu sendiri yang jauh lebih mengenalmu ternyata tidak mau jadi pengikutmu!” Hingga muncullah 6 orang dari Kabilah Khazraj berasal dari Yatsrib (nama kuno kota Madinah) dan berhasil masuk Islam dengan izin Allah. Pertemuan itu terjadi di bukit Aqabah, Mina dan berlanjut dengan pengutusan Mush’ab bin Umair oleh Rasulullah untuk mendakwahkan Islam di Yatsrib.

13. Baiat Aqabah Pertama 

Peristiwa merupakan peristiwa lanjutan dakwah Islam di Yatsrib juga sebagai pra hijrah Nabi ke Madinah. Ini terjadi pada tahun berikutnya, yaitu tahun ke 2 sebelum hijriyah atau tahun ke 12 setelah kenabian. Terjadi di bulan yang sama, yaitu dzulhijjah. Di momen yang sama yaitu haji dan di tempat yang sama, yaitu bukit Aqabah di Mina. Peristiwa ini terjadi tanpa sepengetahuan kaum musyrik Quraisy. Rasulullah ditemui oleh 10 orang dari kabilah Khazraj dan 2 orang dari kabilah Aus. Perlu diketahui bahwa kota Madinah sebelum Nabi hijrah dihuni oleh dua kabilah besar selaku pribumi asli, yaitu Khazraj dan Aus. Kedua kabilah ini terus dilanda perang satu sama lainnya selama kurang lebih 2 abad. Selain itu, di Madinah juga terdapat kaum Yahudi yang sedang menanti kedatangan Mesiah atau utusan terakhir yang akan muncul dari bukit Paran (daerah Jazirah Arab), dimana ia tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Muhammad sendiri. Setelah mereka tahu Nabi Muhammad berasal dari bangsa Arab, mereka pun mendustakan beliau. Baiat sendiri adalah ikrar atau janji setia yang menjadi bukti atas komitmen mereka terhadap Islam dan ajaran Islam. Isi baiat pertama ini mirip dengan baiat untuk kaum wanita yang terdapat di akhir surat al-Mumtahanah.

14. Baiat Aqabah Kedua 

Baiat ini juga terjadi pada waktu, tempat, dan momen yang sama. Namun setahun setelah baiat Aqabah pertama. Ini terjadi pada setahun sebelum hijriyah (tepatnya 3 bulan sebelum Nabi hijrah) atau tahun ke 13 setelah kenabian. Baiat ini dihadiri oleh 73 orang penduduk Yatsrib, dengan rincian 62 orang dari kabilah Kahzraj (60 lelaki dan 2 wanita) dan 11 orang dari kabilah Aus. Ke 73 orang tersebut diwakilkan oleh 7 orang dari kabilah Kahzraj dan 3 orang dari kabilah Aus. Bedanya, baiat ini bukan lagi sekedar baiat untuk komitmen di atas ajaran Islam. Tetapi juga baiat dalam arti militer dan politik, yaitu ikrar setia hingga mati untuk membela Rasulullah, loyal terhadap perintah beliau, mendengar dan taat terhadap seluruh istruksi beliau, baik dalam keadaan sulit maupun lapang, baik dalam hal-hal yang disukai maupun yang dibenci. Ini merupakat baiat perang atau baiat kenegaraan. Nabi membaiat seluruh yang hadir satu persatu dengan menjabat tangannya masing-masing, kecuali 2 orang wanita dari kabilah Khazraj yang datang bersama suami mereka. Beliau membaiat kedua orang itu hanya dengan ucapan, karena beliau tidak mau menyentuh wanita yang tidak halal bagi beliau. Ketika peristiwa baiat ini, Nabi ditemani oleh pamannya sendiri Abbas bin Abdul-Muthalib, hanya saja Abbas pada saat itu belum masuk Islam. Sebelum peristiwa pembaiatan, Abbas kembali menekankan agar kabilah Khazraj dan Aus benar-benar komitmen dan setia pada baiat mereka setelah mereka membaiat Nabi.

15. Eksekusi Atas Pengkhianatan Yahudi Bani Quraidzhah 

Rasulullah dan para shahabat mengadakan pengepungan kurang lebih 40 hari terhadap salah satu kabilah kaum Yahudi, yaitu Bani Quraizhah akibat pengkhianatan mereka terhadap umat Islam. Di awal hijrahnya Nabi ke Madinah, beliau telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum Yahudi yang berdomisili di sekitar Madinah. Namun tatkala terjadi perang Ahzab atau perang Khandaq yang bahkan namanya pun dijadikan sebagai nama surat di al-Quran, Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan dengan memberikan akses masuk kepada kaum musyrik melalui gerbang mereka ke Madinah, padahal Nabi dan para shahabat sudah bersusah payah menggali parit besar disekeliling kota Madinah atas usul Salman al-Farisi agar dapat menangkal infiltirasi aliansi pasukan (Ahzab) yang sudah bersiap-siap menyerang Madinah dan mengepungnya. Dengan izin Allah, pengepungan dan infiltirasi itu gagal setelah Allah kirimkan angin kencang untuk memorak-morandakan perkemahan aliansi pasukan kaum musyrikin Arab, ditambah kurangnya kepercayaan yang berhasil dibangun antara Bani Quraizhah dengan pasukan musyrik Makkah. Rasulullah mengepung dan memerangi kaum Yahudi Bani Quraizhah di perkampungan mereka semenjak bulan dzulqadah, sementara mereka hanya bisa bersembunyi di benteng mereka karena takut. Mereka mau berdamai dengan Rasulullah dengan syarat yang memutuskan sanksi atas pengkhianatan mereka adalah sahabat karib mereka dari kaum Anshar bernama Sa’ad bin Muadz, bukan Rasulullah. Tidak dinyana, Saad bin Muadz menjatuhkan hukuman mati bagi seluruh kaum lelaki dan menjadikan wanita serta anak-anak sebagai tawanan. Maka dieksekusilah 600 orang dari Bani Quraizhah, sementara anak-anak dan wanita dijadikan tawanan. Pengeksekusian itu terjadi pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun ke-5 hijriyah.

16. Pengiriman Surat Kepada Raja-Raja 

Salah satu yang membedakan antara Rasulullah dan risalah beliau dengan para rasul sebelum beliau adalah Rasulullah diutus untuk seluruh manusia, sebagai rahmat bagi semesta alam, dan risalah beliau berlaku hingga akhir zaman, sementara rasul-rasul dahulu hanya sebatas bagi kaumnya saja atau obyek dakwah yang Allah berikan kepadanya. Risalah mereka juga sifatnya temporer karena akan dan pasti dihapus setelah diutusnya Rasulullah. Beranjak dari sinilah Rasulullah mulai mengirimkan surat kepada raja-raja yang hidup semasa dengan beliau, termasuk kepada para pemimpin imperium super power yang menguasai dunia kala itu, yakni Romawi dan Persia. Butuh keberanian dan kejantanan tingkat tinggi untuk menulis surat kepada kaisar kedua imperium tersebut. Apatah lagi bagi para shahabat yang menjadi utusan pengantar surat kepada kedua kaisar itu, begitu juga kepada raja-raja lainnya. Ini terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun ke-6 H selepas beliau pulang dari Hudaibiyah dan selesai menghadapi perjanjian dengan kaum musyrikin Makkah ketika itu. Pada setiap surat yang beliau kirim, beliau bubuhkan cap stempel dalam bentuk cincin yang berisi kalimat “Muhammad Rasulullah”.

17. Haji Wada 

Haji Wada merupakan haji pertama sekaligus terakhir yang dilaksanakan oleh Rasulullah semenjak beliau hijrah ke Madinah.  Sebab, para ulama sepakat Rasulullah hanya berhaji sekali saja seumur hidup beliau semenjak ibadah haji diwajibkan. Dikatakan wada (perpisahan), karena pada saat haji inilah Rasulullah berkhutbah menyampaikan garis-garis besar ajaran Islam yang beliau bawa berikut kesempurnaannya dan menyampaikan tanda-tanda perpisahannya kepada umat Islam saat itu. Sebab, 3 bulan selepas itu Nabi Muhammad pun menghadap kepada Tuhannya Allah Azza Wa Jalla setelah selesai menyampaikan risalah-Nya yang agung di dunia ini. Beliau menyampaikan wasiat terakhir beliau di padang Arafah ketika khutbah Arafah di hari Arafah, 9 dzulhijjah tahun ke 10 hijiriyah. Diantara pesan beliau yang terakhir itu ialah agar kaum muslimin tidak berpecah belah dan tidak saling membunuh satu sama lainnya. Sebuah wasiat yang seharusnya dijadikan renungan oleh setiap muslim hari ini, terlepas dari apa saja latar belakang yang dianutnya dan agar menjadikan Islam sebagai tujuan dan ambisi hidupnya. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau kelak di surga-Nya Azza wa Jalla.

Aamiin... 

Referensi : Durrat al-Nasihin, Islami.co, Kiblat.com 

Semoga bermanfaat....