Rabu, 22 April 2020

17 LARANGAN DI BULAN RAMADHAN YANG WAJIB DIKETAHUI

Edisi Rabu, 22 April 2020 M / 28 Sya'ban 1441 H

Tak terasa puasa ramadhan tahun 2020 tinggal hitungan hari saja, tentu kita sebagai umat islam akan sangat antusias dan akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut datangnya bulan suci ini. Bulan puasa ramadhan ialah bulan penuh rahmat, karena pada bulan inilah segala amalan baik akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT begitupun dengan segala amalan buruk. Apabila kita melakukan 17 larangan di bulan ramadhan dengan sengaja maka dosanya pun akan dilipatgandakan pula oleh Allah SWT.

Nah, sebelum masuk ke bulan puasa ramadhan 2020, mari ingat-ingat lagi larangan di bulan ramadhan yang wajib kita hindari agar puasa kita sah dan diterima oleh Allah SWT.

1. Sikat gigi 

Larangan di bulan ramadhan yang pertama ialah hukum sikat gigi saat puasa, ini sebenarnya masih jadi perdebatan karena setiap ulama dan ustadz memiliki pemikiran yang berbeda. Saat puasa Ramadhan bau mulut memang jadi masalah utama yang akan anda hadapi. Beberapa ulama menyebutkan sikat gigi saat puasa adalah hal yang makruh dan bisa membatalkan puasa, apalagi kalau dilakukan setelah waktu dzuhur.

2. Ghibah 

Ghibah nyatanya memang lah sesuatu hal yang sulit dihindari. Padahal dalam hal ini Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat,” (H.R. Muslim). Orang yang membuka aib orang lain seperti isi dari ghibah atau gosip yang ada di televisi ialah dilarang karena aib orang sesungguhnya adalah urusan orang itu sendiri dan manusia tidak boleh membukanya.

3. Mencicipi masakan saat puasa Ramadhan 

Problem ini biasanya dihadapi oleh para ibu rumah tangga yang ketika masak harus mencicipi rasa masakannya. Mencicipi masakan saat puasa Ramadhan ini bisa menjadi hal yang membatalkan puasa. Apalagi kalau anda sengaja mencicipi karena tidak yakin akan rasanya. Kalau memang sengaja melakukan hal ini banyak ulama yang menyebutkan hukumnya makruh.

4. Berkumur saat puasa 

Sama seperti sikat gigi saat puasa, berkumur juga termasuk Larangan di bulan ramadhan. Apalagi kalau sengaja berkumur dengan berlebihan dengan tujuan untuk menyegarkan mulut ini tentu saja bisa membuat puasa anda tidak sah. Seperti yang diketahui niat berpuasa itu salah satunya adalah tidak makan dan minum. Sedangkan kalau anda berkumur dengan cara berlebihan, anda bisa saja tidak sengaja meminum airnya.

5. Puasa Tanpa Sholat Wajib 

Sebuah ibadah tentunya dilakukan dari yang paling dasar, ketika melakukan ibadah puasa namun ia tidak menjalankan sholat wajib 5 waktu, sama saja ia tidak melakukan ibadah puasa. Artinya amal puasa yang dilakukannya adalah percuma.

6. Muntah dengan sengaja 

Bukan hanya makan dan minum saja yang bisa membantalkan puasa. Muntah juga bisa membatalkan puasa, apalagi kalau muntahnya ini disengaja. Tapi kalau anda muntah karena tidak sengaja misalnya saja karena sakit, anda tetap bisa melanjutkan puasa . “Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha’ puasanya”.

7. Merokok saat puasa 

Dari 17 larangan di bulan ramadhan, merokok adalah salah satu hal yang membatalkan puasa. Walaupun tidak makan dan minum, merokok ini bisa membuat anda batal puasa. Bukan hanya saat puasa Ramadhan saja saat anda melakukan puasa lainnya pun merokok tetap bisa membatalkan puasa.

8. Ejakulasi 

Kalau melakukan hubungan suami istri atau bersetubuh memang sudah jelas merupakan Larangan bulan puasa. Tapi kalau pelukan dan ciuman masih banyak yang mempertanyakan soal hukumnya. Intinya segala hal yang dapat merangsang dan membuat ejakulasi tentu akan membatalkan puasa.

9. Suntikan yang Mengandung Makanan 

Diperbolehkan melakukan donor darah di bulan ramadhan ketika sedang berpuasa karena dinilai sama dengan bekam yang dilakukan Rasulullah, namun tidak diperbolehkan untuk melakukan suntikan yang mengandung vitamin atau makanan sebab sama seperti makan dan minum dan hal itu membatalkan puasa ramadhan.

10. Sengaja berpuasa bagi wanita yang menstruasi / nifas 

Haid / nifas ialah kodrat yang dialami oleh kaum wanita. Saat bulan Ramadhan, wanita yang sedang haid / nifas dilarang untuk berpuasa, bahkan diharamkan untuk berpuasa. Maka dari itu, meski sudah sahur dan menjalankan ibadah puasa namun tiba-tiba keluar darah menstruasi, maka puasanya akan langsung batal.

11. Berhubungan seksual saat puasa 

Barang siapa kaum muslimin laki laki dan perempuan yang batal puasanya karena mereka telah bersetubuh di waktu siang hari pada bulan Ramadhan, maka menjadi wajib atasnya untuk mengganti puasanya di hari lain dan wajib membayar kaffarah atau denda, yaitu dengan cara memerdekakan seorang budak wanita yang beriman.

Atau jika tidak mampu mereka wajib melakukan puasa selama dua bulan lamanya, atau jika terdapat sebab yang menyebabkan mereka tidak mampu berpuasa karena mungkin dalam kondisi sakit atau sudah berada di usia tua, maka sebagai gantinya wajib atasnya untuk memberi 60 orang makan yaitu kepada orang orang fakir miskin.

Hubungan suami istri bagi pasangan yang telah halal hanya boleh dilakukan di malam hari selain di jam puasa, hal ini terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 187, Allah berfirman:“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu;
mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” 
Pahala bersetubuh di bulan ramadhan akan didapat jika dilakukan sesuai syariat islam.

12. Emosi yang berlebihan 

Menjalankan ibadah puasa artinya menahan hawa nafsu mulai dari terbit hingga terbenamnya matahari. Selain hawa nafsu seksual, kita juga diharuskan menahan emosi selama berpuasa. Jika seorang yang sedang berpuasa secara tidak sadar mengeluarkan emosi secara berlebihan, maka puasanya batal. Meski ada saja yang tetap melanjutkan puasanya, sesungguhnya mereka hanya menahan lapar dan haus tanpa mendapat pahala berpuasa.

13. Makan dan Minum dengan Sengaja 

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al-Baqarah : 187). 
Jelas bahwa makan dan minum dengan sengaja ialah urusan yang membatalkan puasa ramadhan dan jikapun dilakukan karena sedang tidak berpuasa misalnya wanita yang haid hendaknya tidak melakukannya di depan orang yang sedang berpuasa.

14. Berdusta 

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh kepada perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum” (HR. Al Bukhari). 
Di bulan ramadhan, jika seseorang berpuasa dan ia melakukan dusta, maka puasa yang dilakukannya ialah percuma dan ia hanya mendapatkan lapar dan haus saja, dusta memang dilarang dilakukan setiap saat, terlebih jika dilakukan di bulan ramadhan.

15. Tindak Kejahatan 

Jelas bahwa di bulan ramadhan ialah waktunya untuk mencari ketenangan dalam melakukan ibadah, jika ia melakukan tindak kejahatan berupa apapun tentu merupakan larangan bulan puasa yang sangat wajib dihindari.

16. Berkata Kotor 

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali),” (H.R. Bukhari dan Muslim).

17. Membuka Aurat 

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Malu itu sebagian dari Iman.” Dalam hadits lainnya Rasul berkata, “Malu dan iman adalah satu, maka apabila dicabut salah satunya maka akan tercabut yang lainnya.”. Membuka aurat terlebih di bulan ramadhan ialah salah satu contoh perbuatan yang dilakukan dengan rasa malu yang kurang, maka hal itu adalah perbuatan dosa.

Oleh : Annisa Nurlianita (Umroh. com) 

Semoga bermanfaat....

Selasa, 21 April 2020

17 TANDA-TANDA HUSNUL KHOTIMAH SAAT MENINGGAL

Edisi Selasa, 21 April 2020 M / 27 Sya'ban 1441 H

Cita-cita terbesar setiap umat muslim pastilah ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Dalam islam, husnul khotimah berarti kondisi dimana manusia meninggal dalam keadaan terbaik dan memperoleh kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Umumnya mereka adalah orang-orang yang beriman serta bertakwa.

Kehidupan dalam kubur memang menjadi rahasia Allah Azza wa Jalla. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya. Namun kita bisa melihat dari cara manusia itu meninggal. Orang-orang baik akan meninggal dalam keadaan baik (husnul khotimah) dan dijauhkan dari azab kubur. Sedangkan orang-orang  buruk meninggal secara buruk (su’ul khotimah).

Berikut ini beberapa tanda husnul khotimah berdasarkan dalil-dalil hadits dan Al-quran.

1. Orang yang meninggal dengan mengucapkan kalimat syahadat “La ilaaha illallah” 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallooh’ maka dia akan masuk Surga.” (HR. Abu Dawud)

Orang yang meninggal dunia dalam keadaan sempat mengucap dua kalimat syahadat, akan dimasukkan ke dalam syurga Allah (HR Ahmad). 

2. Orang yang meninggal pada malam Jum’at atau hari Jum’at 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jum’at atau pada malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

3. Orang yang meninggal dengan keringat di dahi 

“Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa ia berada di Khurasan, ia menjenguk saudaranya yang sakit, ia menemuinya tengah sekarat dan dahinya berkeringat, ia berkata: Allaahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mu`min meninggal dunia dengan (mengeluarkan) keringat didahinya.” (HR. Ahmad)

Orang yang beriman ketika tengah sakaratul maut, apabila melihat keringat di dahinya menunjukkan bahwa dia tengah bertarung dengan rohnya yang akan keluar dari badan. Namun rasa sakit bagi orang yang beriman tersebut akan diganti oleh Allah setelah dia meninggal dunia. 

4. Orang yang meninggal dalam keadaan sakit perut (gangguan lambung, ginjal, usus dan sebagainya yang ada di sekitar perut) 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa yang mati karena sakit perut maka dia adalah syahid.” (HR. Muslim)

5. Wanita yang meninggal saat melahirkan bayinya 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Terbunuhnya seorang muslim terhitung syahid, kematian karena wabah thaun terhitung syahid, kematian karena sakit perut terhitung syahid, kematian karena tenggelam terhitung syahid dan seorang wanita yang mati karena melahirkan anaknya terhitung syahid.” (HR. Ahmad)

Seorang wanita yang mengandung dan melahirkan bayi kemudian dia meninggal, maka dinyatakan sebagai mati syahid,  di akhirat kelak akan dibawa oleh anaknya maduk ke dalam syurga (H.R Ahmad dan Dailamy). 

6. Orang yang meninggal karena wabah penyakit Tha’un 

Menurut  Ibnu Qoyyim al Jauziyah dan Imam Nawawi, Tha’un adalah sejenis penyakit kulit, seperti bisul-bisul, bengkak, memar diseluruh anggota tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid.(HR. Muslim)

7. Orang yang meninggal di medan perang dengan niat membela agama Islam (Jihad Fisabilillah) 

Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki.” (QS. Ali Imran)

Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah)

Barangsiapa yang terluka dalam medan peperangan kemudian dia meninggal dunia,  maka dinyatakan sebagai mati syahid (HR Abu Daud, Hakim dan Baihaqi).

8. Orang yang meninggal karena terbakar api 

Dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud).

9. Orang yang meninggal karena tenggelam 

Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang meninggal karena penyakit tha’un, sakit perut, tenggelam, orang yang kejatuhan (bangunan  atau tebing) dan meninggal di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

10. Orang yang meninggal sebab kejatuhan bangunan atau jatuh dari tebing 

Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang meninggal karena penyakit tha’un, sakit perut, tenggelam, orang yang kejatuhan (bangunan  atau tebing) dan meninggal di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

11. Orang yang meninggal setelah menjalankan amalan shaleh 

Seseorang yang meninggal saat melakukan amal shaleh, seperti bersedekah, puasa, sholat, haji dan ibadah lain tergolong dalam meninggal husnul khatimah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga.”

12. Orang yang meninggal dengan wajah tanpa ketakutan 

Orang-orang mukmin yang gemar melakukan amalan shaleh semasa hidupnya, maka mereka tidak akan takut menghadapi kematian. Sebaliknya, mereka justru berharap akan kematian agar segera bertemu dengan Rabb Semesta Alam. Umumnya orang-orang tersebut akan meninggal dengan wajah berseri-seri.

Dari Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah tidak senang bertemu dengannya.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan itu yang aku maksud, namun seorang yang beriman apabila menghadapi sakaratul maut, maka seorang pemberi kabar gembira utusan Allah datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya, hingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah. Lalu Allah pun suka bertemu dengannya. Adapun orang yang banyak berbuat dosa, atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut, maka datang seseorang dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk, atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan. Maka itu membuatnya tidak suka bertemu Allah, hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Ahmad).

13. Orang yang meninggal karena mempertahankan hartanya 

Harta disini dapat diartikan sebagai benda (seperti uang, emas, rumah, dan sejenisnya) atau juga bisa kehormatan diri.

Dari Abu Hurairah RA meriwayatkan: “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam dan bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau ada seseorang yang hendak mengambil hartaku?” Beliau bersabda, “Jangan engkau berikan hartamu!” Bagaimana kalau ia melawanku?” Beliau bersabda; “Lawanlah dia!”, “Bagaimana kalau dia membunuhku?” Beliau bersabda; “Engkau syahid”, “Bagaimana kalau aku yang membunuhnya?” Beliau bersabda; “Dia di neraka!.” (HR. Muslim)

14. Orang yang meninggal karena mempertahankan keluarganya 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan nyawanya maka dia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka dia syahid.” (HR. Tirmidzi)

15. Orang yang meninggal dengan pujian 

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
“Suatu ketika para sahabat melihat sebuah jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Mereka pun memuji jenazah ini. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘wajib wajib wajib.’ Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, wajib wajib wajib.’

Umar pun bertanya, ‘Apanya yang wajib?’
Rasul menjawab “Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

16. Orang Yang Meninggal Dalam Berdakwah dan Mengislamkan Orang 

Barang siapa yang Berdakwah dan mengislamkan orang dengan mengajak kebaikan,  maka pasti dia akan masuk ke dalam syurga (H. R at-Tabrani). 

Setiap amalan manusia akan terputus melainkan orang yang bersiap sedia untuk pergi berjihad di jalan Allah,  maka dibangkitkan sebagai orang yang mati syahid (H.R Muslim, Nasa'i, Abu Daud dan Tarmidzi).

17. Wanita Yang Meninggal Dalam Keadaan Nifas dan penyakit TB 

Nifas adalah darah yang keluar selepas melahirkan bayi.  Dan wanita yang meninggal dunia dalam keadaan nifas, ia mendapat mati syahid (H. R at Tabrani).

Penyakit TB adalah salah satu penyakit kronis yang amat sukar untuk diobati. Barang siapa yang meninggal dunia karena TB, dianggap sebagai mati syahid (H. R at-Tabrani).

Doa Agar Dapat Meninggal dalam Keadaan Husnul Khotimah 

Untuk memperoleh kematian husnul khotimah, sebagai umat beriman hendaknya kita menjaga ibadah dengan benar, memperbanyak perbuatan amal shaleh dan bersikap baik terhadap sesama manusia.

Terdapat doa yang bisa kita amalkan di setiap habis sholat untuk mendapatkan akhir husnul khotimah, yakni:

“Allohummakhtim lanaa bil islaam, wakhtim lanaa bil imaan, wakhtim lanaa bihusnil khootimah”
Artinya : Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah (akhir yg baik)

Demikianlah beberapa tanda-tanda husnul khotimah menurut islam.  Semoga kelak kita semua umat muslim memperoleh kemenangan di akhir kehidupan dengan dimatikan sebagai orang-orang husnul khotimah. Aamiin ya Rabbal Alamiin...

Semoga bermanfaat..

Senin, 20 April 2020

17 AMALAN DAN PERSIAPAN MENUJU AWAL PUASA RAMADHAN

Edisi Senin, 20 April 2020 M / 26 Sya'ban 1441 H

Tak terasa, bulan Ramadhan akan segera tiba. Para umat Muslim pastinya menyambut kedatangan Ramadhan dengan berbahagia. Meskipun belum ada penentuan tanggal dimulainya puasa 2020, umat Muslim sudah mulai untuk mempersiapkan diri menyambut bulan tersebut. Seperti yang diketahui bahwa ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan dilipat gandakan. Maka dari itu, umat Islam berusaha untuk melakukan ibadah semaksimal mungkin.

Berbagai persiapan dilakukan umat Islam dalam menyambut ibadah puasa. Tidak hanya persiapan materi, namun persiapan rohani juga diperlukan menuju bulan Ramadhan. Kebanyakan orang hanya berfokus pada persediaan makanan, pakaian, dan juga fisik, namun melupakan persiapan jiwa dan batin.

Berikut amalan dan beberapa hal yang dapat dipersiapkan menjelang datangnya bulan Ramadhan:

1. Perbanyak Doa Kepada Allah 

Berdoa kepada Allah SWT sudah menjadi kewajiban bagi para umat muslim. Menjelang Ramadhan kita hendaknya senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Berdoalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan (HR. Ahmad). 

2. Bersyukur atas Nikmat Allah 

Di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Dan atas semua nikmat tersebut, kita wajib mensyukurinya.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Nikmat yang paling besar bagi orang yang beriman adalah ketika mereka mendapati bulan Ramadhan.

3. Bertaubat 

Bertaubat adalah salah satu hal yang perlu dilakukan sebelum bulan puasa datang. Manusia tentunya tidak luput dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bertaubat dan meminta ampunan Allah SWT. Dengan memohon ampunan-Nya, kita akan mendapatkan ketenangan batin sehingga akan lebih lancar dalam menjalankan ibadah puasa nantinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.”

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Bertaubat dalam hal ini bukan hanya dalam lisan, namun juga harus dibuktikan dengan perbuatan.

4. Bergembiralah Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu memberikan kabar gembira kepada para Sahabat setiap kali datang bulan Ramadhan;

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

5. Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan 

Bila kita menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan dan ingin diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah: 46).

Tujuannya agar kita bisa memanen kelezatan puasa dan beramal shalih di bulan Ramadhan, karena lezatnya Ramadhan hanya bisa dirasakan dengan kesabaran, perjuangan, dan tidak datang begitu saja. Hari-hari Ramadhan tidaklah banyak, perjalanan hari-hari itu begitu cepat. Oleh sebab itu, harus ada persiapan yang sebaik-baiknya. 

6. Membuat Agenda Agar Ramadhan Diisi dengan Aktivitas yang Penuh Ketaatan 

Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu hiasi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ber’amal di bulan puasa akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah S.W.T berkali-kali lipat, bahkan hingga 700 kali lipatnya.

7. Menguatkan Niat 

Ibadah yang sempurna adalah ibadah dengan ikhlas dan tulus. Sebelum bulan Ramadhan datang, kita perlu memantapkan niat untuk menjalankan ibadah dengan ikhlas dan hanya untuk mencari ridho Allah semata, tanpa ada niatan yang lainnya. Fokuskan tujuan ibadah hanya untuk menghadap Allah SWT.

8. Lakukan Ibadah Sunnah Sebanyak Mungkin 

Hal yang dapat kita persiapkan adalah memperbanyak ibadah sunnah. Tidak ada salahnya kita melatih diri dengan melaksanakan sholat sunnah atau puasa sunnah. Dengan melakukan ibadah sunnah seperti puasa senin kamis, kita dapat berlatih agar nantinya di bulan puasa Ramadhan kita telah memiliki bekal untuk menjalaninya dengan baik.

“Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

9. Memperbanyak Membaca Al Quran 

Membaca Al Quran tidak hanya mendapatkan pahala serta kebaikan, tetapi juga mendatangkan ketenangan hati dan pikiran. Dengan begitu, kita dapat menyambut datangnya bulan puasa dengan hati dan pikiran yang lebih baik.

10. Memperdalam Ilmu Agama 

Persiapan lain yang dapat dilakukan menuju datangnya awal puasa Ramadhan adalah dengan membaca dan mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi. Luangkan waktu sejenak untuk menimba ilmu agama, sehingga kita bisa lebih memahami makna dan keutamaan dari ibadah yang kita lakukan. Dengan mengetahui hal tersebut, kita akan menjadi terpacu dan lebih bersemangat untuk melakukan berbagai ibadah sesuai petunjuk Allah SWT.

11. Membayar Puasa Sebelumnya 

Sebelum memasuki awal puasa Ramadhan, kita diwajibkan untuk mengganti (qadha) hutang puasa di Ramadhan sebelumnya. Puasa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan wajib diganti, kecuali bagi orang lanjut usia yang bisa menggantinya dengan membayar fidyah. Terdapat beberapa golongan yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, mereka adalah orang yang sakit, musafir, dan wanita yang sedang haid dan nifas. Ketiga golongan tersebut harus membayarkan puasa Ramadhan yang mereka tinggalkan, seperti tertulis dalam ayat berikut:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

12. Perkuat Iman 

Persiapan Ramadhan yang paling dasar adalah mempersiapkan iman. Persiapan secara keimanan bisa anda lakukan dengan mulai melatih pengendalian dari kebiasaan-kebiasaan buruk sehari-hari.

Hal ini bisa dilakukan, misalnya dengan cara memastikan Shalat Lima Waktu yang tidak pernah bolong, atau menghentikan kebiasaan merokok.

13. Persiapan Fisik dan Jasmani untuk Puasa 

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana anda sangat dianjurkan untuk berbuat kebaikan dan mengumpulkan pahala. Ditambah dengan ibadah Puasa, sudah pasti anda memerlukan kondisi fisik dan jasmani yang prima. Jika sampai anda jatuh sakit, tentu ibadah nggak akan jadi maksimal.

Jaga kondisi fisik dan jasmani mulai dari sekarang dengan mengurangi kebiasaan tidak sehat seperti bergadang dan mengonsumsi makanan tidak sehat. Mulailah lebih rutin berolahraga dan bila perlu konsumsi vitamin atau suplemen kesehatan.

Dengan mengonsumsi multivitamin, tubuh anda jadi tahan banting memasuki bulan Ramadhan dan tidak gampang sakit. Sehingga tak ada halangan untuk berpuasa hingga akhir.

14. Persiapan Amal dan Materi 

Memasuki bulan Ramadhan, persiapan materi adalah persiapan menyambut Ramadhan selanjutnya yang jangan boleh terlewatkan. Selain karena kebutuhan menjelang bulan Ramadhan yang meningkat serta harga-harga barang yang melonjak, anda tentunya ingin meningkatkan amal dengan berzakat dan bersedekah di bulan Ramadhan.

Mumpung masih memiliki waktu, mulailah kelola keuangan dengan hidup lebih hemat agar tabungan anda cukup untuk memenuhi kebutuhan dan juga amal di Bulan Ramadhan.

15. Persiapan Kebutuhan Ramadhan Sehari-hari 

Persiapan menyambut bulan Ramadhan yang berikutnya adalah mempersiapkan ketersediaan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari perlengkapan ibadah hingga keperluan dapur.

Mulai dari sembako dan bumbu masak yang memadai. Agar menjalankan ibadah bisa maksimal dengan santapan sahur dan buka puasa bergizi.

Hal yang sangat penting untuk mendukung anda dalam mempertebal iman di bulan Ramadhan adalah dengan adanya perlengkapan ibadah yang terpenuhi. Siapkan sajadah, sarung, peci hingga mukena agar aktivitas beribadah bisa dilakukan secara maksimal.

16. Membersihkan Lingkungan Sekitar 

Kebersihan sebagian dari iman,  ternyata benar adanya. Dengan anda membersihkan rumah, lingkungan sekitar, sampai jika bisa ikut serta membersihkan masjid dan musholla akan lebih baik.

Jika anda pergi ke desa saat bulan ramadhan pasti desa-desa tersebut penuh dengan hiasan untuk menyambut bulan Ramadhan. Anda juga harusnya jangan kalah, karena bulan puasa bulan yang penuh berkah sehingga pantas untuk dirayakan.

Jika lingkungan anda bersih pastinya anda juga nyaman untuk beribadah, bukan?

17. Persiapan Jiwa dan Mental 

Sambutlah bulan Ramadhan dengan jiwa yang bersih dan rasa ketulusan hati. Alangkah lebih baik jika anda bertaubat dengan semua kesalahan yang pernah anda lakukan agar semua ibadah puasa lebih khusyuk dan fokus.

Selain itu mental anda juga harus dipersiapkan karena pada bulan ini kita akan beribadah puasa dan lainnya dengan optimal selama sebulan penuh. Jiwa dan mental kita harus dipersiapkan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati atau ikhlas dalam beribadah.
Ibadah pun menjadi terasa mudah dan menyenangkan.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, tapi di bulan yang penuh berkah ini anda bisa memulai banyak perbuatan baik terhadap sesama dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Agar di bulan Ramadhan kali ini dan seterusnya, anda bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Demikianlah Amalan dan beberapa hal yang dapat kita persiapkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dengan melakukan beberapa kegiatan di atas, diharapkan kita dapat memulai awal puasa Ramadhan dengan hati dan pikiran yang tenang sehingga ibadah bulan Ramadhan dapat terlaksana secara sempurna.

Semoga bermanfaat....