Rabu, 03 Januari 2024

KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN DZIKIR

Edisi Rabu, 3 Januari 2024 M / 20 Jumadil Akhir 1445 H. 

Dzikir adalah aktivitas seorang hamba dalam menyebut nama Allah. Dalam berdzikir, kondisi orang berbeda-beda. Ada orang yang mulutnya berdzikir, tetapi hatinya lalai. Ada juga yang menyebut nama Allah dengan hati terjaga.

Sebagian ulama bahkan menyebut dzikir sebagai kunci pembuka penyatuan seorang hamba dan Allah. Melalui dzikir, seorang hamba dapat memasuki majelis mulia bersama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Hal ini  disebutkan oleh Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi berikut ini. Menurutnya, tidak ada ketentuan terhadap lafal dzikir. Artinya, dzikir dengan lafal yang mana saja dapat membuka pintu langit.

أقول الذكر المأمور به من الأستاذ سواء كان قولك "لا إله إلا الله" أو "الله" أو غير ذلك بحسب ما يراه هو مفتاح لِبَاب لُباب شهوده ووجود وحدة المذكور وأصل أصول وصول الأرواح والأسرار إلى حضرات الحضور 

“Menurut saya, dzikir yang diperintahkan ustadznya apakah itu ‘Lâ ilâha illallâh’, ‘Allâh’, atau dzikir lainnya sesuai pertimbangan kemaslahatan ustadz adalah kunci pintu ruang utama penyaksian Allah, penyatuan dengan-Nya, pokok dari fondasi kehadiran (wushul) jiwa-jiwa suci di majelis Allah nan suci lagi mulia,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 51).

Berikut ini adalah beberapa Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam yang membicarakan tentang dzikir :

1. Dzikir bersama setelah shalat fardhu 

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلىٰ عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذٰلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Bahwa Ibn Abbas pernah mengabarinya; "Bahwa mengeraskan suara dzikir sehabis shalat wajib, pernah terjadi di masa Nabi Shallallahu alaihi Wasallam." kata Abu Ma'bad; Ibn Abbas mengatakan; "Akulah yang paling tahu tentang hal itu, ketika mereka telah selesai (mengerjakan shalat), sebab aku pernah mendengarnya." (H.R. Muslim no.1346). 

2. Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir 33 Kali Setelah Shalat 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَنْ سَبَّحَ اللهَ  فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam beliau bersabda: "Barangsiapa bertasbih kepada Allah sehabis shalat sebanyak 33 kali, dan bertahmid kepada Allah 33 kali, dan bertakbir kepada Allah 33 kali, hingga semuanya berjumlah 99, dan beliau menambahkan, dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul walahul hamdu wahuwa 'alaa kulli syai'in qadiir, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan." (H.R. Muslim no. 1380).

3. Majlis Dzikir 

أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلىٰ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri bahwasanya keduanya menyaksikan Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: "Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya". (H.R. Muslim no. 7030).

4. Anjuran berdzikir dalam keadaan suci 

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلاَّ أَنِّى كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ

Dari Muhajir bin Qunfudz, bahwasanya ia memberi salam kepada Nabi Shallallahu alaihi Wasallam saat beliau sedang wudhu, ketika itu Nabi Shallallahu alaihi Wasallam tidak menjawab salamnya, namun setelah beliau selesai dari wudhunya, barulah beliau menjawab salamnya, lalu beliau bersabda : Sesungguhnya Tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu, melainkan aku tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci. (H.R. Ahmad no. 19550, Ibnu Majah no. 377).

5. Keutamaan Dzikir Laa ilaaha illallah Wahdahuu laa syariikalah 

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ ، إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qodir (Tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang dapat lebih banyak mengamalkan (membaca) dzikir ini. (H.R. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 7318).

6. Anjuran Baca Dzikir dan Shalawat di Setiap Majelis 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهِ فِيْهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Tidaklah suatu kaum duduk disuatu majelis yang tidak ada dzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat pada nabinya, kecuali majelis tersebut menjadi penyesalan. Bila Allah berkehendak akan menyiksa mereka, dan bila dikehendaki, mereka akan diampunui. (H.R. Tirmidzi no. 3708).

7. Dzikir setelah shalat Jum'at 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ :  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  مَنْ قَرَأَ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ : قُلْ هُوَ اللهُ أحَدٌ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعَاذَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنَ السُّوْءِ إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى (رواه ابن السني. حديث حسن)

Dari A'isyah radhiyallahu anha beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Barang siapa setelah shalat Jum'at membaca surat Al-Ikhlash, Surat Al-Falaq dan surat An-Nas sebanyak 7 kali, maka Allah Azza wa Jalla akan melindungi dari keburukan sampai Jum'at berikutnya. (H.R. Ibnu Sunni, Hadits hasan). 

8. Hadits keutamaan majelis dzikir 

أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلىٰ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri bahwasanya keduanya menyaksikan Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: "Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya". (H.R. Muslim no. 7030).

9. Keutamaan dzikir Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’asmihii syaiun fil ardhi walaa fissamaa’ wahuwas samii’ul ‘aliim 

وَرُوِنَا فِى سُنَنٍ اَبِى دَاوُدُ وَ التِّرْمِذِى عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ  قاَلَ، قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُوْلُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِى لَايَضُرُّ مَعَ اسْمِه۪ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّـمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَـلِيْمُ  ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ يَضُرُّه۫  شَيْىءٌ. قاَلَ التِّرْمِذِى، هٰذَا حَدِيْثٌ  حَسَنٌ صَحِيْحٌ، هٰذَا لَفْظُ التِّرْمِذِى. وَفِى رِوَايَةٍ اَبِى دَاو۫دَ: لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ

Telah meriwayatkan pada kami  dalam sunan Abu Daud dan Tirmidzi, dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu ia berkata. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Seorang hamba yang  membaca pada pagi hari tiap-tiap menjelang siang dan pada petang tiap-tiap menjelang malam “Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’asmihii syaiun fil ardhi walaa fissamaa’ wahuwas samii’ul ‘aliim” sebanyak tiga kali, niscaya tidak akan ada sesuatu yang membahayakannya. (Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih, hadits ini lafaldnya menurut Tirmidzi, sedangkan menurut Abu Daud : ….. ia tidak ditimpa bencana secara tiba-tiba).

10. Keutamaan dzikir Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta 

وَرُوِيْنَا فِى كِتَابِ ابْنِ السُنِّى عَنْ اَبِى بَرْزَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ  كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَا صَلَّى الصُّبْحِ، قَالَ الرَّاوِى : لَا اَعْلَمُ  إِلاَّ قاَلَ فِى سَفَرٍ، رَفَعَ صَوْتَه۫ حَتّٰى يَسْمَعَ اَصْحَابُه۫ : اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ لِى دِيْنِى الَّذِى جَعَلْتَه۫ عِصْمَةَ اَمْرِى، اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ لِى دُنْيَايَ الَّتِى جَعَلْتَ فِيْهَا مَعَاشِى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ لِى آخِرَتِى  الَّتِى جَعَلْتَ إِلَيْهَا مَرْجِعِى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، اَللّٰهُمَّ  أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، اَللّٰهُمَّ  أَعُوْذُبِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَامَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Telah meriwayatkan pada kami dalam kitab  Ibnu Sunni dari Abu Barzah radhyalahuanhu adalah Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, apabila selesai shalat shubuh, perowi berkata : Aku tidak tahu kecuali pada shalat safar (dalam perjalanan),  menyaringkan suaranya sehingga terdengar oleh sahabat-sahabatnya (membaca) Allaahumma ashlih lii diinil ladzii ja’altahu ishmata amriii, Allaahumma ashlih lii dun-yaaya latii ja’alta fiihaa ma’aasyii (tiga kali). Allaahumma ashlih lii aakhirotil latii ja’alta ilaihaa marji’ii (tiga kali). Allaahumma a’uudzu bi ridhaaka min sukhtik Allaahumma a’uudzu bika (tiga kali). laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jadd. (H.R. Ibnus Sunni dari Abu Barzah radhyalahuanhu).

11. Keutamaan dzikir Astagh-firullaah hal ‘adhiim laailaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa as aluhut taubata wal maghfiroh 

عَنْ مُعَاذٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ، مَنْ قَالَ اَسْـتـَغْـفِرُاللهَ الْعَـظِيْمَ اَلَّذِى لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَـيُّوْمُ وَاَسْـأَلُهُ التَّوْبَةَ وَالْمَغْـفِرَةَ  بَعْدَ الصُّبْحِ ثَلاَثًا وَبَعْدَ الْعَصْرِ ثَلاَثًا غَفَرَ اللهُ لَه۫  ذُنُوْ بَه۫  وَاِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ  

Barang siapa membaca “Astagh-firullaah hal ‘adhiim laailaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa as aluhut taubata wal maghfiroh” sebanyak tiga kali setelah fajar dan tiga kali sesudah  ashar,  maka  dosa - dosanya   dihapuskan oleh Allah, meskipun sebanyak buih air laut. (Hadits dari Mu’adz).

Dalam sebuah hadits lain disebutkan :

مَنْ قَالَ حِيْنَ يَأْوِى الِىٰ فِرَا شِه۪ اَسْـتـَغْـفِرُاللهَ الْعَـظِيْمَ  اَ لَّذِى لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَـيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللهُ لَه۫  ذُنُوْ بَه۫  وَاِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ  اَوْ عَدَدِ رَمْلِ عَالِجٍ اَوْ عَدَدِ وَرَقِ اَوْ عَدَدِ اَيَّامِ الدُّنْيَا

Barang siapa yang mengucapkan ketika ia tinggal di hamparannya membaca ““Astagh-firullaah hal ‘adhiim laailaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaiih” tiga kali, maka Allah mengampuni dosa-dosa nya meskipun seperti buih lautan atau seperti bilangan (jumlah) pasir yang bertumpuk-tumpuk atau bilangan daun pohon-pohon atau bilangan hari-hari dunia (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi).

12. Keutamaan dzikir subhaa nallaah wabihamdih 

مَنْ قَالَ : سُبْحَانَ اللهِ وَ  بِحَمْدِه۪ فىِ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ خُطَّتْ خَطَايَاهُ وَاِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ  

Barang siapa membaca “subhaa nallaah wabihamdih” sebanyak seratus kali pada setiap hari, maka dosanya akan diampuni oleh Allah, meskipun dosa-dosa itu sebanyak buih air laut. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). 

Dalam sebuah hadits lain disebutkan :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ  رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ، كَلِيْمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَـقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ اِلَى الرَّحْمٰنِ : سُبْحَانَ اللهِ وَ  بِحَمْدِه۪  سُبْحَانَ اللهِ الْعَـظِيْـمِ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, bersabda : Dua kalimat yang ringan di lisan, berat atas timbangannya, dicintai Allah Yang Maha Pemurah yaitu “Subhaa nallaahi wabihamdih subhaa nallaahil ‘adhiim” (H.R. Bukhari dan Muslim).

13. Dzikir Subbuuhun qudduusun robbul malaa’ikati war ruuh 

وَرُوِنَا فِى صَحِيْحِ مُسْلِمِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا مَا قَدَّمْنَاهُ فِى الرُّكُـوْعِ  اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ فِى  رُكُـوْعِه۪  وَسُجُوْدِه۪ : سُـبوُّحٌ قُـدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلآ ئـِكَـةُ وَالـرُّوْحُ

Telah meriwayatkan pada kami  dalam shahih Muslim dari Aisyah radhyalahuanha Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam ketika rukuk dan sujudnya membaca “Subbuuhun qudduusun robbul malaa’ikati war ruuh”. (H.R. Muslim). 

14. Keutamaan dzikir Subhaa nallaah wal hamdulillaah walaa ilaa haillallaah wallaahu akbar 

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ  رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ، لَأَ نَّ اَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهُ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَ لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْـبَرُ اَحَبُّ  إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ. وَزَادَ فِى رِوَايَةٍ اُخْرٰى وَلَاحَوْلَ وَلَا قُـوَّةَ اِلَّا بِاللهِ وَقَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

Abu Hurairah radhyalahuanhu Meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Sungguh saya mengucapkan : “Subhaa nallaah wal hamdulillaah walaa ilaa haillallaah wallaahu akbar” itu lebih aku sukai dari pada apa yang matahari itu terbit atasnya (dunia). Dan di dalam riwayat lain ada tambahan : “Laa haula walaa quwwata illaa billaa” dan beliau Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : itu adalah lebih baik dari pada dunia dan apa yang ada padanya. (H.R. Muslim). 

Dalam sebuah hadits lain disebutkan :

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهُ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَ لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْـبَرُ وَلَاحَوْلَ وَلَا قُـوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَـلِيِّ الْعَـظِيْمِ بَعْدَ الصُّبْحِ ثَلاَثًا وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثًا وَقَاهُ اللهُ مِنْ بَلاَيًا اَرْبَعٍ مِنَ الْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَالْعَمٰى وَالْفَالِجِ

Barang siapa membaca “Subhaa nallaah wal hamdulillaah walaa ilaa haillallaah wallaahu akbar wa Laa haula walaa quwwata illaa billaa” sebanyak tiga kali sesudah shalat shubuh dan tiga kali sesudah shalat maghrib, maka dia akan diselamatkan oleh Allah dari empat jenis balak (penyakit), yaitu : Gila (stress), lepra, buta mata dan kelumpuhan.

15. Keutamaan dzikir Laa ilaaha illallahul waahidul qahhar 

وَرُوِيْنَا فِى كِتَابِ ابْنِ السُنِّى عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ تَعْنِيْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَا تَعَارَّ مِنَ الَّليْلِ قَالَ : لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيـْنَهُـمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

Telah meriwayatkan pada kami dalam kitab  Ibnu Sunni dari ‘Aisyah radhyalahuanha ia berkata : Adalah ia, yakni Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam apabila bangun pada malam hari membaca : Laa ilaaha illallaahul waahidul qahhaar, rabbus samaawaati wal ardhi wamaabaina humal ‘azizul ghaffar. (H.R. Ibnu Sunni). 

16. Keutamaan Dzikir Laailaaha Illallah Al Malikul Haqqul Mubin 

مَنْ قَالَ لآ  ِالٰهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَ لَه۫ اَمَانٌ مِنَ الْفَقْرِ وَاَمَانٌ مِنْ وَخَشَةِ الْقَبْرِ

Barang siapa membaca “Laa ilaaha illallaah almalikul haqqul mubiin” pada hari itu sebanyak seratus kali, maka baginya dijamin bebas dari kemiskinan dan ketakutan ketika dia di dalam kubur nanti. (H.R. Al Khotib dari Malik).

Dalam hadits lain :

مَنْ قَالَ لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ  مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ فِيْهِمَا حَاجَةً اِلاَّ قَضَاهَا

Barang siapa membaca “Laa ilaaha illallaah almalikul haqqul mubiin” pada siang dan malam hari itu sebanyak seratus kali, tidaklah permohonan hajat kepada Allah pada siang dan malam hari itu kecuali dikabulkan. 

17. Keutamaan Dzikir Laa Ilaahaillallah Wahdahu Laa Syariikalah 

وَرُوِيْنَا فِى كِتَابِ التِّرْمِذِى وَغَيْرِه۪ عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ، مَنْ قَالَ فِى دُبُرِ صَلاَةِ الصُّبْحِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ : لآ  ِالٰهَ  اِلاَّ اللهُ وَحْدَه۫  لَاشَرِيْكَ لَه۫ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْي۪ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلىٰ كُـلِّ شَيْءٍ قَـدِيْرٌ  عَشْرَ مَرَّاتٍ كُتِبَ لَه۫ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَه۫ عَشْرُ دَرَجَاتٍ،وَكَانَ يَوْ مُه۫  ذٰلِكَ فِى حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ وَحُرِسٍ مِنَ الشَّيْطَانِ وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَه۫  فِى ذٰلِكَ الْيَوْمِ  إِلاَّ الشِّرْ كَ بِاللهِ تَعاَلىٰ . قال  الترمذى : هذا  حديث حسن وفى بعض التسخ : صحيح

Telah meriwayatkan pada kami dalam kitab Tirmidzi dan lainnya, dari Abu Dar radhyalahuanhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam barsabda : Barang siapa sehabis shalat shubuh sedangkan kedua kakinya masih dalam keadaan terlipat sebelum bercakap-cakap lalu membaca :“Laa ilaahaillallaahu     wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul   hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir” Sebanyak sepuluh kali, niscaya dicatat baginya sepuluh kebaikan, dihapuskan dari sepuluh macam kejahatan, dan ia ditinggikan sepuluh derajat. Jadilah selama hari itu ia terpelihara dari setiap yang tidak diinginkannya dan dijaga dari gangguan syetan. Tidak ada dosa yang ditimpkan kepadanya dalam hari itu kecuali ia syirik kepada Allah. (Berkata Tirmidzi ini hadits hasan dan menurut naskah lainnya sebagai hadits sahih).

Semoga bermanfaat....


ONE DAY ONE HADITS 

Rabu, 3 Januari 2024 M / 20 Jumadil Akhir 1445 H. 

Perbandingan Orang yang Berdzikir dengan Orang yang Tidak Berdzikir

وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ )) . رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ فَقَالَ : (( مَثَلُ البَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ ، وَالبَيْتِ الَّذِي لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ ، مَثَلُ الحَيِّ والمَيِّتِ )) .

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6407 dan Muslim, no. 779].

Diriwayatkan oleh Muslim, “Perumpamaan rumah yang disebutkan nama Allah di dalamnya dengan yang tidak, bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” [HR. Muslim, no. 779].

Beberapa Pelajaran yang terdapat dalam Hadits :

1. Berdzikir setiap saat hendaklah selalu kita lakukan.

2. Orang yang berdzikir dimisalkan seperti orang yang hidup, yang tidak berdzikir dimisalkan seperti orang yang mati. Ini menunjukkan bagaimanakah manfaat dzikir pada gerak-geriknya hati.

3. Dalam hadits dimisalkan juga dengan rumah yang dimaksud adalah penghuni rumah. Yaitu penghuni rumah yang rajin berdzikir tentu berbeda dengan yang tidak rajin berdzikir.

4. Berdzikir kepada Allah akan membuat hati mendapatkan kelezatan iman.

5. Orang yang berdzikir kepada Allah akan berhias dengan cahaya dan batinnya terisi dengan cahaya ilmu dan ma’rifah.

Tema Hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur'an :

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَاً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Selasa, 02 Januari 2024

KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN TETANGGA

Edisi Selasa, 2 Januari 2024 M / 19 Jumadil Akhir 1445 H.

Islam tak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan kita dengan sesama, bahkan dengan sesama makhluk. Tak terkecuali hubungan dengan tetangga. Di tengah masyarakat supersibuk dan heterogen, seperti di perkotaan sekarang ini, hak-hak tetangga kurang mendapat perhatian, terlebih jika seseorang tahu bahwa tetangganya non-Muslim.

Karena itu, perlu kiranya kita mengingat kembali apa saja hak dan kewajiban kita sebagai tetangga dalam kacamata agama kita. Seberapa besar perhatian agama kita dalam urusan bertetangga? Sejauh mana batasan tetangga kita? Dalam Mukasyafatul Qulub (Terbitan Darul Kitab al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Pertama, Tahun 2005/1426], halaman 301), Imam Al-Ghazali menguraikan tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dalam bertetangga. 

Disampaikannya, dasar penetapan hak bertetangga itu sendiri dapat kita simak, salah satunya, dalam hadits berikut ini, “Tetangga itu ada tiga: tetangga yang memiliki satu hak. Tetangga yang memiliki dua hak. Tetangga yang memiliki tiga hak. Tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga Muslim sekaligus bersaudara, yaitu hak sesama Muslim, hak saudara, dan hak tetangga. Kemudian tetangga yang memiliki dua hak adalah tetangga Muslim, yaitu hak sesama Muslim dan hak tetangga. Sedangkan hak yang memiliki satu hak adalah tetangga yang musyrik,” (HR At-Thabrani). 

Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang membicarakan tentang tetangga :

1. Perintah Menghormati Tetangga 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. (H.R. Bukhori no. 6019 dan Muslim no. 182).

2. Larangan Mengganggu Tetangga 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِى جَارَهُ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetangganya. (H.R Bukhari no. 5175, Muslim no 183).

3. Muslim Sejati Adalah Yang Baik Terhadap Tetangganya 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Hai Abu Hurairah jadilah orang yang wara' niscaya kamu akan menjadi manusia ahli ibadah, jadilah orang yang qana'ah (menerima apa adanya) niscaya kamu akan menjadi orang yang rajin bersyukur, cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri niscaya kamu akan menjadi orang mukmin sejati, bersikaplah yang baik terhadap tetangga niscaya kamu akan menjadi muslim sejati, dan sedikitlah tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati. (H.R. Ibnu Majah no. 4357, Abu Ya'la no. 5865).

4. Laknat Bagi Tetangga Yang Berbuat Dzalim 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَكَا إِلَيْهِ جَارًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ : اِصْبِرْ، ثُمَّ قَالَ لَهُ فِي الرَّابِعَةِ أَوِ الثَّالِثَةِ : اِطْرَحْ مَتَاعَكَ فِي الطَّرِيْقِ، قَالَ : فَجَعَلَ النَّاسُ يَمُرُّوْنَ عَلَيْهِ فَيَقُوْلُوْنَ : مَا لَكَ ؟ قَالَ : آذَاهُ جَارُهُ، فَجَعَلُوْا يَقُوْلُوْنَ : لَعَنَهُ اللهُ، فَجَاءَ جَارُهُ، فَقَالَ : تَرُدُّ مَتَاعَكَ وَلَا أُوْذِيْكَ أَبَدًا

Dari Abu Hurairah ia berkata : Ada seseorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi Wassalam dan mengaduh kepada beliau tentang (kedzaliman yang dilakukan) tetangganya. Lalu Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda sampai tiga kali : Bersabarlah. Kemudian beliau mengatakan kepadanya pada yang keempat atau yang ketiga : Letakkan semua isi rumahmu di jalan, ia berkata : Setiap orang yang melewati orang ini, mereka bertanya : Apa yang terjadi denganmu (sampai kamu mengeluarkan isi rumahmu)? Dia menjawab : Tetanggaku menggangguku. (Mendengar jawaban ini) maka setiap orang yang melewatinya mengucapkan : Semoga Allah melaknatnya. Sampai akhirnya tetangga pengganggu itu datang, ia mengiba : Masukkan kembali barangmu, dan saya tidak akan mengganggumu selamanya. (H.R. Abu Ya'la no. 6630, Ibnu Hibban no. 378).

5. Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوْصِيْنِى جِبْرِيْلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Dari Aisyah radhiyallahu anha, dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tidak henti-hentinya Jibril berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya. (H.R. Bukhari no. 6014, Muslim no. 6854).

6. Perintah Mencintai Tetangga Seperti Mencintai Dirinya Sendiri 

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ - أَوْ قَالَ لِأَخِيْهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Anas, dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Demi Dzat yang aku dalam genggamannya, belum beriman (dengan sempurna) seseorang hamba hingga ia mencintai tetangganya - atau beliau mengatakan saudaranya -  seperti ia mencintai dirinya sendiri. (H.R. Muslim no. 180).

7. Tidak Mengganggu Tetangga Dapat Masuk Surga 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ فُلَانَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا فَقَالَ لَا خَيْرَ فِيْهَا هِيَ فِي النَّارِ قِيْلَ : فَإِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ مِنْ أَقْطِ وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, ditanyakan kepada Nabi Shallallahu alaihi Wassalam : Sesungguhnya si Fulanah sering berpuasa di siang hari dan melaksanakan shalat di malam hari, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya. Maka Beliau bersabda : Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penghuni neraka. Ditanyakan lagi : (Terdapat wanita lain) dia hanya melakukan shalat wajib, puasa di bulan Ramadhan dan bersedekah dengan gandum, tapi dia tidak pernah mengganggu seseorang dengan lisannya. Beliau bersabda : Dia adalah penghuni surga. (Al-Mustadrak 'alash shahihaini lil Hakim no. 7413).

8. Ancaman Bagi Pengganggu Tetangga 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :  Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. (H.R. Muslim no.181).

9. Tetangga Yang Shalih Membuat Kita Bahagia 

عَنْ نَافِعِ بْنِ عَبْدِ الْحَارِثِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِىءُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ

Dari Nafi' bin Abdul Harits ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Di antara kebahagiaan seseorang adalah tetangga yang shalih, kendaraan yang nyaman dan tempat tinggal yang luas. (H.R. Ahmad no. 15767).

10. Berlindung Kepada Allah Dari Tetangga Yang Jelek 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ اَللهم إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ فَإِنَّ جَارَ الْبَادِي يَتَحَوَّلَ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jelek di akhirat, karena sesungguhnya tetangga di dunia akan senantiasa berubah-rubah (bisa  pindah tempat). (H.R. Ibnu Hibban no. 307, Al-Mustadrak 'alash shahihaini lil Hakim no. 1906).

11. Tidak Ada Istilah Sedikit Dalam Mengganggu Tetangga 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لَا قَلِيْلَ مِنْ أَذَى الْجَارِ.

Dari Umu Salamah ia berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tidak ada istilah sedikit dalam mengganggu tetangga.  (Al-Mu'jam Al-Kabir Lil Thabrani no. 19042).

12. Anjuran Memberi Makanan ke Tetangga 

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ

Dari Abu Dzar ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Wahai Abu Dzar, apabila engkau membuat suatu makanan maka perbanyaklah kuahnya, kemudian undanglah (bagikan kepada) tetanggamu  (H.R. Muslim no. 6755).

13. Jangan Meremehkan Pemberian Tetangga 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Wahai para wanita muslimah, janganlah satu tetangga meremehkan pemberian tetangga yang lainnya, meskipun kaki kambing (yang tak berdaging). (H.R. Bukhari no. 2566, Muslim no. 2426).

14. Memberi Hadiah Kepada Tetangga Yang Dekat Pintunya 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ لِى جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِى قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai dua tetangga, kepada siapakah aku akan memberi hadiah? Beliau bersabda : Ke rumah yang paling dekat pintunya denganmu. (H.R. Bukhari no. 2259).

15. Tetangga Mengatakan Baik Maka kita Temasuk Orang Baik 

عَنْ كُلْثُومٍ الْخُزَاعِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ لِى أَنْ أَعْلَمَ إِذَا أَحْسَنْتُ أَنِّى قَدْ أَحْسَنْتُ وَإِذَا أَسَأْتُ أَنِّى قَدْ أَسَأْتُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ جِيْرَانُكَ إِنَّكَ قَدْ أَحْسَنْتَ فَقَدْ أَحْسَنْتَ وَإِذَا قَالُوْا إِنَّكَ قَدْ أَسَأْتَ فَقَدْ أَسَأْتَ

Dari Kultsum Al-Khuza'i ia berkata : Telah datang kepada Nabi saw lalu ia bertanya : Wahai Rasulullah bagaimana aku bisa mengetahui apakah aku orang baik atau orang yang tidak baik. maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Jika tetanggamu mengatakan kamu orang baik maka berarti kamu orang baik, sementara jika mereka berkata engkau orang tidak baik maka berarti kamu orang tidak baik. (H.R. Ibnu Majah no. 3462, Baihaqi no. 20898).

16. Tetangga Lebih Berhak Ditawari Lebih Dahulu Bila Menjual Rumah 

عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيْدِ أَنَّ أَبَا رَافِعٍ سَاوَمَ سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ بَيْتًا بِأَرْبَعِمِائَةِ مِثْقَالٍ وَقَالَ لَوْلاَ أَنِّى سَمِعْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ اَلْجَارُ أَحَقُّ بِصَقَبِهِ . مَا أَعْطَيْتُكَ

Dari Amru bin Syarid, bahwasanya Abu Rafi' pernah mengajukan penawaran rumah keada Sa'd bin Malik seharga empat ratus mitsqal, dan ia mengatakan : Kalaulah aku tidak mendengar Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tetangga lebih berhak teradap dindingnya. niscaya tidak aku berikan kepadamu. (H.R. Bukhari no.6971). 

17. Hak-hak tetangga 

أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ؟ إِنِ اسْتَعَانَكَ أَعَنْتَهُ، وَإِنِ اسْتَقْرَضَكَ أَقْرَضْتَهُ، وَإِنِ افْتَقَرَ عُدْتَ عَلَيْهِ، وَإِنْ مَرِضَ عُدْتَهُ، وَإِنْ مَاتَ شَهِدْتَ جَنَازَتَهُ، وَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ هَنَّأْتَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ عَزَّيْتَهُ، وَلَا تَسْتَطِيلَ عَلَيْهِ بِالْبِنَاءِ، فَتَحْجُبَ عَنْهُ الرِّيحَ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَإِذَا شَرَيْتَ فَاكِهَةً فَاهْدِ لَهُ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَأَدْخِلْهَا سِرًّا، وَلَا يَخْرُجْ بِهَا وَلَدُكَ لِيَغِيظَ بِهَا وَلَدَهُ، وَلَا تُؤْذِهِ بِقِيثَارِ قَدْرِكَ إِلَّا أَنْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا  أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَبْلُغُ حَقُّ الْجَارِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ رَحِمَ اللهُ 

Artinya, “Apakah kalian tahu hak tetangga? Jika tetanggamu meminta bantuan kepadamu, engkau harus menolongnya. Jika dia meminta pinjaman, engkau meminjaminya. Jika dia fakir, engkau memberinya. Jika dia sakit, engkau menjenguknya. Jika dia meninggal, engkau mengantar jenazahnya. Jika dia mendapat kebaikan, engkau menyampaikan selamat untuknya. Jika dia ditimpa kesulitan, engkau menghiburnya. Janganlah engkau meninggikan bangunanmu di atas bangunannya, hingga engkau menghalangi angin yang menghembus untuknya, kecuali atas izinnya. Jika engkau membeli buah, hadiahkanlah sebagian untuknya. Jika tidak melakukannya, maka simpanlah buah itu secara sembunyi-sembunyi. Janganlah anakmu membawa buah itu agar anaknya menjadi marah. Janganlah engkau menyakitinya dengan suara wajanmu kecuali engkau menciduk sebagian isi wajan itu untuknya. Apakah kalian tahu hak tetangga? Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidaklah hak tetangga sampai kecuali sedikit dari orang yang dirahmati Allah,” (HR At-Thabarani).

Semoga bermanfaat.....


ONE DAY ONE HADITS 

Selasa, 2 Januari 2024 M / 19 Jumadil Akhir 1445 H.

Adab Dalam Bertetangga

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari & Muslim).

Beberapa Pelajaran yang terdapat dalam Hadits :

Adab-adab yang perlu diperhatikan terhadap Tetangga antara lain :

Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka. 

Ketika kita berinteraksi dengan manusia, pasti ada suatu kekurangan atau perlakuan yang kurang baik dari sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Maka orang yang terzhalimi disunnahkan menahan marah dan memaafkan orang yang menzhaliminya. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَ‍‍جْ‍‍تَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (QS. Asy-Syuura: 37).

Dan juga Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُ‍‍نْفِ‍‍قُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ ال‍‍نَّ‍‍اسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali ‘Imran:134).

Firman Allah “Dan orang-orang yang menahan amarahnya” yaitu apabila mereka diganggu oleh orang lain sehingga mereka marah dan hati mereka penuh dengan kekesalan yang mengharuskan mereka membalasnya dengan perkataan dan perbuatan, akan tetapi mereka tidak mengamalkan konsekuensi tabi’at manusia tersebut (tidak membalasnya). Bahkan mereka menahan amarah lalu bersabar dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya. Wallahu musta’an.

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا  [النساء: 36]

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu dan bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36).

Senin, 01 Januari 2024

KEUTAMAAN MENJADI PENGHAFAL AL-QUR'AN

Edisi Senin, 1 Januari 2024 M / 18 Jumadil Akhir 1445 H.

Tiap hari sebagai umat islam dianjurkan untuk membaca Al Qur’an dan mempelajarinya serta terdapat pahala khatam Al Qur’an, hal itu sudah menjadi sesuatu yang diketahui semua umat muslim, sebab Al Qur’an ialah sumber syariat islam yang bisa mendatangkan ketenangan tersendiri bagi yang membaca dan mengamalkannya. 

Tentu kita sering melihat atau mengetahui orang orang yang istimewa yakni yang bisa menghafal Al Qur’an, bahkan kadang hal tersebut bisa dilakukan oleh seorang anak kecil, ini tentunya sangat istimewa. Kenapa hal tersebut istimewa? Karena setiap yang berilmu tentu memiliki derajat yang lebih tinggi di mata sesama dan di mata Allah Subhanahu wa ta'ala sebab terdapat keutamaan berilmu dan dapat bermanfaat di kehidupan masyarakat.

Berikut ini 17 Keutamaan menjadi Penghafal Al Qur’an, semoga bisa menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus rutin membaca Al Qur’an dan mengamalkannya.

1. Pemimpin yang Terbaik 

“Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafalan Kitab Allah. kalau dalam bacaan (hafalan) itu sama, maka yang lebih mengetahui sunnah. Kalau dalam sunah sama, maka yang paling dahulu hijrahnya. Kalau dalam hijrahnya sama, maka yang paling dahulu masuk Islam. Dan jangan seseorang menjadi Imam atas saudaranya dalam kekuasaannya. Dan jangan duduk di tempat duduk khusus di rumahnya kecuali atas seizinnya. (HR. Muslim, 673). 

Keutamaan menghafal Al Qur’an ialah menjadi calon pemimpin terbaik sebab ia memahami apa yang ada dalam Al Qur’an dan dapat menerapkan dalam kepemimpinannya.

2. Orang yang Paling Tepat Menjadi Iman 

Dari Abdullah bin Umar berkata, “Ketika generasi pertama dari kalangan orang-orang Muhajirin di tempat Quba’ sebelum kedatangan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, yang menjadi imam mereka adalah Salim budak Abu Huzaifah dimana beliau paling banyak (hafalan) Qur’an.” HR. Bukhori, (660). 

Hukum bacaan Al Qur’an yang benar tentu harus diperhatikan dalam menghafal yang diutamakan. 

3. Memiliki Derajat Lebih Tinggi 

“Dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengumpulkan dua orang yang wafat pada ‘Perang Uhud’ dalam satu baju kemudian beliau bersabda, “Siapa diantara mereka yang paling banyak mengambil Qur’an? Ketika ditunjuk salah satunya, maka beliau dahulukan ke dalam liang lahad. Seraya bersabda, “Saya menjadi saksi untuk mereka di hari kiamat. Dan beliau memerintahkan untuk menguburkan dengan darahnya tanpa dimandikan dan tanpa dishalati.” HR. Bukhori, (1278).

4. Pahala Orang Berilmu 

Didahulukan dalam kepemimpinan kalau dia mampu mengembannya sebagai keutamaan menjadi pemimpin. Dari Amir bin Wailah sesungguhnya Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di Asfan. Dimana dahulu Umar telah mengangkatnya di Mekkah. Maka beliau mengatakan, “Siapa yang anda angkat untuk penduduk wadi (Mekkah)? Maka dia menjawab, “Ibnu Abza? (Umar) bertanya, “Siapa Ibnu Abza? Dijawab, “Diantara budak-budak kami. Berkata, “Apakah anda angkat untuk mereka seorang budak? Dijawab, “Beliau pembaca (penghafal) Kitab Allah Azza Wajalla dan beliau pandai dalam bidang ilmu Faroid (ilmu warisan). Maka Umar mengatakan, “Maka sesungguhnya Nabi kamu semua sallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab ini suatu kaum dan merendahkan kaum lainnya.” (HR. Muslim, 817).

5. Kedudukan Mulia di Mata Allah 


“Dikatakan kepada pemilik Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta bacalah secara tartil. Sebagaimana anda membaca tartil di dunia. Karena kedudukan anda di ayat terakhir yang anda baca.” HR. Tirimizi, (2914), Abu Dawud, (1464).

6. Mendapat Pahala Berlipat 

“Perumpamaan orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya. Maka bersama para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.’ HR. Bukhori, 4653 dan Muslim, 798.

7. Terus Mengalirkan Kebaikan 

“Qur’an datang pada hari kiamat dan mengatakan, “Wahai Tuhan, pakaikanlah. Maka dia memakai mahkota karomah (kemulyaan) kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, tambahkanlah dia. Maka dia memakai gelang karomah (kemulyaan). Kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, redoilah dia, maka (Allah) meredoinya. Dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah. Ditambah setiap ayat suatu kebaikan.” HR. Tirmizi, (2915).

8. Syafaat di Hari Kiamat 

“Bacalah Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat menjadi syafaat kepada pemiliknya. Bacalah Zahrawain (dua cahaya) surat Al-Baqarah dan Surat Ali Imran. Karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti mendung atau seperti awan atau seperti dua kelompok dari burung yang berbulu (membantu) menghalangi untuk pemiliknya. Bacalah surat Al-Baqarah, karena mengambilnya berkah dan meninggalkannya suatu kerugian. Dan (tukang sihir) tidak dapat (mengganggunya). Muawiyah mengatakan, sampai kepadaku bahwa arti ‘Batolah ‘ adalah tukang sihir. HR. Muslim, (804).

9. Jalan Bahagia di Surga 

“Al-Qur’an datang pada hari kiamat seperti lelaki pucat, menanyakan kepada pemiliknya, “Apakah kamu mengenaliku? Saya yang dahulu dimana saya begadang malam hari dan (menahan) dalam kehausan. Sesungguhnya setiap pedagang dibelakang ada perniagaannya.

Dan saya sekarang untuk anda dibelakang semua pedagang. Dan diberikan kerajaan (Malik) dikanannya dan Khuldi (kekal) di kirinya serta ditaruh di atas kepalanya mahkota wiqor. Dipakaikan untuk kedua orang tuanya dua gelang yang tidak ada (bandingan) nilainya dunia dan seisinya. Keduanya mengatakan,”Wahai Tuhan, dari manakah ini? Dikatakan kepada keduanya, “Karena hasil pengajaran Al-Qur’an kepada anak anda berdua.” HR. Tobroni, di Ausath, (6/51).

10. Mendapat Pakaian Terbaik di Surga 

“Siapa yang membaca Qur’an, belajar dan mengamalkannya. Maka dipakaikan pada hari kiamat kepada kedua orang tuanya mahkota dari cahaya, cahayanya seperti pancaran cahaya matahari. Dipakaikan dua gelang untuk orang tuanya dimana tidak dapat dibandingkan dengan dunia seisinya. Kedua berkata, “Kenapa kita dipakaikan ini? Dikatakan, “Karena  kedua anak anda mengambil Qur’an.” HR. Hakim, (1/756).

11. Dekat dengan Allah 

Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al-Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari).

12. Jauh dari Bahaya 

“Barang siapa yang membaca satu huruf saja dari kitabullah maka seseorang akan mendapatkan kebaikan satu kali. tetapi setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kalinya.” (HR. Tirmidzi).

13. Jauh dari Siksa Kubur 

Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al-Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari).

14. Hebat di Mata Allah 

 “Orang orang yang hebat dalam membaca Al-Qur’an akan selalu ditemani para malaikat pencatat yang paling dimuliakan dan taat pada Allah Subhanahu wa ta'ala dan orang orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an lalu bersusah payah mempelajarinya maka dia akan mendapatkan dua kali pahala,” (HR. Bukhari)”

15. Kedudukan Penghafal Al Quran Berada di Akhir Ayat yang Dibaca 

Menjadi tahfidz Quran atau penghafal Al Quran memiliki kedudukan seperti pada akhir ayat yang dibaca. Dalam hadist riwayat Ahmad, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda "Dikatakan kepada pemilik (penghafal-penghafal) Al-Quran akan diperintahkan baca lah dan bangkit lah! Baca lah sebagaimana kamu membaca di dunia! Maka sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang kamu baca."

16. Satu-satunya Sifat Hasud yang Diperbolehkan 

Hasud adalah sikap seseorang yang mengharapkan agar nikmat yang diterima oleh orang lain hilang kepadanya. Sifat ini pun haram hukumnya dilakukan. Namun, sifat ini (ghibah) boleh dilakukan pada orang yang ingin memperoleh kebaikan seperti yang diperoleh orang lain tanpa ingin nikmat yang dimiliki orang lain itu hilang.

Dalam hadits riwayat Bukhari, dari Ibnu Umar Radhiyallahu'anhu, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda, "Tidak diperbolehkan hasud kecuali pada dua hal: seseorang yang diberi Allah Al-Quran, dan menyibukkan diri siang dan malam dan seseorang yang diberi harta, kemudian, dari harta itu ia infakkan pada siang dan malam hari."

17. Termasuk Perbuatan Mengagungkan Allah 

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al-Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud).

Ternyata begitu banyak kemuliaan orang yang mampu menghafal Al Qur’an, memang tidak semua orang bisa melakukannya, perlu kesungguhan dan ketekunan serta belajar yang benar benar dari hati , sehingga bacaan ayat ayat Al Qur’an benar benar merasuk dan dapat dihafalkan.

Apabila ada anak kecil yang bisa menghafal Al Qur’an, tentu itu juga merupakan peran dari orang tuanya , diantara anjuran untuk ibu hamil ialah berdoa, melakukan kebaikan selama kehamilan, banyak membaca Al Qur’an, dan banyak memperdengarkan Al Qur’an sebab bayi yang masih berada dalam kandungan pun bisa mendengar sekitarnya dan hal itu yang akan menjadi pola pikirnya ketika telah lahir kelak.

Jika ia terbiasa mendengar yang baik maka ia juga akan bahagia dan terbiasa serta mencontoh yang baik, namun jika orang tuanya terbiasa mengajarkan keburukan, tentu suatu hari anak juga akan menirunya. Oleh sebab itu, bagi semua orang, baik remaja, anak anak, orang tua, wanita yang hamil, dan semuanya, jauh lebih baik untuk sepanjang hari di waktu yang luang memperdengarkan Al Qur’an, saat ini ada banyak bacaan Al Qur’an yang bisa di download di internet, lebih baik mendengarkan hal tersebut daripada hal yang tidak bermanfaat, selain berpahala, juga menanamkan kebaikan dan selalu mengingatkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. 

Semoga bermanfaat....


ONE DAY ONE HADITS

Senin, 1 Januari 2024 M / 18 Jumadil Akhir 1445 H.

Diantara Keistimewaan Membaca Al-Qur'an

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ  bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

Beberapa Pelajaran yang terdapat dalam Hadits :

1. Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan. 

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660).

Dan hadits ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya kemuliaan Allah Ta’ala itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk,  baik orang Arab atau ‘Ajam (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.

2. Kebaikan akan menghapuskan kesalahan.

{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114]

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

3. Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah ﷻ.

عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»

“Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ  bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).

4. Bacaan Al Quran akan bertambah agung dan mulia jika terjadi di dalam shalat.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْنَا نَعَمْ. قَالَ « فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah ﷺ bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.” (HR. Muslim).

5. Membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ »

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah ﷻ, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

6. Membaca Al Quran akan mendatangkan syafa’at

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ  bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

Allah ﷻ berfirman :

{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).