Selasa, 06 Oktober 2020

17 CARA MENDAPATKAN JODOH DALAM ISLAM BESERTA DALILNYA

Edisi Selasa, 6 Oktober 2020 M / 19 Shafar 1442 H

Setiap manusia, Allah ciptakan dengan fitrah saling mencintai dan menyayangi satu sama lain, khususnya terhadap mereka yang berlawan jenis. Fitrah ini Allah ciptakan bukan semata-mata karena untuk memenuhi hawa nafsu manusia saja, melainkan karena memang untuk membangun keluarga yang sakinnah ma waddah dan rahmah.

Dari rasa cinta dan kasih sayang itu pula lah akan lahir keturunan dan juga kelestarian di muka bumi ini untuk saling mendidik dan menjaga. Hal itu bukan sebagai tujuan dari hidup, melainkan bagian dari hidup manusia untuk selalu beribadah kepada Allah Subhanahu WaTa'ala.

Untuk itulah, manusia memerlukan jodoh atau pasangan hidupnya agar dapat hidup bersama, bekerja sama, dan saling membangun keluarga yang baik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran, Surat Asy-syuara ayat 11,

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

Mencari jodoh dalam islam, bukan semata-mata hanya karena perasaan cinta dan hawa nafsu semata. Jodoh dalam islam tidak terlepas dari fungsi manusia hidup di muka bumi ini. Muslim yang tidak memahami kedudukan jodoh dalam islam tentu juga akan salah mendudukan dan mencari jodoh yang terbaik dalam hidupnya. Bagaimanapun juga, proses pencarian jodoh memerlukan ikhtiar dan usaha, serta doa terbaik dalam diri kita.

Ada 17 cara untuk mendapatkan jodoh dalam Islam. Bagaimana, ini penjelasannya:

1. Memiliki Gambaran  Suami/Istri yang Baik. 

Allah Subhanahu WaTa'ala berfirman (QS Ar-Ruum ayat 21): “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.”

Setiap laki-laki dan perempuan yang hendak menempuh perkawinan harus mempelajari secara benar ciri-ciri laki-laki atau perempuan yang baik untuk menjadi pasangannya menurut ketentuan Islam. Dengan bekal inilah mereka akan dapat memilih dan menentukan mana calon yang baik dan mana calon yang tidak baik bagi dirinya. Dengan memiliki gambaran yang pasti seperti digariskan oleh Islam, insya Allah kehidupan suami isteri akan mencapai sasaran yang dikehendaki Allah Subhanahu WaTa'ala dan Rasul-Nya.

2. Mencari Informasi. 

Disebutkan dalam salah satu hadits: “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali: “Saya mempunyai seorang putri. Siapakah yang patut menjadi suaminya menurut anda?” Jawabnya: “Seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika ia senang, ia akan menghormatinya; dan jika ia sedang marah, ia tak suka berbuat zalim kepadanya.” (Fiqhus Sunnah II, Bab Nikah).

“Dari Aisyah berkata: “Kawin berarti perbudakan. Oleh karena itu, hendaklah seseorang memperhatikan kepada siapa ia lepaskan anak perempuannya.” (Fiqhus Sunnah II, Bab Nikah).

Kedua hadits ini memberi pelajaran kepada kita bahwa sebelum mencari jodoh atau menjodohkan, seseorang harus terlebih dahulu mencari informasi tentang seluk-beluk orang yang akan menjadi pasangannya atau pasangan orang yang dijodohkannya. Informasi yang lengkap tentang calon pasangan sangat diperlukan, baik oleh orang yang hendak melakukan perkawinan maupun oleh walinya.

Informasi tentang calon suami atau calon isteri harus teruji kebenarannya. Seseorang yang mencari informasi tidak boleh tergesa-gesa mempercayai suatu informasi. Ia sebaiknya menampung lebih dulu informasi yang datang dari berbagai pihak sambil menyelidiki dan menguji kebenarannya. Jika ternyata masih ragu akan kualitas calon suami atau calon isteri, lebih baik menunda keputusan untuk menerimanya.

Ringkasnya, muslim dan muslimah harus aktif mencari informasi tentang calon pasangannya agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri setelah hidup berumah tangga. Nasehat Hasan bin Ali dan Aisyah, isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hendaklah selalu diperhatikan agar pembentukan keluarga sakinah, penuh kasih sayang dan kebahagiaan seperti yang dianjurkan oleh Islam dapat tercapai.

3. Meneliti. 

Dari Mughirah bin Syu’bah, ia pernah meminang seorang perempuan, lalu Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepadanya: “Sudahkah kamu lihat dia?” Jawabnya: “Belum.” Sabdanya: “Lihatlah dia lebih dahulu agar nantinya kamu berdua bisa hidup bersama lebih langgeng (dalam keserasian berumah tangga).” (HR Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Hadist Hasan).

Penelitian kepada pasangan hanya bisa dibenarkan dengan cara-cara islami sebagaimana terurai dalam hadits berikut ini:

- Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (bila hendak menikahi seseorang perempuan) biasanya mengutus seorang perempuan untuk memeriksa aib yang tersembunyi (pada yang bersangkutan). Sabdanya kepada perempuan tersebut: “Ciumlah bau mulut dan bau ketiaknya; dan perhatikanlah urat kakinya.” (HR Thabrani dan Baihaqi).

- “Jangan sekali-kali seorang lelaki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya karena orang ketiganya nanti adalah setan, kecuali kalau ada mahramnya. “ (HR Ahmad).

Kesimpulan yang bisa kita tarik dari hadits ini. Pertama , mengirim utusan meneliti keadaan calon pasangannya. Utusan yang dikirim adalah perempuan jika yang diteliti calon isteri, dan laki-laki jika yang diteliti calon suami.

Kedua , tidak berkhalwat (berduaan). Berkhalwat atau berduaan seperti pacaran tak boleh dilakukan dalam Islam. Adapun jika yang bersangkutan ingin melakukan penelitian sendiri, pihak perempuan hendaknya ditemani oleh mahram lelakinya atau pihak laki-laki disertai saudara perempuannya atau keluarganya yang perempuan.

Ringkasnya, Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan agar calon pasangan melakukan penelitian sebelum memasuki jenjang perkawinan. Tujuannya adalah meyakinkan apakah pasangan yang dipilihnya benar-benar memenuni harapan dan keinginannya atau tidak. Dengan melakukan penelitian semacam ini diharapkan setiap muslim dapat mewujudkan keluarga sakinah penuh berkah bersama pasangannya.

4. Minta Pertimbangan. 

Dai Fatimah, putri Qais, bahwasanya Abu ‘Amr bin Hafsh telah menceraikannya untuk ketiga kalinya … Ujarnya: Ketika aku sudah selesai menjalankan iddah, aku beritahukan kepada beliau (Rasulullah) bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm melamarku. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Abu Jahm orangnya tak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya, sedangkan Muawiyah seorang yang melarat, tidak berharta. Oleh karena itu, kawinlah dengan Usamah bin Zaid. “Akan tetapi, aku tidak senang kepadanya.” Lalu sabdanya: “Kawinlah dengan Usamah bin Zaid!” Akhirnya, aku menikah dengannya. Allah azza wajalla memberikan kebaikan (kepadaku) dengan dirinya sehingga aku dicemburui (wanita-wanita lain).” (HR An-Nasa’i 6:75).

Seorang perempuan yang dilamar oleh laki-laki atau laki-laki yang akan mempersunting seorang perempuan, sebaiknya meminta pertimbangan lebih dahulu kepada orang yang dipercayainya mengenai keputusannya. Hal ini bertujuan agar perempuan/laki-laki tersebut mendapatkan suami/isteri yang baik sehingga kehidupan rumah tangganya memperoleh kebahagian dunia dan akherat.

5. Shalat Istikharah. 

Dari Jabir bin Abdullah, ujarnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam biasa mengajari kami melakukan istikharah dalam setiap urusan seperti beliau mengajari kami suatu surat dari Alquran. Sabdanya: “Bila seseorang bertekad untuk melakukan suatu urusan, hendakah ia shalat dua rakaat bukan wajib, lalu berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada Engkau pilihkan kebaikan untukku dengan pengetahuan-Mu; aku mohon pertolongan-Mu dengan kekuasaan-Mu; dan aku mohon kepada-Mu (mendapatkan) karunia-Mu, Tuhan Mahaagung, karena Engkaulah yang berkuasa, sedangkan aku tidak. Engkau Mahatahu, sedangkan aku tidak; dan Engkau Maha Mengetahui yang gaib. Ya Allah, kalau Engkau mengetahui urusan ini baik bagiku, agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku,” atau sabdanya: ‘…pada awal-awal urusanku dan akhir-akhirnya, tentulah dia untukku dan mudahkanlah dia untukku, kemudian berkahilah untukku dalam urusan ini. Bila Engkau tahu urusan ini tidak baik bagiku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku ini,’ atau sabdanya: ‘ … pada awal-awal urusanku dan akhirnya, jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku dari urusan ini dan tetapkanlah kebaikan bagiku di mana pun adanya, kemudian ridhailah aku dengan urusan itu.’” Ujarnya: Dan dengan menyebutkan apa keperluannya. (HR An-Nasa’I 6:81).

Istikharah berarti mohon dipilihkan yang baik atau mencari yang terbaik. Shalat Istikharah adalah shalat dua rakaat untuk meminta kepada Allah Subhanahu WaTa'ala agar diberi petunjuk untuk memilih yang terbaik di antara berbagai pilihan yang sedang dihadapi. Orang yang mengerjakan Shalat Istikharah dianjurkan membaca doa istikharah sebelum salam sesudah membaca tasyahud. Kalimatnya seperti tersebut dalam hadits di atas.

Sebelum mengambil keputusan memilih atau menerima calon isteri atau calon suami, kita hendaklah melakukan Shalat Istikharah. Insya Allah, dengan langkah ini akan diperoleh kemudahan dalam menentukan pilihan dan diperoleh jodoh yang dapat mengantarkan hidup kita diliputi kebahagiaan di dunia dan di akherat.

6. Memilih. 

Dari Yahya bin Sa’id, ujarnya: “Qasim bin Muhammad telah menceritakan kepadanya bahwa ‘Abdurrahman bin Yazid dan Mujamma’ bin Yazid Al-Anshari telah menceritakan kepadanya tentang seorang laki-laki bernama Khidzam yang menikahkan salah seorang anak perempuan nya, tetapi anak perempuan tersebut enggan dinikahkan oleh ayahnya. Ia lalu datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengembalikan persoalan tersebut kepadanya apakah menerima perkawinan yang telah dilakukan oleh ayahnya atau tidak. Ternyata anak perempuan itu memilih menikah dengan Abu Lubabah bin ‘Abdul Mundzir’. Namun menurut Yahya, kejadian ini terjadi pada perempuan janda. (HR Ibnu Majah).

Laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan yng sama dalam memilih jodoh. Pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam banyak perempuan yang berani datang kepada laki-laki untuk meminang. Oleh karenanya, kita tidak boleh beranggapan bahwa memilih jodoh hanya menjadi haknya laki-laki sehingga perempuan hanya dianggap sebagai objek pilihan.

Memilih pasangan merupakan hal yang penting bagi muslim atau muslimah sebelum memasuki gerbang rumah tangga. Muslim atau muslimah harus berhati-hati dalam memilih isteri atau suami agar tidak menyesal kemudian hari. Kekeliruan memilih akan sangat merugikan dirinya.

7. Mengusulkan kepada Orangtua. 

Allah Subhanahu WaTa'ala berfirman dalam QS Al-Qashash (28) ayat 26: “Salah seorang di antara kedua wanita itu berkata:’Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita) karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dipercaya.”

Masyarakat dan syariat Islam memandang bahwa mengusulkan jodoh kepada orang tua sebagaimana yang dilakukan putri Nabi Syu’aib bukanlah langkah tercela. Langkah ini ditempuh oleh keluarga terhormat (keluarga Nabi Syu’aib) sebagaimana diuraikan dalam Alquran. Hal ini dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada umat Islam bahwa mereka dapat menempuh langkah ini untuk mendapatkan jodoh. Anak perempuan yang menginginkan seorang laki-laki bisa mengusulkan kepada orang tuanya agar meminta lelaki yang bersangkutan menjadi suaminya. Demikian halnya anak laki-laki, ia bisa mengusulkan calon isteri kepada orang tuanya.

Dalam mengusulkan jodoh kepada orang tuanya anak harus memiliki persamaan pedoman dengan orang tuanya agar tercapai keinginannya. Keduanya harus ikhlas dan memiliki kesungguhan untuk mematuhi ketentuan agama guna menghindari munculnya perselisihan yang menimbulkan permusuhan antara orang tua dan anak dalam usaha mendapatkan jodoh.

Sebaliknya, terhadap calon yang diusulkan si anak, orang tua hendaknya melakukan pengenalan dan penelitian tentang akhlak dan kualitas keislamannya. Bila calon yang diajukan memenuhi syarat yang digariskan agama, tidak ada alasan bagi mereka untuk mempersulit atau menolaknya.

Ringkasnya, perempuan atau laki-laki yang tidak menginginkan terjadinya konflik dengan orang tuanya saat memilih jodoh, dapat menempuh langkah seperti yang dilakukan putri Nabi Syu’aib. Ia dapat meminta kepada orang tuanya untuk memeriksa dan meneliti calon yang diajukannya serta memberi kebebasan kepada orang tua untuk menyetujui atau menolaknya. Jika ternyata orang tua tidak setuju walaupun calon yang sudah diajukan memenuhi syarat-syarat agama, ia dapat mengadakan perundingan dengan orang tua berpedoman pada ketentuan agama. Sebalik nya, orang tua yang benar-benar taat kepada agama hendaklah meniru cara Nabi Syu’aib supaya keinginan anak dapat terlaksana dengan baik dan mendapat ridha Allah Subhanahu WaTa'ala. Insya Allah, dengan menaati dan mematuhi ketentuan agama, akan mudah diperoleh jalan untuk mendapatkan jodoh.

8. Meminang atau Menanti Pinangan. 

“Dan tidak berdosa kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu …” (QS Al-Baqarah (2) ayat 235).

Seorang laki-laki yang menginginkan seorang perempuan menjadi isterinya hendaklah meminang dengan cara yang baik. Cara berpacaran seperti yang berlaku di masyarakat jahiliyah atau masyarakat yang ingkar terhadap syariat Islam tidak dibenarkan. Seorang laki-laki hendaklah memiliki keberanian dan persiapan sehingga bila peminangannya ditolak, ia tidak berputus asa; dan jika diterima, hendaklah ia bersyukur kepada Allah Subhanahu WaTa'ala.

Adapun menanti pinangan yaitu menunggu datangnya seseorang yang bermaksud menjadikan dirinya sebagai isteri. Perempuan seringkali menunggu datangnya laki-laki untuk meminta dirinya menjadi isteri. Umumnya ia bersikap pasif dalam mendapatkan jodohnya, sedangkan agama tidak membatasi hal semacam ini.

Seorang perempuan yang menanti pinangan haruslah tetap menjaga ketentuan agama mengenai sifat laki-laki yang baik menjadi suami. Ini bertujuan supaya kelak ia tidak terjerumus ke dalam kehidupan rumah tangga yang merugikan dirinya sendiri. Ia tidak seharusnya tergesa-gesa menerima pinangan sebelum melakukan penelitian dengan baik , melakukan istikharah dan meminta pertimbangan kepada orang-orang yang jujur. Selain itu, dalam masa penantian ia perlu berdoa dan melakukan ibadah sunnah, seperti Puasa Daud, bersedekah dan shalat hajat agar diberi kemudahan oleh Allah Subhanahu WaTa'ala dalam mendapatkan jodoh.

Islam membenarkan laki-laki mengajukan pinangan, baik langsung maupun melalui orang ketiga untuk mendapatkan jodoh. Cara ini sudah berjalan berabad-abad dan tetap dipertahankan oleh Islam sebagai tatanan yang benar. Sebaliknya, wanita dibenarkan untuk menanti pinangan dari seorang laki-laki. Oleh karena itu, tidaklah tercela seorang perempuan bersikap pasif dalam mencari jodoh karena hal ini juga tidak terlarang oleh Islam.

9. Menerima Pilihan Orangtua. 

Seorang perempuan berkata (kepada Nabi): “Ayah saya telah menikahkan saya dengan kemenakannya agar dapat meringankan beban dirinya.” Ujarnya (rawi): Lalu beliau menyerahkan urusan ini kepadanya. Perempuan itu lalu berkata: “Saya benarkan apa yang dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin agar kaum perempuan tahu para bapak tidak mempunyai hak sedikit pun dalam urusan ini.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

Perkawinan antara seorang perempuan atau laki-laki dengan pasangan yang dipilihkan orangtuanya, sah menurut Islam. Oleh karena itu, seorang perempuan atau laki-laki yang dipilihkan jodohnya oleh orangtua tak perlu merasa hak-haknya diabaikan. Islam mengakui bahwa setiap orang bebas mendapatkan jodoh yang diinginkannya. Akan tetapi, bila ternyata yang bersangkutan tidak bisa mendapatkannya, sedangkan orangtua dapat mengusahakan, Islam membenarkan anak menerima pilihan jodoh dari orangtuanya.

Anak, perempuan atau laki-laki, yang dipilihkan jodohnya oleh orangtua hendaklah menanggapi secara baik. Jika calon tersebut memenuhi kriteria dan syarat yang digariskan Islam, hendaklah ia lebih mengutamakan pilihan orangtua daripada menantikan yang tidak pasti. Pada awalnya mungkin sekali anak tak tertarik kepada pilihan orangtua, namun ia bisa mengamati kelebihan calon pasangannya sebagai daya tariknya.

Ringkasnya, seseorang bisa mendapatkan jodoh dengan menerima pilihan orangtua. Selama calon yang diajukan oleh orangtua memenui kriteria yang digariskan oleh Islam, anak sebaiknya mempertimbangkan pilihan tesebut dengan baik. Insya Allah, langkah semacam ini akan membawa berkah yang besar bagi anak yang bersangkutan sehingga terhindar dari keterlambatan berumah tangga atau melajang seumur hidup.

10. Menerima Tawaran. 

Dari ‘Alqamah bin Qais, ujarnya: Saya pernah bersama ‘Abdullah bin Mas’ud di Mina, lalu pergi menyendiri bersama Utsman, kemudian aku duduk bersamanya, lalu ‘Utsman berkata kepadanya: ”Maukah engkau saya nikahkan dengan seorang budak perempuan yang masih gadis, supaya kelak dapat mengingatkan engkau kepada diriku mengenai beberapa peristiwa yang telah lalu?” Tatkala saya (‘Alqamah) mengetahui bahwa ‘Abdullah tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan itu, lalu ia memberi isyarat dengan tangannya kepadaku, lalu aku datang kepadanya, kemudian ia berkata: “Kalau engkau memang mau mengawininya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda: “Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang sanggup untuk menikah, hendaklah ia menikah, karena pernikahan itu lebih dapat memelihara pandangan dan memelihara kemaluan. Akan tetapi, barang siapa belum sanggup, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu merupakan pengebiri bagi dirinya.” (HR Ibnu Majah).

Tegasnya, muslim atau muslimah yang ditawari seseorang untuk dijadikan istri atau suami, baik oleh teman, kerabat, maupun majikannya, hendaklah menyambut dengan baik tawaran tersebut dan tidak menganggapnya sebagai penghinaan. Islam tidak mengganggap hina hal semacam ini, terbukti dilakukan kaum muslimin pada masa para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka adalah masyarakat muslim terbaik yang mendapat jaminan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjadi ahli surga.

11. Menerima Pilihan Pemimpin. 

“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka bila Allah dan Rasul-Nya menetapkan. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab (33) ayat 36).

Ayat ini diturunkan Allah Subhanahu WaTa'ala berkenaan dengan peristiwa yang terjadi pada diri Zainab yang dijodohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wadallam. Ia dijodohkan dengan Zaid bin Haritsah, seorang sahabat yang pernah menjadi budak beliau, yang kemudian dimerdekakan, lalu dijadikan anak angkatnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meminta kepada keluarga Zainab agar setelah Zainab dewasa dijodohkan dengan Zaid. Perjodohan itu pada awalnya ditolak Zainab dan keluarganya. Karena desakan Rasulullah, akhirnya Zainab dan keluarga menerimanya.

Kasus tersebut memberi gambaran kepada umat Islam bahwa jodoh bisa didapatkan melalui pemimpin. Seseorang bisa menerima jodoh pilihan pemimpin jika pilihannya memenuhi kriteria yang digariskan dalam Islam. Oleh karena itu, selama pemimpin tersebut bisa kita percayai akhlaknya, kemungkinan dia akan memilihkan jodoh yang baik.

Pemimpin yang bisa kita percayai sehingga kita menerima pilihannya yaitu orang-orang yang akhlaknya terpuji, pengetahuannya luas, rasa kasih sayangnya kepada orang lain besar, dan tidak pernah terlihat membuat susah orang lain. Pemimpin yang memiliki sifat-sifat semacam ini besar kemungkinan lebih mengutamakan kebaikan orang lain daripada kepentingan pribadinya.

Orang-orang dimaksud, misalnya pemimpin pesantren yang dikenal sebagai orang yang luas ilmunya, jujur, sangat prihatin akan nasib orang lain, dan suka membantu kesulitan orang lain. Atau pemimpin desa yang dikenal sangat memperhatikan nasib rakyat dan kebaikan masyarakatnya; atau pemimpin perusahaan yang sangat mengutamakan pembinaan agama karyawannya; atau pemimpin daerah yang sangat memperhatikan kepentingan rakyat dan berusaha memajukan kehidupan beragama rakyatnya; atau pemimpin suatu perkumpulan pengajian yang memperhatikan kepentingan anggotanya dalam usaha melaksanakan setiap ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ringkasnya, seseorang yang tidak mampu atau tidak berhasil mendapatkan jodoh dengan usahanya sendiri, bahkan dengan bantuan orang lain yang kurang berpengaruh di lingkungan masyarakatnya, bisa menempuh cara ini. Insya Allah, melalui campur tangan pemimpin yang dihormati masyarakatnya dan baik akhlaknya, dia bisa mendapatkan jodoh yang diharapkannya.

12. Minta Dicarikan. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada ‘Ukaf bin Wida’ah Al-Hilali: “Apakah engkau telah beristeri, wahai ‘Ukaf?” Jawabnya: “Belum.” Sabdanya: “Tidakkah engkau mempunyai budak perempuan?” Jawabnya: Tidak.” Sabdanya: “Bukankah engkau sehat lagi berkemampuan?” Jawabnya: “Ya, alhamdulillah.” Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Kalau begitu, engkau termasuk teman setan karena engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani. Hal itu berarti engkau masuk dalam golongan mereka, atau mungkin engkau termasuk golongan kami sehingga hendaklah kamu berbuat seperti yang menjadi kebiasaan kami, sedangkan kebiasaan kami adalah beristeri. Orang yang paling durhaka di antara kamu adalah orang yang membujang; orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang. Oleh sebab itu, sungguh celakalah kamu, wahai ‘Ukaf. Kawinlah!” ‘Ukaf lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak akan mau kawin sebelum engkau yang mengawinkan aku dengan orang yang engkau sukai.” Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Kalau begitu, dengan nama Allah dan dengan berkah-Nya, aku kawinkan engkau dengan Kultsum Al-Khumairi, wanita yang berbudi mulia.” (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah).

Seseorang yang tidak mampu atau sulit mencari jodoh sendiri, seperti yang dialami ‘Ukaf bin Wida’ah Al-Hilali, kemungkinan karena beberapa hal, di antaranya:

- Merasa minder meminang perempuan karena pendidikannya rendah, miskin atau wajahnya yang kurang tampan. Salah satu dari sebab-sebab ini membuat seorang lelaki tidak berani meminta seorang perempuan untuk menjadi isterinya. Orang semacam ini dapat meminta bantuan orang ketiga yang dipercayainya untuk mencarikan jodoh baginya.

- Takut melamar perempuan untuk dijadikan isteri karena perbedaan lingkungan budaya atau tradisi. Perbedaan budaya atau tradisi dikhawatirkan akan menjadi kendala dalam menciptakan pergaulan suami isteri secara harmonis. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak berani melamar walaupun si perempuan itu sangat ia cintai. Hal ini dapat diatasi dengan meminta orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang mau menerima keadaan dirinya dan bersedia meyesuaikan diri dengan tradisi dan budayanya.

- Tidak punya kesempatan untuk memilih jodoh yang benar-benar baik karena sibuk bekerja. 

Bila hal ini yang menjadi penyebabnya, dia dapat meminta jasa orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang diinginkannya. Cara ini memungkinkan dirinya mendapatkan orang yang hendak dijadikan isteri atau suami tanpa membuang waktu kerjanya.

Orang ketiga yang dimintai mencarikan jodoh hendaklah yang bisa dipercaya. Mereka ini harus kita pilih yang baik akhlaknya, amanah, dan tahu persis siapa yang pantas menjadi calon bagi orang yang meminta jasa baiknya, serta memiliki pengaruh dalam lingkungannya sehingga yang dimintai untuk menjadi isteri atau suami akan mempecayainya. Selain itu, dia harus orang yang cermat dalam mengamati kepribadian orang lain agar terhindar dari kecerobohan, misalnya memercayai orang yang tidak baik akhlak atau ketaatannya beragama. Dia hendaknya juga memiliki pengalaman mencarikan jodoh bagi orang lain.

13. Membalas Budi. 

Dalam perang melawan Banu Mushthaliq dikisahkan bahwa salah seorang yang ditawan oleh tentara muslimin adalah Barrah, putri Harits bin Dhirar, ketua suku tersebut. Umurnya baru 20 tahun, sebagai putri ketua umum, Barrah tentu mempunyai sifat-sifat berbeda dengan putri-putri lainnya. Ia berparas cantik lagi manis, menarik siapa saja yang melihatnya, juga pemberani.

Ia menjadi tawanan seorang sahabat Nabi yang bernama Tsabit bin Qais bin Syammas dan anak pamannya. Waktu itu ia mengajukan permintaan kepada tuannya (Tsabit bin Qais) supaya diizinkan menebus dirinya dengan cara mengangsur.

Dia pergi menjumpai Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hendak meminta tolong agar diperkenankan membayar tebusan supaya dirinya dimerdekakan. Dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam : “Ya Rasulullah, saya binti Harits, putri kepala kaumnya. Saya telah ditimpa malapetaka sebagaimana telah engkau ketahui. Saya menjadi tawanan Tsabit bin Qais dan anak pamannya. Saya mengharapkan pertolongan engkau, agar saya dapat dimerdekakan dengan membayar tebusan kepada tuan saya.”

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam seketika itu bertanya: “Apakah kamu mau yang lebih baik daripada itu?” Barrah berkata: “Apakah itu?” Nabi berkata: “Aku bayarkan utang kamu dan aku mengawini kamu.”

Ia kemudian berkata: “Ya, baiklah, ya Rasulullah, saya mau.”

Ketika itu Nabi lalu menyuruh seorang sahabat untuk menemui Tsabit bin Qais dan meminta supaya Barra binti Harits dibebaskan.

Oleh Tsabit, seketika itu Barrah diserahkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, lalu beliau membayarkan tebusannya dan memerdekakannya, kemudian mengawininya, dan mengganti namanya dengan Juwairiyah.

Apa yang bisa kita tarik pelajaran dari kisah ini?

Sorang laki-laki atau perempuan dapat mencontoh langkah yang telah dilakukan Juwairiyah untuk mendapatkan jodoh. Hal ini tidak berarti bahwa orang yang melakukan langkah ini tidak punya harga diri atau dianggap barang yang dapat dihadiahkan kepada seseorang yang telah berbuat baik kepadanya.

Sikap Juwairiyah menunjukkan bahwa dia telah mempergunakan hak asasinya dalam menentukan pilihan yang ditawarkan kepadanya. Hal itu menghapus anggapan tidak benar yang menyatakan bahwa balas budi untuk mendapatkan jodoh adalah cara yang rendah dan menjatuhkan martabat pelakunya.

Tegasnya, muslim atau muslimah tidak perlu merasa harga dirinya jatuh atau terhina karena menggunakan langkah semacam itu dalam mendapatkan jodohnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai orang yang lebih mulia daripada segenap manusia lainnya, membenarkan penggunaan cara ini sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadits di atas. Setiap hal yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pasti membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang mau mencontohnya.

14. Ikat Kerja. 

“Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang diantara kedua anakku ini bila kamu telah bekerja padaku delapan tahun; dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun, itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu. Sesungguhnya aku tidak hendak memberatkan kamu. Insya Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yag baik.” (QS Al-Qashash (28) ayat 27).

Peristiwa in tidak semata-mata dijadikan catatan masa lalu. Riwayat ini dikisahkan Allah Subhanahu WaTa'ala dalam Aquranulkarim agar dijadikan pelajaran bagi laki-laki muslim bahwa ikut kerja sebagaimana yang dilakukan Nabi Musa alaihissalam dan keluarga Nabi Syu’aib bisa membuka peluang bagi pemuda muslim untuk mendapatkan jodohnya.

Pada masa lalu, ketika ikatan persaudaraan dan tolong menolong dalam kebaikan begitu kuat dan mendarah daging di setiap jiwa masyarakat muslim, banyak keluarga kaya yang tak segan-segan mengambil menantu laki-laki dengan cara semacam ini. Karena kebaikan akhlaknya, tanggung jawabnya, ilmunya yang cukup, serta adanya kecocokan pribadi, lelaki yang semula menjadi pembantu keluarganya diambil menjadi menantu oleh majikannya.

Mungkin sekali seseorang yang ikut kerja atau diminta bekerja pada suatu keluarga atau perusahaan mendapatkann jodoh dari anggota keluarga majikannya atau rekan kerjanya. Hal ini mudah terjadi karena masing-masing pihak mengetahui lebih banyak kepribadian calon pasangannya.

Seseorang yang ingin mencari jodoh mempunyai banyak jalan. Jika satu jalan tidak berhasil, hendaklah ia mencoba jalan-jalan lain yang dibenarkan oleh syariat Islam. Dengan menempuh berbagai jalan, yang di antaranya ikut kerja pada seseorang, insya Allah ia berhasil mendapat kan jodohnya.

15. Menawarkan Diri. 

Dari Sahl bin Sa’ad bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah didatangi seorang perempuan, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menyerahkan diri kepada Tuan.” Ia berdiri lama sekali, kemudian tampil seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan perempuan ini seandainya Tuan tiada berhasrat kepadanya …” (HR Bukhari).

Tindakan seorang perempuan menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dijadikan isteri dalam bahasa Jawa disebut “ngunggah-ngunggahi”. Islam tidak memandang hal itu sebagai perbuatan tercela karena pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ada perempuan muslim yang pernah melakukannya seperti yang diriwayatkan dalam hadits barusan.

Ringkasnya, mendapatkan jodoh dengan menawarkan diri sebagaimana dilakukan para sahabat perempuan pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat utama untuk ditiru. Para muslimah sebaiknya mengambil pertimbangan bahwa hidup berumah tangga, lalu melahirkan anak saleh sebagai jaminan surga, adalah lebih mulia daripada melajang karena tak ada laki-laki yang melamarnya. Oleh karena itu, langkah menawarkan diri merupakan salah satu jalan baginya untuk membentuk rumah tangga yang diridhai Allah Subhanahu WaTa'ala.

16.Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh 

Dalam salah satu suratnya, Allah berfirman :

“Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [Al-Baqarah : 186].

Sebagaimana keinginan kita yang lainnya, maka bawalah persoalan jodoh kepada Allah. Satu-satunya Yang Maha Pemberi. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, sebutkan setiap kriteria yang kita inginkan secara spesifik dan jangan meminta secara tergesa-gesa. Niscaya Allah akan membukakan jalan untuk menemukan jodoh terbaik kita.

17. Berdzikir Dan Senantiasa beristighfar 

Salah satu keutamaan dari berdzikir adalah membukakan pintu-pintu rezeki. Mungkin saja dengan berdzikir, salah satu pintu rezeki yang dibukakan oleh Allah adalah kemudahan untuk bertemu dengan jodoh kita dan kelancaran untuk menuju ke jenjang pernikahan.

نْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Sama halnya dengan berdzikir, salah satu keutamaan beristighfar adalah Allah akan memberikan kelapangan dalam setiap kesulitan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Setiap kesulitan, bahkan termasuk jika kita merasa kesulitan dalam menemukan jodoh kita.

Seseorang pernah berkata bahwa mungkin saja dosa-dosa kitalah yang menjadi penghalang turunnya rezeki, rahmat dan kemudahan dari Allah untuk setiap urusan kita. Sehingga dengan istighfar, kita bisa sedikit demi sedikit menghapus penghalang-penghalang turunnya kemudahan dari Allah untuk segala keresahan dan kesulitan kita, termasuk dalam mencari pasangan hidup.

(Sumber : Langkah Mendapatkan Jodoh oleh Drs M Thalib, DalamIslam.com) 

Semoga bermanfaat....

Senin, 05 Oktober 2020

17 SIFAT MANUSIA DALAM AL-QUR'AN

 Edisi Senin, 5 Oktober 2020 M / 18 Shafar 1442 H

Manusia diciptakan Allah Subhanahu wa ta'ala adalah sebaik-baiknya bentuk dan kepadanya telah dihiasi aneka kebaikan di dalam dirinya. Perkara tampilnya manusia sebaliknya adalah karena kelemahan diri dan aneka godaan dari luar yang tidak dapat dihadapinya sehingga dirinya cenderung atau memperturutkan hawa nafsunya. 

Dikala manusia melakukan kesalahan diri dan orang yang melihatnya akan sepakat..”ya namanya manusia” atau”ya memang begitulah, manusia sudah kodratnya sebagai tempatnya salah khilaf dan dosa”…Lebih parah lagi ada orang yang beranggapan bahwa sifat buruk dan kasar seseorang adalah mengacu pada kodrat manusia sebagai makhluk kasar bukan makhluk halus. Bila hal ini demikian, terlihat persoalan dan segala sesuatunya selesai sampai disitu. 

Ada banyak sifat manusia yang digambarkan dalam Alquran. Penggambaran sifat-sifat ini akan membantu kita untuk lebih introspeksi diri sehingga menjadi manusia yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Seperti apa sifat-sifat manusia tersebut ? 

Baiklah dalam artikel tausiah kali ini kita membahas beberapa sifat manusia yang ada dalam Al Quran,  yaitu sebagai berikut :

1. Manusia itu lemah 

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)

2. Manusia itu gampang terperdaya 

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah” (Q.S Al-Infithar : 6) 

3. Manusia itu lalai 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (Q.S At-takaatsur  1).

4. Manusia itu penakut 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah 155).

5. Manusia itu bersedih hati  

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S Al Baqarah: 62)

6. Manusia itu tergesa-gesa 

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

"Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al-Isra’ 11)

7. Manusia itu suka membantah 

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (Q.S. an-Nahl 4)

8. Manusia itu suka berlebih-lebihan 

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (Q.S al-Alaq : 6)

9. Manusia itu pelupa 

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S Az-Zumar : 8 )

10. Manusia itu suka berkeluh-kesah. 

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20)

ا يَسْـَٔمُ ٱلْإِنسَٰنُ مِن دُعَآءِ ٱلْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ ٱلشَّرُّ فَيَـُٔوسٌ قَنُوطٌ

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat : 49)

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (al-Isra’ 83)

11. Manusia itu kikir 

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

“Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (Q.S. Al-Isra’ : 100)

12. Manusia itu suka kufur nikmat. 

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا ۚ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ

Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (Q.S. Az-Zukhruf  : 15)

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (Q.S. al-’Aadiyaat : 6)

13. Manusia itu zalim dan bodoh. 

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)

14. Manusia itu suka menuruti prasangkanya. 

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S Yunus 36)

15. Manusia itu suka berangan-angan. 

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Q.S al Hadid 14)

16. Manusia itu suka mengambil hak orang lain. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Firman Allah Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (Ataubah:34)

17. Manusia itu suka menghitung-hitung rezeki. 

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Firman Allah : Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(An Nahl:18)

Itulah 17 sifat manusia yang disebutkan dalam al-Quran. Mengerikan bukan? Adapun islam, sudah memberikan solusi untuk segala sifat buruk manusia ini.  Sungguh nikmat iman dan islam ini bukanlah sesuatu yang kita dapat dengan murah!

Solusi pertama, tetap berpegang teguh kepada tali agama dan petunjuk-petunjuk dari Allah 

Allah Subhanahu WaTa'ala berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38)

Solusi kedua, tetap berada dalam ketaatan sesulit apapun situasi yang melanda 

Tetap berada dalam ketaatan disini, berarti bersegera menyambut amal-amal kebaikan. Mungkin seperti syair yang dilantunkan Abdullah bin Rawahah untuk mengembalikan semangatnya saat nyalinya mulai ciut di perang mut’ah ketika dua orang sahabatnya yang juga komandan pasukan pergi mendahuluinya. “wahai jiwa, jika syurga sudah di depan mata mengapa engkau ragu meraihnya”

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. Ali Imran : 133)

Solusi ketiga, jaga keimanan kita 

adalah hal yang wajar, iman seseorang naik turun dan berfluktuatif. Sama mungkin seperti yang dikhawatirkan sahabat Hanzalah, ketika ia curhat kepada abu Bakar bahwa ia termasuk orang yang celaka. Mengapa demikian? karena ia merasa Imannya turun ketika jauh dari Rasulullah. Ternyata itu pula yang dirasakan lelaki dengan iman tanpa retak itu. Hinga mereka berdua akhirnya menghadap Rasulullah. Mendengar permasalahan mereka, Rasulullah hanya tersenyum dan menjawab, “selangkah demi selangkah Hanzalah!”

Tetapi sungguh, iman seorang mukmin yang baik, akan tetap memiliki trend yang menanjak.

Disinilah mungkin loyalitas kita kepada Allah diuji. Apakah kita bisa, belajar mencintai Allah diatas segala sesuatu, belajar mencintai sesuatu karena Allah, serta belajar membenci kekufuran!!!

Solusi keempat, Berjama’ah 

Manusia itu lemah ketika sendiri dan kuat ketika berjama’ah. Adakah yang meragukannya?

Referensi : Republica.id,Tafsirw.com

Semoga bermanfaat....

Minggu, 04 Oktober 2020

17 AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG PEMIMPIN-PEMIMPIN DAN AHLI KITAB YANG MENYESATKAN

Edisi Ahad, 4 Oktober 2020 M / 17 Shafar 1442 H

Kaum Ahli Kitab yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagian dari mereka selalu menginginkan untuk menyesatkan kaum muslimin.  Sikap seperti ini sebenarnya dilakukan juga oleh pemeluk agama lainnya. Mereka selalu melakukan berbagai aktifitas untuk melakukan pemurtadan terhadap orang-orang muslim. Sebenarnya mereka tidak akan mampu menyesatkan orang-orang muslim, karena mereka telah memiliki akidah dan keyakinan yang sangat kuat dalam diri mereka terhadap agama Islam. Sebaliknya, mereka itulah yang menyesatkan diri sendiri tetapi mereka tidak menyadari hal itu.

Dengan sikap pembangkangan sebagaimana disebutkan di atas, mengakibatkan mata hati mereka tertutup sehingga tidak lagi memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Sikap seperti itu dilakukan karena berbagai sebab, mungkin mereka menutup diri dari kebenaran, mungkin juga mereka bersikap hasad atau dengki terhadap orang-orang mukmin karena mereka memperoleh kesuksesan yang gemilang di bawah kepemimpinan Nabi akhir zaman, yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Keangkuhan atau sikap takabbur juga dapat mengantarkan seorang manusia bersikap keras dan kaku serta menolak kebenaran. Hal ini dapat dibuktikan dari para pembangkang yang selalu memusuhi para Nabi dan umatnya.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)”. (QS. Ali Imran, 03: 70).

Ayat ini mempertanyakan kepada kaum Ahli Kitab, mengapa mereka kafir, tidak mengikuti petunjuk kebenaran yang datangnya dari Allah Subhanahu wa ta'ala melalui Rasul yang terakhir. Padahal mereka mengetahui bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah kebenaran yang tidak terbantahkan. Mereka mengetahui informasi tentang Nabi Muhammad dari kitab-kitab mereka, baik Taurat maupun Injil. Tetapi mereka menyembunyikan informasi itu dan mengingkari kebenaran yang ada dari kitab mereka sendiri. Sikap seperti ini merupakan perilaku yang sangat tercela, karena mereka mengetahui kebenaran kemudian mencampakkannya, sebaliknya mereka mengambil jalan yang sesat.

Selain Kaum Ahli Kitab itu, menyembunyikan kebenaran, lalu mengambil jalan yang sesat, mereka juga mencampur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, padahal mereka mengetahui.

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”. (QS. Ali Imran, 03:71).

Berikut ini beberapa ayat Al Qur'an tentang pemimpin dan ahli kitab yang menyesatkan :

1. QS Al Maidah Ayat 77 

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus“.

2. QS At Tawbah Ayat 12 

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ ۙ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

3. QS At Tawbah Ayat 34 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih

4. QS Hud Ayat 59 

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

Dan itulah (kisah) kaum ´Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).

5. QS Hud Ayat 97 

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ ۖ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ

kepada Fir´aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir´aun, padahal perintah Fir´aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar.

6. QS Hud Ayat 98 

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۖ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ

Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.

7. QS Ibrahim Ayat 28 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?

8. QS Al Ankabut Ayat 12 

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu“, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.

9. QS Al Ankabut Ayat 13 

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.

10. QS Saba Ayat 31 

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ نُؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ

Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya“. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman“.

11. QS Saba Ayat 32 

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ ۖ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa“.

12. QS Saba Ayat 33 

وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا ۚ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya“. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.

13. QS Al Mumin Ayat 29 

يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ يَنْصُرُنَا مِنْ بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءَنَا ۚ قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَىٰ وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

(Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!“ Fir´aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar“.

14. QS Al Mumin Ayat 47 

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?“

15. QS Az Zukhruf Ayat 54 

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka Fir´aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.

16. QS Al Jatsiyah Ayat 19 

إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.

17. QS Nuh Ayat 24 

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

Semoga bermanfaat....