Jumat, 03 Februari 2023

KALAM ULAMA KH.ASMUNI (GURU DANAU)

Edisi Jum'at, 3 Februari 2023 M / 12 Rajab 1444 H.

KH. Asmuni (Guru Danau) bin H. Masuni (H. Sani) lahir di Danau Panggang pada tahun 1955 M (1374 H). Pada waktu kecil beliau bernama Zarkasyi, kemudian oleh habib Salim Mangkatip nama tersebut diubah menjadi Asmuni.

Jenjang pendidikan beliau adalah Pesantren “Muallimin” Danau panggang (1971) dan Ponpes “Darul Hikmah” Danau panggang. Kemudian mondok lagi ke Ponpes “Darusalam”Martapura (tamat) 1977). Selanjutnya beliau menimba ilmu di Ponpes “Datuk Kalampayan” di Bangil, Jawa Timur, dan ponpes "Tempel" Yogyakarta.

Di antara guru-guru beliau, diantaranya KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul), KH. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil), KH. Abdul Hamid (Pasuruan), Habib Luthfi bin Yahya, dan lain-lain.

Setelah berguru dengan ulama-ulama di tanahJawa, beliau kemudian pulang kampung dan membuka Majelis Pengajian pada malam Minggu di Desa Bitin (1978), membuka majelis pengajian pada malam Selasa di Danau Panggang (1980). Diluar kabupaten Hulu Sungai Utara, beliau juga membuka Majelis Pengajian di Mabuun Tanjung (1990-an) serta Majelis Taklim “Bani Alawi” di Pematang Karau Barito Timur. Disamping berdakwah, beliau juga mengelola 3 buah pondok pesantren, yaitu Pesantren “Darul Aman” di Pajukungan, Babirik, Amuntai, Pondok Pesantren “Hidayatus Shibyan” di Danau Panggang dan Ponpes “Raudhah”di Jaro Tanjung Tabalong.

Diantara kalam beliau antara lain:

1. “Tidak bisa ketemu Rasulullah (secara) cepat, kalau kadada anak cucunya di rumah kita. Walaupun ikam baamal bahimat. No. Tidak. Harus ada digaduh anak cucu Rasulullah. Bukan mailangi kita, tapi mailangi cucunya. Dengan berkat cucunya kita bisa bertemu Rasulullah Shallahu’alaihi wasalam. Itulah amalan nang paling mujarab, pertama kita bantu ahlul bait Nabi dan kita haragu. Kada usah  amalan banyak-banyak. Sayangi cucu Nabi haja, Insya Allah Nabi datang juga”.

2. “95 %  wali Qutub itu adalah cucunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam. Kenapa sebabnya ? (karena) Nabi itu meninggalkan ahlul bait Nabi semua bersih. Kalau kita punya dosa laksana masuk ke lumpur, susah mambarasihi, tapi kalau ahlul bait, ibarat kena debu ditiup pun bisa. Inilah keagungan ahlul bait Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wasalam”.

3. “Tidak bisa dibukakan ilmu laduni kalau kada dekat dengan para habaib, (kalau tidak) melalui pintunya ahlul bait Rasulullah”.

4. “Setiap wali tu duduk mendengarkan apa yang dibicarakan orang”

5. “Orang yang mendapat keramat hissy adalah orang yang betul-betul istiqamah”

6. “Kalau ada yang mengaku wali, tapi bukan wali, maka hukumnya murtad. Berkata alim tapi al-Fatihah tidak betul, ya jangan mengaku wali Allah. Karena dasar wali Allah itu adalah ilmu dan ibadahnya. Yang shahih lagi, yang dapat disebut wali itu seluruhnya pernah didatangi Rasulullah dalam mimpi”.

7. “Wali Allah itu tujuan hidupnya hanya untuk menyenangkan hati Rasulullah, (karena) kalau senang hati Rasulullah, maka Allah pasti redha, itu yang penting dalam hidup ini”

8. “(amal) orang yang kada ikhlas itu membuat hati pusang. Tandanya kada ikhlas tu (bila) hati pusang” 

9. “bagi para auliya Allah, karamat terkadang dipandang sebagai istidraj. Maka orang-orang yang shaleh kada boleh bamandak (tidak boleh berhenti dalam beramal)”

10. “Manusia tu ibarat pemain sepak bola, ada yang tugasnya sebagai penjaga gawang, bertahan, ada juga penyerang. Maka orang yang katuju bakunjang kesana kemari, biasanya parajakian”

11. “Ulama yang memiliki usaha dan kekayaan sendiri akan lebih ikhlas dalam berdakwah dan mengajar karena tidak memiliki kepentingan untuk mendapatkan bayaran dan jama'ahnya.

12. “Sekali saja ulama mendapat bantuan pemerintah, maka ulama tidak bisa lagi untuk menasehati ulama”

13. “Kalau punya anak jangan sampai dihinakan, kalau nanti dikabulkan Allah. Jadi walau tidak suka do’akan saja yang bagus-bagus, Insya Allah ada kebaikan bagi si anak”

14. “Orang masuk sorga itu karena  takwa dan keimanannya  kepada Allah bukan karena musafahah lalu dijamin ia masuk sorga. Kalau begitu artinya jangan shalat lagi, cukup bermusafahah lalu dijamin masuk sorga. Musafahah itu Cuma mengambil berkah dari bersalaman dengan ulama yang bersangkutan”.

15. “untuk menyempurnakan keikhlasan dalam beramal, maka seseorang harus memandang ke dalam hati, bahwa kita ini adalah hamba”

16. “dalam beramal, di samping kita menyakini akan janji Allah, tapi juga harus disertai keikhlasan”

17. “Taqwa adalah wasiat (dari) Allah untuk ummat manusia sejak dahulu, sekarang dan yang akan datang”

Semoga bermanfaat....

Kamis, 02 Februari 2023

KALAM ULAMA KH.MUHAMMAD HUSAINI

Edisi Kamis, 2 Februari 2023 M / 11 Rajab 1444 H.

KH. Muhammad Husaini, lahir di Amuntai, Sabtu, 25 November 1961 M (bertepatan dengan 16 Jumadil Akhir 1381 H). Beliau berpendidikan dunis pesantren, yaitu Pondok Pesantren “Rasyidiyah Khalidiyah” (Rakha) Amuntai, Pondok Pesantren “Ibnu Amin” Pemangkih dan Pondok Pesantren “Darussalam” Martapura.

Mulai terjun kedunia dakwah pada tahun 1980-an. Kemudian pada tahun 1988 beliau mengabdikan diri menjadi pendidik dilingkungan Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah. Pernah pula menjadi guru di Pondok Pesantren “Ar-Raudhah” Pasar Senin Amuntai. Pada  setiap hari Rabu beliau mengisi Majelis Pengajian di “al-Ma’arif” Amuntai.

Berikut ini adalah beberapa kalam beliau :

1. “Masa depan yang harus kita pikirkan adalah tentang kehidupan akherat. Kita tu kadang-kadang (memikirkan) kaya apa kaina aku tuha (bagaimana nanti aku tua) nyaman baistirahat, batanang-tanang umpamanya, jadi wahini balapah (sekarang bekerja keras) dahulu bagawi (bekerja). Itu mamikirakan tuha  (tua), mun sawat (jika sempat) katuha. Padahal nang ianya adalah kehiduopan akherat. Itu nang harus kita pikirkan”.

2. “Bagi orang beriman, ujian adalah untuk meningkatkan derajat, karena mereka selalu redha dengan apa yang sudah ditentukan Tuhan. Nang merasa susah akibat musibah bencana tu kada sabarataan. Bagi orang baiman (menjadi) peringatan untuk menyadarkan lawan kekeliruan-kekeliruan, kesalahan-kesalahan selama ini, itupun bagi orang yang sadar. Tapi bagi orang yang tidak sadar (sebab) dia tidak mau menghubungkan lawan agama, apa yang terjadi itu sekedar fenomena alam katanya. Sehingga kadada kesadaran sama sekali, itu nang akibatnya bisa babangat (bertambah parah)”.

3. “Karena kita mamandir, (karena) kadang-kadang tujuan mamandir tu kada lain supaya dapat pujian, supaya dapat penilaian baik, lalu ditulislah amalnya itu sebagai amal riya’

4. “Setiap amal itu akan menjadi bukti, sebab kalau kita mamandir lalu kadada buktinya, itu dusta ngarannya. Ujar Ulama (perkataan Hatim Zahid), ada 4 nang keempatnya dusta, (yaitu) : mengaku cinta kepada Allah tanpa menjauhi yang haram itu dusta, menginginkan sorga tanpa membelanjakan hartanya untuk ta’at kepada Allah, itu dusta, mengaku cinta kepada rasul tanpa mengikuti sunnah ajaran beliau, itu dusta jua, dan menginginkan kemuliaan pangkat nang tinggi tanpa bergaul dengan fakir miskin, tu dusta jua”.

5. “Yang dikehendaki dari sering mengingat kematian tu pintangan apanya ? (yaitu) orang yang beriman dengan tanggungjawab sesudah kematian, nah yang ini bias membuat sadar, termasuk orang yang memperbanyak bekal untuknya”

6. “Kalau orang sudah cinta dunia mencintai harta, kalau mencintai harta ia cinta dengan istana, orang yang cinta istana dia cinta dengan kehidupan, orang yang cinta kehidupan kada ingat dimati lagi karena cintanya hanya lawan makhluk, jadi kada tahu di Tuhan”.

7. “Harta tu kalau halal ada hisab, tetapi kalau sudah kada halal maka ancamannya siksa”

8. “Zakat itu milik mustahiq yang harus kita serahkan kepada mereka, jadi kada usah diakalani, kada usah dihilah-hilah nang sakira-kira kawa menyerahkan lawan orang nang kada berhak. Jangan kaya itu pemikiran kita”.

9. “Taqwa adalah wasiat (dari) Allah untuk ummat manusia sejak dahulu, sekarang dan yang akan datang”

10. “Banyak masyarakat yang pengangguran, yang semestinya mereka mempunyai potensial untuk bekerja mencari nafkah, banyak lapangan pekerjaan, tapi inya kada hakun bagawi (tidak mau bekerja), kadang-kadang berharap barian orang, jadi orang yang kawa bagawi tapi kada bagawi sebenarnya kada kawa (tidak bisa) dimasukkan ke dalam kategori fakir miskin”.

11. “Bersedekah tu yang bagus dirahasiakan. (misalnya berkata: ) “Ini ada orang bakirim”. Badusta bolehlah. Karena ada maslahat maka kita boleh. Padahal duit kita jua ai. Nah itu rahasia ngarannya. Tangan kanan manjulung (menyerahkan) tangan kiri kada tahu. Bahasa kinayahnya kaya itu. Sedekah rahasia, bukan (minta) dirahasiakan. (tapi) kalau ada yang tahu tu kada rahasia lagi ngarannya”

12. “Pada saat Allah Subhanahu wa ta’ala mendatangkan kebaikan, (maka) dicurahkannya  bala sebanyaknya. (Maksudnya) orang-orang yang dikasihi-Nya itu, banyak dapat susahnya”

13. “Orang-orang shaleh gembira dengan semua kesulitan yang mereka hadapi semasa hidupnya, sebab semua itu menebus dosa-dosanya”.

14. “Harta seseorang itu ibarat beras yang masih bercampur dengan kerikil dan kotoran-kotoran lainnya. Apabila harta itu dizakati sama artinya membuang kotoran-kotoran yang ada di dalam beras tersebut untuk kemudian baru dimasak. Tetapi apabila harta tidak dikeluarkan zakatnya, sama halnya dengan memakan nasi yang bercampur dengan berbagai kotoran”.

15. “Orang bahari menilai kebaikan seseorang itu melihat kaya apa inya (seperti apa dia) itu bertetangga. Seumpama jiran tetangganya memujinya, menganggap inya (dia) baik, maka ini menjadi dalil bahwa orang itu termasuk ahli khair dan untung. Tetapi jika jiran tetangganya sarik (marah, tidak senang, dsb),  itu menunjukkan orang itu kada (tidak) baik”

16. “Dalam beribadah, yang paling penting untuk dituntut adalah masalah kaifiyat (cara) beramal. Kemudian setelah itu mengenai adab/ akhlaq”.

17. “Amalan itu ada yang nampak ada pula yang tidak nampak. Adapun amalan yang intangannya (menurut ketentuannya) nampak maka harus dinampakkan, seperti jihad dan shalat berjama’ah. Sedangkan amalan yang intangannya tidak nampak atau rahasia, maka kada perlu jua dinampakkan. Semuanya itu harus ikhlas dan bisa menghindarkan diri dari sifat riya”

Semoga bermanfaat.....

Rabu, 01 Februari 2023

KALAM ULAMA SYEIKH KH.MUHAMMAD NURIDDIN MARBU

Edisi Rabu, 1 Februari 2023 M / 10 Rajab 1444 H.

Syekh KH. Muhammad Nuruddin Marbu bin H. Marbu bin Abdullah Thayyib Hafizhahullah, lahir di Desa Harus, Amuntai, Kamis, 1 September 1960 M (bertepatan dengan 9 Rabiul Awal 1380 H). Pendidikan dasar beliau dimulai ketika sekolah pada sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Harus (1973) dan pada tahun 1974 sempat melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, namun pada tahun yang sama beliau dibawa keluarganya hijrah ke Mekkah al-Mukarramah.

Tahun 1983 melanjutkan studi ke Univ. al-Azhar,Kairo pada fakultas Syari’ah (selesai 1987), kemudian mengambil S-2 di Institut Studi Islam Zamalik.

Setelah menyelesaikan studi di al-Azhar, beliau kemudian turut aktif mengajar para pelajar dari Asia (Indonesia, Singapura, Thailand, Brunei, Malaysia) yang masih studi di  al-Azhar, dengan membuka majelis yang diberi nama “Majelis al-Banjari Li al Tafaqquh fi al-Din”.  Sedemikian banyaknya jama’ah yang mengikuti pengajian tersebut, sehingga beliau mendapat gelar atau sebutan sebagai “Azhar Tsani” (al-Azhar kedua).

Syekh Nuriddin Marbu adalah penulis kitab yang produktif, baik kitab yang asli karangan beliau sendiri (taklif/mu’alif) ataupun berupa kitab-kitab Tahqiq, I’dad, Tahdzib wa Taqdim,Taqdim, Tartib wa taqdim. Sebagian besar kitab yang dikarangnya berbahasa arab, 

Diantara kalam beliau antara lain :

1. “Allah Maha Adzhim, Allah Maha Agung, Allah Maha hebat, kalau dengan kita-kita ashi sabarataan, murtad sabarataan, sangkal sabarataan dan sebagainya, sedikitpun hal itu tidak mengurangkan keagungan dan kemuliaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu pula sebaliknya, keagungan dan kebesaran Allah, maasilah itu tidak akan berimbas pada keagungan, Kemuliaan dan Kebesaran Allah. Allah Maha Agung, Allah ada sebelum kita diciptakan, Allah hebat sebelum kita dijadikan, Allah hebat sebelum ada dunia, Wallahu ‘ala kulli syai’in qadiir. Allah berkuasa atas segala sesuatu”.

2. “Udzkurni sewaktu ikam sakit, udzkurni sewaktu ikam baduit, udzkurni sewaktu banyak anak, udzkurni waktu kita cepat menjadi, udzkurni sewaktu kita terjepit, udzkurni sewaktu kita ditindas, udzkurni sewaktu kamu santai, udzkurni terus, kenapa ? Supaya kelihatan potensi-potensi kebanyakkan pada diri kita, agar bisa menjadi kebanggaan, bangga karena kita menjadi anak yang bagus, yang ta’at, yang pasti bermanfaat bagi diri pribadi, untuk abah mama yang pertama, jiran tetangga yang kedua, masyarakat lingkungan yang ketiga, dan untuk bangsa yang keempat”.

3. “Bisnis perdagangan, apakah kira-kira dagang kain, dagang batu, dagang pasir, atau juga dengan tangkapannya iwak haruan, paisannya, lalapannya, jualannya, makanannya, gorengannya, atau apa saja yang kita perdagangkan. Kekayaan bukan daripada pertanian yang ujung-ujungnya dijual, produksi ujung-ujungnya untuk dijual, pabrik ujung-ujungnya untuk dijual, peternakan ujung-ujungnya untuk dijual. Itu hikmah dari ayat yang berbunyi : wa zarul baii’ (Qs. Al-Jumuah (62):9) pada hari jum’at, tinggalkanlah transaksi jual beli. Sebab tidak ada yang paling menyibukkan manusia selain daripada perdagangan. Apapun dan dalam bidang apa saja, dalam bidang perhubungan, dalam bidang perkantoran, dalam bidang pendidikan, dalam istilah bahasa kita: ujung-ujungnya untuk kita perjual belikan. Sehingga apabila kita terlibat dalam dunia bisnis apa saja, hendaknya hal tersebut tidak menghalangi engkau dan tetaplah terhubung dengan Allah”.

4. “Pada saat seseorang terhubung dengan yang Satu (Allah) maka khasyah-Nya kita dapatkan, rahamat-Nya kita dapatkan, ketentraman-Nya kita dapatkan, kebeningannya kita dapatkan dan keamanannya  juga kita dapatkan”.

5. “Menjadi orang shaleh itu dapat dikarenakan bergaul dengan orang-orang shaleh yang senantiasa ingat Allah, ingat kepada yang Maha Pencipta, ingat kepada yang Maha hebat dan ingat kepada Yang Maha Baik”.

6. “Pastikan target pengorbanan kita untuk apa? Adakah untuk dapat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam di akherat nanti? Tanpa pengorbanan, kita tak akan sampai kepada target yang kita inginkan”.

7. “Disebabkan sikap malas kita untuk menuntut ilmu, maka diri kita mudah ditipu orang. Makanya kita mendapat saham dosa juga tanpa disadari” (akibat ketidaktahuan kita, pen).

8. “Kalau kita tidak yakin, kalau kita tidak pasti, kalau tidak tahu, kalau tidak pernah menyimak, kalau tidak pernah bergaul, kalau tidak pernah duduk sekali, kalau tidak pernah bertalaqqi, (maka) sepatutnyalah kita (untuk) mendapatkan bimbingan, pengajaran, penjelasan dari mereka, pencerahan daripada mereka dan fatwa daripada mereka”.

9. “Sepatah kata dalam facebook (dan sejenisnya, pen), sepatah kata dalam youtube itu akan abadi mungkin sampai kepada hari kiamat tersimpan abadi di dalamnya. Kalau kita tidak berpuas hati, duduklah bertanya, tapi jangan sampai lempar batu sembunyi tangan. Kalau kita tidak tahu, maka diam itu lebih baik. Jangan sampai kita membicarakan sesuatu, yang tampak justru kebodohan diri kita sendiri”

10. “Bilamana kita dipilih oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk hadir berjama’ah di masjid, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memilih kita untuk berjama’ah ke sorga kelak”

11. “Kita ini diolok-olok oleh burung wallet, sebab burung wallet tu ada orang azan kada mau datang, tabligh akbar kada mau datang, berjamaah kada mau datang, suruh ke masjid kada mau datang. Jadi kalau kita sama dengan burung wallet : pesantrennya hidup tapi jamahnya kada hidup, pesantren hidup tapi ceramah agamanya kada hidup, (lalu) apa bedanya nasib kita dengan burung wallet”.

12. “Kita tidak perlu pening, kada perlu pusing, kada perlu risau, kalau sampai dunia tidak maju, sebab meskipun kita tidak turut memikirkan dunia, maka ada dalam beberapa orang yang akan memikirkan untuk semua kepentingannya, teknologinya, persenjataannya, pengobatannya, komunikasinya, transportasinya, tetapi kalau dengan agama kita, kalau tidak kita yang memikirkan, kalau tidak kita yang menggerakkan, kalau bukan kita yang mengamalkan, siapa lagi ?”

13. “Jangan sampai (kita) memandang sinis, dan memandang hina kepada siapapun  hatta kepada orang-orang yang ter dhabit melaksanakan kemaksiatan dan kemungkaran atau terlibat melakukan dosa-dosa besar sekalipun”.

14. “Jangan pernah merasa diri kita aman daripada akibat kesudahan yang buruk, aman daripada su’ul khatimah. Tidak boleh kita berperasaan seperti itu. Kenapa ? sebab itu orang yang berperasaan akan mati dengan khusnul khatimah, akan selamat dipenghujung kehidupannya, berarti dia terpedaya dengan perasaannya”.

15. “Di kalangan salafus shalehpun tidak ada perkara yang paling mereka takuti daripada aqibatu su’, daripada kesudahan yang buruk, daripada su’ul khatimah”.

16. “Kenapa kita tidak boleh memandang sinis, kenapa tidak boleh menghinakannya, kenapa  kita tidak boleh memvonis seseorang akan masuk neraka. Karena kamu tidak tahu kesudahan apa yang mengakhiri hidupnya, dan kesudahan yang seperti apa yang mengakhiri hidupmu.”

17. “Jangan sampai kita bangkrut dari kebajikan. Dimana ada peluang kita berbuat baik, dimana ada kesempatan untuk mengkongsikan yang baik, menyampaikan yang baik, memasyarakatkan yang baik, menghidupkan yang baik, kesempatan-kesempatan yang seperti itu jangan kita sia-siakan”.

Semoga bermanfaat....