Selasa, 23 Agustus 2022

17 LEMBAGA DALAM ORGANISASI NAHDLATUL ULAMA

Edisi Selasa, 23 Agustus 2022 M / 25 Muharram 1444 H.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai sebuah organisasi masyarakat Islam berjuang dalam tiga bidang, yakni dakwah keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Dalam menjalankan tugasnya, NU memiliki perangkat, salah satunya adalah lembaga.

 Dalam Peraturan Nahdlatul Ulama tentang Perangkat Organisasi Nahdlatul Ulama, lembaga merupakan perangkat departementasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana program dan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.

Ketua lembaga, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2, ditunjuk langsung dan bertanggung jawab kepada pengurus Nahdlatul Ulama sesuai dengan tingkatannya. Sementara struktur kepengurusan disusun oleh ketua lembaga bersama dengan pengurus NU.

Berikut ini adalah lembaga-lembaga NU selengkapnya :

1. Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) 

LP Maarif NU lahir atas prakarsa KH Abdullah Ubaid dan KH Mahfudz Siddiq pada tahun 1929. Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pendidikan dan pengajaran formal. LP Maarif NU juga memiliki satuan komunitas (sako) Pramuka yang sudah terbentuk di beberapa provinsi di Indonesia.

2. Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) 

RMINU merupakan asosiasi pondok pesantren yang berafilitasi dengan NU. Lembaga yang lahir pada Mei 1954 oleh KH Ahmad Syaichu dan KH Idham Kholid ini bertugas untuk melaksanakan kebijakan NU di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan.

3. Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) 

Lembaga ini bertugas untuk membahas persoalan dan permasalahan tematik (maudluiyah) dan aktual (waqiiyah) yang akan menjadi bahan keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

4. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) 

Lesbumi ini lahir dari tangan dingin para budayawan Nahdlatul Ulama seperti Usmar Ismail, Jamaluddin Malik, dan Asrul Sani pada 28 Maret 1962. Lembaga ini dibentuk untuk melaksanakan kebijakan NU di bidang pengembangan seni dan budaya.

5. Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) 

LFNU ini lahir guna melaksankan tugas mengelola persoalan hisab dan rukyat dalam rangka menentukan awal bulan Hijriyah, gerhana, dan shalat, serta mengembangakan pengetahuan dan keilmuan di bidang falakiyah atau astronomi. LFNU berdiri dua bulan pascamuktamar ke-27 pada tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur, tepatnya pada 26 Januari 1985. Lembaga ini diresmikan oleh Wakil Rais Aam PBNU 1984-1989 KH Radli Soleh.

6. Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) 

Lembaga ini bertugas  menghimpun, mengelola dan mentasharufkan zakat dan shadaqah kepada mustahiqnya. Lembaga ini dikenalkan dengan nama NU Care-Lazisnu sebagai rebranding dan/atau sebagai pintu masuk agar masyarakat global mengenal lembaga yang lahir dari Muktamar NU ke-31 tahun 2004 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. NU Care-Lazisnu secara yuridis-formal dikukuhkan oleh SK Menteri Agama No. 65/2005 untuk melakukan pemungutan Zakat, Infak, dan Sedekah kepada masyarakat luas.

7. Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) 

Lembaga ini bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab/buku serta media informasi menurut faham Ahlussunnah wal Jamaah. LTNNU merupakan rekomendasi dari Muktamar NU Ke-27 di Situbondo, Jawa Timur pada tahun 1984. Kehadiran lembaga ini untuk mensosialisasikan hasil-hasil muktamar, khususnya mengenai khittah 1926. Tahun 2003, lembaga ini melahirkan NU Online mengingat kebutuhan mendesak informasi di dunia maya. Ada pula majalah Risalah NU dan kanal Youtube 164 Channel.

8. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengkajian isu-isu strategis dan pengembangan sumber daya manusia untuk transformasi sosial yang berkeadilan dan bermartabat. Lakpesdam lahir pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur tahun 1984.

9. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan agama Islam yang menganut faham Ahlussunnah wal Jamaah. LDNU memiliki badan otonom, yakni Muallaf Center yang menjadi pusat pembelajaran para mualaf mengingat banyaknya orang yang masuk Islam melalui bimbingan NU dan Jamiyah Ruqyah Aswaja sebagai lembaga pengobatan alternatif.

10. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama dalam pencegahan dan penanggulangan bencana serta eksplorasi kelautan. LPBINU dibentuk pada Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2010.

11. Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan pendampingan, penyuluhan, konsultasi, dan kajian kebijakan hukum.

12. Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan dan pemberdayaan Masjid. LTMNU didirikan pada 12 Dzulhijjah 1390 atau 9 Februari 1971 di Surabaya dengan nama Hai’ah Ta’miril Masjid Indonesia (HTMI). Sebelum berubah menjadi LTMNU pada Muktamar NU Ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan, tahun 2010, lembaga ini juga pernah bernama Lembaga Takmir Masjid Indonesia (LTMI) pada Muktamar NU ke-31 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah tahun 2004.

13. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan ekonomi warga Nahdlatul Ulama. 

Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan dan pengelolaan pertanian, kehutanan dan lingkungan hidup.

14. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang kesehatan. LKNU semula bernama Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) yang lahir dari Muktamar NU di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah pada tahun 2004 lalu karena adanya pembubaran Lembaga Sosial Mabarrot (LSM) dengan penanganan sosial diambil alih tugasnya oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU). Perubahan LPKNU menjadi LKNU terjadi pada Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun 2010.

15. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) 

Lembaga ini bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang kesejahteraan dan pemberdayaan keluarga, sosial, dan kependudukan. LKKNU berdiri pada tanggal 17 Dzulhijjah 1397 H, bertepatan dengan tanggal 7 Desember 1977 M di Jakarta.

16. Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) 

Lembaga ini bertugas mengembangkan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama. Saat ini, jumlah universitas NU tercatat sudah lebih dari 30, sedangkan perguruan tinggi NU secara umum sudah mencapai lebih dari 200.

17. Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU) 

Lembaga ini bertugas mengurus, mengelola serta mengembangkan tanah dan bangunan serta  harta benda wakaf lainnya milik Nahdlatul Ulama. LWPNU sudah berdiri sejak masa NU masih di bawah kepemimpinan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Majalah Risalah NU Edisi 73 menyebutkan bahwa terdapat sebuah dokumen autentik berupa Statuten dan Reglement Stiehting Waqfiyah dibuat pada tanggal 23 Februari 1937 di hadapan Notaris Hendrik Wiliem Nazembreg, Surabaya.

Penulis: Syakir NF

Editor: Abdullah Alawi

Semoga bermanfaat....

Senin, 22 Agustus 2022

17 QUOTES DAN KATA MUTIARA USTADZ SALIM A.FILLAH TENTANG KEHIDUPAN DAN KESABARAN

Edisi Senin, 22 Agustus 2022 M / 24 Muharram 1444 H.

Quotes dan kata-kata mutiara Ustadz Salim A. Fillah ini menginspirasi untuk selalu dekat dengan Allah. Ustadz Salim A Fillah dikenal sebagai ustadz sekaligus penulis buku Islami yang berasal dari Yogyakarta.

Ia juga merupakan penggiat Masjid Jogokariyan, Yogyakarta dan memiliki penerbitan buku Pro Media.

Kata-kata Ustadz Salim A. Fillah yang tertuang pada tausiyah dan torehan tinta di karyanya begitu menginspirasi.

Berikut 17 quote dan kata mutiara dari Ustadz Salim A. Fillah tentang kehidupan dan kesabaran :

1. “Jalan surga sering sederhana. Sesederhana tiada Ilah selain Allah. Sesederhana diam dari ucap jelek. Sesederhana amal kecil yang istiqamah.”

2. “Di antara nikmat terindah, kepekaan hati untuk mengenali kunci-kunci surga yang sering tersempil pada hal-hal sederhana, lalu bertindak mulia.”

3. “Setiap hari adalah baru, sekaligus fana. Bagai dedaun yang kuncup dan gugur dengan gurat-gurat kesaksian atas amal kita. Surgakah akhirnya?”

4. "Mutiara yang Bersatu di kalung perhiasan, harus rela ditusuk jarum agar benang menyatukan. Berjama’ah mungkin melukai, tapi ia memberi arti.”

5. “Di antara tanda kebaikan, kebahagiaan dalam ketaatan, berduka menyesali kemaksiatan, dan dijadikan hobinya sebagai wasilah manfaat bagi sesama.”

6. “Seyogianya bagi yang dilimpahkan karunia, ikatlah dengan syukur, jagalah dengan taat, rawatlah dengan kerendahan hati. Agar tumbuh dan lestari.”

7. “Jika memang belum hadir ilmu, tak perlu kita malu tuk berkata, ‘Aku tak tahu’, dengan begitu Allah-lah nan jadi guru, membimbing kita selalu.”

8. “Mari belajar bersyukur hingga syukur itu lebih nikmat daripada nikmat yang disyukuri. Sebab ‘mampu bersyukur’ memang karunia lebih tinggi.”

9. “Yang kita rindukan di negeri ini ternyata bukan cuma keberanian orang-orang yang benar, melainkan juga rasa malu, dari kita dan mereka yang keliru.”

10. “Sebab Al-Qur'an turun dari langit, menyimak keindahan dan maknanya akan membuatmu memiliki pandangan dari ufuk tinggi atas segala isi dunia.”

11. “Jika sedikit tidak tersyukuri, banyak pun tak mencukupi. Jika dalam sempit tak terlatih memberi, dalam lapang pun akan susah berbagi.”

12. “Batas insani: Jika tak memberi manfaat, jangan membahayakan; jika tak memperbaiki, jangan merusak; jika tak membangun, jangan menghancurkan.”

13. “Kadang Allah hadiahkan pengumpat dan pencela untuk menambal rombengnya niat, agar jiwa bersandar dan sabar, lalu pahala disempurnakan tanpa batas.”

14. “Kita amat perlu memohon ampun ketika ‘merasa berdosa’, tetapi jauh lebih harus beristighfar ketika ‘merasa tak berdosa’.”

15. “Saat terindah adalah ketika mampu memberi manfaat, yang berharga ialah bersyukur pada Allah atas itu, yang termulia adalah mengikhlaskannya.”

16. “Apakah surga dan ridha-Nya tak lagi menarik bagi hati; hingga untuk beramal shalih pun fadhilah-fadhilah dunia yang kita kejar dan perbesar-besar?”

17. “Jaga ilmu dengan amal. Jaga amal dengan ikhlas. Jaga ikhlas dengan istiqamah. Jaga istiqamah dengan ihsan. Jaga ihsan dengan doa.”

Semoga bermanfaat....

Minggu, 21 Agustus 2022

17 HAL TERPUJI TERHIMPUN DALAM DZIKIR (BAGIAN 2)

Edisi Ahad, 21 Agustus 2022 M / 23 Muharram 1444 H.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam bukunya Secercah Tinta (2014) menjelaskan tentang siapakah ahli zikir itu. Ia menyatakan bahwa ahli zikir adalah para wali dan para ulama yang dalam hatinya terdapat rasa takut (khasyyah) kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Para wali, ulama, dan orang-orang ‘arif itulah sumber-sumber akidah, bagaimana umat Islam bisa memahami agama dengan sumber-sumber mutawatir, dapat dipertanggungjawabkan, dan tersambung hingga kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam kemudian sampai kepada seluruh umat. Sebab, orang-orang yang disebutkan di atas mendapatkan kesaksian dalam Al-Qur’an yang disaksikan oleh Nabi Muhammad sekaligus diangkat oleh Baginda Nabi. Kebesaran Al-Qur’an pertama kali disaksikan pertama kali oleh Nabi Muhammad. Kemudian Al-Qur’an menjadi syahadah (saksi) kebesaran Baginda Nabi. Baginda Nabi menjadi saksi bagi kebesaran sahabat yang diangkat oleh Allah.

Ahli zikir adalah orang-orang berilmu, maka perlu dipahami bahwa ahli zikir bukan sekadar orang yang pintar. Itu artinya semua orang pintar bukan berarti ahli zikir. Ahli zikir ialah orang yang ‘arif, rijalul ‘arif. Habib Luthfi menyebutkan, kalau orang ‘arif sudah dipastikan ibadahnya baik. Itu semua disaksikan dan diakui oleh Allah yang menciptakan. Berikut kelanjutan hal terpuji yang terhimpun dalam dzikir :

1. Kedelapan belas, bersaksi atasmu segala sesuatu dari seluruh makhluk yang mendengarmu dan menyayangimu semua tempat di bumi di mana engkau berdzikir kepada Allah dan mereka membanggakan rasa sayangnya itu antara satu dengan yang lainnya. 

2. Kesembilan belas, lembut hati dan khusyuk saat berdzikir.

3. Kedua puluh, dihapuskan sepuluh kejahatan dengan satu kalimat dzikir. 

4. Kedua puluh satu, tenang dan diam hati karena firman Allah: “Sesungguhnya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang.” 

5. Kedua puluh dua, dua malaikat yang bernama Kiraman dan Katibin beristirahat mencatat keburukanmu dan malahan mendoakanmu dipelihara dari (biwiqaayati) segala kejahatan, mendapatkan kemenangan surga dan dilepaskan dari neraka dan bersama dengan malaikat yang menjunjung ‘Arasy karena firman Allah Ta’ala: “Dan malaikat yang mengucap tasbih dengan memuji Tuhan mereka” hingga akhir ayat (QS. Al-Mu’min: 7). 

6. Kedua puluh tiga, meringankan hal-hal yang berat pada hari kiamat. Sabda Nabi Shallallahu alaihi Wasallam “Mendahului kamu al-mufradun. Para sahabat berkata: Apakah al-mufradun itu Wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Itulah orang-orang yang mengekalkan menyebut Allah Ta’ala. Dzikir mereka menyingkirkan beban-beban dosa mereka pada hari Kiamat.” 

7. Kedua puluh empat, dzikr itu lebih baik dari haji, jihad, al-ribath (memerangi kafir yang hendak masuk ke negeri Islam), sedekah, dan segala amal lainnya yang termasuk fardhu. (Hendaknya jangan disalahpahami bahwa statement ini meremehkan hal yang fardhu. Justru perlu digarisbawahi bahwa Syekh al-Palimbani menekankan pentingnya keberimbangan antara syariat dan hakikat. Terkait dengan poin ke-24 ini, apa yang bisa dimaknai dari sini adalah keutamaan dzikir itu sangat dan sangat besar). 

8. Kedua puluh lima, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kepada orang yang berdzikir lebih banyak dari yang dimintanya bahkan yang tidak dimintanya sekalipun karena firman Allah dalam Hadits Qudsi: “Barang siapa menyibukkan diri berdzikir kepada-Ku ketimbang meminta-minta pada-Ku, Aku akan memberikan kepadanya yang lebih baik bahkan yang tidak dipintanya daripada yang diminta para peminta-minta.”  

9. Kedua puluh enam, orang yang berdzikir dilengkapkan atasnya rahmat, diturunkan kepadanya ketenangan hati dan barakah, meliputi (tahaffa) dan menjaga malaikat atasnya. 

10. Kedua puluh tujuh, sesungguhnya hamba yang terbuka hati untuk berdzikir kepada Allah pada permulaan hari dan menutup harinya dengan dzikrullah niscaya ia diampuni pada awal dan akhir suratannya (tharafayi). 

11. Kedua puluh delapan, orang-orang yang berdzikir kepada Allah Ta’ala diseru oleh para penghuni langit: “Berdirilah kalian! Kejahatan-kejahatan kalian telah digantikan dengan kebaikan-kebaikan dan dosa-dosa kalian telah diampuni.” 

12. Kedua sembilan, satu majelis orang-orang saleh yang berdzikir menghapuskan satu juta perkumpulan kegiatan mukmin yang berbuat kejahatan. 

13. Ketiga puluh, sesungguhnya orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah pada hari Kiamat berada di atas mimbar yang berasal dari cahaya, kedua tangannya adalah tangan kanan. Para malaikat dan para nabi bergantung pada tempat duduk (maq’ad) mereka. Wajah mereka bercahaya lebih terang daripada bulan purnama. Manusia takut pada mereka, tapi mereka tidak. Manusia gentar pada mereka, tapi mereka tidak.

14. Ketiga puluh satu, orang yang banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala adalah orang yang amat mulia pada hari Kiamat karena kemuliaan mereka diberikan Allah. 

15. Ketiga puluh dua, sesungguhnya ahli dzikir itu bermain-main dan mengambil buah-buahan dari kebun surga karena sabda Nabi Shallallahu alaihi Wasallam dalam hadits: “Apabila engkau lewat di kebun-kebun surga maka ambillah buah-buahan di dalamnya. Para sahabat bertanya, ”Apakah kebun-kebun surga itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tempat perhimpunan orang-orang yang duduk berdzikir”. Ketahuilah bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “Majelis dzikir itu menyerupai kebun di dalam surga karena majelis itu tempat turunnya rahmat, hidayah, rahasia yang ajaib-ajaib dan ma’rifat yang gharib-gharib. Yang didapat oleh orang yang berdzikir itu layaknya orang yang masuk ke dalam kebun karena di situ ia mengambil buah-buahan yang indah. 

16. Ketiga puluh tiga, sesungguhnya dzikrullah Ta’ala di bumi merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir itu sendiri. Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang berdzikir di dalam kumpulan orang-orang yang lupa laksana pohon kayu yang hijau di di tengah kumpulan pohonan kayu yang kering. 

17. Ketiga puluh empat, sesungguhnya orang yang berdzikir khafi (tersembunyi) itu disebut-sebut di hadirat Allah Ta’ala dan dipertaruhkan (wayaddakhiru) atasnya satu perbendaharaan (kanzan) hingga hari Kiamat yang apabila ia masuk surga, maka Allah akan bersabda padanya: Aku memiliki pahala yang akan kuberikan padamu, yaitu pahala dzikir khafi yang tak terlihat oleh seorang pun kecuali oleh-Ku. 

Semoga bermanfaat....