Selasa, 21 Februari 2023

WASIAT PENTING HABIB SALIM BIN ABDULLAH ASSYATIRI SEBELUM WAFAT

Edisi Selasa, 21 Februari 2023 M / 30 Rajab 1444 H.

Bagi sebagian masyarakat, nama al-Habib Salim Assyatiri mungkin masih asing, namun tidak bagi masyarakat Yaman, khususnya Tarim. Sosok ulama, yang alim, pendiri Rubath Tarim bergelar Sulthonul Ilmi (Rajanya Ilmu pada zamannya), sudah tidak asing bagi mereka, atau para santri yang memiliki afiliasi dengan Hadramaut Yaman.

Habib Salim Assyatiri, yang lahir di Tarim sekitar 80-an tahun yang lalu, atau lebih tepatnya pada 1357 H tersebut memiliki tempat hati tersendiri di kalangan umat Islam Indonesia. Pasalnya, dalam beberapa tahun ini, beliau kerap datang dan melakukan safari Dakwah ke Indonesia, dan memberikan motivasi-motivasi kepada para santri di berbagai lembaga pendidikan Islam.

Banyak sekali pesan-pesan yang beliau sampaikan, tidak terkecuali beberapa wasiat yang sejatinya harus senantiasa kita ingat bersama. Dari sekian nasehat-nasehat yang beliau sampaikan saat memberikan ceramah, ada setidaknya ada 17 wasiat yang al-Habib Salim Assyatiri sampaikan untuk kita semua, yaitu :

1. Durhaka pada orangtua itu bernasab, turun-temurun, pasti akan dibalas melalui keturunannya kelak.

2. Seorang yang menghormati ulama besar tapi ia meninggalkan orangtuanya artinya ia mementingkan sunnah dan melalaikan yang wajib. Sama seperti orang memakai imamah tapi auratnya justru terbuka, sungguh tidak pantas.

3. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: “Orangtua ada 3; yang melahirkan, yang memberi ilmu (guru), dan yang menikahkanmu dengan anaknya (mertua).”

4. Pada saat kita kecil, orangtua mencintai kita, bersabar dengan keadaan dan tangisan kita, menghadapi berbagai tingkah pola kita, berdoa supaya kita panjang umur dan sehat sampai dewasa. Maka wajib bagi kita bersabar terhadapnya ketika mereka sudah tua dan memiliki banyak kekurangan.

5. Syafaat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun tak dapat menolong orang yang durhaka kepada orangtuanya dari siksa neraka kecuali orangtuanya sendiri yang memberi kesempatan padanya untuk diberi rahmat oleh Allah.

6. Memutus silaturrahim akan mendapat laknat dari Allah, tertolak seluruh amalnya, tidak akan diterima doanya walaupun ia seorang yang alim. Maka sambunglah silaturrahim sebelum kita mati dalam keadaan terlaknat dan sebelum kita masuk barzakh dengan amarah Allah selagi ada kesempatan.

7. Majelis ilmu lebih baik seribu kali daripada majelis maulid atau shalawat.

Orang yang hadir majelis ilmu akan mendapat rahmat Allah meski tidak paham atau tidak hafal apa yang telah disampaikan.

8. Banyak orang yang baru bisa merasakan manfaatnya hadir majelis ilmu ketika menjelang sakaratul maut.

Jauhilah orang-orang yang benci majelis ilmu.

9. Orang berakal bukanlah orang yang hanya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Tetapi orang berakal adalah orang yang mengerti mana yang baik untuk dilakukan dan mengerti mana yang jelek untuk dijauhi. Dan itu semua ada dalam majelis ilmu.

10. Janganlah mengobrol sendiri dalam majelis ilmu. Syaikh Abubakar Bin Salim berkata: “Orang-orang yang sering mengobrol di majelis ilmu dikhawatirkan akhir hayatnya menjadi bisu.”

11. Ketika kamu tidak bisa menjadi seorang pengajar, maka setidak-tidaknya jadilah seorang pencari ilmu, atau orang yang semangat dalam menghadiri majelis ilmu, atau orang yang cinta kepada majelis ilmu.

12. Apabila zakat dikelola dengan baik dan benar niscaya tidak akan ada fakir miskin di dalam sebuah negara muslim. Seperti era Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

13. Barangsiapa memuliakan/menjamu tamu yang tidak dikenal, maka bagaikan memuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Barangsiapa memuliakan/menjamu tamu yang dikenal, maka bagaikan memuliakan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

14. Siwak mempunyai 120 manfaat. Sedangkan rokok mempunyai 120 bahaya.

Di Belanda terdapat sebuah penelitian bahwa ada kuman gigi yang tidak bisa mati kecuali dengan zat yang terkandung dalam kayu arok/siwak.

15. Dalam najis anjing dan babi ada beberapa kuman yang tidak bisa dihancurkan dengan berbagai macam zat kimia, tapi justru bisa dibasmi dengan debu. Oleh sebab itu, syariat mewajibkan membasuh najis anjing dan babi dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya harus dicampur dengan debu.

16. Dalam salah satu sayap lalat ada empat penyakit dan dalam sayap lainnya ada empat obat penyakit tersebut. Jadi, jika terdapat lalat mati di dalam minuman maka tenggelamkan terlebih dahulu sebelum membuang lalat tersebut agar aman diminum. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadits.

17. Agar futuh dalam ilmu, Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Saya mendapatkan futuh dalam ilmu dengan sebab 3 perkara; dengan menangis dan merendahkan hati serta beristighfar di waktu Sahur, dengan berzuhud terhadap dunia, dan tidak aku mendengar ada seorang lelaki yang saleh atau perempuan yang salehah kecuali aku mengunjunginya dan meminta doa darinya."

Banyak sekali pesan dan nilai dalam kata-kata bijak yang beliau sampaikan diatas, yang pada intinya agar kita menjadi orang yang semakin cinta dan dicintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Semoga bermanfaat....

Senin, 20 Februari 2023

KUMPULAN KALAM HIKMAH AL QUTB AL HABIB ABU BAKAR ASSEGAF GRESIK

Edisi Senin, 20 Februari 2023 M / 29 Rajab 1444 H.

Habib  Abu  Bakar  bin  Muhammad bin Umar  As-Segaf  lahir  di  Besuki, Situbondo, Jawa Timur pada 16 Dzulhijjah tahun 1285 H atau bertepatan dengan tanggal 30 Maret 1869 M. Ayah beliau bernama  Habib Muhammad bin Umar As-Segaf. Istri beliau bernama Alhubabah Syifa Binti Abdul Qodir As-Segaf. Beliau dikarunia putra diantaranya : Habib Ali bin Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf dan Habib Segaf bin Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf.

Beliau juga dibimbing oleh Habib Syeikh bin Umar bin Segaf As-Segaf,  seorang  Ulama  yang  disegani  dan  menjadi  rujukan warga Hadramaut pada saat itu. Dari pamannya  tersebut beliau belajar ilmu fikih dan ilmu Tasawwuf yang sebelumnya beliau sama sekali belum mengenal ilmu itu. Beliau tidak hanya  diajarkan keilmuan secara  teori  tapi  juga  praktek  secara langsung.  Hampir  setiap  malam  beliau dibangunkan  pamannya  untuk melakukan sholat malam atau Qiyamul Lail meski usia beliau saat itu masih sangat  kecil. Hal  ini  dimaksudkan  agar  beliau terbiasa  melakukan  suatu ‘kewajiban’ bagi orang-orang yang mulia disisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan juga meniru atas keteladanan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Pendidikan yang diberikan oleh pamannya membuahkan hasil yang luar biasa terhadap diri Habib Abu Bakar ketika beliau beranjak dewasa. Karena sejak kecil kehidupan Habib Abu Bakar hanya diisi dengan belajar, ibadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semasa kecil pun beliau dikenalkan oleh pamannya agar sering berziarah mengunjungi makam para Ulama Salaf, dan sampai dewasa pun beliau tetap gemar mengunjungi makam para Ulama Salaf. Karena bagi beliau Ulama Salaf pendahulunya mendapatkan sebuah kedudukan yang tinggi dikarenakan selalu memanfaatkan waktunya untuk selalu belajar, beribadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Setelah Habib Abu Bakar belajar cukup lama di Hadramaut, Yaman. Beliau pulang ke Indonesia pada tahun 1302 H. Saat itu Habib Abu Bakar memasuki usia 17 tahun. Karena menurut isyarat para guru beliau, ilmu yang dimiliki oleh Habib Abu Bakar dirasa sudah cukup dan mumpuni dalam berdakwah. Kemudian  Habib Abu  Bakar pulang  ke Indonesia  dengan ditemani Habib Alwi bin Segaf As-Segaf. Setelah sampai di Indonesia, Habib Abu Bakar langsung  menuju ke Tanah Jawa tepatnya di kota kelahiran yaitu Besuki, Situbondo untuk kembali memperdalam ilmu agama yang beliau dapat ketika di Hadramaut dan mematangkan ilmunya kepada Ulama dan Auliya’ di Tanah Jawa.

Berikut ini diantara kalam beliau :

1. “Ketahuilah, baju kalian  yang mengenalkan kalian, yang mana jalan yang baik dan yang mana jalan yang buruk. Sebagai contoh: Kalian jika memakai pakaian para salaf kalian, apakah kalian akan masuk ke tempat orang yang lupa kepada Allah…? Tidak mungkin…!!! Jadi, yang mencegah kalian duduk dengan mereka adalah baju. Sedangkan jika kalian pakai pakaian selain pakaian salaf kalian dan kalian meninggalkan perangai mereka, lalu kalian melewati Majelis Ilmu atau Rauhah, apa kalian akan hadir dan masuk ke majelis-majelis mereka…? Tidak mungkin…!! Dan, yang menjadi penyebab penghalang kalian pada tempat yang baik adalah baju.”

2. “Kalian wahai pemuda, tidak akan mengerti tawadlu’ kecuali jika kalian hadir semisal majelis ini (Majelis Ta’lim). Akan tetapi selagi kalian lari dan melarikan diri dari majelis-majelis yang kalian lihat, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa”.

3. “Dzikir adalah penghasil sebuah cahaya dalam hati. Dan di kala berdzikir terkadang terdapat rasa panas yang di hasilkan oleh sebab darah yang di masak dan dibersihkan. Tatkala sudah bersih maka dengan mudah bertempat cahaya-cahaya tersebut pada tempatnya.”

4. “Allah, Allah Fil Masjidi Seggaf, Solo…! Kalian jaga dan makmurkan dengan sholat jamaah. Ketahuilah adanya masjid ini adalah ni’mat bagi kalian wahai penduduk Solo. Tidak ada masjid yang seperti Masjid Seggaf ini, karena mendapat kekhususan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ketika kita putus asa dan ada rasa malas dalam membangunnya, Nabi Shallallahu ‘Alayh Wa Sallam berkata: ‘Bangkit dan bangunlah karena aku ikut serta bersamamu.’“

5. “Selagi penduduk daerah atau desa saling menyambung tali silaturahmi dan saling menanamkan rasa kasih sayang, tidak ada pertikaian di antara mereka, tidak saling hasud dan membenci, maka semua bala’ yang harus turun tertahan di antara langit dan bumi bertahun-tahun. Sebagai gantinya di taburkan keberkahan dalam kehidupan mereka berkah dari rasa kasih sayang mereka. Akan tetapi, jika mereka saling membenci dan hasud diantara mereka maka menjadi penyebab jebolnya dinding penahan antara mereka dan bala’ tersebut. Maka segala macam musibah dan mala petaka silih berganti menghujani mereka, karena jika turun bala’ rata semua terkena”

6. “Siapa saja dalam keadaan penuh kesusahan dan dalam kesempitan atau kesumpekan serta banyak pikiran hendaknya melazimi doa ini: Laisa lahaa minduunillahi kaasyifa 100 kali. Ketahuilah barangsiapa yang rajin membacanya insyaa Allah hilang semua rasa sumpek dan Allah akan ganti dengan kelapangan, ketenangan, jalan keluar serta kebahagian.”

7. “Dalam bersahabat hendaknya tidak saling menjatuhkan haknya atas orang lain. Jangan sekali-kali meminta hak persahabatanya terhadap teman, jika ada hal ini maka persahabatan kalian akan kekal dan akan timbul rasa saling bahu membahu.”

8. “Jika seseorang menambah atau mengurangi jumlah hitungan atau menambah dalam doa yang sudah di tentukan, maka tidak akan mendapatkan kekhususan dari wirid atau doa tersebut. Karena doa atau wirid seperti kunci, jika di tambah atau di kurangi gigi kuncinya, tidak akan dapat di gunakan membuka pintu.”

9. “Hendaknya seseorang tidak meninggalkan dzikir walaupun dalam keadaan bekerja atau dalam rutinitasnya. Karena berdzikir memungkinkan untuk di lakukan dalam hal tersebut. Berbeda dengan amal-amal yang lain, perlu waktu dan batas yang khusus. Ketahuilah, hati jika kosong dari dzikir menjadi gelap, sebab hati yang sepi dari dzikir seperti rumah yang tidak ada lampunya. Dzikir adalah pendekat kalian-kalian kepada Allah Ta’aalaa. Setiap dzikir memiliki pancaran cahaya yang sangat terang dalam hati juga sangat memberikan bekas dalam menerangi hati.”

10. “Tiga perkara yang sepatutnya manusia tidak peduli dan tidak merasa malu pada siapapun.

1.Suatu majelis yang tidak cocok dengannya maka berdirilah dan jangan kalian hadiri.

2.Makanan yang berbahaya, jangan kau makan.

3.Jika berkata seorang guru atau orang terkemuka padamu di suatu majelis:“Masuklah atau majulah kedepan…!” Atau apapun perintah yang serupa dengan itu, maka jangan sampai kamu berkata, “Yang lain saja, masih ada yang lebih mulia dariku..” Akan tetapi, taati perkataan mereka karena seorang guru atau orang yang terkemuka mereka lebih tahu siapa yang pantas ke depan.”

11. “Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan kepada hambanya segala apa yang dipanjatkan sesuai dengan niatnya. Menurut saya Allah Subhanahu Wa Ta'ala niscaya akan mendatangkan segala nikmat-Nya di muka dunia, dengan cara terlebih dahulu Dia titipkan di dalam hati hamba-Nya yang berhati bersih. Untuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada hamba-Nya yang lain. Amal seorang hamba tidak akan naik dan diterima Allah Subhanahu Wa Ta'ala kecuali dari hati yang bersih. Ketahuilah wahai saudaraku, seorang hamba belum dikatakan sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang sejati jika belum membersihkan hatinya!”

12. “Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, hati yang ada di dalam ini (sambil menunjuk ke dada beliau) seperti rumah, jika dihuni oleh orang yang pandai merawatnya dengan baik, maka akan nampak nyaman dan hidup. Namun jika tidak dihuni atau dihuni oleh orang yang tidak dapat merawatnya, maka rumah itu akan rusak dan tak terawat. Dzikir dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati.”

13. “Wahai sadara-saudaraku, dengarkanlah apa yang dikatakan Habib Ali! Beliau meminta kepada kita untuk selalu meluangkan waktu menghadiri majlis-majlis semacam ini ( ta’lim, dzikir )! Ketahuilah bahwa menghadiri suatu majlis yang mulia akan dapat menghantarkan kita kepada suatu derajat yang tidak dapat dicapai oleh banyaknya amal kebajikan yang lain. Simaklah apa yang dikatakan guruku tadi!”

14. “Di zaman ini, hanya sedikit orang yang menunjukkan adab luhur dalam majlis. Jika ada seseorang yang datang, mereka berdiri dan bersalaman atau menghentikan bacaan, padahal orang itu datang ke majlis tersebut tidak lain untuk mendengarkan. Oleh karenanya, banyak aku jumpai orang di zaman ini, jika datang seseorang, mereka berkata, “silahkan kemari” dan yang lain mengatakan juga “silahkan kemari” sedang orang yang duduk di samping mengipasinya.

Gerakan-gerakan dan kegaduhan yang mereka timbulkan menghapus keberkahan majelis itu sendiri. Keberkahan majlis bisa diharapkan, apabila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majlis itu pada intinya adalah adab, sedangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati. Oleh karena itu, wahai saudara-saudarku, aku anjurkan kepada kalian, hadirilah majlis-majlis khoir ( baik ). Ajaklah anak-anak kalian kesana dan biasakan mereka untuk mendatanginya agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majlis-majlis yang baik pula!”

15. “Saat-saat ini aku jarang melihat santri-santri atau siswa-siswa madrasah yang menghargai ilmu. Banyak aku lihat mereka membawa mushaf atau kitab-kitab ilmu dengan cara tidak menghormatinya, menenteng atau membawa dibelakang punggungnya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat-tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu tapi mencintai nilai semata-mata. Mereka diajarkan pemikiran para filosof dan budaya pemikiran-pemikiran orang Yahudi dan Nasrani.”

16. “Apa yang akan terjadi pada generasi remaja masa kini? Ini tentu adalah tanggung jawab bersama. Al Habib Ali pernah merasakan kekecewaan yang sama seperti yang aku rasa. Padahal di zaman beliau, aku melihat kota Seiwun dan Tarim sangat makmur, bahkan negeri Hadramaut dipenuhi dengan para penuntut ilmu yang beradab, berakhlaq, menghargai ilmu dan orang ‘Alim. Bagaimana jika beliau mendapati anak-anak kita disini yang tidak menghargai ilmu dan para Ulama? Niscaya beliau akan menangis dengan air mata darah. Beliau menambahkan bahwa aku akan meletakkan para penuntut ilmu di atas kepalaku dan jika aku bertemu murid yang membawa bukunya dengan rasa adab, ingin rasanya aku menciun kedua matanya.”

17. “Aku teringat pada suatu kalam seorang shaleh yang mengatakan; Tidak ada yang menyebabkan manusia rugi, kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah Kaum Sholihin dan berkiblat pada buku-buku modern dengan pola pikir moderat. Wahai saudara-saudarku! Ikutilah jalan orang-orang tua kita yang sholihin, sebab mereka adalah orang-orang suci yang beramal ikhlas. Ketahuilah Salaf kita tidak menyukai ilmu kecuali yang dapat membuahkan amal sholeh.”

“Aku teringat pada suatu untaian mutiara nasihat Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas yang mengatakan; Ilmu adalah alat, meskipun ilmu itu baik ( hasan ), tapi hanya alat bukan tujuan, oleh karenanya ilmu harus diiringi adab, akhlaq dan niat-niat yang sholeh. Ilmu demikianlah yang dapat mengantakan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi.”

Semoga bermanfaat....

Minggu, 19 Februari 2023

HIKMAH PERISTIWA ISRA 'MI'RAJ, LAYAK MENJADI PELAJARAN

Edisi Ahad, 19 Februari 2023 M / 28 Rajab 1444 H.

Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara miraj adalah naiknya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ke Sidratul Muntaha, langit tertinggi yang tak dapat dijangkau oleh makhluk apa pun. Perjalanan yang sangat jauh itu dialami Rasulullah dalam waktu yang sangat singkat.

Peristiwa Isra’ Mi’raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam hitungan kalender hijriyah. Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa bersejarah yang sangat agung dalam perjalanan kenabian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Saking agungnya peristiwa Isra’ Mi’raj, ia pun diabadikan dalam Al-Qur’an. Ayat Al Quran yang membenarkan perjalanan Isra Miraj tersebut salah satunya Surat Al Isra [17] ayat 1, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Israa [17]:1).

Di balik mukjizat yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam tersebut, tak hanya menunjukkan kebesaran-Nya tetapi juga membawa sejumlah hikmah bagi setiap muslim. Sebab itu, peristiwa bersejarah tersebut tentu memiliki banyak Hikmah yang layak dijadikan pelajaran oleh umat manusia. Berikut adalah beberapa hikmah di balik peristiwa Isra’ Mi’raj:

1. Tingginya derajat kehambaan 

Penyebutan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam ayat Isra’ (QS Al-Irsa [17]: 1) menggunakan kata ‘Abdun’ yang memiliki arti hamba, tidak menggunakan –misalkan– kata ‘nabi’, ‘rasul’ atau pun ‘khalil’ (kekasih). Ini menunjukkan bahwa derajat kehambaan di sisi Allah memiliki nilai yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ketika Al-Qur'an berbicara tentang orang-orang ikhlas menggunakan kata ‘Abdun’. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا 

Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan [25]: 63).

2. Pembekalan dakwah untuk Rasulullah 

Kita tahu, sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdakwah di Kota Makkah. Di sana beliau merasakan betapa berat cobaan dan ujian dirasakan. Orang-orang tercinta dan orang-orang tempat beliau bersandar silih berganti wafat, saat orang-orang Quraisy tengah begitu ganas menindas. Sampai kemudian para sejarawan menamai duka Rasulullah atas kewafatan orang-orang tercinta dengan nama ‘amul huzni (tahun kesedihan). Setelah itu Allah mengisra’kan Nabi-Nya.

Ini semua sudah skenario Allah agar Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menjadi sosok yang tangguh. Tantangan dakwah beliau ke depan akan sangat berat dan berliku. Menyebarkan agama Islam dengan perlawanan dari pemuka-pemuka Quraisy, dari pasukan perang bersenjata lengkap, dan musuh-musuh Islam kelas jenderal lainnya. Allah telah membekali Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sejak ia lahir dengan kehidupan pedih yang mengasah ketangguhannya.

3. Sampaikan kebenaran walau pahit 

Sepulang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dari Isra’ Mi’raj, beliau sampaikan perjalanannya itu pada sekalian penduduk Makkah. Tapi apa respons mereka? Banyak di antara mereka tidak percaya. Bahkan ada yang semula beriman, tapi setelah mendengar ‘cerita tidak masuk akal’ ini, mereka keluar dari Islam. Sampai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam harus menceritakan bukti-bukti untuk memperkuat argumennya; seperti soal bangunan Masjid Aqsha dan kafilah dagang yang beliau lihat saat Isra'.

Nabi tetap menyampaikan kabar peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialaminya dengan terus terang. Meski harus dibalas dengan cacian dan ejekan dari orang-orang musyrik. Bukankah beliau pernah bersabda, “Katakanlah kebenaran, walau pahit kenyataan.”

4. Syariat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menghapus syariat nabi-nabi terdahulu 

Saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu. Ini bukti bahwa mereka tunduk dan mengikuti risalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Sekaligus menjadi isyarat bahwa syariat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam telah menghapus syariat nabi-nabi sebelumnya.

5. Keistimewaan Masjid Al-Aqsha bagi umat Muslim 

Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, Masjid Al-Aqsha dinamakan Baitul Maqdis. Perjalanan Isra' dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis dan Mi’raj dari Baitul Maqdis menuju langit dunia sampai bertemu Rabb-nya, merupakan isyarat bahwa Masjid Al-Aqsha memiliki keistimewaan bagi umat Islam. Bahkan masjid ini pernah menjadi kiblat shalat sebelum akhirnya berganti Ka’bah. Pahala shalat di Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha) juga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.

6. Islam adalah agama yang suci 

Saat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam diberi pilihan antara air susu dan khamr, Nabi memilih susu. Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah). Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).

7. Perintah menjalankan sholat 5 waktu 

Peristiwa Isra’ Mi’raj juga menjadi hari ulang tahun bagi shalat lima waktu. Dalam hadits Nabi dijelaskan bahwa kewajiban shalat bagi umat Muslim terjadi pada malam Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam Mi’raj ke langit. Hanya syariat shalat yang beliau terima langsung, bukan dengan wahyu melalui perantara malaikat Jibril sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya. Tidak heran, dalam agama Islam, shalat merupakan tiang agama (Imad ad-Din). Dari sinilah sholat lima waktu menjadi sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Islam tanpa terkecuali

8. Memperbaiki Kualitas Shalat 

Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam juga menerima perintah shalat dari Allah yaitu 50 kali dalam sehari, namun jumlahnya terus menurun ketika Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bertemu dengan nabi-nabi lain. Mereka meminta Nabi Muhammad memohon pengurangan jumlah waktu shalat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hingga pada akhirnya hanya 5 waktu shalat wajib saja untuk ummat Islam. Ada makna dan hikmah Isra Mi’raj dari perintah shalat ini, yaitu mengajak umatnya untuk memperbaiki kualitas shalat sekaligus menjadi bakal memperbaiki hubungan dengan Allah.

9. Ilmul Yaqin Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam naik level ke ‘Ainul Yaqin 

Sebelum Mi’raj, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam hanya mendengar sifat-sifat soal surga, neraka dan hal-hal gaib lainnya melalui wahyu. Ini namanya ‘ilmul yaqin; Nabi mengimaninya tapi belum melihat langsung. Ketika Mi’raj, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melihat langsung dengan mata kepala beliau sendiri. Ini namanya ‘ainul yaqin.

10. Meningkatkan kualitas keimanan 

Ketika peristiwa Isra Miraj diceritakan penolakan yang dilakukan oleh kaum Quraisy kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Bahkan, sebagian dari mereka memberi reaksi dengan memfitnah Rasulullah. Namun, tidak demikian dengan Abu Bakar dan kaum muslimin yang keimanannya telah tertanam di dalam jiwa. Mereka mempercayai ajaran terutama cerita akan peristiwa Isra' Mi'raj yang dialami oleh Rasulullah.

 Kisah keimanan sahabat Nabi tersebut sudah sepatutnya untuk kita ambil sebagai ibrah kehidupan. Selain itu, rutinitas yang kerap kali diselenggarakan oleh umat muslim seperti halnya pembacaan maulid diba' hingga pengajian bertemakan isra' mi'raj juga menjadi pemacu peningkatan iman dan upaya dalam taqarrub ilallah.

11. Bukti kekuasaan Allah 

Senada dengan Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menyatakan isra' mi'raj bertujuan untuk memperlihatkan sebagian ayat atau tanda (bukti) kekuasaan-Nya.

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya: "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (Q.S. Al- Isra': 1)

Hal ini menjadikan ayat tersebut sebagai simbol agar kita memperhatikan ayat-Nya, sehingga keimanan akan eksistensi dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan tertanam dalam diri.

12. Menerima Nasihat 

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam juga sosok yang terbuka dalam menerima nasihat saudaranya. Ketika Nabi Musa Alaihissalam mengungkapkan umatnya tidak akan mampu melaksanakan shalat sebanyak 50 waktu, Nabi Muhammad lantas kembali menghadap Allah untuk meminta mengurangi jumlah shalat. Ini menunjukkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam terbuka menerima nasihat Nabi Musa Alaihissalam yang tulus dan penuh harapan.

13. Menunjukkan Perhatian dan kepedulian 

Mengikuti nasihat Nabi Musa Alaihissalam untuk kembali kepada Allah untuk meminta pengurangan shalat juga menunjukkan kesungguhan cinta dan kepedulian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya. Padahal Nabi bisa saja melakukan shalat lima puluh waktu setiap hari. Tapi beliau memikirkan umatnya. Hal ini menunjukkan besarnya cinta dan perhatian Nabi Muhammad kepada kita. Apa yang kita lakukan untuk komunitas Muslim kita? Adakah cara kita bisa lebih peduli pada saudara-saudara Muslim kita dalam Islam?

14. Merasa Malu di Hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Dan akhirnya, Nabi Muhammad tetaplah seorang manusia. Nabi merasa malu untuk bolak-balik menemui Allah untuk meminta keringanan jumlah shalat. Sebagai umatnya, kita perlu belajar dari baginda Nabi. Adakah saat-saat kita merasa sungkan atau malu di hadapan Allah? Apakah kita merasa malu karena melewatkan shalat? Apakah kita malu menonton film karena ada adegan-adegan eksplisit di dalamnya?

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengutamakan Allah. Hubungannya dengan Allah adalah yang paling penting. Beliau mengikuti nasihat Nabi Musa. Beliau peduli dengan umatnya tapi beliau tidak bisa mengabaikan rasa malu di depan Tuhannya.

15. Dengarkan dan Patuhi 

Ketika Allah memberikan perintah shalat 50 waktu kepada Nabi Muhammad, beliau tidak meminta kurang. Beliau menerima perintah Allah. Nabi Muhammad mendengarkan dan beliau menaati, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Al Baqarah ayat 285.

“Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah teladan bagi umatnya. Sehingga apapun yang Allah perintahkan, melakukan atau tidak melakukan, kita harus mendengarkan dan mentaatinya.

16. Hikmah dipilihnya malam hari sebagai waktu terbaik untuk berdoa 

Malam hari menjadi waktu istimewa, termasuk ketika terjadinya peristiwa Isra Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ke Sidratul Muntaha. Hikmah peristiwa Isra terjadi di malam hari adalah agar orang-orang dapat mengimani sesuatu yang gaib. Lagipula, malam selalu didahulukan dari siang, baik dalam proses penciptaan hingga urutan penyebutan dalam ayat-ayat Al Quran, merujuk Buku Isra Miraj (2016).

Selain itu, merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa, Sebab, setiap malam mengandung saat-saat pengabulan doa.

17. Membersihkan Jiwa Raga untuk Menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Diriwayatkan, sebelum melakukan perjalanan Isra Miraj, malaikat membelah dada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam untuk membersihkan jiwanya dari sifat buruk. Hal ini menunjukkan, sebelum menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjalankan ibadah, jiwa raga harus dalam keadaan bersih dari segala kotoran atau najis, dari niat yang tidak ikhlas, dan dari pemahaman-pemahaman yang sesat. Ibadah akan mardud atau tidak sah bila niat kita tidak ikhlas atau tidak didasari ilmu.

Semoga bermanfaat....