Kamis, 24 Desember 2020

17 ALASAN TIDAK MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Edisi Kamis, 24 Desember 2020 M / 9 Jumadil Awwal 1442 H

Setiap masuk Bulan Desember, polemik ucapan selamat Natal senantiasa terulang. Memang, di bulan inilah hari raya umat Kristen itu jatuh. Biasanya, saat seorang mengucapkan selamat Natal, diikuti dengan ucapan selamat tahun baru Masehi. Seolah-olah, keduanya tergabung dalam satu paket ucapan.

Terkadang orang Islam masih bingung, antara ikut mengucapkan atau tidak. Orang Islam yang masih sadar akan prinsipnya, memang menghindari ucapan ini. Tapi di sisi lain; baik karena tuntutan pekerjaan, ewuh dengan saudara atau teman, atau karena ikut-ikutan, orang Islam pun turut meramaikan.

Para ulama pun saling berbeda pendapat –ikut masuk dalam polemik—ini, antara yang membolehkan dan tidak. Terlepas dari hiruk pikuk polemik tersebut, setidaknya bagi seorang muslim yang masih memiliki prinsip Islam, ada beberapa alasan yang dapat dijadikan acuan untuk menolaknya. Antara lain adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada contoh dari Nabi Muhammad dan generasi salafush shalih 

Tidak dijumpai sebuah riwayat pun yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam dan kaum salaf pernah memberi ucapan selamat hari raya kepada umat di luar Islam. Umat Islam telah memposisikan Rasulullah sebagai uswah khasanah. Oleh karena itu, segala hal yang tidak diperbuat atau dicontohkan Nabi Shallallahu'alaihi wasallam tidak layak untuk dikerjakan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barang siapa mengerjakan sebuah perbuatan yang tidak aku perintahkan, maka nilainya adalah tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia menjadi bagian dari mereka.”

2. Para ulama mengharamkan perbuatan ini 

Syaikh ‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa-nya nomor 404 pernah ditanya perihal ucapan selamat Natal kepada orang kafir Kristen. Beliau pun menjawab, “Mengucapkan selamat Natal atau mengucapkan selamat Hari raya yang terkait dengan orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan menurut kesepakatan para ulama.” Pendapat beliau ini merujuk kepada pendapat Ibnul Qayyim Al Jauziyah, yang juga mengharamkan perbuatan ini dalam kitabnya, Ahkam Ahludz Dzimmah.

Kumpulan para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah pun juga mengharamkan perbuatan ini. Pernah ditanyakan kepada mereka tentang boleh tidaknya ikut serta dalam perayaan orang Kristen, dalam hal ini perayaan Natal. Maka dijawab, “Kita tidak boleh bekerjasama dengan orang-orang Kristen dalam merayakan hari raya mereka, walaupun sebagian orang berilmu ikut melakukan hal semacam ini. Ini diharamkan karena dapat membuat mereka semakin bangga dengan memperbanyak jumlah mereka. Selain itu juga bentuk tolong menolong dalam perbuatan dosa.”

Para ulama empat madzhab pun; Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah bersepakat atas keharaman menghadiri perayaan hari raya orang kafir dan bertasyabuh (menyerupai) acara mereka. 

Memang, beberapa ulama ada yang membolehkan. Namun, kebolehan mereka sebenarnya memiliki prasyarat yang banyak dan sulit untuk dilaksanakan. Syarat yang kebanyakan dikemukakan adalah tidak menghadirkan hati ketika berucap selamat. Pada kenyataannya, bagaimana bisa seseorang tidak menghadirkan hatinya ketika mengucapkan selamat. Padahal ketika ia ucapkan selamat, tentu saja ada kerelaan hati di dalam berucap. Bukankah hati itu rawan, mudah berbolak-balik, setan pun dapat turut serta di dalamnya.

3. Natal adalah budaya orang kafir 

Islam menghormati adat budaya suatu kaum. Bahkan di dalam ushul fikih, adat dijadikan satu landasan pengambilan sebuah hukum. Namun ketika adat itu bertentangan dengan kaedah-kaedah pokok dalam Islam, maka hal itu tidak boleh dikerjakan.

Perayaan Natal bukan sekedar adat biasa, namun sudah masuk ranah pemahaman yang jauh berbeda dengan Islam. Di sini, umat Kristen meyakini bahwa Isa ‘alaihis salam sebagai Tuhan. Padahal, Islam sendiri meyakini bahwa Isa adalah Nabi, bukan Tuhan. Sungguh, pemahaman yang jauh berbeda.

Untuk itu, mengikuti budaya ini bukan hanya dilarang secara fikih karena bertentangan dengan prinsip Islam. Namun, sebuah bentuk keharaman karena sudah menyangkut ranah akidah Islam. Mengikuti budaya itu, dapat menjerumuskan seorang muslim kepada sebuah kekafiran.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sudah lama mengingatkan perihal ini,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai (amalan) suatu kaum, maka ia tergolong ke dalam kaum tersebut.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

4. Termasuk bentuk ridha terhadap agama orang kafir dan mempengaruhi kemurnian tauhid 

Natal adalah sebuah perayaan besar umat Kristen, yang menunjukkan sebuah keyakinan akan ketuhanan Isa alaihis salam. Keyakinan ini jelas berbeda dengan prinsip dasar Islam. Oleh karena itu, mengucapkan Selamat Natal, secara tidak langsung meridhai perayaan yang menjadi prinsip mereka dan mencacati kemurnian tauhid.

Allah ta’ala telah ridha Islam menjadi agama bagi umat Muhammad, sebagaimana dalam firmannya surat Al Maidah ayat 3. Maka dari itu, bagaimana bisa kita ridha terhadap agama selain Islam, sedangkan Allah sendiri hanya ridha terhadap Islam sebagai agama kita.

5. Bentuk loyalitas yang salah

 Dengan mengucapkan selamat kepada orang kafir, menunjukkan sifat baik yang salah. Bentuk-bentuk peribadahan orang kafir harus dijauhi, begitu pula sesembahan-sesembahan mereka. Contoh tegas dalam masalah ini sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja….” (QS. Al Mumtahanah: 4)

6. Menjaga izzah sebagai orang Islam 

Islam adalah agama yang mulia, tidak ada selain daripadanya. Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi daripadanya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الإسلام يعلو ولا يعلى عليه

“Islam itu tinggi, selainnya tidak ada yang lebih tinggi.” (HR. Baihaqi dan dihasankan oleh Al Albani)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS: Ali Imran: 139)

Ada yang beranggapan bahwa ucapan Selamat Natal hanya sebuah ucapan biasa, tidak mempengaruhi keyakinan. Padahal di sisi lain, ucapan yang diberikan kepada penganut Kristen itu justru menjadikan mereka berbangga diri. Selain itu dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri mereka bahwa agama mereka itu benar, tidak salah. Padahal firman Allah ta’ala jelas, bahwa agama yang hak adalah Islam.

7. Dapat membesarkan syiar orang kafir 

Seperti Gereja, Hari raya adalah simbol bagi sebuah agama. Begitu pula perayaan Natal, merupakan simbol dari agama Kristen. Selain perayaan itu sendiri, syiar-syiar Kristiani juga banyak tersebar saat perayaan tersebut. Ketika Natal tiba, toko-toko yang notabene dimiliki oleh orang Kristen, berlomba-lomba untuk me-remark agar sesuai dengan suasana Natal. Tak jarang, simbol-simbol itupun dipakai oleh karyawan-karyawan muslim.

Dengan mengucapkan selamat hari raya, justru dapat menambah syiar-syiar yang telah mereka sebarkan. Syiar itu berpengaruh pada eksistensi sebuah agama. Ketika agama sudah tidak memiliki syiar-syiar yang disebarkan, eksistensinya seolah telah hilang. Tidak lagi berwibawa dan memiliki kekuatan. Maka dari itu, ucapan Selamat Natal kepada orang Kristen berarti menyebarkan syiar mereka dan menambah eksistensi mereka.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini (menyerupai orang kafir dalam hari raya mereka), maka dia berdosa. Meskipun ia melakukan hal itu lantaran beramah tamah dengan mereka, untuk mengikat persahabatan, karena malu atau sebab yang lain. Perbuatan ini adalah bentuk cari muka, sedangkan agama Allah jadi korbannya. Selain itu dapat menguatkan hati orang kafir dan semakin bangga dengan agama mereka.”

8. Ucapan selamat mengandung unsur doa dan cinta kepadanya 

Perlu diketahui makna mendalam dari ucapan selamat. Para ahli bahasa bersepakat bahwa ucapan selamat (tahni’ah) adalah kebalikan dari ucapan duka cita (ta’ziyah). Imam Al Bajirami mengatakan, “Tahni’ah adalah lawan kata dari ta’ziyah, yang berarti doa kepada seseorang yang sedang bahagia. Sedangkan ta’ziyah adalah dorongan kepada seseorang untuk bersabar dengan mengingatkan pahala serta mendoakannya.”

Ibnul Haj Al Maliki berkata, “Ucapan selamat dan kabar gembira berlaku diantara manusia, yakni atas dasar kecintaan sesama mereka. Berbeda dengan ucapan salam, yang mana diperuntukkan kepada kaum muslimin seluruhnya.”

Dapat diambil kesimpulan, ucapan selamat menandakan cinta kasih kepada pelaku perbuatan. Sedangkan cinta kasih itu pada dasarnya menandakan keridhaan atas perbuatan itu. Padahal jelas, perayaan itu adalah bentuk ibadah umat Kristen. Pertanyaannya, apakah seorang muslim ridho dengan keyakinan ibadah orang kafir?

9. Menunjukkan sikap orang yang tidak berprinsip 

Agama Islam sudah mengajarkan prinsip-prinsip yang harus ditaati. Prinsip yang dimiliki Islam, menandakan kewibawaan agama dan pemeluknya. Ketika satu prinsip itu dilanggar, wibawa dan harga dirinya tentu saja berguguran. Oleh sebab itu, tidak seharusnya seorang muslim melanggar batasan-batasan itu.

Ketika seorang mengucapkan Selamat Natal, berarti ia telah menerobos prinsip-prinsip keyakinan. Ia ragu bahwa perayaan orang Kristen itu salah dan tidak sesuai dengan prinsip Islam. Padahal telah jelas, amalan itu tidak diajarkan oleh Islam. Islam mengajarkan toleransi, namun tidak sekedar asal mengikuti.

10. Bukanlah perayaan kaum muslimin 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih).

Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.

11. Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal

 Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda.

Nah,begitu juga dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).

12. Merupakan sikap Wala yang keliru

 Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah.

Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4)

13. Nabi melarang mendahului ucapan salam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.

14. Menyerupai orang kafir 

Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum  muslimin untuk menyerupai kaum kafir.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

15. Merusak aqidah 

Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus, misalnya)

Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).

16. Berdosa menghadiri undangan Natal 

Allah telah berfirman tentang agama Islam,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Seorang muslim haram memenuhi undangan mereka dalam perayaan ini, karena ini lebih besar dari mengucapkan selamat kepada mereka, karena dalam hal itu berarti ikut serta dalam perayaan mereka. Juga diharamkan bagi kaum muslimin untuk menyamai kaum kuffar dengan mengadakan pesta-pesta dalam momentum tersebut atau saling bertukar hadiah, membagikan permen, parsel, meliburkan kerja dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Ibnu Hibban)

17. Haram dalam niat dan  ucapan  selamat Natal 

Haramnya mengucapkan selamat kepada kaum kuffar atas hari raya agama mereka, sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim, karena di dalamnya terdapat pengakuan atas syi’ar-syi’ar kekufuran dan ridha terhadapnya walaupun dia sendiri tidak ridha kekufuran itu bagi dirinya. Kendati demikian, bagi seorang muslim diharamkan ridha terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat dengan syi’ar tersebut kepada orang lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ridha terhadap semua itu, sebagaimana firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Al-Zumar: 7)

17 alasan di atas sebenarnya hanya menunjukkan sedikit alasan untuk tidak mengucapkan Selamat Natal. Selebihnya, setiap orang tentunya memiliki alasan tersendiri untuk tidak melakukannya. Tentunya, setiap muslim punya prinsip keislaman yang harus dipegangi. Ia seharusnya sadar, bahwa tindakan dosa dan salah itu menimbulkan rasa gundah dan ketidaknyamanan di dalam hati. Sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam , “Dosa itu adalah, manakala membuat hatimu tidak tenang dan bergemuruh (terjadi kebimbangan) di dalam dadamu.” 

Dari sinilah ia dapat mengidentifikasi antara perbuatan yang sesuai Islam atau malah bertentangan dengannya.

Semoga bermanfaat ....

Rabu, 23 Desember 2020

17 AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG PERANG

Edisi Rabu, 23 Desember 2020 M / 8 Jumadil Awwal 1442 H

Kalau kita melihat Al-Quran maka akan banyak sekali ayat-ayat perang di dalamnya. Ada perintah untuk berperang, ada ayat yang membicarakan balasan bagi orang yang berperang di jalan Allah dan ada pula membicarakan tentang orang yang tidak mau berperang beserta balasannya. Ayat-ayat perang ini banyak disalah artikan oleh kaum kuffar di luar Islam. Mereka menganggap ayat-ayat perang di Al-Quran itu menunjukkan Islam teroris. Ayat-ayat perang ini juga disalah artikan kaum radikal untuk membunuh siapa saja yang di luar Islam secara membabi buta.

Ini adalah konsep yang salah. Allah Ta’ala memerintahkan kita berperang bukanlah setiap keadaan, akan tetapi ada keadaan-keadaan tertentu. Misalnya karena umat Islam diserang.

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (Q.S. Al-Hajj : 39)

Untuk orang-orang kafir yang tinggal di wilayah Islam atau tidak mengganggu umat Islam, maka haram darahnya untuk dibunuh. Bahkan kita tidak akan mencium bau surga kalau tetap bersikeras membunuhnya, padahal bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian. Dan berperang pun ada aturannya, tidak asal-asalan. Berperang itu harus ada izin dari ulil amri (presiden atau kepala pemerintahan), berperang harus izin orangtua, berperang haruslah tepat sasaran, berperang tidak boleh melukai tumbuhan dan lain sebagainya.

Maka dari itu salah total kalau menganggap umat Islam teroris. Kalau umat Islam teroris dan pembunuh, maka tidak akan ada non muslim di dunia ini, terutama di negeri kita Indonesia. Buktinya, umat yang paling banyak penganutnya adalah Kristen/Nasrani. Apakah ada umat Islam di Inggris, di Indonesia, Jepang, dan berbagai belahan bumi lainnya yang mengancam non muslim sehari-hari? Tidak. Bahkan umat Islam dan umat lain hidup berdampingan. Karena inilah yang diajarkan di agama kami dan yang diajarkan Nabi kami kepada kami.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al-Mumtahanah : 8)

Pada tulisan kali ini kami akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang perang. Simak selengkapnya.

1. Q.S. Al-Baqarah : 216 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 216)

2. Q.S. Al-Baqarah : 190 

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Baqarah : 190)

3. Q.S. Al-Baqarah : 193 

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqarah : 193)

4. Q.S. An-Nisaa’ : 76 

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Q.S. An-Nisaa’ : 76)

 5. Q.S. Al-Anfaal : 39 

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Anfaal : 39)

6. Q.S. At-Taubah : 12 

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ ۙ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. (Q.S. At-Taubah : 12)

7. Q.S. At-Taubah : 14 

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (Q.S. At-Taubah : 14)

8. Q.S. At-Taubah : 29 

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Q.S. At-Taubah : 29)

9. Q.S. At-Taubah : 36 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah : 36)

10. Q.S. At-Taubah : 123 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. At-Taubah : 123)

11. Q.S. At-Tahrim : 9 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (Q.S. At-Tahrim : 9)

12. Q.S. Al-Baqarah : 217 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-Baqarah : 217)

13. Q.S. Al-Anfaal : 65 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Q.S. Al-Anfaal : 65)

14. Q.S. An-Nisaa’ : 74 

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۚ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (Q.S. An-Nisaa’ : 74)

15. Q.S. At-Taubah : 38 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. (Q.S. At-Taubah : 38)

16. Q.S. Al-Fath : 17 

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (Q.S. Al-Fath : 17)

17. Q.S. Ali ‘Imran : 146 

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Q.S. Ali ‘Imran : 146)

Itulah berbagai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan mengenai perang. Semoga menambah wawasan kita terhadap Al-Quran sehingga kita semakin cinta dan semakin dekat dengan Al-Quran.

Semoga bermanfaat....

Selasa, 22 Desember 2020

17 KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN MENJADI IBU DALAM ISLAM

Edisi Selasa, 22 Desember 2020 M / 7 Jumadil Awwal 1442 H

Ibu adalah seorang wanita yang berperan sebagai pelengkap dalam kehidupan rumah tangga antara suami istri, ibu dengan anak, juga antara keluarga dan saudara serta masyarakat. Ibu menjadi cermin baik dan tidaknya sebuah keluarga berjalan. Seorang ibu yang baik dan sholehah tentu akan mengajarkan hal yang sama pada anak anaknya serta mampu menjadi seorang yang menyenangkan dan berbakti pada suaminya. Seorang ibu selalu dibutuhkan, selalu dirasa sebagai sesuatu yang kurang jika tak terdapat sosoknya.

Dalam keseharian selalu kita dengar mengenai surga berada di bawah telapak kaki ibu. Apakah maksud dari kalimat tersebut? tentu maksudnya ialah seorang ibu merupakan sosok wanita mulia yang didalam ridhonya ada surga bagi anak anaknya. 

Dalam kesempatan tausiah kali ini bertepatan dengan hari ibu nasional tidak ada salahnya kita membahas mengenai 17 keutamaan dan kemuliaan menjadi ibu dalam islam, namun perlu diingat bukan dalam konteks memperingati, karna hari ibu tidak ada dalam syari'at islam,  dan Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Tentunya hal ini wajib dipahami oleh semua umat muslim baik laki laki maupun wanita agar dalam kesehariannya mampu menjadi ibu yang terbaik atau memperlakukan ibunya dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). 

Dari ayat tersebut sudah jelas, perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap saat dan waktu.

Untuk lebih jelasnya, mari simak artikel tausiah berikut ini sampai selesai.

1. Mulia di Mata Allah 

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya yang  mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15).

Keutamaan dan kemuliaan menjadi ibu dalam islam yang pertama ialah sebagai sosok yang mulia di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah diberi anugrah untuk mampu meneruskan keturunan dan mampu mengandung bayi hingga melahirkan, itupun masih dipilih oleh Allah yakni tidak semua wanita bisa mendapat keistimewaan tersebut. sebab itu menjadi seorang ibu wajib bersyukur dan berbahagia

 2. Sosok yang Kuat 

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14).

Ibu juga diberi kekuatan Allah Ta'ala untuk mampu tetap kuat dalam keadaan apapun ketika mengandung seorang bayi, tentu bukanlah hal yang mudah sebab harus membawa seorang atau bahkan kadang lebih dari satu berada dalam tubuhnya dan dibawa dalam berbagai aktifitas. Tanpa kekuatan dari Allah hal itu tidak akan terjadi seperti keutamaan Maryam sebagai ibu yang mulia.

3. Wajib Dihormati 

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ ‘Ibumu!’ ‘Ibumu!, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari : 5971).

Jelas dari hadits Rasulullah tersebut bermakna bahwa ibu adalah seorang yang wajib dihormati bahkan disebut hingga 3 kali baru menyebut ayah. Hal ini bukan dimaksud untuk membedakan kasih sayang kepada ibu dan ayah namun lebih kepada keutamaan menjadi ibu dalam islam yaitu seorang yang paling berjasa karena telah melahirkan ke dunia ini dan telah melakukan amalan ibu hamil menurut islam agar anaknya lahir dengan selamat.

4. Haram untuk Disakiti 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407). 

Tidak diperkenankan berbuat durhaka kepada ibu sebab ibu adalah seseorang yang telah banyak berkorban mulai dari mengandung, melahirkan, hingga senantiasa mencurahkan kasih sayangnya semasa mendidik dan mengurus sampai anak tersebut menjadi dewasa serta melakukan tugas ibu rumah tangga dalam islam dengan penuh keikhlasan.

5. Wajib untuk Dibahagiakan 

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528).

Jelas dari hadits tersebut bahwa membuat ibu bahagia lebih baik dari hal apapun, dalam melakukan urusan apapun wajib meminta restu terhadap ibu terlebih dahulu atau setidaknya memohon doa kebaikan darinya agar urusan tersebut berjalan dengan penuh berkah serta terhindar dari azab anak durhaka kepada ibunya.

6. Ridhonya adalah ridho Allah 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“(Adabul Mufrod no. 2). 

Allah Subhanahu wa ta'ala memberi ridho terhadap suatu urusan jika ibunya memberi ridho pula akan hal tersebut, sebab itu restu dari seorang ibu tak boleh diremehkan sebab menjadi sesuatu yang penting.

7. Doanya mustajab 

Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, …” (Hasan : HR. Al-Bukhari). 

Mohonlah doa kepada ibu di setiap urusan sebab doa ibu adalah doa yang mustajab, dalam urusan apapun sebaiknya selalu mengungkapkan pada beliau agar beliau turut mendoakan.

8. Banyak Jalan pahala 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS. Al Baqarah : 233). Keutamaan menjadi ibu dalam islam akan mendapat pahala bahkan ketika menyusui dan mengurus anaknya.

9. Tak boleh Mendapat Perlakuan Kasar 

“Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra : 23). Jelas dari hadits tersebut tak boleh berbuat kasar pada ibu baik perkataan maupun tindakan.

10. Teladan yang Mulia 

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam : 32). 

Ibu adalah sosok yang teladan, ibu yang sholehah tentu tidak akan mengajarkan keburukan pada anaknya dan selalu mengajarkan nilai nilai kebaikan seperti menjauhi sifat sombong seperti Maryam kepada anaknya Nabi Isa.

11. Pembentuk Generasi Cemerlang 

Dengan adanya ibu yang sholehah dan cerdas akan terbentuk generasi yang cerdas pula dimana memang dalam keseharian sejak kecil anak selalu bersama ibu, apa yang diajarkan ibu sejak kecil dan kebiasaan apa saja yang ditanamkan, hal itulah yang akan menjadi ingatannya hingga ia dewasa. Sehingga harus mengajarkan kebaikan pada anak.

12. Sosok Penuh Kasih Sayang 

Keutamaan dan kemuliaan menjadi ibu dalam islam ialah diberi keistimewaan oleh Allah untuk memiliki rasa kasih sayang yang lebih, ibu tentu selalu mau berkorban untuk anak yang disayanginya hingga mengorbankan dirinya sendiri, seperti ibu rela lelah agar anaknya bisa digendong dan tidak kelelahan, terkadang ibu pun rela tidak makan asal anaknya mendapat makanan.

13. Terdekat dengan Buah Hati 

Karena berada bersama sejak masa kecil, umumnya ibu menjadi sosok yang paling dekat dengan anaknya. Hal tersebut kadang menjadikan sebuah ikatan batin atau firasat yang tepat satu sama lain, ketika terjadi sesuatu dengan anaknya, ibu umumnya akan memilikii firasat dalam hatinya, begitu juga sebaliknya ketika terjadi sesuatu dengan ibunya sang anak pun merasa ada yang mengganjal.

14. Penerus Keturunan 

Jelas bahwa seorang wanitalah yang mengandung dan melanjutkan keturunan, memang baik laki laki ataupun wanita berperan dalam hal ini karena manusia tidak mungkin bisa berkembang biak sendiri, tetapi sebagian besar yang memelihara dan merawat hingga dewasa adalah seorang ibu yang selalu berada di sisi anaknya dan mendampingi anaknya dalam keadaan apapun.

15. Memiliki Segala Jenis Ilmu 

Ibu tentu memiliki ilmu segalanya, ilmu memasak, ilmu pelajaran, ilmu tentang rumah, ilmu tentang psikologi anak, hingga ilmu tentang keuangan, keutamaan menjadi ibu dalam islam akan mengajarkan banyak hal dan menjadi jalan untuk seorang wanita mampu menuntut ilmu sebanyak dan seluas luasnya sehingga nantinya mampu menjadi jalan kebaikan pula untuk anaknya.

16. Jalan Menuju Surga 

Seorang ibu banyak mendapat jalan surga dari Allah, selama mengandung, selama melahirkan, hingga selama mengurus anak, jika semua itu dilakukannya penuh cinta dan semata karena Allah dengan menerima keseluruhan kodratnya sebagai wanita. Hal tersebut akan menjadi jalan surga baginya karena ia harus melewati banyak rintangan yang menguji kesabarannya.

17. Pendidik yang Terbaik 

Keutamaan dan kemuliaan menjadi ibu dalam islam ialah mampu menjadi pendidik yang terbaik, ibu yang sholeh dan cerdas akan menanamkan berbagai ilmu kebaikan untuk anaknya sejak kecil sehingga anaknya pun tumbuh menjadi seseorang yang cerdas dan hebat, ibu selalu berjuang apapun keadaan dirinya untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Demikian artikel tausiah  mengenai 17 keutamaan dan kemuliaan menjadi ibu, semoga bisa menjadi wawasan yang bermanfaat untuk kita. Jika anda seorang wanita jangan lupa untuk selalu berbuat yang terbaik sehubungan dengan peran ibu, yakni menjadi ibu yang terbaik dan memperlakukan ibu kita dengan baik. terima kasih sudah membaca. 

Semoga bermanfaat ....