Rabu, 25 November 2020

17 ADAB GURU MENURUT ISLAM

Edisi Rabu, 25 November 2020 M / 10 Rabi'ul Akhir 1441 H

Dalam menyambut HUT PGRI atau Hari Guru Nasional,  tausiah sore ini membahas 17 adab guru menurut islam yang disarikan dari kitab Adab al-Alim wa al Muta'allim karya KH.M.HasyimAsy'ari, pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari kalangan pesantren.

Tak hanya murid saja yang harus mempunyai adab, seorang guru juga harus memiliki adab dan tata krama dalam mendidik murid atau santri. Pada tausiah edisi Rabu sore ini, bertepatan dengan Hari Guru Nasional 25 November, kita akan mengutipkan nasehat Mbah Hasyim kepada guru dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim.  

Ada 17 poin adab guru dan nasehat untuk guru yang ada dalam kitab. Berikut ulasannya:

1. Sadar Pengawasan Allah Subhanahu wa ta'ala 

Seorang guru harus selalu merasa di awasi Allah Ta'ala saat sendiri atau bersama orang lain. Muraqabah atau selalu sadar pengawasan Allah Subhanahu wa ta'ala kapan pun dan dimanapun. Seorang guru yang sadar pengawasan Allah akan selalu berusaha menjaga etika dan menjadi guru yang baik.

2. Takut Kepada Allah dalam Segala Hal 

Seorang guru harus senantiasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dalam setiap gerak, diam, ucapan dan perbuataan, sebab ilmu, hikmah dan takut adalah amanah yang dititipkan kepadanya, sehingga bila tidak dijaga maka termasuk berkhianat. Allah Subhanahu wa ta'ala telah berfirman, “Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) jangan kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal: 27)

3. Tenang, Wara, Tawadhu’ dan Khusuk 

Selalu tenang, wara`, tawadhu` dan khusyuk kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Imam Malik berkata kepada Khalifah Harun ar Rasyid dalam suratnya, “Apabila engkau mengetahui suatu ilmu, hendaknya tampak pada dirimu pengaruh dari ilmu itu, juga kewibawaan, ketenangan dan kesantunan dari ilmu itu. Karena Rasul pernah bersabda bahwa ulama adalah ahli waris para nabi.”

Sahabat Umar radhiyallahu'anhu berkata, “ Pelajari ilmu beserta sikap tenang dan wibawa.” Sebagian ulama salaf berkata, “Wajib bagi orang yang berilmu bersikap rendah diri di hadapan Allah Ta'ala, baik dalam keadaan sendirian maupun ketika bersama orang lain; menjaga jarak dengan hawa nafsunya dan berhenti dari hal-hal yang akan menyulitkannya.”

4. Memasrahkan Semua Urusan Kepada Allah 

Seorang guru hendaknya memasrahkan semua urusan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Seorang guru bisa berusaha memberikan ilmu kepada murid.  Namun, berhasil atau tidaknya harus dipasrahkan kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala. 

5. Tidak Menjadikan Ilmu Batu Loncatan 

Sangat berbahaya jika ilmu dibuat sebagai batu loncatan. Seorang guru tidak boleh menjadikan ilmunya sebagai batu loncatan untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi seperti jabatan, harta, kekayaan, perhatian orang, ketenaran atau keunggulan atas teman-teman seprofesinya. Semua didasarkan pada keikhlasan karena Allah dan tanpa tendensi lain yang mengganggu kemurnian hubungan guru-murid.

6. Tidak Memuliakan Penghamba Dunia 

Seorang guru tidak boleh memuliakan para penghamba dunia dengan cara berjalan dan berdiri untuk mereka, kecuali bila kemaslahatan yang ditimbulkan lebih besar dari ke-mafsadahan-nya. Hendaknya juga tidak mendatangi tempat calon murid guna mengajarkan ilmu kepadanya, meskipun murid itu orang berpangkat tinggi. Sebaiknya guru memelihara kehormatan ilmunya sebagaimana ulama salaf memeliharanya.

Sangat banyak cerita tentang bagaimana ulama salaf memelihara kehormatan ilmu di hadapan para khalifah dan para pejabat lainnya, seperti cerita yang diriwayatkan Imam Malik bin Anas bahwasanya dia pernah bertutur, “Aku mendatangi Harun ar-Rasyid, lalu dia berkata padaku, ‘Wahai Abu Abdillah, sepatutnya engkau sering mengunjungi kami agar anak-anakku bisa mempelajari kitab Muwatho` darimu.’ Akupun balik berkata, ‘Semoga Allah memuliakan raja. Sesungguhnya ilmu ini telah keluar dari anda; ia akan mulia bila anda memuliakannya dan menjadi hina bila anda merendahkannya. Ilmu itu dihampiri bukan menghampiri.’ Khalifah berkata, ‘Engkau benar. (Hai anak-anakku) pergilah kalian ke masjid dan belajarlah bersama orang-orang’.”

Imam Zuhri berkata, “Satu hal yang membuat llmu hina, yaitu bila guru mendatangi rumah murid dengan membawa ilmu untuk diajarkan.” Jika terdapat suatu keadaan mendesak yang menghendaki untuk berbuat seperti di atas atau ada tuntutan kemaslahatan yang lebih besar dari kemafasadahan hinanya ilmu, maka perbuatan tersebut diperbolehkan selama dalam kondisi seperti itu. Faktor inilah yang menjadi dasar dari apa yang dilakukan oleh sebagian ulama salaf ketika mereka menemui sebagian raja dan para pejabat lainnya. Intinya, siapa yang mengagungkan ilmu maka Allah akan mengagungkannya. Dan siapa yang menghina ilmu maka Allah akan menghinakannya. Dan ini jelas.

Wahb bin Munabbih berkata, “Para ulama yang mendahuluiku merasa cukup dengan ilmu mereka, tanpa mendambakan dunia orang lain karena kecintaan mereka terhadap ilmu. Tapi sekarang orang yang berilmu memberikan ilmu mereka pada orang yang mempunyai banyak harta karena ingin mendapatkan harta mereka, sehingga yang terjadi orang yang memiliki harta tidak suka ilmu karena mereka memandang rendah ilmu.

Sungguh indah apa yang disampaikan oleh Qodhi Abu al-Husain al-Jurjani dalam bait-bait syairnya. Dia berkata:

Aku belum pernah memenuhi hak ilmu. Setiap kali muncul ketamakan aku menjadikan ilmu sebagai anak tangga.

Aku belum pernah merendahkan jiwaku untuk melayani ilmu. Bukannya aku melayani orang yang aku temui, tapi malah aku ingin dilayani.

Apakah aku menanam ilmu yang mulia, lalu aku memanen hina. Karena itu, memilih kebodohan bisa jadi lebih menyelamatkan.

Andai orang yang berilmu menjaga ilmunya, maka ilmu itu yang akan menjaga mereka. Dan andai mereka memuliakannya dalam jiwa, niscaya ia menjadi mulia.

Namun mereka menghinakannya, ia pun hina. Dan mereka kotori mukanya dengan ketamakan hingga ia bermuram durja.

7. Zuhud dan Mengambil Dunia Sekedar Cukup 

Guru harus memiliki perangai zuhud dan mengambil dunia sekedar cukup untuk diri sendiri dan keluarganya sesuai standar qana'ah. Orang berilmu yang paling rendah derajatnya adalah orang yang menganggap jijik sikap ketergantungan kepada dunia, sebab dia lebih mengetahui kekurangan dunia dan fitnah yang ditimbulkannya, juga mengetahui bahwa dunia cepat sirna dan sangat melelahkan. Dialah orang yang berhak untuk bersikap tak acuh pada dunia dan tak terlalu menyibukkan diri mengejar iming-iming dunia.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Mulia orang yang qana`ah dan hina orang yang tamak.” Imam Syafi`i berkata, “Andai aku berwasiat, maka orang yang paling pintar akan memberikannya pada ahli zuhud. Maka siapa yang paling berhak dibanding ulama, sebab mereka memilki kelebihan dan kesempurnaan akal?”

Yahya bin Muadz berkata, “Andai dunia emas lantak yang hancur sedangkan akhirat tembikar yang abadi, niscaya orang berakal akan lebih memilih tembikar yang abadi dibanding emas lantak yang rusak. Namun (kenyataannya) dunia tembikar yang rapuh dan akhirat emas lantak yang abadi.

Bagi orang yang tahu bahwa harta akan ditinggalkan untuk ahli waris dan akan ditimpa kemusnahan, seharusnya zuhudnya lebih kuat daripada cintanya pada harta serta dia akan lebih memilih untuk meninggalkan harta daripada mencarinya.

8. Jauhi Profesi yang Kurang Pantas 

Seorang guru seharusnya menjauhi segala bentuk mata pencaharian yang rendah dan hina menurut akal sehat, juga profesi yang makruh menurut adat dan syaraiat Islam seperti tukang catut, tukang samak, tukang tukar-menukar mata uang, tukang pembuat perhiasan dari emas dan lain sebagainya.

9. Menjauhi Sesuatu yang Dapat Merendahkan Harga Diri 

Guru juga sebaiknya menghindari tempat-tempat yang memungkinkan  timbulnya prasangka buruk orang terhadap dirinya, meskipun kemungkinan itu jauh adanya. Tidak boleh bagi guru melakukan sesuatu yang dapat mengurangi harga dirinya (muru`ah) dan sesuatu yang secara lahir dianggap munkar, walaupun kenyataannya hukumnya boleh. Bila hal itu dilakukan berarti dia menghadapkan dirinya pada posisi rawan kena tuduhan atau prasangka yang bukan-bukan, dan bisa  menyebabkan orang lain melakukan dosa dengan ber-su`uzhon padanya.

Namun, jika terpaksa melakukan perbuatan di atas, karena ada keperluan atau alasan lainya, hendaknya guru menjelaskan hukum, alasan dan maksud dari perbuatannya tersebut kepada orang yang mengetahuinya, agar tidak membuat orang itu berdosa (dengan berburuk sangka) dan lari menjauh; tidak mau menimba ilmu darinya lagi.

Oleh Sebab itu, Nabi berkata pada dua lelaki yang sedang memergoki beliau berbincang dengan Shofiyah lalu mereka bersegera pergi:”Hai kalian, Jangan terburu-buru pergi, Perempuan ini adalah Shofiyah”, kemudian berkata, “Sesungguhnya Setan itu seperti darah yang mengalir dalam tubuh manusia, makanya aku khawatir setan membisikkan sesuatu yang buruk pada kalian. Sebab hal itu akan merusak kalian.”

10. Menjaga Keistiqamahan 

Guru juga harus menjaga keistiqamahan menjalankan syiar-syiar Islam dan ibadah-ibadah yang dhahir seperti shalat berjamaah di masjid, menebarkan salam pada siapa saja, amar makruf nahi munkar, serta selalu tabah atas penderitaan, teguh dengan kebenaran dimuka penguasa, pasrah sepenuhnya pada Allah Ta'ala tanpa ada rasa takut cercaan orang dan selalu memotivasi diri dengan firman Allah Subhanahu wa ta'ala yang artinya, “Dan bersabarlah atas apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS Luqman: 17).

Begitu juga dengan kesabaran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dan para Nabi lainnya atas penderitaan yang mereka alami dan atas pertentangan kaum sebagaimana kisah tentang Nabi Adam dengan puteranya, Nabi Syits dengan kaumnya, Nabi Nuh, Hud dan Sholih dengan kaum mereka, Nabi Ibrahim dengan Namrud serta ayahnya, Nabi Ya`qub dengan puteranya, Nabi Yusuf dengan saudaranya, Nabi Ayyub dengan musibah penyakit yang dideritanya, Nabi Musa dengan Bani Israil setelah selamat dari banjir besar, Nabi Isa dengan Ashabul Maidah, Nabi Muhammad dengan kaumnya lalu dengan para sahabat pada perang Hudaibiyyah dan Hari pembagian harta perang.

11. Dapat Menjadi Teladan bagi Umat 

Guru harus melestarikan sunnah, membasmi bid`ah dan memberikan perhatian terhadap masalah agama dan urusan-urusan yang menyangkut kemaslahatan umat Islam,  sesuai dengan jalan yang bisa diterima oleh syariat, adat dan tabiat. Tidak mengambil cukup dengan melaksanakan pekerjaan lahir dan batin yang mubah, tetapi harus memilih yang terbaik dan sempurna, karena para ulama merupakan panutan, rujukan hukum dan hujjah Allah Ta'ala bagi orang awam. Terkadang tanpa sepengetahuan ulama, hal ihwal mereka menjadi sorotan dan panutan orang-orang yang tidak mereka kenal. Kalau orang alim tidak mengamalkan ilmunya maka orang lain semakin jauh untuk mengambil teladan darinya. Kesalahan kecil orang alim menjadi besar karena dampak negatifnya terhadap para pengikutnya.

12. Menghiasai Diri dengan Kesunnahan 

Guru seyogyanya selalu menghiasi perbuataan dan pekerjaan dengan kesunnahan seperti membaca  Al Quran dan zikir kepada Allah dengan hati dan lisan. Serta membaca doa-doa, zikir yang diajarkan Rasulullah pada siang dan malam, mengerjakan sholat, puasa, haji kalau mampu, membaca sholawat, cinta, hormat dan ta`zhim pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan menjaga adab tatkala mendengar namanya dan menyebut hadits-haditsnya.

13. Berbudi Pekerti yang Baik pada Orang Lain 

Memperlakukan orang lain dengan budi pekerti yang baik adalah sifat yang harus dimiliki guru, misalnya dengan menampakkan wajah yang berseri-seri, menebarkan salam, memberi makanan, mengendalikan amarah, menjaga orang lain dari hal-hal yang menyakitkan dan berusaha menanggungnya, mendahulukan orang lain dan tidak ingin didahulukan, berlaku adil dan tidak menuntut keadilan, mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain, menimbulkan suasana nyaman ketika bersama orang lain  membantu orang lain mendapatkan hajatnya, menanggalkan jabatan untuk memaafkan orang lain, mengasihi orang fakir, baik pada tetangga dan kerabat, memberikan kasih sayang, pertolongan dan kebaikan kepada murid.

Ketika melihat orang yang shalat dan thoharah-nya atau ibadah wajibnya yang lain tidak sempurna, guru harus membimbinggnya dengan pelan dan kasih sayang sebagaimana sikap Rasulullah kepada orang badui yang kencing di dalam masjid dan kepada Muawiyah bin al-Hakam yang bicara saat mengerjakan sholat.

14. Bebas dari Akhlak Tercela 

Mereka harus bersih jiwa dan raga dari akhlak yang tercela dan membangunnya dengan akhlak yang mulia. Akhlak tercela, diantaranya, adalah dendam, dengki, zalim, marah bukan karena Allah Ta'ala, menipu, sombong, ingin dipuji (riya`), bangga diri, ingin dihormat, pelit, tidak mensyukuri kenikmatan, tamak, berpakaian dengan penuh gayanya, berebut kekayaan, bersaing-saingan yang tidak baik, cari muka dengan berkata manis, gila bersolek agar dilihat orang, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak dia kerjakan, buta terhadap aib sendiri dan peka dengan aib orang, possesif dan fanatik bukan karena Allah Subhanahu wa ta'ala, bergosip, menyebarkan isu miring,  berdusta dan meremehkan orang lain. Hindarilah, Hindarilah semua itu! sebab merupakan keburukan yang membuka pintu keburukan-keburukan yang lain.

Obat dari penyakit-penyakit hati ini dapat ditemukan di pelbagai kitab yang mengorek masalah hati (kutub ar-raqoiq). Maka barang siapa yang mau menyucikan hati dari penyakit-penyakit itu wajib mempelajarinya. 

15.Tetap Rajin dan Istiqamah dalam Belajar dan Diskusi 

Guru harus bisa melanggengkan antusiasme dalam menambah ilmu dan senantiasa bersungguh-sungguh dan istiqamah beribadah serta rajin membaca, belajar, mengulang-ngulang ilmu, memberi komentar kitab yang dibaca, menghapal, berdiskusi dan mengajarkan ilmu. Guru tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk selain ilmu dan urusan mangamalkannya, kecuali untuk keperluan yang sifatnya primer (dhorurah) seperti makan, minum, tidur, istirahat ketika jenuh, menunaikan hak istri atau tamu, mencari nafkah keluarga, istirahat karena sakit atau karena udzur-udzur lain yang mengganggu aktivitas.

Sebagian ulama tidak meninggalkan aktivitas belajar ketika tertimpa sakit ringan. Mereka mencari obat penyembuh sakit itu dengan belajar dan menyibukkan diri dengan ilmu semampu mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya.” Hal ini karena ilmu merupakan kategori warisan para nabi. Dan keluhuran derajat tidak akan bisa dicapai kecuali dengan bersusah payah.

Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Yahya bin Katsir berkata, “Ilmu tidak bisa diperoleh dengan bersantai.” Dalam hadits pun ada ungkapan bahwa jalan surga dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disukai nafsu. Dikatakan dalam sebuah syair, “Apakah kamu ingin dapatkan keluhuran derajat dengan murah, padahal untuk mendapatkan madu kamu harus siap disengat lebah?”

Imam Syafi`i berkata, “Wajib bagi orang yang berilmu mengerahkan semaksimal mungkin kesungguhannya untuk memperbanyak ilmu, bersabar atas segala rintangan dalam belajar, meng-ikhlas-kan niat hanya untuk Allah ta`ala dalam memperoleh ilmu baik dengan menghapal teks maupun menganalisis dan menyimpulkan dalil (istinbath), dan berharap pertolongan Allah dalam mencari ilmu. ”Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Semangatlah kamu dalam mencari hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan Allah ta`ala.”

16. Tak Malu Bertanya Jika Tidak Tahu 

Tidak hanya murid yang harus bertanya ketika tidak tahu, guru pun tidak boleh segan-segan bertanya sesuatu yang tidak ia ketahui kepada orang yang secara jabatan, nasab, maupun umur berada di bawahnya. Guru harus punya hasrat yang tinggi dalam mencari pengetahuan yang berfaedah di manapun tempatnya, karena sesungguhnya ilmu yang bermanfaat (hikmah) merupakan harta hilang milik orang yang beriman, sehingga bila dia menemukannya, di manapun itu, dia akan mengambilnya.

Sa`id bin Jubair berkata, “Seseorang disebut alim ketika dia masih mau belajar. Ketika dia sudah tidak mau belajar dan mengira sudah cukup mumpuni dengan ilmunya, maka dia berarti orang terbodoh yang pernah ada.” Pepatah arab berkata, “Buta bukanlah banyak bertanya, namun sebenar-benar buta adalah selalu diam terhadap kebodohan dirinya. Sekelompok ulama salaf dulu belajar kepada murid-murid mereka sesuatu hal yang tidak mereka ketahui. Dan banyak sekali terjadi para sahabat yang meriwayatkan hadits yang mereka peroleh dari para tabi`in. Yang lebih hebat dari semua itu adalah bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ayat Al Quran di hadapan Ubay bin Ka`b. Beliau berkata, “Allah memerintahkan aku membacakan kepadamu ayat “Lam Yakun al-ladzina kafaru.” Para ulama menyatakan bahwa tindakan Rasulullah itu bermaksud untuk menyampaikan pesan bahwa orang yang lebih mulia tidak boleh segan mengambil pelajaran dari orang yang lebih rendah darinya.

Al Humaidi, seorang murid Imam Syafi`i, berkata, “ Saya menemani as-Syafi`i dari Mekah ke Mesir: Selama itu aku menimba pengetahuan yang berguna tentang beberapa persoalan dan beliau pun juga belajar hadis dari ku”. Ahmad bin Hanbal berkata, “as-Syafi`i berkata kepadaku ‘kamu lebih alim masalah hadis dariku. Maka bila ada hadis yang menurutmu shahih, katakan padaku agar aku bisa mengambilnya (sebagai dalil)’.”

17. Guru Harus Rajin Menulis 

Guru tak hanya mampu beretorika di depan murid dengan berbagai argument dan ilmunya, tetapi juga harus pandai mengarang, meringkas dan menyusun karangan, jika dia mampu melakukannya. Sebab, dengan begitu guru terdorong untuk menelaah hakikat berbagai disiplin ilmu dan detil-detil pengetahuan yang dipelajarinya, dikarenakan mengarang membutuhkan banyak cross check, verifikasi, penelaahan dan pembacaan ulang. Mengarang, sebagaimana yang diungkapkan al Khatib al Baghdadi, dapat memperkuat hafalan dan mencerdaskan hati, mengasah kecerdasan, memperindah ungkapan bahasa,  mendatangkan daya ingat yang baik mendapatkan pahala yang banyak dan nama pengarang akan kekal sepanjang masa.

Lebih baik, guru mengarahkan perhatiannya pada sesuatu yang bisa berguna dalam lingkup yang luas dan banyak dibutuhkan. Hindari ungkapan panjang yang membosankan dan ungkapan pendek yang tidak memahamkan, serta berusaha menyuguhkan materi yang pantas untuk setiap jenis karangan. Jangan mempublikasikan karangan sebelum proses editing, penelaahan ulang dan penyuntingan rampung.

Sebagian orang pada jaman sekarang ada yang menolak karya baik berupa karangan maupun hasil kumpulan, meskipun itu karya dari orang yang jelas-jelas ahli dan dikenal keluasan ilmunya. Tidak ada dasar dari penolakan itu kecuali hanya akan menimbulkan persaingan di antara orang-orang yang berilmu. Orang yang menorehkan tinta di atas kertas untuk menulis apa yang dia kehendaki, seperti syair, cerita yang diperbolehkan atau apapun bentuknya, tidak ada yang menolak karyanya. Apalagi kalau ada yang menulis tentang ilmu syariat dan ilmu-ilmu alatnya yang jelas berguna, maka tentu semestinya tidak ditolak.

Adapun orang yang tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni menulis sesuatu, maka penolakan terhadap karyanya harus dilakukan karena karya itu mengandung kebodohan dan penipuan terhadap orang yang mempelajarinya. 

Disarikan dari kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 

Semoga bermanfaat.....

Selasa, 24 November 2020

17 AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG BIOLOGI

Edisi Selasa, 24 November 2020 M / 9 Rabi'ul Akhir 1442 H

Biologi diambil dari bahasa latin, yakni bios dan logos. Bios artinya makhluk hidup, sementara logos artinya ilmu pengetahuan. Jadi biologi itu adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang makhluk hidup. Manusia, hewan, tumbuhan, virus, jamur dan lain sebagainya dibahas di dalam biologi. Biologi juga memiliki banyak cabang seperti Embriologi, Virologi, Patologi, Fisiologi, Onkologi dan Histologi.

Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup, mulai dari bagaimana proses terbentuknya suatu makhluk hidup sampai pada berkembangnya makhluk hidup melalui proses reproduksi, tak hanya itu ruang lingkup biologi juga sangat luas yang mana juga membahas tentang tumbuhan dan hewan yang dirumuskan lagi dalam berbagai cabang ilmu yang lebih khusus seperti embriologi, botani, dan zoologi.

Agama islam adalah agama terakhir, agama keseimbangan dunia akhirat, agama yang tidak mempertentangkan iman dan ilmu, agama ini meliputi segi-segi fundamental tentang duniawi dan ukhrowi guna menghantarkan manusia kepada kebahagiaan lahir dan bathin serta dunia dan akhirat. 

Pada tulisan kali ini kita akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan biologi. Simak selengkapnya pada tulisan ini.

1. Q.S. Al-Mu’minuun : 12-14 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S. Al-Mu’minuun : 12-14)

2. Q.S. Faathir : 11 

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا ۚ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (Q.S. Faathir : 11)

3. Q.S. Al-Mu’min : 67 

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Q.S. Al-Mu’min : 67)

4. Q.S. Al-Hajj : 5 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Q.S. Al-Hajj : 5)

5. Q.S. Asy-Syuuraa : 49-50 

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Q.S. Asy-Syuuraa : 49-50)

6. Q.S. An-Nuur : 45 

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. An-Nuur : 45)

7. Q.S. Al-Baqarah : 22 

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 22)

8. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 30 

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 30)

9. Q.S. Fushshilat : 39 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Fushshilat : 39)

10. Q.S. Al-An’aam : 99 

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-An’aam : 99)

11. Q.S. Al-An’aam : 141 

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-An’aam : 141)

12. Q.S. Al-Hijr : 22 

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Q.S. Al-Hijr : 22)

13. Q.S. Al-Mulk : 19 

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (Q.S. Al-Mulk : 19)

14. Q.S. An-Nahl : 8 

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. An-Nahl : 8)

15. Q.S. An-Nahl : 66 

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (Q.S. An-Nahl : 66)

16. Q.S. An-Nahl : 69 

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Q.S. An-Nahl : 69)

17. Q.S. Al-Mu’minuun : 20-21 

وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلْآكِلِينَ

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهَا وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan, (Q.S. Al-Mu’minuun : 20-21)

Itulah berbagai ayat Al-Quran yang membahas tentang biologi. Semoga ayat-ayat di atas menambah keimanan dan pengetahuan agama kita.

Semoga bermanfaat....

Senin, 23 November 2020

17 CARA MENGENDALIKAN EMOSI MENURUT ISLAM

Edisi Senin, 23 November 2020 M / 8 Rabi'ul Akhir 1442 H

Emosi merupakan perasaan yang lazim dimiliki oleh setiap manusia. Biasanya manusia dapat merasakan emosi karena dipengaruhi oleh suasana hati. Suasana hati yang sedang sedih, marah, dan gembira merupakan contoh dari macam-macam emosi.

Akan tetapi, emosi lebih diidentikkan dengan marah. Sebagai contoh, seseorang berkata, “Si fulan orangnya emosian, mudah marah. Kalian berhati-hatilah dengan dia.” Perkataan semacam itu tentu pernah kita dengar. Entah di jalan atau ketika kita sedang berkumpul bersama teman.

Penting bagi kita untuk menjaga emosi. Karena emosi tentu akan mempengaruhi diri kita pribadi dan lingkungan sekitar. Ada beberapa manfaat ketika kita dapat menjaga emosi, yaitu:

a. Disenangi banyak orang. Kebanyakan orang akan lebih menyukai tipikal seseorang yang tidak mudah emosi, sehingga mereka akan lebih disenangi.

b. Mudah dalam bergaul sesuai Pergaulan dalam islam. Bergaul dengan orang yang memiliki emosi yang stabil akan lebih menyenangkan dan mudah diterima di lingkungan pergaulannya.

c. Tidak mudah dipengaruhi atau dihasut. Dalam keadaan emosi yang stabil akan lebih mudah berpikir dengan jernih, sehingga tidak mudah untuk dipengaruhi atau dihasut.

d. Fisik dan mental akan menjadi sehat. Orang yang mudah emosi tekanan darahnya akan tinggi. Detak jantung dan otot pun akan lebih tegang. Sehingga dapat menurunkan daya tahan tubuh. Selain itu, orang yang emosian tidak dapat menghadapi masalah dengan tenang dan membuat mentalnya terganggu dan mudah stres.

e. Terhindar dari perselisihan atau pertengkaran. Perselisihan atau pertengkaran umumnya disebabkan oleh emosi. Jika kita dapat menjaga emosi otomatis akan terhindar dari kedua hal tesebut.

Selain bermanfaat, menjaga emosi juga diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy Syuura: 37).

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Bukhari)

1. Membaca Ta’awudz 

Hal pertama yang dilakukan dalam Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam adalah mengendalikan emosi. Emosi atau marah berasal dari hawa nafsu. Di mana hal tersebut adalah merupakan titik lemah manusia yang selalu diincar oleh syaitan. Oleh karena itu, sebaiknya kita segera meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd Radhiyallahu'anhu beliau menceritakan: Suatu hari saya duduk bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: “A’uudzu billahi minas syaithanir rajiim,” marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menjaga Lisan dengan Diam 

Ketika sedang emosi, hal yang paling sulit untuk dikendalikan adalah perkataan. Biasanya semakin banyak kata yang terucap saat emosi atau marah, maka semakin banyak pula kita menebar kebencian dan hal yang tidak baik yang keluar dari mulut. Oleh karena itu, apabila kita sudah mulai merasa emosi atau marah, sebaiknya kita lekas berdiam. Tutup mulut dan jaga lisan.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad).

3. Merubah Posisi 

Ketika sedang emosi atau marah, maka sebaiknya mengambil posisi yang lebih rendah. Maksudnya adalah ketika kita emosi atau marah di saat sedang berdiri, maka hendaklah kita duduk untuk meredakan emosi tersebut. Jika kita marah pada saat posisi duduk, maka hendaklah kita berbaring. Dengan begitu kita akan sulit untuk bergerak atau melakukan perlawanan pada saat marah.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menasehatkan: “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

4. Mengingat Keutamaan Menjaga Emosi 

Ada berbagai macam manfaat atau keutamaan dalam menjaga emosi seperti yang telah disebutkan di atas. Jadikanlah pacuan untuk meredakan emosi atau amarah. Ingat selalu apa saja yang akan kita dapatkan ketika berhasil menahan emosi. Rayuan untuk menjaga emosi juga disampaikan dalam hadits.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi)

5. Mengingat Akibat dari Emosi 

Selain mengingat manfaat dari menjaga emosi, sebaiknya juga ingatlah akibat dari emosi tersebut. Ada beberapa akibat yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, misalnya: terjadi perselisihan atau pertengkaran, hubungan menjadi tidak baik, timbul rasa dendam, sulit untuk bergaul, tidak memiliki teman, dsb.

6. Berwudhu 

Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam yang ampuh adalah dengan berwudhu. Sesungguhnya marah itu adalah bersumber dari syaitan. Mereka menggoda dan menjerumuskan kita dengan kemarahan. Syaitan terbuat dari api, sedangkan api akan padam dengan air. Maka ketika sedang emosi atau marah, hendaklah berwudhu untuk meredam emosi tersebut.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya marah itu dari syaitan, dan syaitan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

7. Mandi 

Sama halnya dengan berwudhu, mandi juga dapat meredam emosi atau marah. Karena emosi atau marah itu bersumber dari syaitan, maka mandi juga dapat meredam emosi tersebut.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Marah itu dari syaitan, syaitan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.” (HR. Abu Nuaim)

8. Membaca Istighfar 

Amalan istighfar dapat menenangkan hati dan pikiran sebagai alternatif Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam. Karena sejatinya beristighfar itu adalah meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Dengan begitu, hati dan pikiran akan lebih lega dan jiwa tenang ketika ada sesuatu yang mengganggu ataupun membuat emosi dan marah.

9. Berdzikir 

Berdzikir merupakan amalan yang sangat dianjurkan kepada umat islam untuk dikerjakan kapanpun. Berdzikir tidak memandang waktu-waktu tertentu. Akan tetapi, berdzikir ketika sedang emosi atau marah dapat membuat hati menjadi tenang. Dengan hati yang tenang, maka emosi pun dapat dikendalikan.

10. Membaca Al Qur’an 

Al Qur’an merupakan kitab suci yang sangat istimewa. Al Qur’an juga memiliki beberapa nama layaknya Asmaul Husna bagi Allah. Salah satu nama lain dari Al Qur’an adalah Asy Syifa yang artinya obat penyembuh. Sesungguhnya emosi atau marah merupakan penyakit hati. Adapun obat dari penyakit hati adalah Al Qur’an. Dengan membaca Al Qur’an, hati yang panas akan menjadi sejuk dan dapat membuat pikiran dan hati menjadi tentram.

11. Shalat Sunnah 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa salah satu cara untuk mengendalikan emosi adalah dengan berwudhu. Sebagimana syarat sah dalam shalat, apabila sebelum melakukan shalat diwajibkan untuk berwudhu.

Dari berwudhu saja kita sudah dapat mengendalikan emosi, terlebih kita melakukan shalat, maka hati dan perasaan akan menjadi lebih tenang. Shalat sunnah dapat dilakukan kapan saja, maka sangat cocok dilakukan ketika sedang emosi atau marah. Selain itu, di dalam shalat terdapat doa-doa dan ayat-ayat Al Qur’an. Maka lengkap sudah semua yang kita butuhkan untuk mengendalikan emosi.

12. Berpuasa Sunnah 

Puasa sunnah memiliki berbagai manfaat, salah satunya adalah dapat mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam diri. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa emosi atau marah adalah merupakan salah satu bagian dari hawa nafsu tersebut. Sehingga dengan begitu kita akan mudah mengendalikan emosi atau amarah di dalam diri.

13. Memaafkan 

Saling memaafkan adalah salah satu hal terindah dalam hidup ini. Dengan saling memaafkan, suasana hati akan menjadi tenang, perasaan dendam pun tidak akan datang dan hidup pun akan menjadi damai dan harmonis. Tidak akan terjadi perselisihan atau perkelahian atau bahkan peperangan jika kita saling memaafkan.

Emosi atau marah juga dapat seketika redam ketika kita saling memaafkan. Oleh karena itu, apabila ketika kita sedang emosi atau marah kepada seseorang, maka hendaklah segera saling memaafkan. Sehingga emosi tersebut dapat terhenti.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syuura: 37)

14. Introspeksi Diri atau Tafakur 

Bertafakur atau introspeksi diri berarti merenungkan setiap perbuatan dan perkataan yang telah kita lakukan. Apakah setiap perbuatan dan perkataan kita telah benar dan tidak menyinggung perasaan orang lain, atau sebaliknya. Salah satu manfaat bertafakur adalah dapat membentengi diri dari perilaku yang berlebihan terhadap sesuatu, misal marah.

15. Berpikir Positif 

Selalu berpikir positif dalam menghadapi persoalan dan masalah menjadikan pikiran kita tenang. Selain pikiran tenang, dengan berpikir positif juga berarti kita mudah memaklumi dan mengambil hikmahnya, baik perkataan ataupun perbuatan orang lain.

16. Membaca doa ketika marah. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk membaca doa ketika marah. Dengan hati yang ingat kepada Allah, maka kemarahan yang tadinya meluap menjadi reda. Rasa kesal dan jengkel yang tadinya menguasai hati menjadi sirna, dan pikiran yang tadinya kacau menjadi terkontrol.

Allahummaghfirli dzanbi, wa adzhib ghaizha qalbi, wa ajirni minas syaithani

"Ya Allah, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan."

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam  memberikan nasehat kepada kita agar dapat mengendalikan kemarahan. Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu berkata, “Janganlah marah! Kalaupun Anda marah, kendalikan lisan dan tangan Anda.” 

17. Hadapilah dengan cara yang lebih baik 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, “Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Hadapilah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. (sehingga) orang yang tadinya bermusuhan denganmu tiba-tiba menjadi kawan akrab. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat: 34-36)

Menurut Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca surah Fushilat ayat ke 34 dan menafsirkannya dengan ungkapan, “Bersabar ketika marah dan memberi maaf ketika dijahati. Jika itu dilakukan Allah Subhanahu wa ta'ala  akan melindungi mereka dan musuh akan takluk pada mereka.”

Dengan emosi yang terjaga diharapkan kita dapat hidup bahagia dalam islam, menjalankan hidup sesuai akhlak dalam islam, dan memiliki jiwa yang tenang dalam islam.

Semoga bermanfaat....