Kamis, 25 Januari 2024

CARA BERGAUL YANG BAIK MENURUT ISLAM

Edisi Kamis, 25 Januari 2024 M / 13 Rajab 1445 H.

Kita sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan orang lain pasti membutuhkan sosialisai dengan sesama baik itu dengan orang tua, keluarga, juga dengan teman teman dan tetangga di lingkungan masyarakat. Sosialisasi sering disebut dengan istilah bergaul. Orang yang banyak bergaul pun umumnya orang yang supel, ramah, serta disukai banyak orang sehingga memiliki banyak teman dalam kesehariannya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri pun telah melakukan hubungan dengan umatnya dalam rangka menyebarkan syariat islam atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Beliau bergaul dengan cara yang diajarkan oleh Allah dan mengajarkan ajaran islam dengan sabar walaupun sering mendapat penolakan bahkan ancaman bahaya dari orang orang kafir.

Bergaul dalam islam memiliki cara tersendiri dimana syariat tersebut akan menjadikan manfaat dan mencegah dari berbagai perbuatan maksiat atau keburukan di dunia maupun di akherat. Agar kita dapat bergaul sesuai syariat dalam kehidupan sehari hari, mari kita simak artikel tausiah kali ini tentang 17 cara bergaul yang baik menurut islam,

Bergaul Dengan Lawan Jenis 

Dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari bertemu dan bergaul dengan lawan jenis, cara bergaul yang baik menurut islam sebagaimana ayat tentang pergaulan dalam islam dan hubungannya dengan lawan jenis ialah dengan memperhatikan syariat islam diantaranya sebagai berikut :

1. Menjaga Pandangan 

“Janganlah engkau iringkan satu pandangan kepada wanita yang bukan mahram dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu halal bagimu, tetapi tidak yang kedua!“. (HR Abu Daud). Lelaki dan perempuan tidak boleh memandang lawan jenis yang bukan muhrimnya, sebab termasuk zina mata dan mengarah pada perbuatan maksiat. Menjaga pandangan termasuk salah satu cara menjauhi zina.

2. Menutup Aurat 

Lelaki dan wanita yang bukan muhrim dalam bergaul sehari hari wajib menutup aurat. Setiap umat muslim tentu memahami batasan aurat lelaki dan wanita serta larangan untuk menunjukkan di hadapan lawan jenis yang belum menjadi muhrimnya. Hendaknya dalam bergaul setiap mukmin mengikuti syariat Allah tersebut.

3. Tidak Bersentuhan 

“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita”. (HR Malik, Tirmizi dan Nasa’i). 

Bergaul dengan lawan jenis yang terdapat urusan bersalaman, berdekatan, apalagi mencium tangan tidak diperbolehkan dalam islam. Sebab hukum mencium tangan dalam islam hanya diperbolehkan kepada muhrimnya.

Kesimpulannya ialah bergaul dengan lawan jenis tidak dilarang secara keseluruhan, tetapi diperbolehkan selagi bertujuan untuk kebaikan dan atas urusan yang diperbolehkan dalam syariat islam. Serta wajib mematuhi kehendak dan ajaran Islam tentang akhlak dan adab adabnya.

Bergaul dengan Sesama Jenis 

Sebagai makhluk sosial tentu kita memiliki teman atau sahabat dekat, nah dalam bergaul dengan sesama jenis yang merupakan teman atau sahabat kita tersebut tetap wajib menjalankan sesuai syariat islam.

4. Tetap Menutup Aurat 

“Tidak diperbolehkan laki laki melihat aurat (kemaluan) laki laki lain, begitu pula perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain”. (HR Muslim). 

Jelas dari hadits tersebut bahwa walaupun dengan sesama jenis tetap wajib memakai pakaian sopan yang melindungi aurat. Sebab itu dalam bergaul dengan sesama jenis harus diperhatikan batas aurat laki laki dalam islam dan batas aurat wanita dalam islam.

5. Tidak Menyukai Sesama Jenis 

Allah sudah menciptakan hamba Nya berpasangan, walaupun jarang ditemui, tetapi tetap ada seseorang yang menyukai sesama jenis padahal hal tersebut sungguh tidak dibenarkan dalam islam. “Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian, bukan kepada wanita. Kalian adalah kaum yang melampaui batas”. (QS Al A’raaf : 81). 

Firman Allah tersebut juga berlaku untuk lelaki dan wanita, menyukai sesama jenis ialah perbuatan yang melampaui batas.

Bergaul dengan Non Muslim 

Di jaman modern ini kita memang tidak sepantasnya menutup diri atau hanya mau bergaul dengan agama tertentu, diperbolehkan bergaul dengan orang yang non muslim asalkan tetap sesuai dengan syariat islam.

6. Teguh dalam Agama 

“Bagi kami amal amal kami dan bagi kamu amal amal kamu”. (QS Asy Syura : 15). 

Sebagai seorang muslin wajib menjalankan kewajiban dalam keadaan apapun, misalnya ketika waktunya shalat 5 waktu dan kita sedang bergaul dengan teman non muslim maka jangan sampai melalaikan kewajiban shalat tersebut.

7. Tidak Mengikuti Kebiasaan Orang Kafir 

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku lah agamaku”. (QS Al Kafirun : 4-6). Dalam bergaul tidak boleh mengikuti kebiasaan orang kafir, misalnya valentine yang merupakan hari orang kafir dan tidak ada dalam islam, maka sebagai umat muslim tidak selayaknya mengikuti urusan tersebut hanya karena alasan bergaul.

Bergaul dengan Sesama Muslim 

Bergaul dengan sesama muslim ditujukan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan sehingga timbul kedamaian dan ketenangan.

8. Memperbanyak Silaturahmi 

“Dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS An Nisa : 1). Silaturahmi dianjurkan sebab disukai oleh Allah dan dapat melapangkan rejeki, contohnya ialah menghadiri acara ketika mendapat undangan (pernikahan, khitanan, dan lain lain).

9. Saling Tolong Menolong dalam Kebaikan 

Tidak ada salahnya bergaul dengan tujuan saling memberi pertolongan dan mencegah permusuhan. Setiap orang yang menolong orang lain dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta'ala akan mendapat pahala dan dilebihkan derajatnya dari hamba Allah yang lain. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan pada orang lain dan kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS An Nahl : 90).

Bergaul dengan Orang Sholeh 

Merupakan anjuran dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar dapat berpengaruh ke akhlak kita juga dan mencegah maksiat sebab terbiasa dengan urusan urusan yang baik.

10. Dianjurkan Oleh Allah 

“Dan hendaklah kamu bersama orang orang yang benar (jujur)”. (QS A Taubah : 119). 

Orang yang jujur atau baik, darinya kita akan mendapat dan melakukan yang serupa, sehingga dapat menularkan kebiasaan baik pada diri kita. Juga sebagai tips memperbaiki diri dalam islam agar kita senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan.

Bergaul dengan Orang Tua dan Keluarga 

Merupakan kewajiban sebab orang tua dan keluarga adalah tempat dimana kita pertama kali bergaul dan tempat yang paling memberi ketentraman dalam keseharian. Dimanapun kita berada tentu yang paling nyaman adalah bersama keluarga.

11. Berkata Lemah Lembut 

“Janganlah engkau mengatakan kepada orang tua perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya”. (QS Al Isra : 23). 

Bergaul dengan orang tua harus dengan kalimat yang lemah lembut dan sikap yang baik sebagai wujud bakti dan hormat pada mereka.

12. Saling Mendoakan 

“Ya Rabb ku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. (QS Al Isra : 24). Selain doa orang tua yang menjadi ridho bagi Allah Ta'ala, seorang anak juga wajib mendoakan orang tuanya sebagai bentuk kasih sayang, sebab apapun yang diberikan oleh anak tidak akan bisa mengganti jasa orang tua.

13. Mengajarkan Kebaikan 

Antar keluarga baik orang tua dan anak atau saudara dengan saudara wajib saling mengingatkan dalam kebaikan, jika ada anggota yang melanggar syariat dan angggota keluarga tidak mengingatkan, maka dia ikut menanggung dosanya. “Harta dan anak anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar”. (QS Al Anfal : 28).

Bergaul dengan Tetangga 

Tetangga kadang menjadi seseorang yang lebih dekat dari saudara sebab seringnya berinteraksi dalam keseharian, sebab itu bergaulah dengan baik dengan tetangga anda dengan cara berikut :

14. Saling Menghormati 

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya”. HR Bukhari No.5589). 

Penjelasan dari firman tersebut ialah memuliakan dengan menghargai, menjamu ketika bertamu, datang ketika diundang, menolong ketika tetangga terkena musibah, dan perbuatan mulia lainnya.

15. Tidak Boleh Menyakiti 

“Sungguh tidak beriman orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”. (HR Bukhari No. 6016). Kita wajib senantiasa berbuat baik pada tetangga, sebab Allah maha adil, tentunya ada balasan menyakiti hati orang lain dalam islam, sebaiknya kita senantiasa berbuat kebaikan agar mendapat balasan kebaikan pula.

Bergaul dengan Suami atau Istri 

Suami atau istri adalah teman bergaul yang paling dekat, serta paling berpengaruh terhadap ridho Allah Subhanahu WaTa'ala dan diterimanya amal perbuatan kita. Sebab itu bergaul dengan suami atau istri hendaknya didasarkan dengan kasih sayang, kesetiaan, dan saling memuliakan satu sama lain.

16. Suami adalah Pemimpin 

Cara bergaul yang baik menurut islam dalam kehidupan suami istri ialah suami menjadi pemimpin. Istri wajib taat pada perintah suami. Suami wajib melindungi dan memberi nafkah lahir batin pada istri, serta istri wajib melayani suami dalam aspek apapun tanpa terkecuali. “Suami itu pelindung bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) di atas sebagian yang lain (wanita)”. (QS An Nisa : 34).

17. Istri Sholehah 

Dalam bergaul dengan suami istri, jika memiliki istri sholehah akan menjadikan ketenangan dalam keluarga tersebut dan menjadikan suami menjadi seorang lelaki yang juga mampu memuliakan istrinya karena memiliki wanita terbaik di sisinya. Sebagaimana janji Allah bahwa wanita sholehah adalah untuk lelaki sholehah pula.“Wanita terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi sesuai pada diri dan hartanya. Serta melayani suami sebaik mungkin dan menjauhkan suami dari benci”. (HR Ahmad).

Demikian artikel tausiah mengenai 17 cara bergaul yang baik dalam islam.

Semoga bermanfaat....


ONE DAY ONE HADITS 

Kamis, 25 Januari 2024 M / 13 Rajab 1445 H.

Adab Bergaul Dalam Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :

1. Islam melarang khalwat dan ikhtilat. Diantara hikmahnya lelaki akan lebih sering berkumpul bersama para lelaki dan terbentuk karakter lelaki. Munculnya sifat kewanitaan terkadang karena sering berkumpul dengan para wanita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

2. Imam An Nawawi berkata: “adapun jika lelaki ajnabi dan wanita ajnabiyah berduaan tanpa ada orang yang ketiga bersama mereka, hukumnya haram menurut ijma ulama. Demikian juga jika ada bersama mereka orang yang mereka berdua tidak malu kepadanya, semisal anak-anak kecil seumur dua atau tiga tahun, atau semisal mereka, maka adanya mereka sama dengan tidak adanya.

3. Demikian juga jika para lelaki ajnabi berkumpul dengan para wanita ajnabiyyah di suatu tempat, maka hukumnya juga haram” (Syarh Shahih Muslim, 9/109).

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

1. Allah ta’ala berfirman:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلّاً وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS. An-Nisaa: 95).

2. Allah Azza wa Jalla berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34).

Rabu, 24 Januari 2024

PAHALA BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI MENURUT ISLAM

Edisi Rabu, 24 Januari 2024 M / 12 Rajab 1445 H.

Bagi sepasang suami istri sebagai bagian dari keutamaan menikah dalam islam, hubungan suami istri tidak hanya memberikan kesenangan, kebahagiaan, dan meningkatkan keharmonisan rumah tangga saja, namun juga mulia dan berpahala sebab dilakukan dalam kondisi halal. 

Bagi yang sudah menikah, terkadang berhubungan suami istri terhalang oleh beragam hal, misalnya bagi yang bekerjanya berjauhan dan tidak bertemu setiap hari, bagi yang sangat sibuk, misalnya pasangan yang sama sama bekerja dari pagi hingga malam atau sibuk mengurus anak yang masih kecil dan di malam hari tubuh serasa sangat lelah serta tidak terfikirkan dan berkurang hasrat untuk melakukan hubungan suami istri, mungkin hal itu menjadi ujian untuk tetap meningkatkan kasih sayang antara keduanya, tentunya hubungan suami istri harus tetap dijadwalkan untuk dilakukan.

Sebab bisa menjadi perekat rumah tangga atau kunci rumah tangga bahagia dan menjadi hak bagi keduanya, yakni suami dan istri  agar lebih bahagia dan bersemangat ketika melakukan hubungan suami istri bagi yang sudah menikah, berikut 17 Pahala Berhubungan Suami Istri Menurut Islam, semoga menjadi motivasi untuk terus dekat dengan pasangan kita, berikut selengkapnya.

1. Dinilai Sebagai Sedekah 

“Hubungan badan antara kalian (dengan isteri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.” keluarga bahagia menurut islam didapat jika saling menyayangi sesuai hadits tersebut.

2. Membersihkan Jiwa  

Uqail Al-Hambil berkata tentang hukum suami tidak memberi nafkah batin pada istri, “Ketika aku terkunci (mentok) pada suatu permasalahan (ilmu), maka aku panggil istriku untuk berhubungan badan. Ketika aku selesai, maka aku ambil kertas dan aku tuangkan ilmu padanya (mulai menulis)”, karena jima’ dapat membersihkan fikiran dan menguatkan pemahaman.”

3. Mendapat Pahala Sepanjang Melangkah dalam Keseharian 

“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendaraan, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

4. Memenuhi Hak Suami Istri 

Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.”  Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (isteri) tetap tidak boleh menolak.”

5. Jalan ke Surga 

” Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An Nisa: 114).

6. Pahala Seperti Qurban 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi bersabda: “Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam.

7. Didoakan Malaikat 

Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850).

8. Jauh dari Laknat 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436).

9. Membahagiakan Diri dan Hati 

“Sesungguhnya wanita datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Jika seorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menakjubkan (tanpa sengaja), maka hendaknya ia mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya, karena hal itu akan menolak sesuatu (berupa syahwat) yang terdapat pada dirinya” (HR. Muslim no. 1403).

10. Membuat Hati Sejuk 

Telah dijadikan kesenangan bagiku dari kehidupan dunia; istri, wewangian, dan dijadikannya penyejuk mata hatiku di dalam shalat. (HR. Ahmad, al-Nasa`iy, al-Thabarani, al-Bayhaqi).

11. Pahala Kasih Sayang 

Telah menceritakan kepadaku Bapakku bahwa dia melaksanakan haji wada’ bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertahmid dan memuji Allah, beliau memberi pengingatan dan nasehat. Beliau menuturkan cerita dalam haditsnya, lantas bersabda:

“Ketahuilah, berbuat baiklah terhadap wanita, karena mereka adalah tawanan kalian. Kalian tidak berhak atas mereka lebih dari itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Jika kemudian mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Ketahuilah; kalian memiliki hak atas istri kalian dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas istri kalian ialah dia tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian. Tidak boleh memasukan seseorang yang kalian benci ke dalam rumah kalian. Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka.” (H.R. At-Tirmidzi).

12. Menjadi Pasangan Terbaik 

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. At Tirmidzi).

13. Pahala Mengalir Sepanjang Waktu 

Pahala terus mengalir bagi suami istri yang berhubungan badan, sebab hubungan badan memberi kebahagiaan dan dari kebahagiaan yang diberikan tersebut akan membuat pahala terus mengalir untuk keduanya sehingga kasih sayang antar sesama selalu meningkat dan jauh dari permasalahan.

14. Mencegah Keburukan 

Dengan melakukan hubungan suami istri tentu akan menjauhkan dari keburukan, yakni menjauhkan dari maksiat baik itu zina mata, zina hati dsb sebab apa yang diinginkan telah dipenuhi oleh pasangannya atau suami dan istrinya sehingga ia tak butuh hal lain dari luar untuk bahagia, cukup dengan istri atau suaminya saja.

15. Jauh dari Maksiat 

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu,

dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Q. S. Al Baqarah: 187).

16. Pahala seperti sedekah 

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan. Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah. Menyuruh pada yang ma'ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima) dengan istrinya adalah sedekah."

17. Menyempurnakan setengah agama 

Laki-laki yang sudah menikah dan mendapatkan istri untuk menyalurkan hasrat syahwatnya akan memiliki pikiran yang tenang dan tentram serta produktif. Ini yang dimaksud dengan menyempurnakan setengah agama sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.”

Maksud menyempurnakan agama adalah telah lebih terlindungi dari fitnah ujian syahwat dan zina, karena ia sudah menyalurkannya kepada yang halal, seorang wanita yang ia cintai yaitu istrinya.

Demikian yang dapat disampaikan, semoga menjadi wawasan berkualitas dan menjadi motivasi untuk kita terus meningkatkan kedekatan dan kasih sayang dengan suami istri sehingga dapat menjadikan hal tersebut sebagai jalan pahala dan dapat mencegah maksiat.

Semoga bermanfaat....


ONE DAY ONE HADITS 

Rabu, 24 Januari 2024 M / 12 Rajab 1445 H.

Hubungan Suami Istri

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ » قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Hubungan intim antara kalian adalah sedekah”. Para sahabat lantas ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu malah mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada wanita yang haram, kalian mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika kalian bersetubuh dengan wanita yang halal, kalian akan mendapatkan pahala” (HR. Muslim no. 1006).

Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :

1. Islam melarang istri menolak ajakan berhubungan intim dari suami, bahkan bercumbu dengan istri termasuk sedekah.

2. Lebih sering terjadi percumbuan dan hubungan intim antara suami istri, lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ » قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Hubungan intim antara kalian adalah sedekah”. Para sahabat lantas ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu malah mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada wanita yang haram, kalian mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika kalian bersetubuh dengan wanita yang halal, kalian akan mendapatkan pahala” (HR. Muslim no. 1006).

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum-mu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan…” [QS. Ar-Ra’d/13: 38].

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…” [QS. An-Nuur/24: 32].

3. Allah Azza wa Jalla berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34).

Selasa, 23 Januari 2024

AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG BERTAUBAT

Edisi Selasa, 23 Januari 2024 / 11 Rajab 1445 H.

Dalam kitab Risalah al-Qusyairiyah dijelaskan bahwa pengertian taubat dalam bahasa Arab adalah al-ruju’ (kembali) yaitu berasal dari akar kata taaba-yatuubu. Sedangkan dalam pengertian syara, taubat adalah kembali dari sesuatu yang tercela kepada sesuatu yang terpuji menurut hukum syar’i. Taubat itu bisa juga dikatakan sebuah penyesalan seorang hamba yang melakukan dosa. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits bahwa an-nadmu taubatun (penyesalan adalah taubat). (Imam Abi al-Qasim al-Qusyairy, Al-Risalah al-Qusyairiyah, Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2011, halaman: 127).

Manusia adalah tempatnya salah dan dosa, setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik mungkin kita tidak terlepas dari yang namanya kesalahan dan dosa. Maka dari itu hendaklah kita senantiasa beristighfar, mohon ampun kepada Allah, dan bertaubat kepada-Nya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, hadits ini hasan)

Pada tulisan kali ini kita akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang bertaubat. Simak selengkapnya pada tulisan di bawah ini.

1. Q.S. Al-A’raaf : 153 

وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-A’raaf : 153).

2. Q.S. Al-Ahqaaf : 15 

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (Q.S. Al-Ahqaaf : 15).

3. Q.S. Al-An’aam : 46 

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-An’aam : 46).

4. Q.S. Al-Baqarah : 54 

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al-Baqarah : 54).

5. Q.S. Al-Baqarah : 222 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Q.S. Al-Baqarah : 222).

6. Q.S. Al-Baqarah : 279 

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Q.S. Al-Baqarah : 279).

7. Q.S. Al-Buruuj : 10 

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (Q.S. Al-Buruuj : 10).

8. Q.S. Al-Furqaan : 70-71 

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Furqaan : 70-71).

9. Q.S. Al-Jaatsiyah : 35 

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. (Q.S. Al-Jaatsiyah : 35).

10. Q.S. Al-Maa’idah : 39 

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maa’idah : 39).

11. Q.S. Al-Maa’idah : 74 

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maa’idah : 74).

12. Q.S. Al-Mu’min : 7 

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, (Q.S. Al-Mu’min : 7).

13. Q.S. Al-Qashash : 67 

فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَىٰ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ

Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-Qashash : 67).

14. Q.S. An-Nahl : 119 

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nahl : 119).

15. Q.S. An-Nisaa’ : 17-18 

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (Q.S. An-Nisaa’ : 17-18).

16. Q.S. An-Nuur : 5 

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nuur : 5).

17. Q.S. Ar-Ra’d : 27 

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

Orang-orang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya", (Q.S. Ar-Ra’d : 27).

Itulah berbagai ayat Al-Quran yang menyebutkan dan membicarakan tentang bertaubat. Hendaknya kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa bertaubat kepada-Nya karena kita tahu bahwa hampir setiap saat kita tidak terlepas dari khilaf, lupa, kesalahan dan dosa.

Semoga bermanfaat....


ONE DAY ONE HADITS

Selasa, 23 Januari 2024 M / 11 Rajab 1445 H

Taubat Nasuha

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب في اليوم مائة مرة

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali”. (HR. Muslim: 4870).

Beberapa Pelajaran yang terdapat dalam Hadits:

Taubat merupakan ibadah yang sangat agung dan memiliki banyak keutamaan.

Makna taubat nasuha diantaranya :

1. Taubat yang Murni (Ikhlas) dan Jujur

Secara bahasa, نصح (na-sha-kha) artinya sesuatu yang bersih atau murni (tidak bercampur dengan sesuatu yang lain).

Sesuatu disebut (الناصح) (an-naashikh), jika sesuatu tersebut tidak bercampur atau tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain, misalnya madu murni atau sejenisnya.

Di antara turunan kata نصح adalah  النصيحة(an-nashiihah).

(Lihat Lisaanul ‘Arab, 2/615-617).

Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut dengan taubat nasuha jika pelaku taubat tersebut memurnikan, ikhlas (hanya semata-mata untuk Allah), dan jujur dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan kekuatannya untuk menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat dengan taubat yang benar (jujur).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan,

أَيْ تَوْبَةً صَادِقَةً جَازِمَةً تَمْحُو مَا قَبْلَهَا مِنَ السَّيِّئَاتِ، وَتَلُمُّ شَعَثَ التَّائِبِ وَتَجْمَعُهُ وَتَكُفُّهُ عَمَّا كَانَ يَتَعَاطَاهُ مِنَ الدَّنَاءَاتِ.

“Yaitu taubat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan”

(Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim, 4/191).

Ketika menjelaskan ayat di atas, penulis kitab Tafsir Jalalain berkata,

صَادِقَة بِأَنْ لَا يُعَاد إلَى الذَّنْب وَلَا يُرَاد الْعَوْد إلَيْهِ

“Taubat yang jujur, yaitu dia tidak kembali (melakukan) dosa dan tidak bermaksud mengulanginya.” (Tafsir Jalalain, 1/753).

Taubat nasuha ini akan terasa pengaruhnya bagi pelakunya, yaitu orang lain kemudian mendoakan kebaikan untuknya. Terdapat beberapa syarat agar taubat nasuha diterima, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama. 

2. Taubat yang Memperbaiki Kerusakan dalam Agama akibat Perbuatan Maksiat

Penulis ‘Umdatul Qari menjelaskan,

وأصل النَّصِيحَة مَأْخُوذ من نصح الرجل ثَوْبه إِذا خاطه بالمنصح

“Adapun makna asal dari ‘nashihah’ diambil dari seseorang yang menjahit pakaiannya, ketika dia menyulam pakaiannya dengan jarum.”

(‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321)

Beliau rahimahullah kemudian melanjutkan,

وَمِنْه التَّوْبَة النصوح، كَأَن الذَّنب يمزق الدّين وَالتَّوْبَة تخيطه

“(Dari kata nashihah tersebut) muncullah istilah ‘taubat nasuha’.

Seakan-akan dosa (maksiat) telah merobek agama (seseorang), dan taubatlah yang menjahit kembali (robekan tersebut).”

(‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321).

Al-Qurthubi rahimahullah berkata,

وقيل: هي مأخوذة من النصاحة وهي الخياطة. وفي أخذها منها وجهان: أحدهما- لأنها توبة قد أحكمت طاعته وأوثقتها كما يحكم الخياط الثوب بخياطته ويوثقه

“Dikatakan, (taubat nasuha) diambil dari kata ‘an-nashahah’, yaitu ‘jahitan’.

Berdasarkan asal kata tersebut, terdapat dua sisi (makna) dari taubat nasuha.

Pertama, karena taubat tersebut telah memperbaiki ketaatan dan menguatkannya. Sebagaimana jahitan yang memperbaiki pakaian dan menguatkannya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199).

Berdasarkan makna secara bahasa di atas, maka pelaku taubat nasuha telah menyempurnakan taubatnya dan memperkuat taubatnya dengan melaksanakan berbagai macam amal ketaatan. Hal ini sebagaimana jahitan yang menyempurnakan (memperbaiki) pakaian, menguatkan, dan merapikannya.

Abu Ishaq rahimahullah berkata,

بَالِغَة فِي النصح وَهِي الْخياطَة كَانَ الْعِصْيَان يخرق وَالتَّوْبَة ترفع

“Taubat nasuha adalah taubat yang mencapai puncak kesempurnaan (yang dilaksanakan semaksimal mungkin, pen.).

Taubat ini (sejenis dengan) pekerjaan menjahit. Seakan-akan maksiat telah merobek (agama), dan taubatlah yang menambal (menjahit atau memperbaikinya).”

(‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 22/280).

Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan sisi yang lain istilah taubat nasuha sesuai dengan makna bahasa di atas.

Beliau rahimahullah berkata,

والثاني- لأنها قد جمعت بينه وبين أولياء الله وألصقته بهم، كما يجمع الخياط الثوب ويلصق بعضه ببعض.

“Sisi yang ke dua, karena taubat nasuha mengumpulkan antara pelakunya dengan wali-wali Allah, dan merekatkannya.

Hal ini sebagaimana jahitan yang merekatkan pakaian dan menyambung antara sisi (kain) yang satu dengan sisi lainnya.”

(Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199).

3. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk dalam hamba-hambaNya yang gemar untuk bertaubat. Aamiin

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

Allâh Ta’ala berfirman:

(قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم. وأنيبوا إلى ربكم…..)

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan Kembalilah kalian kepada Tuhan Kalian (Bertaubat)….”. (QS. Az-Zumar: 53-54).