Selasa, 24 Oktober 2023

CARA MENGATASI MASALAH RUMAH TANGGA SECARA ISLAM

Edisi Rabu, 25 Oktober 2023 M / 10 Rabi'ul Akhir 1445 H.

Setiap manusia pasti mengharapkan pernikahan dalam hidupnya. Ingin memiliki pasangan dan anak-anak yang lucu. Hal ini sangat wajar, sebab sudah fitrah manusia untuk diciptakan saling berpasangan. Selain itu menikah juga merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Al-Quran dijelaskan:

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah pengawas atas kamu”. (QS. An Nisa: 1).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan dari golonganku. Hendaklah kalian menikah, sungguh dengan jumlah kalian aku akan berbanyak-banyakkan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak hendaknya berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng.”

Walaupun menikah itu menyenangkan, namun bukan berarti menjalani pernikahan itu mudah. Menikah berarti menyatukan dua pikiran yang berbeda. Seseorang yang awalnya tidak pernah hidup dengan Anda tiba-tiba harus tinggal bersama setiap hari. Pastinya semua hal itu bisa memunculkan konflik. Dan konflik dalam rumah tangga adalah sesuatu yang sangat wajar. Namun demikian, setiap konflik yang datang harus segera diatasi. Apabila ada masalah kecil dan dibiarkan saja, maka lama-kelamaan itu bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga.

Berikut ini cara-cara mengatasi masalah rumah tangga secara islam:

1. Berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah 

Cara mengatasi masalah rumah tangga yang pertama pastinya Anda harus berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah. Apapun masalahnya, kembalikan pada syariat agama. Ini akan membantu Anda menyelesaikan segala perkara dengan cara terbaik.

2. Diselesaikan Lewat Kasih Sayang 

Setiap masalah yang terjadi dalam rumah tangga tidak harus diselesaikan lewat pertengkaran. Anda bisa mencoba menyelesaikannya lewat kasih sayang. Misalnya mengajak pasangan bercanda, memasakkan makanan lezat, atau jalan-jalan ke taman dan sebagainya. Layaknya api yang dipadamkan dengan air, cara ini terbilang sangat efektif. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang terhadap keluarganya. Jadi Anda pun juga harus meneladaninya.

Allah ta’ala berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159).

3. Saling Memberikan Nasehat 

Ketika ada masalah di rumah tangga, misalnya istri Anda marah karena sebab tertentu maka janganlah Anda ikutan marah. Tindakan tersebut akan membuat masalah semakin membuncah. Sebaliknya, kewajiban suami terhadap istri dalam Islam adalah memberikan nasehat yang baik kepada istri tentang peran wanita dalam Islam, fungsi ibu rumah tangga dalam Islam dan kewajiban wanita setelah menikah. Mintalah ia duduk di samping Anda, lalu peluk dia. Kemudian ucapkanlah perkataan yang lembut, sebuah nasehat yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar.

Allah Ta’ala Berfirman:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di termpat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan  seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An Nisa’ :34-35).

4. Fokus Pada Penyebab Masalah 

Untuk menyelesaikan suatu masalah tentunya Anda harus mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Setelah tahu sebabnya, maka fokuslah pada inti masalah. Kemudian Anda bisa saling bermusyawarah untuk menemukan jalan keluar yang adil.

5. Menghindari Sikap Egois 

Sikap egois pastinya ada dalam diri setiap manusia. Yakni perasaan tidak mau mengakui kesalahan dan merasa paling benar. Namun sebagai seseorang yang beriman dan bertakwa, hendaknya Anda menjauhi sikap egois. Terlebih lagi jika sudah berumah tangga. Sikap egois bisa menjadi pemicu pertengkaran secara terus-menerus. Istri tidak mau mengalah, suami tidak mau mengalah. Dua-duanya sama-sama keras kepala. Lalu bagaimana masalah tersebut bisa diselesaikan?

6. Saling Terbuka 

Setelah menikah sebaiknya jangan ada rahasia diantara pasangan. Cobalah Anda bersikap terbuka. Segala masalah dan unek-unek di hati Anda akan lebih baik untuk diceritakan. Jangan memendam masalah sendirian ataupun menyembunyikan sesuatu. Itu akan menjadi pemicu kesalahpahaman dan yang berimbas pada hancurnya rumah tangga.

7. Bersikap Dewasa 

Masalah tidak akan terselesaikan bila diatasi dengan cara kekanak-kanakan. Misalnya diam selama berhari-hari, saling ngambek, mogok makan dan sejenisnya. Sebagai orang tua sudah seharusnya Anda bersikap dewasa. Setiap ada masalah maka selesaikan dengan pikiran tenang dan dingin. Berdiskusi secara baik-baik, tidak perlu saling membentak. Selain itu Anda juga harus menanamkan sikap tanggung jawab dalam diri sendiri.

8. Saling Memaafkan 

Masalah tidak akan selesai jika Anda dan pasangan sama-sama keras kepala dan tidak mau meminta maaf duluan. Cobalah bersikap saling memaafkan. Toh, manusia tidak ada yang lepas dari kesalahan. Memaafkan tidak berarti menjatuhkan harga diri. Memaafkan itu lebih disenangi oleh Allah Ta’ala. Dan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain maka baginya balasan yang indah di sisi Allah Ta’ala.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263).

9. Bermusyawarah 

Daripada menguatkan pendapat pribadi, lebih baik Anda mencoba bermusyawarah untuk mendapatkan keputusan yang adil dan mufakat. Bermusyawarah ini sangat penting. Sebab dengan saling menukar pikiran maka proses pemecahan masalah akan jadi lebih mudah.

Perintah musyawarah juga dijelaskan dalam Al-Quran:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 159).

10. Mengendalikan Emosi 

Menghadapi masalah juga tidak boleh selalu menuruti emosi. Seseorang yang bisa mengontrol amarahnya lebih disukai oleh Allah Ta’ala. Orang-orang yang sabar biasanya lebih banyak teman, bawaanya berwibawa dan orang yang tidak suka marah juga dijanjikan surga oleh Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah  akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR.Ahmad, Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah).

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR. At-Thabrani).

11. Menjaga Komunikasi 

Komunikasi yang lancar perlu dijaga untuk menghindari ataupun mengatasi masalah rumah tangga. Dengan berkomunikasi maka salah paham bisa dihindari. Perkara apapun itu, besar kecil sebaiknya selalu dikomunikasikan dengan pasangan.

12. Saling Percaya 

Untuk mengatasi masalah rumah tangga juga diperlukan sikap saling percaya. Apabila kepercayaan sudah hilang maka apapun yang dilakukan pasangan pasti dianggap salah. Sebisa mungkin hindari sikap suudzon atau prasangka buruk karena itu bisa menyesatkan hati.

Allah Ta’ala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).

13. Belajar dari Pengalaman 

Masalah yang datang di kehidupan keluarga wajib diselesaikan. Setelah itu, Anda harus bisa mengambil pelajaran dari masalah tersebut. Sehingga bisa dihindari agar tidak terulang kembali.

14. Menerima Perbedaan Pendapat 

Perbedaan pendapat dalam rumah tangga adalah sesuatu yang biasa. Tidak mungkin juga Anda menyamakan pendapat Anda dengan pasangan. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah mencari jalan tengah dan berusaha menerima perbedaan tersebut.

15. Menyadari Bahwa Hidup Sementara 

Masalah yang datang di kehidupan, entah itu masalah rumah tangga ataupun lainnya hendaknya tidak dipandang terlalu serius. Yang ada malah Anda jadi stress. Pahamilah bahwa hidup cuma sementara. Apabila ditimpa musibah maka kembalikan pada Allah ta’ala. Anda juga tidak perlu membeci orang lain (sekalipun dia memang salah) secara berlebihan.

16. Sabar dan Ikhlas 

Kunci untuk mengatasi masalah rumah tangga secara islam berikutnya adalah menerapkan sabar dan ikhlas. Kedua sikap ini memang tidak mudah. Tapi jika Anda mampu bersabar atas perkara yang menimpa maka kelak Allah akan mendatangkan kebahagiaan dan pahala.

17. Bersikap Jujur 

Cara terakhir adalah bersikap jujur. Ketika ada masalah jangan malah berbohong hanya demi menghindari amarah pasangan. Lebih baik berkata jujur. Jujur itu adalah sifat yang disukai oleh Allah Ta’ala dan bisa mempermudah penyelesaian masalah.

Demikianlah beberapa cara mengatasi masalah rumah tangga dalam islam. Semoga info ini bisa bermanfaat bagi Anda dan kita semua. Sehingga bisa menjadikan pernikahan jadi lebih damai, bahagia dalam Islam, keluarga sakinah dalam Islam, keluarga harmonis menurut Islam, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin....

Semoga bermanfaat ....


ONE DAY ONE HADITS

Rabu, 25 Oktober 2023 M / 10 Rabi'ul Akhir 1445 H.

Ketentraman Rumah Tangga

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ سَمِعْتُ دُعَاءَكَ اللَّيْلَةَ، فَكَانَ الَّذِي وَصَلَ إِلَيَّ مِنْهُ أَنَّكَ تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي. قَالَ: فَهَلْ تَرَاهُنَّ تَرَكْنَ شَيْئًا. (رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, “Sesungguhnya ada seseorang berkata kepada Rasûlullâh ﷺ; Wahai Rasûlullâh, saya mendengar do'amu tadi malam, maka do'a yang sampai kepadaku adalah engkau mengucapkan: 'Ya Allah, ampuni dosa saya, berilah saya rasa kelapangan di rumah saya sendiri, dan berkatilah rezeki saya.' Kemudian Rasûlullâh ﷺ bersabda: ‘Apakah kamu melihat kalimat-kalimat do'a tersebut meninggalkan sesuatu?.” (HR. Imam At-Tirmidzi).

Beberapa pelajaran yang terdapat didalam Hadits diatas :

1. Kelapangan di rumah itu bukan berarti rumah kita harus luas. Luasnya rumah tidak menjamin kebahagian dan ketentraman rumah tangga. Oleh karena itu, keluasan di sini bermakna ketentraman, istri shalihah atau suami shaleh, anak pun demikian.

2. Walaupun rumah sempit, tetapi kalau hati kita tenang, rumah itu terasa begitu luas.

3. Do'a dapat memperlancar usaha dan kerja keras untuk mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Karena dengan do'a saja tidak cukup untuk menggapai rumah tangga bahagia.

4. Berikut beberapa usaha yang perlu dilakukan untuk mengawetkan rumah tangga bahagia, diantaranya:

1) Pahami Kekurangan.

Pasangan baru harus lebih menerima kekurangan masing-masing. Misalnya, dalam pekerjaan posisi dan kedudukan belum mapan di usia ini bahu membahulah, dengan izin-Nya akan didapatkan rezeki dari jalan yang tidak terduga. 

2) Ciptakan Keteladanan.

Ayah dan Ibu menjadi patron dalam kehidupan keluarga. Kurangi kata-kata dan perintah, perbanyaklah tindakan dan contoh (keteladanan).

3) Komunikasi Lancar.

Saat menghadapi masalah apapun, pasangan harus bisa menjadi solusi. Istri harus berperan sebagai air kehidupan, dan sebaliknya. Kuncinya, lakukan komunikasi positif secara intens dan terbuka.

4) Berikan Nafkah Batin.

Nafkah batin merupakan kebutuhan dasar selain nafkah lahir. Saling memenuhi kebutuhan tersebut merupakan pilihan terbaik untuk merawat kelanggengan rumah tangga. 

5) Saling Menguatkan.

Pasangan adalah supporter utama dalam hidup. Tak perlu curhat kepada orang lain, tetapi cukup kepada pasangan sehingga saling menguatkan.

6) Tujuan Pernikahan

Ingat selalu tujuan bersama dari pernikahan Anda. Maka, hadapi segala masalah dan tantangan dalam hidup dengan pandangan yang positif. Dan, jangan lupakan konsekuensi atas apa yang telah disepakati bersama.

7) Selalu Berdo'a.

Berdo'a dan memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk keutuhan dan ketentraman rumah tangga sebagaimana hadits di atas:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي.

(Allahummaghfirlii Dzanbii Wa Wassi'lii Fii Daarii Wa Baariklii Fiimaa Razaqtanii).

Artinya :

”Ya Allah, ampuni dosa saya, berilah saya rasa kelapangan di rumah saya sendiri, dan berkatilah rezeki saya.”

Tema Hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur'an :

1. Selain do'a tersebut di atas iringi juga dengan teks do'a sebagaimana tersebut dalam al-Qur'an;

رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ۞

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan (istri-istri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan : 74).

2. Dalam Al-Qur'an dijelaskan bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar diberikan keturunan yang ahli dalam mendirikan shalat;

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ ۞

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku." (QS. Ibrahim : 40).

3. Dan tidak lupa pula Nabi Ibrahim alaihissalam berdo'a untuk memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk dirinya dan kedua orang tuanya;

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ۞

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Ibrahim : 41).

KEUTAMAAN MENJADI SEORANG ISTRI

Edisi Selasa, 24 Oktober 2023 M / 9 Rabi'ul Akhir 1445 H.

Istri adalah seseorang yang menjadi pendamping suami di kala susah dan senang sekaligus sebagai seorang pengatur dan pemeran utama dan keluarga. Menjadi seorang istri adalah kenikmatan yang sangat indah tiada tara sebab di dalamnya tersimpan berbagai jalan luas untuk beribadah dan mencari jalan surga melalui ridho suami. Menjadi istri tentu adalah impian setiap wanita, tentu tidak ada yang menginginkan untuk terus menerus berada dalam kesendirian dan kesepian di sepanjang hidupnya.

Berikut ini 17 keutamaan menjadi seorang istri yang mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai wawasan islami yang bermanfaat untuk kita semua umat muslim terutama para istri agar selalu bersyukur dalam menjalani anugrah kehidupan yang diberi Allah ini yakni mendapat cinta dan kasih sayang. 

1. Jalan Untuk Bersyukur 

Tidak semua wanita mendapat kesempatan menjadi seorang istri, diantara kita yang kini telah menjadi seorang istri tentu wajib bersyukur dengan cara melakukan yang terbaik sesuai tanggung jawab sebagai istri. keutamaan bersyukur dalam islam akan menjadikan tugas dan tanggung jawab sebagai istri terasa lebih indah. “Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan jaga dirinya dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dirinya.” (H.R Bukhari dan Muslim).

2. Tanggung Jawab yang Mulia 

“Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Seorang istri adalah seorang pemimpin di rumahnya yang juga memiliki keutamaan menjadi pimpinan dan nantinya juga akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang diajarkan pada anak anaknya dan tentu saja atas bagaimana ia mengabdi kepada suaminya.

Tanggung jawab tersebut ialah tanggung jawab yang mulia yang merupakan salah satu keutamaan menjadi seorang istri karena memiliki kesempatan untuk melakukan amalan terbaik yakni amalan yang tidak hanya mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan hati tetapi juga mendatangkan sebuah pahala yang luar biasa.

3. Jalan untuk Menjaga Diri 

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),  dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.  Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An Nisa’: 34).

Jelas dari ayat tersebut bahwa seorang istri diberi jalan oleh Allah untuk melakukan tanggung jawab yang mulia serta mendapat kesempatan memiliki sifat keutamaan istri yang sabar karena menjaga diri sebaik mungkin demi suaminya.

4. Lebih Khusu’ dalam Beribadah 

Menjadi seorang istri yang berada di rumah adalah sebuah kebahagiaan karena mampu menjalankan ibadah di rumah sehingga terbebas dari rasa khawatir dan godaan serta dapat memanjatkan keutamaan doa istri untuk suami dengan lebih mendalam.

"Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (H.R Abu Dawud).

5. Menjadi Perhiasan Terindah 

Seorang istri yang sholehah yang mampu melakukan yang terbaik untuk suaminya akan menjadi perhiasan terindah bagi suaminya di dunia dan di akherat kelak karena ia mampu bekerja sama dengan suaminya untuk berjuang dalam kebaikan serta memiliki keutamaan menjadi ibu dalam islam. “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467).

6. Pusat Kebahagiaan Suami 

Keutamaan menjadi seorang istri ialah memiliki kesempatan untuk menjadi pusat bagi kebahagiaan bagi suaminya jika ia mampu berbakti dan menyenangkan suami. “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417).

7. Penyejuk Hati Suami 

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, ….” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302).

Seorang istri tentu menjadi sosok yang bahagia karena bisa menjadi penyejuk bagi hati suami, seseorang yang sanagt dicintai dan ingin dibahagiakan, serta ingin untuk hidup bersama dunia dan akherat.

8. Penolong Suami di Akherat 

Seorang istri yang sholeh kelak akan menjadi penolong bagi suaminya di akherat karena merupakan kebahagiaan bahwa suami mampu mengarahkannya dengan baik. “Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856).

9. Pahala Berpuasa Setahun 

Apabila istri menyediakan Air kemudian diminum oleh suaminya maka akan lebih baik dari pada berpuasa setahun. Pahala tersebut tentu diberikan Allah jika sang istri mampu melakukan segala tugasnya dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan kesabaran. Sungguh ladang amal yang sangat luas dan berharga.

10. Amalan Lebih dari Haji dan Umroh 

Keutamaan lain menjadi seorang istri adalah memiliki pahala luar biasa yaitu apabila istri menyediakan makananan untuk suaminya maka akan lebih baik daripada istri itu mengerjakan haji dan umroh. Tentu semua wanita menginginkannya, selain mendapat kasih sayang dan kebahagiaan, juga mendapat pahala luar biasa, wanita mana yang menolaknya?

11. Memiliki Pahala Seperti Sedekah 

Ketika istri melakukan Mandi Junub yang disebabkan jimak oleh suaminya maka lebih baik baginya daripada mengorbankan 1.000 ekor Kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin. Seorang istri yang melayani suaminya dengan penuh kasih sayang ketika berhubungan dan mandi junub setelahnya dianggap sebagai sedekah. Subhanallah.

12. Jalan Jihad 

Apabila isteri Hamil maka ia dicatatkan sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad. Istri yang hamil memang dijamin memiliki jalan kebaikan yang banyak karena masa kehamilan adalah masa perjuangan bagi sang istri dimana sang istri melakukan dan menjalani perjalanan kehamilannya dengan sabar hingga bersedia mengorbankan  nyawanya sendiri.

13. Tidak Terputus Pahala Kebaikannya 

Apabila Seorang istri selalu menggembirakan hati suaminya setiap saat ketika siang dan malam maka Tidak akan putus Pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jelas dari cuplikan hadist tersebut bahwa istri akan selalu mendapat pahala dari waktu ke waktu tanpa terputus jika ia sepanjang hari mampu melakukan yang terbaik dan memberi kebahagiaan yang terbaik pula untuk suaminya.

14. Masuk dari Pintu Surga Manapun Sesuai Kemauannya 

Apabila Seseorang wanita apabila ia mengerjakan shalat yang difardhukan , serta berpuasa pada bulan ramadhan, dan Menjaga Kehormatan Dirinya Dan taat kepada suaminya maka berhaklah ia masuk surga dari mana – mana pintu yang ia suka. hal itu merupakan jaminan dan hadiah dari Allah untuk istri istri yang sholehah.

15. Keberuntungan Bagi Laki Laki 

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. al-Bukhari no. 5090).

Laki laki yang beruntung tentu adalah laki laki yang memiliki istri yang sholehah karena mampu menjaga diri dan mampu mengabdi sebaik mungkin untuk suami.

16. Puncak Keinginan Suami 

“Yang sepatutnya bagi seorang yang beragama dan memiliki muruah (adab) untuk menjadikan agama sebagai petunjuk pandangannya dalam segala sesuatu terlebih lagi dalam suatu perkara yang akan tinggal lama bersamanya (istri). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendapatkan seorang wanita yang memiliki agama di mana hal ini merupakan puncak keinginannya.” (Fathul Bari, 9/164).

Kebahagiaan terbesar bagi seorang suami ialah seorang istri yang mampu mengabdi kepadanya, mampu berjuang bersama, dan mampu menerima dirinya apa adanya hal itu adalah sebuah keutamaan menjadi seorang istri dimana seorang istri memiliki kesempatan untuk menjadi sosok tersebut di mata suami. Tentu kesempatan untuk beramal yang tak boleh di sia siakan.

17. Jalan untuk Sukses Dunia Akherat 

“Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Wanita salihah adalah yang taat,’ yakni taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.’ Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 177).

Keutamaan menjadi seorang istri ialah memiliki jalan untuk menjalankan ketaatan dengan cara menjalankan perintah yang sesuai dengan syariat islam dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada di rumah atau tidak sedang bersama suami. Tentu menjadi sesuatu yang sangat nikmat, selain memiliki kebahagiaan, juga memiliki pahala yang luar biasa, tidak ada wanita yag rela melewatkannya.

Demikian artikel kali ini, jangan lupa bersyukur bagi anda yang sudah menjadii istri karena memiliki jalan luas untuk beribadah dan bagi anda yang belum menjadi seorang istri semoga segera diberi jalan terbaik oleh Allah. Terima kasih sudah membaca.

Semoga bermanfaat...


ONE DAY ONE HADITS

Selasa, 24 Oktober 2023 M / 9 Rabi'ul Akhir 1445 H.

Untuk Para Istri

عَنِ الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ " قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: " كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ " قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: " فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

"Dari Al Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun bertanya kepadanya: "Apakah kamu mempunyai suami?" ia menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi: "Bagaimana engkau baginya?" ia menjawab, "Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup." Beliau bersabda: "Perhatikanlah, akan posisimu terhadapnya. Sesungguhnya suamimu adalah yang menentukan surga dan nerakamu (dengan keridhaannya terhadapmu atau ketidak sukaannya terhadapmu)." [HR. Ahmad 31/341 no.19003].

Pelajaran yang terdapat didalam Hadist diatas :

1. Hadits ini tidaklah bermaksud keridhoan semua jenis suami dan sikap apapun yang mengantar kepada keridhoan suami, sebab tidak semua suami adalah suami yang mentaati Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, apabila seorang suami adalah orang yang tidak taat kepada Allah Ta'ala dan ia memerintahkan istrinya untuk tidak mentaati Allah Ta'ala maka kala itu ketaatan kepada Allah Ta'ala lebih diutamakan daripada ketaatan kepada suami, dan mengharap ridho Allah Ta'ala harus lebih diutamakan dibanding mengharap ridho suami. 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فيِ المَعْرُوفُ

"Sesungguhnya ketaatan hanya pada perkara yang baik." (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no.1840).

2. Perkara yang baik di sini adalah perkara yang diperintahkan oleh syariat dan perkara yang tidak menyelisihi syariat.

3. Apabila seorang suami adalah seorang yang ahli maksiat dan suaminya ridho terhadap istrinya, maka istri yang ikut mendukung suaminya berbuat maksiat tidak akan mengantarkannya ke surganya Allah Subhanahu Wa Ta'ala justru akan mengantarkan ke neraka.

4. Dari kasus diatas, pentingnya amar ma'ruf nahi mungkar ditumbuhkan ditengah keluarga sehingga muncul baiti dakwati (rumahku lahan dakwahku) untuk menuju sakinah, mawadah wa rahmah.

Tema Hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur'an :

Karakter istri yang shalehah

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ

"Sebab itu maka wanita yang shalehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." [QS. An-Nisa : 34].

Senin, 23 Oktober 2023

PAHALA MERAWAT ANAK MENURUT ISLAM

Edisi Senin, 23 Oktober 2023 M / 8 Rabi'ul Akhir 1445 H.

Menjadi orang tua dan memiliki keutamaan orang tua tentu sebuah anugrah, selain memiliki sosok pelengkap dalam keluarga, juga mampu menghadirkan kasih sayang dan menjadi motivasi untuk bekerja keras demi memberikan penghidupan yang terbaik untuknya. Oleh karena itu merawat anak tidak hanya mendapat kebahagiaan dari sisi nurani saja, namun juga mendapat pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yakni ketika merawatnya dengan ikhlas dengan cara mengarahkan ke jalan Allah dan tidak mengeluh ketika menghadapi segala ujian seperti keutamaan memiliki anak perempuan dalam islam.

Kewajiban orang tua adalah merawat anaknya dengan cara memberi serta berusaha yang terbaik dalam kondisi apapun, orang tua sudah selayaknya mendahulukan kepentingan anaknya dan memberi rezeki yang halal pada anaknya serta bersabar dalam proses merawat anaknya hingga dewasa sehingga kelak bisa menjadi jalan pahala baginya di dunia dan di akherat, sebab itulah jasa kedua orang tua amatlah mulia dan pantas jika Allah memberikan pahala yang besar karena orang tua telah begitu banyak berkorban untuk anak anaknya. Jadi, jangan lupa untuk berbakti kepada kedua orang tua dan jangan lupa untuk menjadi orang tua yang baik yang bisa merawat anak secara syariat islam dan menjadi orang tua yang pantas menjadi teladan untuk anaknya.

Berikut ini adalah 17 Pahala Merawat Anak Menurut Islam :

1. Penghalang dari jenis neraka dalam islam 

Dari Aisyah Radhiyallahu'anha berkata , ‘Saya pernah dikunjungi oleh seorang perempuan yang mempunyai dua orang anak perempuan. Kemudian, perempuan tersebut meminta makanan kepada saya. Sayangnya, saat itu, saya sedang tidak mempunyai makanan, kecuali sebiji kurma yang langsung saya berikan kepadanya. Kemudian perempuan itu menerimanya dengan senang hati, dan membagikannya kepada dua anak perempuannya tanpa sedikitpun ia makan. Setelah itu, perempuan itu bersama dua orang anak perempuannya pergi.

Tidak lama kemudian, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam masuk ke dalam rumah. Lalu, saya menceritakan kepada Rasulullah tentang perempuan dan kedua anak perempuan tadi. Mendengar cerita ini, Rasulullah Shallallahu alaihu wasallam bersabda, “Barang siapa diuji dalam pengasuhan anak-anak perempuan, lalu ia dapat mengasuh mereka dengan baik, maka anak perempuannya itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka kelak.” (HR. Muslim).

2. Mendapat Syafaat di Hari kiamat menurut islam 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, ‘Barang siapa dapat mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, maka aku akan bersamanya di hari Kiamat kelak.’ Beliau merapatkan kedua jarinya.” (HR. Muslim).

3. Pahala Memberi Penghidupan sebagaimana pahala bekerja dalam islam 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)” (HR. Muslim).

4. Pahala Bekerja Keras untuk Keluarga 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), bahkan untuk makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari).

5. Pahala Menyayangi 

Jabir bin Abdillah Radhiyallahu'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “…para istri memiliki hak atas kalian (para suami) untuk dipenuhi rezekinya dan kebutuhan sandangnya dengan cara yang baik.” (HR Muslim). Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Apabila Allah memberikan kebaikan kepada salah seorang diantara kalian, hendaklah dia memulai dari dirinya dan keluarganya (dalam pengalokasiannya).” (HR Muslim).

6. Pahala Bagi Ibu Yang Merawat dengan Menyusui 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli warispun berkewajiban demikian.

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS al-Baqarah : 233].

7. Mendapat Ampunan Dosa Dosa 

Tak ada seorangpun perempuan yang hamil dari suaminya, kecuali ia berada dalam naungan Allah azza wa jalla, sampai ia merasakan sakit karena melahirkan, dan setiap rasa sakit yang ia rasakan pahalanya seperti memerdekakan seorang budak yang mukmin. Jika ia telah melahirkan anaknya dan menyusuinya, maka tak ada setetes pun air susu yang diisap oleh anaknya kecuali ia akan menjadi cahaya yang memancar di hadapannya kelak di hari kiamat, yang menakjubkan setiap orang yang melihatnya dari umat terdahulu hingga yang belakangan. Selain itu ia dicatat sebagai seorang yang berpuasa, dan sekiranya puasa itu tanpa berbuka niscaya pahalanya dicatat seperti pahala puasa dan qiyamul lail sepanjang masa. Ketika ia menyapih anaknya Allah Yang Maha Agung sebutan-Nya berfirman: ‘Wahai perempuan, Aku telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu, maka perbaruilah amalmu’.” (Mustadrak Al-Wasail 2: bab 47, hlm 623).

8. Menjadi Orang Tua yang Sempurna 

“Syaikhul Islam Ibnu taimiyah menegaskan, ‘Bahkan jika si ibu masih menjadi istri dari suaminya, si ibu wajib menyusui anaknya’ dan apa yang disampaikan oleh Syaikhul islam adalah pendapat yang benar. Kecuali jika si ibu dan si bapak merelakan untuk disusukan orang lain, hukumnya boleh. Namun jika suami menyuruh: ‘Tidak boleh ada yang menyusuinya kecuali kamu’ maka wajib bagi istri untuk menyusuinya.

Meskipun ada orang lain yang mau menyusuinya atau meskipun si bayi mau mengkonsumsi susu formula. Selama suami menyuruh, ‘Kamu harus menyusui anak ini’ maka hukumnya wajib bagi istri. Karena suami berkewajiban menanggung nafkah, dan status nafkah – seperti yang telah kami jelaskan – merupakan timbal balik dari ikatan suami istri dan persusuan.” (asy-Syarhul Mumthi’, 13/517).

9. Pahala Melakukan Tanggung Jawab 

“Kalian semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadap bawahan yang kalian pimpin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

10. Pahala Seperti Memerdekakan Budak 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ketika seorang wanita menyusui anaknya, Allah membalas setiap isapan air susu yang diisap anak dengan pahala memerdekakan seorang budak dari keturunan Nabi Ismail, dan manakala wanita itu selesai menyusui anaknya malaikat pun meletakkan tangannya ke atas sisi wanita itu seraya berkata, ‘Mulailah hidup dari baru, karena Allah telah mengampuni semua dosa-dosamu.’”

11. Pahala Amal Jariyah Ketika Anaknya Sholeh 

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam disebutkan bahwa “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh”

12. Pahala Mengajarkan Kebaikan 

“Siapa menyeru kepada petunjuk, ia mendapatkan pahalanya seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan siapa yang menyeru kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa seperti dosa yang didapatkan pengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim).

13. Kebaikan di Akherat 

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seoang hamba sholeh di surga, lalu ia berkata: Wahai Tuhanku, darimana aku dapatkan semua ini? Kemudian Allah menjawab: Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad).

14. Mendapat Derajat Tinggi 

“Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan” ( AthThuur : 21). kemudian beliau berkata: dan kami tidak mengurangi dari bapak-bapak mereka apa yang kami berikan kepada anak mereka”

15. Mendapat Kedudukan di Surga 

“Mereka yang disebut ini (anak-keturunan), maka Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua/kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya (kedudukan anak lebih rendah dari orang tua), sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. Akan tetapi dengan hal ini, Allah tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun” Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy.

16. Dimuliakan Oleh Allah 

Jelas dari berbagai ayat Al Qur’an dan hadits bahwa wanita selalu dimuliakan dan dilindungi, hal tersebut berlaku sejak kecil, selama masa dewasa, juga setelah anak perempuan tersebut berkeluarga. Sungguh pahala memiliki anak perempuan dalam islam ialah orang tuanya akan menjadi hamba yang beruntung sebab pintu amalan kebaikan terbuka dengan lebar dan dimuliakan oleh Allah. 

17. Pelindung di Hari Kiamat 

“Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan dan minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi pelindungnya pada hari kiamat”. (HR Ibnu Majah). Jelas dari hadits tersebut bahwa seseorang yang dianugrahi Allah 3 anak perempuan dan bersabar dalam mengurusnya serta bekerja keras untuk mendidiknya menjadi anak sholehah, kelak akan dilindungi ketika hari kiamat sebab kebaikannya pada ketiga anaknya. itulah salah satu perlindungan ketika hari kiamat menurut islam.

Demikian yang dapat disampaikan, semoga menjadi wawasan dan menambah semangat kita semua untuk membesarkan serta merawat anak dengan sungguh sungguh sesuai syariat islam.

Semoga bermanfaat...


ONE DAY ONE HADITS 

Senin, 23 Oktober 2023 M / 8 Rabi'ul Akhir 1445 H. 

Hukum Orang Tua yang Menyia-menyiakan Kepada Anak 

عن عبد الله بن عمرو بن العاص-رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله ﷺ: كفى بالمرء إثماً أن يضيّع من يَقُوت[حديث صحيح رواه أبو داود وغيره، ورواه مسلم].

Dari Abdullah bin Amr bin Al 'as radhiAllah anhuma berkata, bersabda Rasulullah sallahu alaihi wa salam :

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya,” (Hadits shahih Riwayat Abu Daud dan yang lainnya dan juga HR. Muslim).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits : 

1- Hanya anak yang bisa durhaka pada orang tua. Tapi, bisa juga berlaku sebaliknya, bahwa ada orang tua yang menyia-menyiakan kepada anak, jika melakukan perilaku yang termasuk dosa orang tua terhadap anak yang dibenci Allah Subhanahu wa ta'ala.

2- Beragam kasus menyeruak ke permukaan tentang perbuatan buruk orang tua pada anak ini di masyarakat kita saat ini. Sebut saja kasus ibu membuang anaknya, orang tua yang tega menyiksa anak, menelantarkan, hingga kasus berat memperkosa anak. Kasus-kasus seperti itu, bahkan semakin marak.

3- Salah satu yang kadang tidak terasa adalah dengan menyia-nyiakan keberadaan anak yang sudah menjadi tanggung jawab bagi orang tua.

Pembinaan dan pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua.

Bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam memberi tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada orang tua.

Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu radhiallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

4- Menyia-nyiakan anak yang paling parah adalah membiarkannya begitu saja tanpa diberikan nafkah dan pendidikan serta tidak mengajarkannya adab Islam.

5- Padahal, menjadi orang tua yang baik tidak hanya dengan memberikan kebutuhan sandang dan pangan serta rumah saja.

6- Cukup seseorang itu dikatakan berdosa artinya, cukup baginya dosa besar. Sebagai mana rasul bersabda cukup bagi seseorang dusta dia berkata apa yang ia dengar, ini menunjukkan ancaman yang keras dan dosa besar bagi seseorang berkata setiap apa yang ia dengar. 

7- Jadi hukum orang tua yang menyia-menyiakan kepada anak termasuk dosa besar. 

Tema hadits yang berkaitan dengan al quran : 

1- Hadis di atas menyatakan kewajiban nafkah berupa makanan. Namun demikian, yang wajib bukan hanya makanan, tetapi semua kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya untuk hidup secara ma’ruf (layak) sesuai kelayakan di masyarakat. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

…وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ …

Kewajiban ayah untuk memberi makan dan pakaian kepada para ibu secara layak. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya (QS al-Baqarah [2]: 233).

أَسۡكِنُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ سَكَنتُم مِّن وُجۡدِكُمۡ 

Tempatkanlah mereka (para istri) di tempat kalian tinggal menurut kemampuan kalian (QS ath-Thalaq [65]: 6).

2-  Dalam Islam, orang tua diberi tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anaknya dengan baik.

Sebab, anak lahir dalam keadaan yang belum mengetahui apa-apa dan tugas besar menanti para orang tua untuk membimbing anak-anaknya dengan baik.

Dalam Alquran Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS At Tahrim: 6)