Rabu, 22 Maret 2023

KUMPULAN QUATES MENYAMBUT RAMADHAN

Edisi Rabu, 22 Maret 2023 M / 29 Sya'ban 1444 H.

Ramadhan adalah bulan yang begitu dinantikan oleh umat Muslim. Di bulan yang suci ini, umat muslim berbondong-bondong untuk berbuat kebaikan. Bergembira menyambut bulan suci Ramadhan sudah semestinya rasa itu dimiliki oleh umat Islam. Karena bulan mulia nan sarat keberkahan dan keistimewaan itu akhirnya kembali kita dapati. Kegembiraan itu kemudian perlu ditularkan kepada Muslim yang lainnya dengan menyampaikan keutamaan-keutamaan yang bisa diperoleh umat Islam pada saat bulan Ramadhan.

Di samping bergembira, memanjatkan doa-doa yang diajarkan dalam Islam perlu juga dilakukan. Bergembira dan sekaligus berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar bisa mendapatkan keberkahan-keberkahan Ramadhan menjadi kesempurnaan tersendiri. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah Dzat yang mempunyai kekuasaan dan kehendak sesuai yang diinginkan-Nya.

Diriwayatkan oleh Imam Makhul al-Syami (w. 112 H) bahwa ia membaca doa ini saat memasuki bulan Ramadhan:

   أللهمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Allahumma salimnî li ramadlâna wa sallim ramadlâna lî wa tasallamhu minnî mutaqabbalan

Artinya: Ya Allah, sampaikan aku [dengan selamat] kepada [bulan] Ramadhan. Sampaikanlah Ramadhan kepadaku (juga) dan terimalah [amal-amal]ku [di bulan] Ramadhan). (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, 2007, halaman: 312).

Berikut ini adalah beberapa ucapan selamat menyambut datangnya bulan Ramadhan :

1. Bulan Ramadhan sudah di depan mata. Tak lama lagi kita akan berjumpa. Siapkan hati untuk mendekatkan diri pada-Nya. Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa.

2. Hati yang terluka mungkin pernah membekas, semoga di bulan suci Ramadhan ini dapat dimaafkan, apabila ada langkah membekas lara. Apabila lisan yang berucap tak indah menoreh luka. Dan apabila ada kata yang dusta, apabila ada tingkah yang tak menyenangkan. Mohon maafkan lahir dan bathin. Mari kita kembali kepadaNya. Marhaban ya Ramadhan.

3. Kita harus menguasai egoisme kita, dan melalui penguasaan ini, keluar dari diri kita sendiri dan mendidik diri kita sendiri dalam memberi. Puasa mengharuskan kita menemukan kembali semua yang hidup di sekitar kita, dan mendamaikan diri dengan lingkungan kita.

4. 4 Minggu belas kasihan, 30 hari ibadah, 720 jam Spiritualitas. 43.200 Menit Pengampunan, 2592000 Detik Kebahagiaan. Selamat berpuasa Ramadhan.

5. Terselip khilaf pada canda, ada luka tergores pada tawa, terbelit pilu pada tingkah, tersinggung rasa dalam bicara. Mari kita saling memaafkan sebelum bulan suci Ramadhan kita masuki. Semoga kita tetap setia dalam satu jalur, satu doa, satu tujuan: menggapai ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

6. Siang diisi kebaikan, malam belajar Al-Qur’an. Ramadhan jadi penerang, hati yang mulai remang-remang. Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa.

7. Marhaban ya Ramadhan, pucuk selasih bertunas menjulang dahannya patah tolong benarkan. Puasa Ramadhan kembali menjelang, salah dan khilaf mohon dimaafkan. Selamat menunaikan ibadah puasa.

8. Selembut embun di pagi hari, tengadah tangan sepuluh jari, ucapkan salah setulus hati, mari kita bersama berbenah diri, di bulan Ramadhan yang suci. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa.

9. Bukalah hatimu, kau akan dapat cinta. Bukalah pikiran, kamu akan dapat ilmu. Bukalah mata, maka kamu akan mendapat rezeki. Dan buka ponsel satu pesan diterima. Selamat menjalankan ibadah puasa.

10. Saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga, saatnya kembali kepadaNYa. Mensyukuri indahnya kemurahanNya. Saatnya merenungi diri bersama kita leburkan kekhilafan, dengan shaum dan amalan shalih dan keikhlasan dalam jiwa.

11. Mengingat kata yang salah. Hati yang berprasangka. Janji yang terlupakan. Sikap dan sifat yang menyakitkan. Di hari ini izinkanlah aku mengucap, mohon maaf lahir dan batin. Marhaban ya Ramadhan.

12. Marhaban ya Ramadhan, bulan suci kembali tiba. Saat tepat menyucikan diri dari segala dosa. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa.

13. Dalam kesakitan, teruji kesabaran. Dalam perjuangan, teruji keikhlasan. Dalam ukhuwah, teruji ketulusan. Dalam tawakal, teruji keyakinan. Hidup ini indah jika Allah menjadi tujuan. Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa.

14. Tiada kemenangan tanpa zikrullah. Tiada amal tanpa keikhlasan. Tiada ampunan tanpa maaf sesama. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa.

15. Ketika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Mohon maaf lahir dan batin. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa.

16. Hidup ini hanya sebentar, sebentar marah, sebentar tertawa, sebentar berduit, sebentar bokek, sebentar senang, sebentar susah, sebentar lagi puasa. Selamat menyambut Ramadan, mohon maaf lahir batin.

17. Tak ada kata seindah dzikir. Tak ada bulan seindah Ramadhan. Izinkan kedua tangan bersimpuh maaf, untuk lisan yang tak terjaga, janji yang terabaikan, hati yang selalu berprasangka, serta sikap yang pernah menyakitkan. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Semoga bermanfaat....

Selasa, 21 Maret 2023

AMALAN DAN PERSIAPAN MENUJU AWAL PUASA RAMADHAN

Edisi Selasa, 21 Maret 2023 M / 28 Sya'ban 1444 H

Tak terasa, bulan Ramadhan akan segera tiba. Para umat Muslim pastinya menyambut kedatangan Ramadhan dengan berbahagia. Meskipun belum ada penentuan tanggal dimulainya puasa 1444 H / 2023 M, umat Muslim sudah mulai untuk mempersiapkan diri menyambut bulan tersebut. Seperti yang diketahui bahwa ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan dilipat gandakan. Maka dari itu, umat Islam berusaha untuk melakukan ibadah semaksimal mungkin.

Berbagai persiapan dilakukan umat Islam dalam menyambut ibadah puasa. Tidak hanya persiapan materi, namun persiapan rohani juga diperlukan menuju bulan Ramadhan. Kebanyakan orang hanya berfokus pada persediaan makanan, pakaian, dan juga fisik, namun melupakan persiapan jiwa dan batin.

Berikut ini adalah amalan dan beberapa hal yang dapat dipersiapkan menjelang datangnya bulan Ramadhan:

1. Lakukan Ibadah Sunnah Sebanyak Mungkin 

Hal yang dapat kita persiapkan adalah memperbanyak ibadah sunnah. Tidak ada salahnya kita melatih diri dengan melaksanakan sholat sunnah atau puasa sunnah. Dengan melakukan ibadah sunnah seperti puasa senin kamis, kita dapat berlatih agar nantinya di bulan puasa Ramadhan kita telah memiliki bekal untuk menjalaninya dengan baik.

“Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

2. Memperbanyak Membaca Al Quran 

Membaca Al Quran tidak hanya mendapatkan pahala serta kebaikan, tetapi juga mendatangkan ketenangan hati dan pikiran. Dengan begitu, kita dapat menyambut datangnya bulan puasa dengan hati dan pikiran yang lebih baik.

3. Memperdalam Ilmu Agama 

Persiapan lain yang dapat dilakukan menuju datangnya awal puasa Ramadhan adalah dengan membaca dan mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi. Luangkan waktu sejenak untuk menimba ilmu agama, sehingga kita bisa lebih memahami makna dan keutamaan dari ibadah yang kita lakukan. Dengan mengetahui hal tersebut, kita akan menjadi terpacu dan lebih bersemangat untuk melakukan berbagai ibadah sesuai petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

4. Membayar Puasa Sebelumnya 

Sebelum memasuki awal puasa Ramadhan, kita diwajibkan untuk mengganti (qadha) hutang puasa di Ramadhan sebelumnya. Puasa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan wajib diganti, kecuali bagi orang lanjut usia yang bisa menggantinya dengan membayar fidyah. Terdapat beberapa golongan yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, mereka adalah orang yang sakit, musafir, dan wanita yang sedang haid dan nifas. Ketiga golongan tersebut harus membayarkan puasa Ramadhan yang mereka tinggalkan, seperti tertulis dalam ayat berikut:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

5. Perkuat Iman 

Persiapan Ramadhan yang paling dasar adalah mempersiapkan iman. Persiapan secara keimanan bisa anda lakukan dengan mulai melatih pengendalian dari kebiasaan-kebiasaan buruk sehari-hari. Hal ini bisa dilakukan, misalnya dengan cara memastikan Shalat Lima Waktu yang tidak pernah bolong, atau menghentikan kebiasaan merokok.

6. Perbanyak Doa Kepada Allah 

Berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menjadi kewajiban bagi para umat muslim. Menjelang Ramadhan kita hendaknya senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Berdoalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan (HR. Ahmad). 

7. Bersyukur atas Nikmat Allah 

Di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Dan atas semua nikmat tersebut, kita wajib mensyukurinya.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).

Nikmat yang paling besar bagi orang yang beriman adalah ketika mereka mendapati bulan Ramadhan.

8. Bertaubat 

Bertaubat adalah salah satu hal yang perlu dilakukan sebelum bulan puasa datang. Manusia tentunya tidak luput dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bertaubat dan meminta ampunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan memohon ampunan-Nya, kita akan mendapatkan ketenangan batin sehingga akan lebih lancar dalam menjalankan ibadah puasa nantinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.”

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Bertaubat dalam hal ini bukan hanya dalam lisan, namun juga harus dibuktikan dengan perbuatan.

9. Bergembiralah Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu memberikan kabar gembira kepada para Sahabat setiap kali datang bulan Ramadhan. “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

10. Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan 

Bila kita menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan dan ingin diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah: 46).

Tujuannya agar kita bisa memanen kelezatan puasa dan beramal shalih di bulan Ramadhan, karena lezatnya Ramadhan hanya bisa dirasakan dengan kesabaran, perjuangan, dan tidak datang begitu saja. Hari-hari Ramadhan tidaklah banyak, perjalanan hari-hari itu begitu cepat. Oleh sebab itu, harus ada persiapan yang sebaik-baiknya. 

11. Membuat Agenda Agar Ramadhan Diisi dengan Aktivitas yang Penuh Ketaatan 

Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu hiasi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ber’amal di bulan puasa akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkali-kali lipat, bahkan hingga 700 kali lipatnya.

12. Menguatkan Niat 

Ibadah yang sempurna adalah ibadah dengan ikhlas dan tulus. Sebelum bulan Ramadhan datang, kita perlu memantapkan niat untuk menjalankan ibadah dengan ikhlas dan hanya untuk mencari ridho Allah semata, tanpa ada niatan yang lainnya. Fokuskan tujuan ibadah hanya untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

13. Persiapan Fisik dan Jasmani untuk Puasa 

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana anda sangat dianjurkan untuk berbuat kebaikan dan mengumpulkan pahala. Ditambah dengan ibadah Puasa, sudah pasti anda memerlukan kondisi fisik dan jasmani yang prima. Jika sampai anda jatuh sakit, tentu ibadah nggak akan jadi maksimal.

Jaga kondisi fisik dan jasmani mulai dari sekarang dengan mengurangi kebiasaan tidak sehat seperti bergadang dan mengonsumsi makanan tidak sehat. Mulailah lebih rutin berolahraga dan bila perlu konsumsi vitamin atau suplemen kesehatan. Dengan mengonsumsi multivitamin, tubuh anda jadi tahan banting memasuki bulan Ramadhan dan tidak gampang sakit. Sehingga tak ada halangan untuk berpuasa hingga akhir.

14. Persiapan Amal dan Materi 

Memasuki bulan Ramadhan, persiapan materi adalah persiapan menyambut Ramadhan selanjutnya yang jangan boleh terlewatkan. Selain karena kebutuhan menjelang bulan Ramadhan yang meningkat serta harga-harga barang yang melonjak, anda tentunya ingin meningkatkan amal dengan berzakat dan bersedekah di bulan Ramadhan.

Mumpung masih memiliki waktu, mulailah kelola keuangan dengan hidup lebih hemat agar tabungan anda cukup untuk memenuhi kebutuhan dan juga amal di Bulan Ramadhan.

15. Persiapan Kebutuhan Ramadhan Sehari-hari 

Persiapan menyambut bulan Ramadhan yang berikutnya adalah mempersiapkan ketersediaan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari perlengkapan ibadah hingga keperluan dapur. Mulai dari sembako dan bumbu masak yang memadai. Agar menjalankan ibadah bisa maksimal dengan santapan sahur dan buka puasa bergizi.

Hal yang sangat penting untuk mendukung anda dalam mempertebal iman di bulan Ramadhan adalah dengan adanya perlengkapan ibadah yang terpenuhi. Siapkan sajadah, sarung, peci hingga mukena agar aktivitas beribadah bisa dilakukan secara maksimal.

16. Membersihkan Lingkungan Sekitar 

Kebersihan sebagian dari iman,  ternyata benar adanya. Dengan anda membersihkan rumah, lingkungan sekitar, sampai jika bisa ikut serta membersihkan masjid dan musholla akan lebih baik.

Jika anda pergi ke desa saat bulan ramadhan pasti desa-desa tersebut penuh dengan hiasan untuk menyambut bulan Ramadhan. Anda juga harusnya jangan kalah, karena bulan puasa bulan yang penuh berkah sehingga pantas untuk dirayakan. Jika lingkungan anda bersih pastinya anda juga nyaman untuk beribadah.

17. Persiapan Jiwa dan Mental 

Sambutlah bulan Ramadhan dengan jiwa yang bersih dan rasa ketulusan hati. Alangkah lebih baik jika anda bertaubat dengan semua kesalahan yang pernah anda lakukan agar semua ibadah puasa lebih khusyuk dan fokus.

Selain itu mental anda juga harus dipersiapkan karena pada bulan ini kita akan beribadah puasa dan lainnya dengan optimal selama sebulan penuh. Jiwa dan mental kita harus dipersiapkan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati atau ikhlas dalam beribadah.Ibadah pun menjadi terasa mudah dan menyenangkan.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, tapi di bulan yang penuh berkah ini anda bisa memulai banyak perbuatan baik terhadap sesama dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Agar di bulan Ramadhan kali ini dan seterusnya, anda bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Demikianlah Amalan dan beberapa hal yang dapat kita persiapkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dengan melakukan beberapa kegiatan di atas, diharapkan kita dapat memulai awal puasa Ramadhan dengan hati dan pikiran yang tenang sehingga ibadah bulan Ramadhan dapat terlaksana secara sempurna.

Semoga bermanfaat....

Senin, 20 Maret 2023

SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM UNTUK HIDUPKAN BULAN SUCI RAMADHAN

Edisi Senin, 20 Maret 2023 M / 27 Sya'ban 1444 H.

Tidak terasa bulan suci Ramadhan sudah semakin dekat. Tentu saja hal demikian cukup menggembirakan bagi kita semua seluruh umat Islam. Hal tersebut karena bulan Ramadhan memiliki banyak keistimewaan. Sebab itu, di bulan Ramadhan umat Muslim berlomba-lomba melakukan kebaikan, juga berlomba-lomba meningkatkan ibadah. Tidak hanya bagi kalangan muda, kelompok umur tua pun demikian. Sejumlah masjid dan mushala juga mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama.

Meski penetapan awal Ramadhan masih menunggu pengumuman pemerintah melalui sidang isbat, ada baiknya kita mempersiapkan diri menyambut Ramadhan 1444 H. Karena Ramadhan merupakan bulan istimewa yang juga dimuliakan oleh Rasulullah, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Ada banyak tradisi atau sunnah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam selama Ramadhan. Berikut ini 17 Sunnah Rasulullah untuk menghidupkan bulan Ramadhan yang ditulis oleh Ustadz H Yendri Junaidi, Lc MA, Ketua Bidang Fatwa dan Hukum MUI Tanah Datar. Sunnah-sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam selama Ramadhan itu adalah sebagai berikut :

 1. Mengakhirkan sahur 

عَنْ أَبِي حَازِمٍ أَنَّهُ سَمِعَ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ، يَقُولُ: كُنْتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهْلِي، ثُمَّ يَكُونُ سُرْعَةٌ بِيْ أَنْ أُدْرِكَ صَلاَةَ الفَجْرِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Hazim, dia mendengar Sahal bin Sa’ad berkata, “Aku sahur bersama keluargaku, kemudian aku buru-buru menyelesaikannya untuk bisa dapat sholat Fajar (Subuh) berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.” (HR Bukhari no 577).

2. Sahurlah meskipun sedikit 

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” (HR Bukhari 1923).

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

Dari Amru bin al-‘Ash, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Beda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim 1096).

3. Mengajak teman makan sahur dan sahur dengan kurma 

قَالَ عِرْبَاض بْنُ سَارِيَة : دَعَانِي رَسُوْلُ اللهِ إِلَى السَّحُوْرِ فِى رَمَضَانَ فَقَالَ : هَلُمَّ إِلىَ هَذَا الْغَذَاءِ الْمُبَارَكِ

‘Irbadh bin Sariyah berkata, “Aku diajak Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk sahur di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Mari nikmati makanan penuh berkah ini.” (HR Ahmad).

نِعْمَ سُحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمَرُ

“Sebaik-baik sahur adalah kurma.” (HR Abu Dawud).

4. Mengurangi tidur dan banyak beristighfar 

كَانُوْا قَلِيْلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

“Mereka sedikit tidur di malam hari. Di waktu sahur mereka beristighfar.” (QS. Ad Dzariyat 17-18).

5. Sholat sunnah Fajar dan sholat sunnah Syuruq 

كان الرسول صلى سنة الصبح ركعتين خفيفتين في بيته ثم يصلي الصبح جماعة ، ثم يجلس في المسجد يذكر الله تعالى حتى تطلع الشمس، فينتظر قرابة الثلث ساعة أو يزيد ثم يصلي ركعتين

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam biasanya sholat sunnah Subuh dua rakaat yang ringan (singkat) di rumahnya. Kemudian beliau sholat Subuh berjamaah di masjid.

Setelah itu duduk berdzikir sampai terbit matahari. Setelah menunggu sekitar sepertiga jam atau lebih sedikit beliau sholat dua rakaat (sholat sunat syuruq atau Dhuha).

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Dari Anas radhiyallahu'anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir sampai terbit matahari, lalu dia sholat dua rakaat, maka pahalanya sama seperti pahala haji dan umroh, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR At-Tirmidzi).

6. Menjaga lidah selama puasa 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ سبحانه وتعالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah Subhanahu Wa Ya'ala berfirman (hadits qudsi) : “Setiap amal anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa, itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa itu perisai (benteng). Apabila kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan bersuara keras (berteriak-teriak). Kalau ada yang mengajak bertengkar atau berdebat maka katakanlah: “Aku sedang puasa.” (HR Bukhari 1904).

7. Berusaha untuk tetap puasa meski dalam perjalanan. 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ، فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ (رواه البخاري رقم 1943)

Dari Aisyah raddhiyallahu'anha, Hamzah bin Amru al-Aslami bertanya pada Nabi Shallallahu alaihi wasallam: “Apakah sebaiknya aku berpuasa dalam safar?” Hamzah adalah seorang yang hobi berpuasa. Nabi Shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Kalau mau silakan berpuasa, kalau mau silakan tidak berpuasa.” (HR Bukhari 1943).

8. Lebih berfokus mengkaji AlQuran 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi ketika bertemu Jibril. Jibril bertemu dengan Nabi setiap malam Ramadhan untuk mengkaji/mengulang (mudarasah) Alquran. Sungguh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (HR Bukhari 6).

9. Memperbanyak sedekah 

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : كُلٌّ امْرِئٍ فىِ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ ، قَالَ يَزِيْد : وَكَانَ أَبُو الْخَيْرِ لاَ يُخْطِئُهُ يَوْمٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ فِيْهِ بِشَيْءٍ وَلَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أَوْ كَذَا

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya sampai diputuskan perkara manusia.”

Yazid berkata, “Abu al-Khair, tak pernah satu hari pun berlalu melainkan dia pasti bersedekah, walaupun hanya sepotong kue atau sebutir bawang dan semisalnya.” (HR Ahmad). 

10. Memperbanyak berdoa 

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak akan ditolak yaitu doa orang tua, doa orang berpuasa, dan doa musafir.” (HR Baihaqi). 

11. Konsisten dalam amal 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Aisyah radhiyallahu'anha, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam apabila mengerjakan sesuatu beliau konsisten (menetapinya). Apabila beliau tertidur di malam hari atau sakit beliau (menggantinya dengan) mengerjakan sholat sunnah dua belas rakaat di siang hari.” (HR Muslim 746).

12. Menyegerakan berbuka 

عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْنَا : يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ، قَالَتْ: أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ؟ قَالَ : قُلْنَا عَبْدُ اللهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ قَالَتْ: كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu ‘Athiyyah, dia berkata: “Saya bersama Masruq datang menemui Sayyidah Aisyah. Kami berkata, “Wahai Ummul Mukminin, ada dua orang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang pertama menyegerakan berbuka dan menyegerakan mengerjakan sholat. Yang kedua menunda buka dan menunda sholat.” Aisyah ra bertanya: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan sholat?” Kami menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” Ia berkata: “Demikian juga yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.” (HR Muslim). 

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُوْدَ يُؤَخِّرُوْنَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Segerakanlah berbuka, karena orang-orang Yahudi sengaja melambatkannya.” (HR Ibnu Majah 1698).

13. Berbuka dengan kurma 

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلىَ تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَّمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Dari Anas bin Malik radhitallahu'anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam biasa berbuka dengan rutab (korma muda/basah) sebelum sholat Maghrib. Kalau tidak ada rutab maka beliau berbuka dengan tamar (kurma kering). Kalau tidak ada maka beliau berbuka dengan minum beberapa teguk air.”

14. Memberi hidangan berbuka orang berpuasa 

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا 

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, dia berkata:

“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membukakan (memberikan perbukaan) orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala puasanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun.” (HR Tirimidzi 807).

15. Qiyam Ramadhan 

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya orang yang qiyam bersama imam sampai imam pulang maka itu ditulis seolah-olah qiyam semalam penuh.” (HR Tirmidzi). 

Ini yang disabdakan Nabi Shallallahu alaihi wasallam untuk umatnya. Adapun untuk beliau sendiri sebagai berikut:

كان إذا انتهى من الصلاة نام قبل أن يصلي الوتر، فتسأله عائشة رضي الله عنها : يا رسول الله أتنام قبل أن توتر؟ قال: يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي

Nabi Shallallahu alaihi wasallam kalau selesai sholat tarawih beliau tidur sebelum sholat witir. Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, engkau tidur sebelum mengerjakan witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tak pernah tidur.”

16. Memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir 

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Aisyah radhiyallahu'anha berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersungguh-sungguh melakukan ibadah di sepuluh terakhir melebihi malam-malam lainnya.” (HR Muslim).

وقَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Aisyah juga berkata, “Ketika masuk sepuluh terakir, Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengencangkan sarungnya, menghidupkan seluruh malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 2024).

17. Itikaf di sepuluh hari terakhir 

إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ، أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ، ثُمَّ أُتِيتُ، فَقِيلَ لِي: إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَه

“Sesungguhnya aku itikaf di sepuluh pertama Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar. Setelah itu aku juga itikaf di sepuluh kedua (pertengahan). Kemudian aku diberi tahu bahwa Lailatul Qadar itu di sepuluh terakhir. Maka siapa yang ingin itikaf maka lakukanlah.” Akhirnya banyak orang yang itikaf bersama Nabi Shallallahu alaihi wasallam.” (HR Muslim 1167).

Semoga bermanfaat....