Kamis, 03 September 2020

17 PAHALA MEMINJAMKAN UANG MENURUT ISLAM

Edisi Kamis, 3 September 2020 M / 15 Muharram 1442 H

Tiap orang tentu memiliki rezeki sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang diusahakannya dan sesuai dengan kehendak Allah dan mendapatkan pahala bekerja.  Dalam suatu kondisi, kita terkadang mengalami keadaan yang membutuhkan uang atau hal lain secara darurat karena kepentingan tertentu. Namun segala usaha yang dilakukan belum mampu menghasilkan kebutuhan darurat tersebut, maka salah satu cara yang dilakukan umumnya dengan berhutang, yakni untuk menutup kebutuhan darurat itu sementara waktu. 

Tentu saja hutang itu adalah sesuatu yang berat dan membuat hukum sebab akibat dalam islam, yang menjadi beban sepanjang hari dan membuat hari-hari serasa tak tenang namun kadang memang tak ada pilihan lain dan harus menjalani ujian kehidupan dengan sabar agar mendapat kebaikan balasan surga dalam islam. 

Lain halnya dengan orang yang senantiasa berkecukupan tak kekurangan suatu apapun sehingga ia punya jalan untuk mendapat kenyamanan duniawi juga punya jalan untuk menggunakan apa yang dititipkan Allah untuk bekal akherat, tentu tak merasakan susahnya berhutang karena menjadi orang sukses menurut islam yang segalanya berkecukupan. Menjadi orang yang demikian harusnya banyak bersyukur dengan cara banyak bersedekah. Nah, orang yang mendapat rezeki dari Allah tersebut

salah satunya bisa mensyukuri dengan membantu orang lain dalam hal hutang, yakni memberikan pinjaman tanpa riba, tentunya dengan jalan yang baik dan tidak melukai hati orang yang dipinjami atau tidak riya, jika mampu memberi pinjaman kepada orang lain dengan ikhlas, karena baginya terdapat 17 Pahala Meminjamkan Uang dalam Islam, berikut selengkapnya.

1. Mendapat Kemudahan Urusan Dunia Akherat 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

2. Mendapat Rahmat 

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)

3. Pahala Ketika Menagih dengan Cara yang Baik 

Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik-baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

4. Pahala Ketika Memberikan Tenggang Waktu 

Allah Ta’ala berfirman,  “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)

5. Mendapatkan Naungan Allah 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.” (HR. Muslim no. 3006)

6. Mendapat Pahala Sedekah Berlipat Lipat 

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, “Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan,  dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

7. Mendapat Ampunan Allah 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Dulu ada seorang pedagang biasa memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ketika melihat ada yang kesulitan, dia berkata pada budaknya: Maafkanlah dia (artinya bebaskan utangnya). Semoga Allah memberi ampunan pada kita. Semoga Allah pun memberi ampunan padanya.”(HR. Bukhari no. 2078)

8. Mendapat Syafaat di Hari Kiamat 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Ada seseorang didatangkan pada hari kiamat. Allah berkata (yang artinya), “Lihatlah amalannya.” Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rabbku. Aku tidak memiliki amalan kebaikan selain satu amalan. Dulu aku memiliki harta, lalu aku sering meminjamkannya pada orang-orang. Setiap orang yang sebenarnya mampu untuk melunasinya, aku beri kemudahan. Begitu pula setiap orang yang berada dalam kesulitan, aku selalu memberinya tenggang waktu sampai dia mampu melunasinya.” Lantas Allah pun berkata (yang artinya), “Aku lebih berhak memberi kemudahan”. Orang ini pun akhirnya diampuni.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih)

9. Pahala Jika Pemberi Hutang Tidak Mengambil Keuntungan Duniawi (Riba) 

“Apabila salah seorang kalian memberi hutang (pada seseorang) kemudian dia memberi hadiah kepadanya, atau membantunya naik ke atas kendaraan maka janganlah ia menaikinya dan jangan menerimanya, kecuali jika hal itu telah terjadi antara keduanya sebelum itu.” (HR. Ibnu Majah)

10.Pahala Seperti Memerdekakan Budak 

“Barang siapa memberi pinjaman berupa unta (untuk diambil air susunya) atau uang atau memberikan tanahnya untuk dijadikan jalan umum, baginya sama dengan pahala memerdekakan budak.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

11. Pahala Lebih dari Sedekah 

Abu Umamah Radhiyallahu'anhu mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Ada orang yang masuk surga melihat tulisan pada pintunya: ‘Pahala bersedekah adalah sepuluh kali lipat, sedangkan (pahala) memberi pinjaman adalah delapan belas kali lipat.’” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang tersebut adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri. (HR Thabrani dan Baihaqi).

12. Mendapat Naungan Arsy di Hari Kiamat 

“Barangsiapa memberi keringanan pada orang yang berutang padanya atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapatkan naungan ‘Arsy di hari kiamat.” Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih. (Lihat Musnad Shohabah fil Kutubit Tis’ah dan Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada tafsir surat Al Baqarah ayat 280)

13. Mendapat Ampunan Allah Sepanjang Hari 

“Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan,  dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah

jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

14. Pahala Menolong Orang Lain dan Silaturahmi 

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Ya’quub Al-Kirmaaniy[1] : Telah menceritakan kepada kami Hassaan[2] : Telah menceritakan kepada kami Yuunus[3] : Telah berkata Muhammad – ia adalah Az-Zuhriy[4] – , dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067].

15. Pahala Membahagiakan Orang Lain 

“Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah Ta’ala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.” kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah.

Oleh karena itu, ketika kita memberi hutang, juga kitapun memiliki kewajiban untuk mengingatkan orang yang berhutang tersebut yakni untuk membayar hutangnya, tentu dengan cara baik yang tidak menyakiti , jangan lupa selalu berdoa agar  terhindar dari riya dan sungguh sungguh memberi pinjaman semata karena Allah yakni untuk menggunakan rezeki yang dtitipkanNya di jalanNya untuk bekal hidup di akherat.

16. Pahala dimudahkan meninggal dalam keadaan baik 

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَلَقَّتِ الْمَلاَئِكَةُ رُوحَ رَجُلٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ قَالُوا أَعَمِلْتَ مِنَ الْخَيْرِ شَيْئًا قَالَ كُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِى أَنْ يُنْظِرُوا وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُوسِرِ قَالَ قَالَ فَتَجَاوَزُوا عَنْهُ

“Beberapa malaikat menjumpai ruh orang sebelum kalian untuk mencabut nyawanya. Kemudian mereka mengatakan, ‘Apakah kamu memiliki sedikit dari amal kebajikan?’ Kemudian dia mengatakan, ‘Dulu aku pernah memerintahkan pada budakku untuk memberikan tenggang waktu dan membebaskan utang bagi orang yang berada dalam kemudahan untuk melunasinya.’ Lantas Allah pun memberi ampunan padanya.” (HR. Bukhari, no. 2077)

17. Pahala bersedekah berlipat dua dari piutangnya 

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ , فَإِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَأَنْظَرَهُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

“Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan,  dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya.” (HR. Ahmad, 5:360. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim, perawinya terpercaya termasuk perawi syaikhain kecuali Sulaiman bin Buraidah, ia merupakan perawi Muslim. Syaikh Al-Albani juga menyatakan sanad hadits ini sahih sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 86, 1:170).

Demikian yang dapat penulis sampaikan, itulah pahala meminjamkan uang , jika suatu hari kita menemui hal yang sama dan ada orang yang jauh lebih membutuhkan, tak ada salahnya melakukannya untuk membantu orang lain. Namun lakukanlah semua karena Allah , jika suatu hari orang yang dibantu tersebut dengan sengaja tidak mengembalikan pinjaman padahal dia mampu atau justru berkata tidak baik dan tidak tahu terima kasih, maka itu bukan urusan kita, itu urusannya dengan Allah Subhanahu wa ta'ala. Dimana orang yang berhutang namun tidak mau mengembalikan maka di akherat nanti ia akan dipandang sebagai pencuri, jadi tenang saja, biar Allah yang memberi balasan atas semuanya.

Yang penting kita melakukannya karena Allah dan insya Allah akan mendapat ganti rezeki yang jauh lebih berkah serta mendapat pahala yang luar biasa karena kebaikan ikhlas membantu orang lain dan bersabar yang intinya dilakukan semuanya karena Allah Subhanahu wa ta'ala. 

Semoga bermanfaat....

Rabu, 02 September 2020

17 CARA BERTEMAN DENGAN WANITA DALAM ISLAM DAN DALILNYA

Edisi Rabu, 2 September 2020 M / 14 Muharram 1442 H

Islam adalah agama yang sempurna, agama mulia yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan berbagai ketetapan syariat agar manusia dapat hidup terarah dan tentram. Di dunia ini Allah menciptakan manusia terdiri dari laki laki dan wanita dengan tujuan nantinya akan dijadikan sebagai pasangan dan pelengkap hidup.

Laki laki dan wanita masing masing memiliki keunikan tersendiri. Hidup laki laki akan terasa lebih lengkap dengan adanya wanita, dan sebaliknya pula wanita membutuhkan laki laki sepanjang kehidupannya. Namun tetap harus diperhatikan mengenai larangan berpacaran dalam islam untuk menghindari perbuatan dosa dan maksiat.

Di jaman modern ini, laki laki dan wanita sudah terbiasa bekerja sama dalam hal apapun, baik itu pertemanan, rekan kerja, dan lain sebagainya. Islam tidak mengharamkan perkara tersebut, hanya saja islam memiliki etika atau syariat agar terhindar dari zina dan dapat menjalani hubungan yang selamat di dunia dan di akherat. Etika ini harus diperhatikan oleh setiap muslim yaitu sebagai berikut :

1. Menjaga Pandangan Mata 

Tidak diperkenankan melihat lawan jenis secara berlebihan, awal dari nafsu atau syahwat adalah dari pandangan mata, maka pandangan mata harus senantiasa dijaga agar terhindar dari tipu daya syetan. hukum wanita tidak berhijab juga perlu diperhatikan untuk menutup peluang kemaksiatan melalui pandangan. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

“Janganlah engkau iringkan satu pandangan kepada wanita yang bukan mahram dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu halal bagimu, tetapi tidak yang kedua!“. (HR Abu Daud)

Dari hadits tersebut jelas bahwa diwajibkan menjaga pandangannya masing masing, tidak diperkenankan dengan sengaja saling berpandangan karena hal tersebut termasuk sesuatu yang di haram kan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

2. Menjaga Aurat 

Menjaga aurat dapat dilakukan dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah, wajib memakai pakaian yang sopan dan menutup aurat. Syariat ini harus diperhatikan, hukum melihat aurat wanita dalam islam haram hukumnya. Maka dari itu wanitalah yang seharusnya sadar agar tidak menjadi pemberi peluang untuk berbuat dosa. Allah berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah pada istri istri mu dan anak anak perempuan mu dan juga pada istri istri orang mukmin : hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS Al Ahzab : 59)

3. Tidak Berduaan 

Tidak ada larangan untuk bergaul dengan lawan jenis, namun membutuhkan lebih banyak kewaspadaan dan kehati-hatian dalam melakukannya. Hal ini demi mencegah terjadinya fitnah apalagi terjerumusnya keduanya dalam dosa besar. Salah satu adab yang perlu dipatuhi adalah tidak berduaan. Ketika keduanya hanya berduaan, maka setan akan sangat mudah untuk menggoda dan membisikkan berbagai macam godaan dosa yang terlihat indah. Bahkan meskipun seorang yang alim, hendaknya tetap menghindari kontak seperti ini.

Juga dalam islam antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram tidak diperkenankan berdekatan atau berduaan, hal tersebut amat mudah memunculkan syahwat hingga mendekatkan diri pada zina, karena itulah dalam kondisi apapun harus senantiasa menjaga jarak satu sama lain. Hal ini ditegaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits berikut :

Dari Umar bin Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya, maka dia adalah seorang mukmin.” (HR. Ahmad).

4. Bertutur Kata Sopan 

Dalam berbicara dengan lawan jenis, harus menggunakan tata krama dan tutur kata yang sopan, jangan sampai menyakiti, berbicara kotor, atau mengeluarkan kalimat yang lemah lembut sehingga memancing syahwat. Ucapkan segala sesuatu seperlunya, sesuatu yang bermanfaat, Allah Ta'ala berfirman :

“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf”. (QS Ahzab : 32)

5. Tidak Bersentuhan Kulit 

Tidak diperkenankan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya termasuk berjabat tangan, salam tetap bisa dilakukan tanpa harus bersentuhan kulit. Hal ini senantiasa dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam yang dalam suatu hadits disebutkan bahwa beliau tidak pernah sekalipun menyentuh tangan wanita yang bukan mahramnya. Bersentuhan kulit wajib dihindari karena termasuk perbuatan dosa dan diharamkan islam.

“sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita”. (HR Malik, Tirmizi dan Nasa’i).

6. Tidak Berbaur 

Segala kegiatan islami tidak pernah sekalipun membaurkan laki laki dengan perempuan, misalnya dalam kegiatan shalat berjamaah di masjid, kegiatan pengajian, dan lain sebagainya laki laki dan wanita senantiasa dipisah diberikan tempat yang berbeda, seperti itulah etika yang benar menurut islam, memang harus ada batasan agar terhindar dari hal hal yang tidak diharapkan seperti kisah pada jaman Rasulullah ketika beliau keluar dari masjid dan melihat laki laki berbaur dengan perempuan beliau bersabda

“Mundurlah kalian kaum wanita, bukan untuk kalian bagian tengah jalan, bagian kalian adalah pinggir jalan” (HR Abu dawud)

7. Tidak Memikirkan Lawan Jenis Secara Berlebihan 

Kecenderungan terhadap lawan jenis merupakan salah satu fitrah dasar manusia, islam tidak melarang hal tersebut asal disalurkan dengan cara yang di ridhoi Allah. Tidak diperkenankan memikirkan lawan jenis yang bukan mahramnya secara berlebihan hingga menjadikan hal tersebut sebagai angan angan, hal itu termasuk zina seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berikut :

“Setiap bani adam mempunyai bagian dari zina, … zina hati dengan berangan angan dan kemaluan lah yang membenarkan atau menggagalkannya”. (HR Bukhari)

8. Ada Tujuan yang Jelas 

Bekerja sama atau berteman dengan lawan jenis harus memiliki tujuan yang jelas, dalam islam, tujuan pergaulan tersebut haruslah yang menjurus pada kebaikan, misalnya tolong menolong dalam hal pembelajaran atau ilmu, dalam hal pekerjaan yang halal, bekerja sama untuk membantu orang orang yang kurang mampu, dan lain lain. Tidak diperkenankan bergaul dengan tujuan buruk misalnya permusuhan, memanfaatkan, apalagi maksiat atau berzina sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

“dan hendaklah kamu sekalian tolong menolong dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu sekalian bertolong menolong dalam perkara maksiat dan permusuhan”. (QS Al Maidah :2)

9. Tidak Dalam Waktu yang Terus Menerus 

Hubungan berupa pertemuan perkataan, dan lain lain tidak diperkenankan dilakukan dalam waktu yang terus menerus, harus ada batasan sesuai tujuan hubungan tersebut, misalnya hubungan lawan jenis atasan dan bawahan dalam hal pekerjaan, cukuplah bekerja sama dan berkomunikasi dalam pekerjaan dan membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut.

Jika komunikasi atau hubungan dilakukan terus menerus misalnya sepanjang pagi hingga pulang kerja, sore, sepanjang malam masih berkomunikasi lewat telefon atau WA maka hubungan tersebut tidak diperkenankan karena tujuan sudah di luar syariat dan dapat menimbulkan fitnah atau prasangka buruk dari orang lain.

10. Tidak Dalam Urusan Bepergian 

Telah dijelaskan pada poin sebelumnya bahwa hubungan lawan jenis harus memiliki tujuan yang jelas, boleh saja belajar, bekerja, atau saling tolong menolong dalam kebaikan, tetapi dalam urusan bepergian bersama dalam waktu yang lama tidak diperkenankan dalam islam, misalnya sengaja bepergian jauh bersama teman lawan jenis nya dengan alasan persahabatan, hal tersebut tidak diijinkan dalam islam seperti yang dijelaskan pada hadits berikut :

“tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan sepanjang siang dan malam (dalam riwayat lain disebutkan sepanjang dua hari) kecuali apabila dia ditemani dengan mahramnya”. HR Bukhari).

Hal ini bertujuan menjaga kehormatan wanita dan menghindari fitnah.

11. Memiliki Rasa Malu 

Setiap umat muslim harus memiliki rasa malu, hakikat malu menurut islam adalah meninggalkan keburukan, mencegah diri berbuat menyimpang atau melakukan tindakan yang lalai. Sebagai muslim harus tahu bagaimana caranya menjaga rasa malu.

Rasa malu dalam hubungannya dengan lawan jenis adalah tidak diperkenankan melakukan urusan yang mengandung syahwat misalnya membaca atau menonton kisah percintaan bersama, berkomunikasi masalah pribadi, melihat gambar gambar yang membangkitkan syahwat, dan lain lain. Orang yang beriman senantiasa memiliki rasa malu sebagai landasan iman yang kuat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala seperti dinyatakan Rasulullah :

“malu dan iman keduanya sejajar bersama. Ketika salah satu dari keduanya diangkat, maka yang lain pun terangkat”. (HR. Hakim dari Ibu Umar)

12. Tidak Menyampaikan Rahasia Rumah Tangga 

Menceritakan aib istri pada teman wanita sungguh bukanlah perbuatan orang beriman, bahkan itu adalah seburuk buruknya kedudukan seorang suami pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

“sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan istrinya kemudian membeberkan rahasia istrinya tersebut”. (HR Muslim)

13. Tidak Mengambil Gambar (foto) Bersama 

Secara etika, baik etika umum ataupun dalam syariat islam, foto berdua antara lawan jenis yang bukan mahram apalagi dengan pose yang akrab tidak diperkenankan, jika telah memiliki pasangan dapat menimbulkan kesalah pahaman, hal ini terkadang dilihat sebagai sesuatu yang sepele tetapi kemungkinan dapat menyebabkan kecemburuan, prasangka buruk, hingga keretakan rumah tangga. Orang mukmin wajib menjaga diri dari hal tersebut meskipun tidak bermaksud apa apa, segala sesuatu yang tidak sesuai syariat tetap wajib dihindari.

14. Tidak Berkhalwat Melalui Media 

Meskipun secara fisik berjauhan, berkhalwat atau berduaan di media sosial seperti chatting melalui BBM, WA, Facebook dan sejenisnya juga tidak diperkenankan dalam syariat islam jika tujuannya hanya untuk hiburan atau bersenang senang, kecuali jika ada keperluan yang diijinkan oleh syariat islam misalnya dalam hal pekerjaan.

Ingatlah bahwa bergaul dengan lawan jenis memiliki banyak resiko, terutama fitnah dan zina. Maka dari itu, jagalah agar tidak terlalu sering melakukan komunikasi dengan lawan jenis agar tidak terjadi hal yang membuat kita terjerumus dalam dosa. Terlalu berlebihan dalam berkomunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman hingga menimbulkan fitnah.

Rasulullah pernah memberikan peringatan pada kita semua,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no.7122).

15. Tidak berdandan 

Dalam Islam, seorang wanita hanya diperbolehkan untuk berdandan di hadapan suaminya saja. Begitu pula ketika bergaul dengan lawan jenis. Wanita yang dengan sengaja berdandan bahkan menggunakan wewangian untuk memikat laki-laki merupakan wanita yang sangat rendah dalam Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i no. 5129, Abu Daud no. 4173, Tirmidzi no. 2786 dan Ahmad 4: 414. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

16. Menundukkan pandangan 

Baik laki-laki maupun wanita, sebaiknya ketika melakukan komunikasi saling menundukkan pandangan. Hal ini dikarenakan dalam pandangan terdapat godaan untuk melakukan zina dengan diperlihatkannya keindahan dan kenikmatan yang sebenarnya menjebak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Telah ditentukan bagi anak adam (manusia) bagian zinanya. Dimana ia pasti mengerjakannya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memukul, zina kaki adalah berjalan, serta zina hati adalah bernafsu dan berangan-angan, yang semuanya dibuktikan atau tidak dibuktikan oleh kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

17. Mendapat Ijin Dari Pasangan 

Khusus bagi yang sudah mempunyai pasangan (istri), sebaiknya istri mengetahui siapa saja teman terdekat suami dan dalam hubungan apa mereka bekerja sama, hal ini untuk mencegah adanya kesalah pahaman dan fitnah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53).

Itulah beberapa adab bergaul dengan lawan jenis yang perlu diketahui. Demikianlah artikel Tausiah sore ini. Semoga kita dapat menjaga diri kita dengan membangun keimanan yang kuat di tengah terpaan godaan dunia. Aamiin...

Referensi : DalamIslam.com 

Semoga bermanfaat....

Selasa, 01 September 2020

17 BALASAN MENYAKITI HATI ORANG LAIN MENURUT ISLAM

Edisi Selasa, 1 September 2020 M / 13 Muharram 1441 H 

Setiap manusia tentunya tidak akan luput dari kesalahan seperti salah satunya menyakiti hati orang lain. Akan tetapi sebagai seorang muslim, maka sudah selayaknya kita menyadari perbuatan salah tersebut dan berusaha untuk menjauhi perbuatan dosa seperti menyakiti hati orang lain. 

Di dalam Islam, penerapan dari rukun iman diantara hubungan sesama muslim adalah bersaudara dan sudah wajib untuk saling mendukung sekaligus memberikan bantuan. Sebagai sesama muslim, kita dilarang untuk saling menyakiti dan menghina supaya nantinya persatuan umat muslim akan terjalin lebih kuat sekaligus menghindar dari berbagai balasan yang akan didapat apabila kita menyakiti hati orang lain.

Berikut ini beberapa balasan menyakiti hati orang lain menurut Islam :

1. Memikul Kebohongan dan Dosa Nyata 

Allah ta`ala telah berfirman di dalam surat Al-ahzab ayat 58, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Dalam ayat tersebut, Allah ta’ala memberikan penjelasan tentang buruknya dosa serta balasan menyakiti orang mukmin tanpa memiliki hak sebab Allah mengancamnya dengan hukuman yang keras yakni memikul kebohongan dan juga dosa yang nyata. Oleh karena itu, terlihat jelas jika perbuatan yang dilakukan orang tersebut sangat rendah dan hina dirinya sekaligus mempunyai ilmu agama yang sangat sedikit, sebab Allah ta’ala sudah memberikan harga diri dan juga kehormatan untuk setiap mukmin. Ini membuat siapa pun yang menyakiti hati orang lain akan mendapat kemurkaan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

2. Menyakiti Hati Akan di Balas di Neraka 

Di dalam sebuah hadits, mencaci maki dan menyakiti hati orang lain akan mendapatkan balasan di neraka sebab perbuatan tersebut akan menyakiti hati orang lain dan sudah pantas mendapat balasan neraka jahanam. Beberapa perilaku menyakiti hati yang ada dalam hadits diantaranya adalah menuduh, memakan harta orang lain dan juga mencaci maki.

“Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

3. Menyakiti Sesama Muslim Sama Dengan Dosa 

Di dalam Islam, menyakiti hati sesama saudara muslim merupakan perbuatan dosa sehingga harus dihindari agar tidak semakin menumpuk menjadi dosa yang sangat besar khususnya antara sesama muslim sehingga Allah tidak akan membenci kita karena terlalu sering menyakiti hati saudara kita.

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS Al Ahzab : 58)

4. Tidur Dengan Tikar dan Selimut Api Neraka 

Bagi orang yang zalim atau sering menyakiti hati orang lain, maka nantinya mereka akan tidur dengan beralaskan tikar dari api neraka dan juga berselimutkan api neraka.

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka) . Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,” (QS. Al A’raaf  [7]: 41)

5. Mendapat Kutukan Allah 

Balasan lain yang akan didapatkan saat menyakiti hati orang lain adalah mendapat kutukan langsung yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allah Subhanahu Wa Ta'ala sangat membenci perbuatan menyakiti hati orang lain khususnya antar sesama muslim.

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul.” Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim” (QS : Al A’raaf [7 ] : 44).

6. Kebinasaan Kota 

Dalam sebuah ayat Al Quran juga disebutkan jika Allah tidak akan membinasakan kota kecuali jika penduduk didalamnya sudah melakukan kezaliman atau perbuatan yang menyakiti hati orang lain.

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS Al Qashash  [28]:59)

7. Mendapat Balasan Dunia dan Akhirat 

Perbuatan menyakiti hati orang lain merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan masuk ke dalam salah satu dosa besar. Ini membuat manusia yang sering menyakiti hati orang lain akan mendapatkan balasan tidak hanya saat masih hidup di dunia, namun juga akan mendapatkan siksaan pedih di akhirat.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al Qur’an Surah Asy-Syura : 42, “Sesungguhnya dosa besar itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih“.

8. Tidak Akan Masuk Surga 

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.

Menyakiti hati orang lain akan menjamin tidak akan mendapat surga bagi pelakunya karena sudah membuat rasa tidak nyaman bagi orang yang tersakiti.

9. Diberikan Laknat 

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perihal tetangganya kepada beliau. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda [tiga kali], “Bersabarlah”….[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5153), Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (124) dan Al-Hakim (4/160) dengan sanad hasan. Dan Al-Bazzar (1904), Al-Hakim (4/166) dan Al-Bukhari dalam Al-Adab (125) membawakan riwayat sebagai syahid bagi hadits tersebut dari Abu Juhaifah. Dan di sanadnya ada kelemahan serta jahalah (rawi yang tidak dikenal)]

Menyakiti hati orang lain akan membuat laknat yang diserukan orang yang tersakiti akan terkabul dan menimpa pelaku saat ia masih hidup di dunia.

10. Mendapatkan Balasan Setimpal 

Apabila kita melakuan perbuatan dosa yakni menyakiti hati orang lain, maka perbuatan kejahatan tersebut juga akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada dosa atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas dimuka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya perbuatan demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.’ (QS. Asy-Syuura’ 39-43).

11. Setara Dengan Makan Bangkai Saudara 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala lewat surah Hujurat ayat 12 sudah bersabda jika setiap umat muslim harus menjauhi perbuatan tercela seperti berprasangka, menyakiti hati orang lain, mecari kesalahan dan juga menggunjing. Allah memberi gambaran jika orang yang selalu menyakiti hati orang lain sama saja dengan makan bangkai saudaranya dan perbuatan tersebut tidak hanya menyakiti hati sesama muslim namun juga mengancam kerukunan antar umat muslim.

Sesungguhnya orang-orang yang senang menyebarkan kejelekan dalam kalangan orang beriman bagi mereka siksa yang pedih di dunia dan akhirat, dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak tahu. [Hadits Termizi No. 1827 Abwabu Birri wa Shillah]

12. Amal Tidak Berguna dan Tak Berpahala 

Semua amal yang sudah dilakukan tidak akan berarti dan tidak akan mendapatkan pahala apabila masih sering melakukan perbuatan dosa seperti menyakiti hati orang lain. Semua amalan ini akan sia – sia belaka di sisi Allah Subhnahu Wa Ta'ala.

13. Amalan Sholat Tak Berpahala 

Menyakiti hati orang lain juga akan membuat semua amalan shalat yang sudah dilakukan tidak akan memperoleh pahala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Terdapat 5 macam orang yang shalatnya tidak berpahala, yaitu: Istri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, budak yang melarikan diri, orang yang mendendam saudaranya melebihi 3 hari, peminum khamar dan imam shalat yang tidak disenangi makmumnya.”

14. Allah Akan Mengorek Kesalahannya 

Barang siapa yang seringkali mencari kejelekan saudara sesama muslim dan juga menyakiti hatinya dengan cara menuduh, berkata dusta dan berbagai perkataan serta perbuatan yang menyakiti hati, maka Allah sendiri juga akan mengorek kesalahan orang yang menyakiti hati orang lain tersebut dan akhirnya akan dihinakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala meski sudah berada di bilik rumahnya.

15. Allah Akan Membuka Aibnya 

Balasan bagi orang yang suka menyakiti hati orang lain adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sendiri yang akan membuka aib orang tersebut. Mungkin kita tidak pernah menyadari jika Allah Subhanahu WaTa'ala sebenarnya sudah menutup aib kita. Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menutup aib yang kita miliki dengan sangat rapat hingga nanti di hari perhitungan. Namun, karena sudah berdosa dengan cara menyakiti hati orang lain, maka hukum karma dalam Islam akan berlaku yakni Allah Subhnahu Wa Ta'ala membuka aib orang tersebut karena sudah menyakiti saudaranya.

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,” [QS. Al A’raaf : 41]

16. Menjadi Orang Bangkrut Saat Kiamat 

Seseorang yang sangat senang menyakiti hati sesamanya meskipun orang tersebut sudah melakukan ibadah wajib, maka sesuai dengan apa yang sudah tertulis dalam Al Quran, maka orang tersebut akan menjadi salah satu orang yang bangkrut pada hari kiamat dalam Islam nanti. Hal ini bisa terjadi sebab Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan pernah bisa tertipu dengan seseorang yang sangat ahli dalam beribadah namun memiliki sikap yang sangat buruk.

“Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu oang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti mereka” [HR. Muslim no 6522, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya].

17. Menanggung Dosa dan Fitnah 

Seseorang yang selalu menyakiti hati orang lain juga akan memiliki beban berupa dosa dan fitnah dalam Islam yang bisa terjadi karena perbuatan yang sudah dilakukannya sendiri.

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [QS Al Ahzab : 58]

Sudah sepantasnya bagi kita sesama umat muslim untuk selalu menjaga hubungan dengan sangat baik dan menjauhi sikap saling menyakiti hati orang lain. Sebab, perbuatan demikian tidak akan memberi keuntungan apapun juga, namun hanya membuahkan dosa dan keburukan yang akan diterima baik di dunia maupun akhirat. Demikian, tausiah 17 sore ini, terima kasih telah membaca.

Semoga bermanfaat....