Sabtu, 03 April 2021

17 AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG HALAL

Edisi Sabtu, 3 April 2021 M / 20 Sya'ban 1442 H

Di dalam Al-Quranul Karim disebutkan banyak hal berkaitan halal dan haram. Robb kita ‘Azza Wa Jalla telah menghalalkan segala yang baik-baik bagi kita. Penting bagi setiap muslim untuk mengetahui halal dan haram agar tidak tersesat dan terjerumus ke dalam lembah kebinasaan. 

Maka dari itu kita diminta untuk belajar mengenai halal dan haramnya sesuatu, terutama masalah makanan. Jangan sampai kita salah dalam hal ini, karena segala yang halal dan yang haram telah jelas. Kalau kita masih terkena hal yang haram, maka bertaubatlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan jauhilah yang haram. Cukuplah bagi kita apa yang telah Allah Ta’ala halalkan.

Pada artikel tausiah kali ini kita akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran tentang halal. Mari simak ayat-ayat di bawah ini.

1. Q.S. Al-Maa’idah : 4 

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?." Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (Q.S. Al-Maa’idah : 4)

2. Q.S. Al-Maa’idah : 5 

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (Q.S. Al-Maa’idah : 5)

3. Q.S. Al-Baqarah : 187 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah : 187)

4. Q.S. An-Nisaa’ : 24 

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisaa’ : 24)

5. Q.S. An-Nisaa’ : 160 

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, (Q.S. An-Nisaa’ : 160)

6. Q.S. Al-Maa’idah : 96 

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Q.S. Al-Maa’idah : 96)

7. Q.S. Al-Hajj : 30 

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (Q.S. Al-Hajj : 30)

8. Q.S. Al-Ahzaab : 50 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۗ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Ahzaab : 50)

9. Q.S. An-Nahl : 116 

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Q.S. An-Nahl : 116)

10. Q.S. Al-Baqarah : 168 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Al-Baqarah : 168)

11. Q.S. Yunus : 59 

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?" (Q.S. Yunus : 59)

12. Q.S. Al-Anfaal : 69 

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Anfaal : 69)

13. Q.S. Al-An’aam : 119 

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-An’aam : 119)

14. Q.S. Al-Baqarah : 229 

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqarah : 229)

15. Q.S. Al-Maa’idah : 87 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Maa’idah : 87)

16. Q.S. Al-Maa’idah : 88 

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Q.S. Al-Maa’idah : 88)

17. Q.S. Ali ‘Imran : 93 

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ ۗ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya'qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar." (Q.S. Ali ‘Imran : 93)

Itulah berbagai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan dan membahas tentang kehalalan. Semoga tulisan ini menambah ilmu dan pengetahuan kita terhadap agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga bermanfaat....

Jumat, 02 April 2021

17 DOSA YANG BERULANG DALAM ISLAM

Edisi Jum'at, 2 April 2021 M / 19 Sya'ban 1442 H

Tiap orang tentu pernah berbuat dosa dan terkadang merasa menyesal akan dosanya tersebut dan bertaubat hingga tidak mengulanginya lagi karena sadar hal itu adalah sebuah kesalahan.  Bagaimana jika seseorang terus melakukan dosa berulang? misalnya yang umum di kalangan masyarakat saat ini ialah dosa ghibah dalam islam atau membicarakan orang lain, dimana hal itu sudah diketahui merupakan dosa lisan namun tetap saja dilakukan berulang. 

Tentunya manusia tidak ada yang aman dari kematian sesuai ayat tentang kematian dalam islam, bisa saja seseorang terambil nyawanya sebelum sempat bertaubat kembali. 

Setiap orang tentu tahu apa saja perbuatan buruk dan perbuatan baik, namun terkadang orang orang melakukan dosa yang berulang dengan alasan:

a. Dalam keadaan terpaksa, misalnya mencuri karena bahaya putus asa belum mendapatkan rezeki yang diinginkan.

b. Merasa masih memiliki umur panjang sehingga berfikir di hari selanjutnya dapat bertaubat karena dosa yang sama.

c. Merasa dosa yang telah dilakukan tidak berdampak terlalu buruk sebab tetap mendapat kenikmatan.

d. Merasa lupa akan prinsip dan janji taubat yang telah diucap yakni tidak akan mengulanginya lagi.

e. Merasa Allah akan selalu memberikan kesempatan dan mengampuni dengan doa pengampunan dosa padahal tidak ada yang bisa menjamin kapan datangnya hidayah dari Allah.

f. Tuntutan untuk berbuat dosa yang sama, misalnya pengaruh dari lingkungan dan kebiasaan, seperti kebiasaan ghibah ketika bertemu tetangga atau teman teman.

g. Tidak memiliki iman dalam islam yang kuat dan tidak paham mengenai pentinganya istiqomah dalam menjalankan kebaikan.

h. Merasa bahwa dosa yang dilakukan tidak besar dan tidak merusak keseluruhan amal kebaikannya yang lain.

Tentunya hal ini jangan dicontoh, wajib dihindari sebab mengulang ngulang dosa yang sama tentu berbuat dosa dosa seperti berikut ini :

1. Dosa Meneruskan Perbuatan Keji 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.  Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” SQ. Ali Imron: 135-136.

2. Dosa Berbuat Sesuka Hati (Tidak Memiliki Pendirian dan Hati yang Lurus) 

“Jikalau seseorang hamba itu melakukan sesuatu dosa lalu dia berkata: “Ya Allah, ampunilah dosaku,” maka berfirmanlah Allah Tabaraka wa Ta’ala: “HambaKu melakukan sesuatu yang berdosa, lalu dia mengerti bahwa dia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman sebab adanya dosa itu.

”Kemudian hamba itu mengulangi untuk berbuat dosa lagi, lalu dia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku,” maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “HambaKu melakukan sesuatu yang berdosa lagi, tetapi dia tetap mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman sebab adanya dosa itu.” Seterusnya hamba mengulangi dosa lagi lalu berkata:

“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku,” maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “HambaKu berbuat dosa lagi, tetapi dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman sebab adanya dosa itu. Aku telah mengampuni dosa hambaKu itu, maka hendaklah dia berbuat sekehendak hatinya.” (Muttafaq ‘alaih).

3. Dosa Meremehkan Azab Allah 

”…maka sampaikanlah nasehat kepadanya dengan perkataan yang lemah-lembut agar dia mengingat dan  takut kepada-Ku” (Thoha: 44)

4. Dosa Tidak Bersyukur Telah Diberi Kesempatan Taubat di Dosa Sebelumnya 

Jadi istighfarnya Rasulullah bukan karena beliau melakukan maksiat tetapi karena maqam syukur. Sayidah Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Rasulullah; “Untuk apakah engkau berbuat sedemikian, wahai Rasulullah, sedangkan engkau telah benar-benar diampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan yang akan datang?’ Rasulullah bersabda: “Tak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

5. Dosa Tidak Memanfaatkan Waktu untuk Kebaikan 

“Jika kamu terjatuh ke dalam dosa maka janganlah itu menjadi sebab engkau berputus asa daripada istiqomah bersama Allah, bisa jadi itu adalah dosa terakhir yang ditakdirkan kepadamu.”

"Ketika suatu kaum duduk dalam suatu majlis dan tidak ingat Allah, kelak mereka akan menyesal. Dan ketika seseorang berjalan pada suatu perjalanan tidak juga ingat kepada Allah, mereka pun kelak akan menyesal (merugi). Dan, ketika seseorang berbaring di kasurnya dan tidak berdzikir kepada Allah, ia pasti akan menyesal.” (HR. Ahmad).

6. Dosa Lemah dalam Istiqomah Taubat 

“Setiap anak Adam berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang bersalah adalah orang yang bertaubat.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi) “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak dosa, tapi banyak bertaubat.” (Hadits riwayat Imam Ahmad).

7. Dosa Melakukan Hal Sesat yang Sebelumnya Sudah Diketahui 

“Dan siapakah yang berputus asa dari kasih-sayang Tuhannya melainkan orang-orang yang sesat.” (Al Hijr: 56).

8. Dosa Berputus Asa atas Jalan Kebaikan 

“Katakanlah hai Hambaku yang telah terlampau terhadap dirinya, janganlah kalian berputus asa daripada kasih-sayang Allah…” (Az-Zumar: 53)

9. Dosa Mengingkari Janji Terhadap Allah 

Dikatakan kepada Hasan Al-Basri, ‘Apakah salah satu diantara kami tidak merasa malu dari Tuhan-Nya, memohon ampunan dari dosa-dosanya kemudian diulangi lagi, beristigfar kemudian dialangi lagi? Beliau mengatakan, ‘Syetan berharap kalau menang dari kamu semua dengan ini, maka jangan bosan dengan istighfar.

10. Dosa Mengikuti Bisikan Syetan 

Sebagaimana Allah Ta’ala marah dengan kemaksiatan dan diancam dengan dosa. Karena sesungguhnya (Allah) tidak menyukai hamba-Nya yang putus asa dari Rahmat-Nya Azza Wajalla. Dia senang orang yang bermaksiat meminta ampunan-Nya dan bertaubat kepadaNya. Syetan berkeinginan kalau seseorang hamba jatuh dalam keputusasaan agar terhalangi dari taubat dan kembali (kepada-Nya).

11. Dosa Meremehkan Kematian 

“Ditetapkan kepada Bani Adam bagiannya dari zina, dia mendapatkan hal itu tidak dapat disangkalnya.’ Akan tetapi Allah menjadikan seorang hamba jalan keluar dari dosa. Dihapus dengan taubat dan istighfar. Kalau dilaksanakan, maka akan terlepas dari kejelekan dosa. Kalau terus menerus melakukan dosa (tanpa bertaubat) maka dia akan hancur.’ ‘Jami’ Ulum Wal Hikam,, 1/165.

12. Dosa Melakukan Kebiasaan Buruk 

‘Umar bin Abdul Azizi berkata, ‘Wahai manusia barangsiapa yang berkubang dalam dosa, maka beristigfarlah kepada Allah dan bertaubat. Kalau kembali (berdosa), maka memohonlah ampun kepada Allah dan bertaubat. Kalau kembali lagi, hendaknya beristighfar dan bertaubat. Karena sesungguhnya ia adalah kesalahan-kesalahan dibelitkan di pundak seseorang. Sesungguhnya kebinasaan ketika terus menerus (melakukannya).

13. Dosa Meremehkan Kesungguhan Taubat 

‘Permasalahan ini telah (dijelaskan) pada permulaan kitab Taubah, hadits ini nampak dari sisi dalalahnya, bahwa meskipun dosa terulang seratus, seribu kalau atau lebih dan bertaubat setiap kali. Maka taubatnya diterima, gugur dosanya. Kalau dia bertaubat dari semua (dosa) dengan bertaubat sekali setelah semua (dosa) maka taubatnya sah.’ Syarkh Muslim, 17/75.

14. Dosa Melanjutkan Kemaksiatan 

Ibnu Katsir rahimahullah: ‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat (kembali).’ Tafsir Ibnu Katsir, 1/408.

15. Dosa Meremehkan Hal Buruk 

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berdosa terkadang mengucapkan terjerumus dalam dosa maka dia mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, saya berdosa. Terkadang mengatakan, ‘Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya.

Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, maka dia mengatakan, ‘Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya.

(waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, Terkadang mengatakan, ‘Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Tiga kali. Al-Hadits. HR. Bukhori, 7507 dan Muslim, 2758.

16. Dosa melakukan kezholiman 

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim’” (HR.  Muslim no. 2577).

Beliau juga bersabda: 

“jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat” (HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

Beliau juga bersabda:

“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya” (HR. Muslim no. 2564).

17. Dosa melakukan kebohongan 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan, hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong."

"Dan hendaklah kalian jujur, sebab jujur menggiring kepada kebaikan, dan kebaikan akan menggiring kepada surga. Dan sungguh, jika seseorang berlaku jujur dan terbiasa dalam kejujuran hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai orang yang jujur." (HR Abu Dawud).

Demikian yang dapat disampaikan, semoga menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan keimanan dengan tidak melakukan dosa yang sama. 

Semoga bermanfaat....

Kamis, 01 April 2021

17 BAHAYA DENDAM DALAM ISLAM

Edisi Kamis, 1 April 2021 M / 18 Sya'ban 1442 H

Agama islam adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Allah Subhanahu wa ta'ala mengajarkan pada hambaNya untuk senantiasa bertaqwa, saling tolong menolong dalam kebaikan, dan saling memaafkan dengan sesama sebagaimana sifat Maha Pemaaf dan Maha Pengampun yang dimilikiNya. Manusia memang tidak ada yang sempurna, ketika diperlakukan tidak baik atau disakiti oleh orang lain tentu timbul perasaan tidak nyaman pada hatinya dan terkadang membuat bekas luka di dalam hati. Apalagi jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang amat dipercaya.

Ketika orang yang berbuat salah tersebut sudah menyesal, haruskah kita tetap menyimpan dendam dan sakit hati? Dendam yang dimaksud ialah perasaan ingin membalas perbuatan orang yang menyakitinya dengan sesuatu yang sama atau jauh lebih menyakitkan. Dendam merupakan sifat yang berbahaya, menimbulkan berbagai permasalahan baru dan dosa yang tak kunjung berhenti jika masih menyimpannya dalam hati. Untuk lebih mendalami perihal ini, mari simak bersama artikel tausiah kali ini tentang bahaya dendam dalam islam.

1. Dibenci Allah 

“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar)”. (HR Muslim). 

Bahaya dendam dalam islam amatlah luar biasa, dendam bukanlah suatu perbuatan dosa yang sepele, dendam bahkan termasuk salah satu perbuatan yang paling dibenci Allah Ta'ala. Dendam menjauhkan orang yang melakukannya dari ridho Allah. Dendam bukanlah cara bergaul yang baik menurut islam.

Pendendam dibenci Allah Ta'ala karena selalu menyimpan keburukan dalam hatinya, seorang yang memiliki dendam selalu berupaya agar orang yang pernah berbuat salah kepadanya mendapatkan balasan yang setimpal atau jauh lebih berat. Hal demikian menunjukkan bahwa orang tersebut tidak beriman pada hari akhir yang telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala akan mendapat keadilan bagi semua hamba Nya, barang siapa yang disakiti dan tidak membalas, maka Allah yang akan membalasnya di akherat.

2. Amarah yang Berlebihan 

Bibit dari dendam ialah kemarahan yang meluap luap dan tidak mampu dilenyapkan karena hawa nafsu. Jika terus menerus bergejolak dalam hati, maka akan terus timbul dendam dan hanya bisa dilenyapkan oleh orang itu sendiri. Amarah yang berlebihan sama sekali tidak dianjurkan dalam islam dimana Rasulullah selalu mencontohkan bahwa beliau dalam keadaan marah pun selalu berlaku dengan cara yang baik dan tidak pernah menyimpan dendam. Dendam bukanlah cara menghadapi orang pemarah dalam islam, melainkan dibalas dengan kebaikan.

 3. Memutus Silaturahmi 

“Tidak akan masuk surga pemutus silaturahmi”. (Muttafaq ‘Alaihi). Dendam membuat hubungan menjadi renggang dan silaturahmi terputus. Dendam membuat keburukan yang tiada henti satu sama lain. jika kedua orang terlibat pertengkaran dan saling menyimpan dendam, maka pertengkaran akan terus terjadi dan keduanya sama sama berdosa akibat dendam yang terus dilakukan sehingga selalu meniatkan hal yang buruk untuk orang lain. Sedangkan hukum memutuskan silaturahmi menurut islam tidaklah diperbolehkan.

4. Memiliki Iman yang Lemah 

Iman seseorang dapat terlihat dari tingkah lakunya, orang yang beriman akan mencontoh teladan Rasulullah dan mengikuti syariat Allah yaitu menjadi orang yang saling memaafkan agar tercipta kedamaian dengan sesama. Orang yang memiliki dendam dalam hati merupakan ciri orang yang memiliki iman yang lemah, yang terus menerus berharap orang lain akan mendapatkan keburukan dan musibah, serta merasa senang dengan kesusahan orang lain. Orang yang memiliki sifat dendam artinya tingkatan iman dalam islam masih kurang.

5. Jauh dari Rahmat Allah 

“Dan balasan suat kejahatan ialah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Dan Allah tidak menyukai orang orang yang zalim”. (QS Asy Syura : 40). Hendaknya manusia tak perlu menyimpan dendam, sebab Allah sudah menjamin akan balasan dari tiap perbuatan umatNya. Menyimpan dendam tandanya tidak percaya pada rahmat Allah dan termasuk ciri orang yang zalim. Menjauhi dendam termasuk tips menjaga hati dalam islam sehingga akan dekat dengan rahmatNya.

6. Menimbulkan Permusuhan 

“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba tiba orang yang antara dan antara dia ada permusuhan seolah olah telah menjadi teman yang baik”. (QS Fushshilat : 34). Kejahatan yang dibalas dengan kebaikan akan selesai, jikalaupun mendapatkan kejahatan yang berulang, Allah yang akan menunjukkan kebenarannya dan orang yang memaafkan akan mendapat pahala kebaikan.

Begitu pula sebaliknya, jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, perbuatan tersebut tidak akan berhenti, akan terus timbul permusuhan dan terus menerus mengalirkan dosa diantara keduanya. Perbuatan tersebut akan menyebabkan kedua orang tersebut jauh dari kedamaian.

7. Hati Tidak Tenang 

Bahaya dendam menurut islam ialah jauh dari hati yang tenang, sebab selalu memikirkan keburukan orang lain dan selalu mengharap keburukan menimpa orang lain. hidupnya tidak akan tenang, tidak akan nyaman dalam melakukan segala aktifitas sehari hari. Amal ibadahnya tidak akan sempurna sebab tidak memiliki hati yang bersih.

8. Mudah Timbul Iri Dengki 

Ketika di dalam hati terdapat dendam, akan sulit untuk melihat kebahagiaan orang lain. ketika orang yang pernah berbuat salah kepadanya mendapatkan rejeki atau anugrah dari Allah, orang yang memiliki rasa dendam akan merasa iri dan dengki dengan rejeki tersebut dan berusaha mengambil atau menghilangkan kebahagiaan orang lain dengan cara yang tidak sesuai syariat islam. Rasa iri tersebut akan menimbulkan dosa yang lebih besar lagi sebab tidak menerima pemberian Allah Ta'ala dan tidak bersyukur kepada Nya sebagaimana Allah selalu berfirman bahwa Allah selalu berbuat adil dan memberikan kenikmatan yang lebih untuk hamba Nya.

9. Tidak Menerima Kodrat 

Manusia memiliki kodrat sebagai tempatnya salah dan lupa, tidak ada manusia yang sempurna yang tidak pernah berbuat salah. Orang yang memiliki dendam tidak memahami dan tidak menerima kodrat tersebut bahwa manusia bisa saja berbuat salah atau khilaf karena sesuatu hal. Jika Allah selalu membuka lebar pintu ampunan untuk hambaNya, maka manusia juga tidak memiliki hak untuk menghakimi atau menyimpan dendam pada orang lain. Sebab segala bentuk balasan atas amalan di dunia adalah hak Allah.

10.Tidak Mendapat Ampunan Dosa 

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS At Taghabun : 14). Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyimpan dendam sebab dalam hatinya juga tidak pernah memiliki rasa untuk memaafkan sesama manusia.

11. Jauh dari Kasih Sayang Allah 

“Sayangilah makhluk maka kamu akan disayangi Allah”. (Shahih Al Adab Al Mufrad). Jelas dari hadits tersebut bahwa Allah Ta'ala akan menyayangi hamba Nya yang juga memiliki kasih sayang pada sesama. Sebagaimana Allah pernah berfirman bahwa berbuat baik bukan hanya berhubungan dengan Allah semata, tetapi juga kepada sesama manusia. Dan bagaimana kita memperlakukan sesama, seperti itu pula perlakuan yang akan kita terima dari Allah dan orang lain.

12. Mudah Muncul Penyakit Hati 

Bahaya dendam dalam islam ialah mudah muncul penyakit hati sebab dendam bersifat menyebar dan menguasai pikiran serta hati manusia. Dendam akan menjauhkan orang yang melakukannya dari berbuat baik dan dari kebaikan dari orang lain, sebab orang pendendam akan mudah sekali berprasangka buruk dan memandang remeh orang lain.

13. Dekat dengan Kesombongan 

Setiap manusia pernah berbuat salah dan menyakiti orang lain, sebaiknya selalu instropeksi diri, belum tentu kita lebih baik dari orang yang berbuat salah tersebut. Ada kemungkinan juga bahwa kita pernah berbuat salah pada orang lain melebihi salah yang dilakukan orang tersebut pada kita. “Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih)” (HR Tirmidzi). 

Orang yang memiliki dendam artinya tidak mau instropeksi diri dan selalu menganggap dirinya yang paling benar, hal itu termasuk perbuatan yang sombong dan sombong termasuk perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.

14. Tidak di Ridhoi Allah 

“Dan orang orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf pada orang lain, dan Allah mencintai orang orang yang berbuat kebaikan”. (QS Ali Imran : 134). Berbuat dendam tidak di ridhio Allah sebab tidak memiliki kebaikan di dalamnya, tidak memaafkan orang lain, tidak berbuat baik pada orang lain, dan tidak mendoakan kebaikan untuk orang lain.

15. Sulit Mendapatkan Teman 

Bahaya dendam dalam islam ialah akan sulit mendapatkan teman. Ketika kita melihat atau mengetahui orang yang suka menyimpan dendam dan berbuat buruk dengan dendamnya tersebut, tentu orang lain akan malas berdekatan dengannya karena mudah sakit hati dan merasa diri sendiri paling benar.

Orang orang akan beranggapan kurang baik dan berhati hati kepadanya, sebab jika berbuat kesalahan baik disengaja atau tidak akan sulit berdamai dan akan terus mendapat masalah baru karena perasaan dendamnya. Hal tersebut membuat pendendam dijauhi oleh orang orang di sekitarnya.

16. Dendam membuat jiwa menjadi hina 

Ingatlah bahwa dendam akan membuat jiwa menjadi hina, sedangkan memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan” (HR Muslim)

17. Dendam membuat banyak waktu terbuang 

Ingatlah bahwa menyibukkan diri dengan dendam akan menghabiskan waktu dan membuat hati menjadi tidak fokus. Sehingga banyak hal-hal bermanfaat kita lewatkan. Maka jangan sampai musibah lebih besar menimpa kita.

Jika kita bersabar, maka itu akan menjadi sebab orang yang telah berbuat zalim kepada kita menyesal dengan tindakannya, malu dan bisa jadi malah mencintai kita, setelah sebelumnya membenci kita. “Balaslah keburukan itu dengan yang labih baik, maka tiba-tiba orang yang tadinya antara kamu dan dia ada permusukan, menjadi seolah-olah seperti teman yang dekat.” (QS. Fushilat: 34)

Demikian artikel mengenai bahaya dendam dalam islam, semoga bermanfaat untuk perbaikan diri kita , sehingga lebih baik lagi dalam berhubungan dengan orang lain dan dalam menjalankan perintahNya untuk tidak menyimpan dendam. Sebagaimana makhluk Allah yang tidak sempurna, kita belum tentu lebih baik dari orang yang pernah berbuat salah pada kita. Barangkali kita juga pernah menyakiti orang lain melebihi tindakannya tersebut. Perbanyak instropeksi diri dan jadilah pemaaf, serta hindari dendam. 

Semoga bermanfaat....