Minggu, 06 Maret 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN ADZAN

Edisi Senin, 7 Maret 2022 M / 4 Sya'ban 1443 H. 

Adzan merupakan pertanda masuknya waktu shalat. Berbeda dengan umat agama lain yang memiliki tanda-tanda tertentu, Islam lebih memilih adzan sebagai tanda. Dahulu, pada masa Rasul Shallallahu alaihi Wassalam, para sahabat berpikir untuk membuat tanda masuk waktunya shalat. Setelah beberapa pendapat diungkapkan, akhirnya Rasul memilih adzan. Azan pertama kali dilakukan oleh sahabat Bilal bin Rabah. Dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji ala Madzhabil Imamis Syafi’i karya Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha dijelaskan bahwa hukum adzan adalah sunah.

Adzan mulai disyariatkan pada tahun pertama hijrah Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam ke Madinah, sebagian ulama menyatakan pada tahun kedua hijriah.

Kalimat Adzan telah Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam ajarkan kepada para sahabat. Adapun sahabat Bilal saat adzan Subuh mengumandangkan ‘as-shalatu khairun minan nawm’, adalah direstui Nabi yang ketika itu memang masih hidup.

Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang membicarakan tentang adzan :

1. Doa antara adzan dan iqamah tidak akan tertolak 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda: "Tidak akan tertolak doa antara adzan dan iqamah." (H.R. Abu Daud no. 521).

2. Sikap setan apabila mendengar adzan 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتّٰى لَا يَسْمَعَ صَوْتَهُ فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتّٰى لَا يَسْمَعَ صَوْتَهُ فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam, beliau bersabda, "Setan apabila mendengar adzan, maka kentut akan membuatnya lari terbirit-birit sehingga tidak mendengar suaranya lagi. Setelah adzan selesai, dia kembali lagi untuk mengganggu. Begitu juga apabila mendengar iqamat. Dia akan lari sehingga tidak mendengarnya lagi, dan apabila iqamat selesai, dia kembali sekali lagi untuk mengganggu." (H.R. Muslim no. 882).

3. Antara dua adzan ada shalat 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

dari 'Abdullah bin Mughaffal berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda: Antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah). Antara dua adzan ada sholat (sunah). Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: Bagi yang mau. (H.R. Bukhari no. 627).

4. Adzan Dan Shaf Awal 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ لَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا. رَوَاهُ اْلبُخَارِىُّ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda: "Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukannya. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat 'Isya dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak." (H.R. Bukhari no. 615).

5. Asal Usul Adzan Untuk Shalat 

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُوْلُ كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ حِيْنَ قَدِمُوا الْمَدِيْنَةَ يَجْتَمِعُوْنَ فَيَتَحَيَّنُوْنَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوْا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوْا نَاقُوْسًا مِثْلَ نَاقُوْسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوْقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُوْدِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُوْنَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ

Bahwanya Ibnu 'Umar berkata, Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana kaum Yahudi. Maka Umar pun berkata : Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat? Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam kemudian bersabda: Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat. (H.R. Bukhari no. 604).

6. Adzan dan Iqamah Saat Bayi Lahir 

عن عبيد الله بن أبى رافع عن أبيه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن فى أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة (سنن أبي داود رقم (444) 

Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ radhiyallahu anhu Dari ayahnya, ia berkata: aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali ketika Siti Fatimah melahirkannya (yakni) dengan adzan shalat. (Sunan Abu Dawud: 444).

7. Adzan Hari Jum'at Sebelum Khatib Naik Mimbar 

عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ يَقُوْلُ إِنَّ الْأَذَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ أَوَّلُهُ حِيْنَ يَجْلِسُ اْلإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ فِى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَلَمَّا كَانَ فِى خِلاَفَةِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَثُرُوْا ، أَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِالْأَذَانِ الثَّالِثِ ، فَأُذِّنَ بِهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ ، فَثَبَتَ الأَمْرُ عَلىٰ ذٰلِكَ

Dari Az-Zuhri berkata, Aku mendengar As-Sa'ib bin Yazid berkata : Pada mulanya adzan pada hari Jum'at dikumandangkan ketika Imam sudah duduk di atas mimbar. Yaitu pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhu Maka pada masa Khilafah Utsman bin Affan ra ketika manusia sudah semakin banyak, maka pada hari Jum'at dia mememerintahkan adzan yang ketiga (adzan yang dilakukan sebelum khatib naik mimbar). Sehingga dikumandangkanlah adzan (ketiga) tersebut di Az-Zaura' (nama pasar). Kemudian berlakulah urusan tersebut menjadi ketetapan (sampai sekarang). (H.R. Bukhari no. 916).

8. Boleh Orang Yang Adzan dan Iqamah Berlainan Orang 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَرَادَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِىَ عَبْدُ اللهِ بْنُ زَيْدٍ الأَذَانَ فِى الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ. فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ فَأَذَّنَ بِلاَلٌ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ أَنَا رَأَيْتُهُ وَأَنَا كُنْتُ أُرِيْدُهُ قَالَ فَأَقِمْ أَنْتَ

Dari Abdullah bin Zaid, ia berkata : Nabi ingin melakukan beberapa hal dalam adzan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Kemudian Abdullah bin Zaid diperlihatkan kalimat adzan melalui mimpinya. Lalu Abdullah bergegas mendatangi Nabi Shallallahu alaihi Wassalam dan memberitahukannya. Maka Nabi pun bersabda : Berikan adzan itu kepada Bilal. Abdulah pun memberikan kepada Bilal. Bilal pun melaksanakan adzan. Abdullah bin Zaid berkata :  Saya melihat dalam mimpi bahwa saya menginginkan iqamah. Beliau bersabda : Kumandangkanlah iqamah.  (H.R. Abu Daud no. 512, Daruqthni no. 974).

9. Disunnahkan Orang Yang Adzan Berwudhu 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤَذِّنُ إِلاَّ مُتَوَضِّئٌ

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Janganlah menyerukan adzan kecuali orang yang telah berwudhu. (H.R. Tirmidzi no. 200, Baihaqi no. 1932).

10. Shalat Hari Raya Tanpa Adzan Dan Iqamah 

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Dari Jabir bin Samurah ia berkata : Saya telah menunaikan shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam tidak hanya sekali atau dua kali (lebih dari dua kali), yakni (beliau menunaikannya) tanpa adzan dan iqamah. (H.R. Muslim no. 2088).

11. Posisi Leher Ketika Membaca Hayya Alash Shalah Dalam Adzan 

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِى جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ وَهُوَ فِى قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ فَخَرَجَ بِلاَلٌ فَأَذَّنَ فَكُنْتُ أَتَتَبَّعُ فَمَهُ هَا هُنَا وَهَا هُنَا. قَالَ ثُمَّ خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ بُرُوْدٌ يَمَانِيَةٌ قِطْرِىٌّ. وَقَالَ مُوسَى قَالَ رَأَيْتُ بِلَالًا خَرَجَ إِلَى الْأَبْطَحِ فَأَذَّنَ فَلَمَّا بَلَغَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ. لَوَى عُنُقَهُ يَمِيْنًا وَشِمَالًا وَلَمْ يَسْتَدِرْ ثُمَّ دَخَلَ فَأَخْرَجَ الْعَنَزَةَ وَسَاقَ حَدِيْثَهُ

Dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya dia berkata : Saya pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi Wassalam di Mekkah, dan beliau sedang berada dalam suatu Qubah berwarna merah dari kulit, lalu Bilal keluar, lalu adzan, sedang aku memperhatikan mulutnya yang mengarah ke kanan dan ke kiri. Abu Juhaifah berkata : Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam keluar dengan memakai pakaian merah, yaitu kain bergaris Yaman jenis buatan Qitr (kain ini biasanya diselimutkan untuk badan). Musa berkata : Saya pernah melihat Bilal keluar ke Abthah, lalu mengumandangkan adzan. Tatkala dia sampai pada kalimat hayya alash shalah, hayya alal falah, dia membelokkan lehernya ke kanan dan ke kiri, dan dia tidak memutar tubuhnya, kemudian dia masuk ke rumahnya dan keluar dengan tongkat. Lalu Musa menyebutkan hadits lengkapnya. (H.R. Abu Daud no. 520).

12. Memperlambat Adzan Dan Mempercepat Iqamah 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ يَا بِلاَلُ إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ فِى أَذَانِكَ وَإِذَا أَقَمْتَ فَاحْدُرْ وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اْلآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ وَالْمُعْتَصِرُ إِذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ وَلاَ تَقُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْنِى

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berkata kepada Bilal : Wahai Bilal, jika engkau adzan maka lambatkanlah adzanmu, dan jika engkau iqamat maka percepatlah. Jadikanlah jarak antara adzan dan iqamatmu sekadar dengan seorang yang makan hingga selesai makannya, orang yang minum hingga selesai minummnya, orang yang buang hajat dapat menyelesaikan hajatnya, dan janganlah berdiri hingga kalian melihatku. (H.R. Tirmidzi no.195, Baihaqi no. 2090 dan lainnya). 

13. Adzab Bilal dan Adzan Ibnu Ummi Maktum 

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ ثُمَّ قَالَ وَكَانَ رَجُلًا أَعْمَى لَا يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ

Dari Salim bin Abdullah dari Bapaknya, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan saat masih malam, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum. Perawi berkata : Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat yang buta, ia tidak akan mengumandangkan adzan (shubuh) hingga ada orang yang mengatakan kepadanya :  Sudah shubuh, sudah shubuh. (H.R. Bukhari no. 617).

14. Anjuran Bagi Orang Yang Adzan Maka Dialah Yang Iqamah 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ - يَعْنِى اَلْإِفْرِيْقِىَّ - أَنَّهُ سَمِعَ زِيَادَ بْنَ نُعَيْمٍ الْحَضْرَمِىَّ أَنَّهُ سَمِعَ زِيَادَ بْنَ الْحَارِثِ الصُّدَائِىَّ قَالَ لَمَّا كَانَ أَوَّلُ أَذَانِ الصُّبْحِ أَمَرَنِى - يَعْنِى النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذَّنْتُ فَجَعَلْتُ أَقُوْلُ أُقِيْمُ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى نَاحِيَةِ الْمَشْرِقِ إِلَى الْفَجْرِ فَيَقُولُ « لاَ ». حَتَّى إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ نَزَلَ فَبَرَزَ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَىَّ وَقَدْ تَلاَحَقَ أَصْحَابُهُ - يَعْنِى فَتَوَضَّأَ - فَأَرَادَ بِلاَلٌ أَنْ يُقِيْمَ فَقَالَ لَهُ نَبِىُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخَا صُدَاءٍ هُوَ أَذَّنَ وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيْمُ. قَالَ فَأَقَمْتُ

Dari Abdurrahman bin Ziyad  yakni Al-Afriqi bahwasanya dia telah mendengar Ziyad bin Nu'aim Al-Hadlrami bahwasanya dia telah mendengar Ziyad bin Al-Harits Ash-Shuda`iy dia berkata : Tatkala pertama kali dikumandangkan adzan Shubuh, menyuruhku yakni Nabi Shallallahu alaihi Wassalam, maka saya pun mengumandangkannya. Kemudian saya berkata : Apakah saya kumandangkan iqamat sekarang wahai Rasulullah? Maka beliau melihat ke ujung timur ke arah terbitnya fajar, lalu beliau berkata : Belum. Hingga tatkala fajar telah terbit, beliau turun dan berwudhu kemudian mendekatiku, dan para sahabat juga berwudhu. Lalu Bilal hendak mengumandangkan iqamat, maka Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Saudara kita dari Shuda` telah adzan, dan barang siapa yang adzan maka dialah yang iqamat. Dia berkata : Maka saya pun mengumandangkan iqamat. (H.R. Abu Daud no. 514, Baihaqi no. 1861).

15. Hadits keutamaan adzan dan shaf awal 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ لَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا. رواه البخارى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda: "Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukannya. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat 'Isya dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak." (H.R. Bukhari no. 615).

16. Hadits keutamaan doa setelah adzan 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اَللهم رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا نِ الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Barang siapa berdoa ketika mendengar adzan : ALLOOHUMMA HAADZIHID DA'WATIT TAAMMAH WASH SHOLAATIL QOO-IMAH AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH WAB'ATSHU MAQOOMAM MACHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH (Ya Allah, Tuhan dari seruan yang sempurna dan shalat yang akan didirikan (ini), sampaikanlah wasilah dan anugrah kemuliaan kepada Nabi Muhammad, dan tempatkanlah ia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan baginya), maka ia akan mendapat syafaatku pada hari kiamat. (H.R. Bukhari no. 614, Abu Daud no. 529 dan lainnya). 

17. Hadits Keutamaan Doa Setelah Adzan 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اَللهم رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًانِ الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Barangsiapa berdo'a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA'IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada 

kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah janjikan)'. Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat. (H.R. Bukhari no. 614).

Semoga bermanfaat....

Sabtu, 05 Maret 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN WUDHU

Edisi Ahad, 6 Maret 2022 M / 3 Sya'ban 1443 H. 

Wudhu atau bersuci dari hadats kecil merupakan syarat sah shalat. Tanpa bersuci dari hadats kecil, shalat yang dilakukan dalam situasi normal (bukan rukhsah) tidak sah karena tidak memenuhi syarat.

Wudhu disyariatkan pada malam Isra Mi’raj sebagaimana kewajiban shalat. Wudhu disyariatkan karena shalat merupakan munajat kepada Tuhan sehingga dibutuhkan keadaan badan yang suci. (Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami, Busyral Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim, [Beirut, Darul Fikr: 2012 M/1433-1434 H], juz I, halaman 53). 

Adapun berikut ini adalah dalil yang mendasari perintah wudhu sebelum shalat: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ 

Artinya, “Wahai orang yang beriman, bila kalian hendak shalat, basuhlah wajah kalian, tangan kalian hingga siku, usaplah kepala kalian, dan (basuhlah) kaki kalian hingga mata kaki,” (Surat Al-Maidah ayat 6).

Wudhu merupakan salah satu cara bersuci/an-nazhafah selain mandi. Sedangkan bersuci mencakup pengertian bersih dari kotoran meski tergolong suci baik secara lahir seperti ingus dan riak maupun kotoran batin seperti dengki, hasad, dan kotoran batin lainnya. (Sayyid Bakri, I’anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 36).

Berikut ini beberapa hadits-hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang berkaitan dengan wudhu :

1. Bekas air wudhu menjadi cahaya dihari kiamat 

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِيْ هِلَالٍ عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ رَقِيْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلىٰ ظَهْرِ الْمَسْجِدِ فَتَوَضَّأَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Dari Sa'id bin Abu Hilal dari Nu'aim bin Al-Mujmir berkata, "Aku mendaki masjid bersama Abu Hurairah, lalu dia berwudlu' dan berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudlu, barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan." (H.R. Bukhari no. 136).

2. Ngalap berkah dengan sisa air wudhu Rasulullah 

 عَنِ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ يَقُوْلُ ذَهَبَتْ بِيْ خَالَتِيْ إِلٰى رَسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِيْ وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِيْ وَدَعَا لِيْ بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوْئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلٰى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ

Dari Al-Ja'd bin Abdurrahman dia berkata; saya mendengar As-Sa`ib bin Yazid berkata ; Aku bersama bibiku menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lalu dia berkata ; Wahai Rasulullah, Sesungguhnya anak saudaraku ini sedang menderita sakit." Lalu beliau mengusap kepalaku dan mendo'akanku dengan keberkahan, setelah itu beliau berwudlu dan meminumkan kepadaku  sisa air wudlunya, sementara aku berdiri di belakang beliau maka aku sempat melihat stempel (kenabian) antara kedua pundak beliau seperti biji kancing. (H.R. Bukhari no. 6352).

3. Shalat sunah setelah wudhu 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِيْ بِأَرْجٰى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجٰى عِنْدِيْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذٰلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ قَالَ أَبُوْ عَبْدُ اللهِ دَفَّ نَعْلَيْكَ يَعْنِيْ تَحْرِيْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam berkata, kepada Bilal radhiyallahu anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga". Bilal berkata; "Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu') pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu' tersebut disamping shalat wajib". Berkata, (Abu 'Abdullah): Istilah "Daffa na'laika maksudnya gerakan sandal". (H.R. Bukhari no. 1149).

4. Berwudhu, Ke Masjid, Shalat, Diampuni Dosa 

عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ بِطَهُوْرٍ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْمَقَاعِدِ فَتَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَهُوَ فِي هٰذَا الْمَجْلِسِ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ هٰذَا الْوُضُوْءِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَغْتَرُّوْا

Utsman bin 'Affan ketika sedang bersuci, dia duduk di atas bangku lalu berwudlu' dengan membaguskan wudlu'nya, kemudian dia berkata; "Saya pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wasallam berwudlu di tempat ini, beliau membaguskan wudlu'nya lalu beliau bersabda: 'Barangsiapa berwudlu seperti ini kemudian mendatangi masjid dan shalat dua raka'at, lalu duduk, maka akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu." Ustman berkata; Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: 'Dan janganlah kalian tertipu.' (H.R. Bukhari no. 6433).

5. Tidak menjawab salam ketika wudhu 

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلاَّ أَنِّى كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ

Dari Muhajir bin Qunfudz, bahwasanya ia memberi salam kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam saat beliau sedang wudhu, ketika itu Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak menjawab salamnya, namun setelah beliau selesai dari wudhunya, barulah beliau menjawab salamnya, lalu beliau bersabda : Sesungguhnya Tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu, melainkan aku tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci. (H.R. Ahmad no. 19550, Ibnu Majah no. 377).

6. Boleh membaca Al-Qur'an tanpa wudhu 

عَلَى عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ فَقَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِى الْخَلاَءَ فَيَقْضِى الْحَاجَةَ ثُمَّ يَخْرُجُ فَيَأْكُلُ مَعَنَا الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلاَ يَحْجُبُهُ عَنِ الْقُرْآنِ شَىْءٌ إِلاَّ الْجَنَابَةُ

Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memasuki kamar kecil untuk buang air besar, kemudian beliau keluar lalu makan roti dan daging bersama kami, setelah itu beliau membaca Al-Qur'an. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya membaca Al-Qur'an kecuali hadats besar. (H.R. Ibnu Majah no. 637).

7. Mengantuk tidak wudhu lagi bila shalat 

عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِىِّ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ أُقِيْمَتْ صَلاَةُ الْعِشَاءِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لِى حَاجَةً. فَقَامَ يُنَاجِيْهِ حَتَّى نَعَسَ الْقَوْمُ أَوْ بَعْضُ الْقَوْمِ ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ وَلَمْ يَذْكُرْ وُضُوْءًا

Dari Tsabit Al-Banani, bahwa Anas bin Malik pernah berkata : Setelah dibacakan iqamah shalat isya' ada seorang laki-laki berdiri seraya berkata : Hai Rasulullah, saya punya keperluan. Lalu beliau berdiri bermunajat kepada-Nya sehingga kaum atau sebagian kaum terkantuk-kantuk. Kemudian beliau shalat beserta mereka dan beliau tidak mengingatkan agar mereka berwudhu lagi. (H.R. Abu Daud no. 201).

8. Keutamaan menyempurnakan anggota wudhu 

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِيْ هِلَالٍ عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ رَقِيْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلىٰ ظَهْرِ الْمَسْجِدِ فَتَوَضَّأَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Dari Sa'id bin Abu Hilal dari Nu'aim bin Al-Mujmir berkata, "Aku mendaki masjid bersama Abu Hurairah, lalu dia berwudlu' dan berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudlu, barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan." (H.R. Bukhari no. 136).

9. Hadits keutamaan shalat setelah wudhu 

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ اْلإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتِى فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِىٍّ فَأَدْرَكْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Dari Uqbah bin Amir dia berkata : Dahulu kami menggembala unta, lalu datanglah malam, maka aku mengistirahatkannya dengan memberikan makan malam. Lalu aku mendapati Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdiri berbicara kepada manusia. Dan dari sebagian sabdanya yang aku dengar adalah: Tidaklah seorang muslim berwudlu lalu menyempurnakan wudlunya, kemudian mendirikan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya, kecuali surga wajib diberikan kepadanya. (H.R. Muslim no. 576).

10. Wudhu dapat membersihkan kesalahan dan dosa 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ  أَوِ الْمُؤْمِنُ  فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ - أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ - فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ - أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ - فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ - أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ - حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوْبِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Apabila seorang muslim atau mukmin berwudlu, lalu membasuh wajahnya, maka setiap kesalahan yang dilihat oleh kedua matanya akan keluar bersama dengan turunnya air wudlu, atau bersama akhir dari tetesan air. Apabila dia membasuh kedua tangannya, maka seluruh kesalahan kedua tangannya yang digunakan memukul akan keluar bersama dengan turunnya air wudlu, atau bersama akhir dari tetesan air. Apabila dia membasuh kedua kakinya, maka setiap kesalahan perjalanan kedua kakinya akan keluar bersama dengan turunnya air wudlu, atau bersama akhir dari tetesan air, hingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-doa.(H.R.Muslim no. 600).

11. Anjuran berwudhu setelah bangun tidur 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أُرَاهُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jika terbangun, seingatku beliau bersabda; seseorang dari kalian, dari tidurnya hendaklah dia berwudlu dan beristinsyar (memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya) karena setan tidur pada batang hidung orang itu. (H.R.Bukhari no. 3295).

12. Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu 

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ وَأَيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ فَرْجَهَا فَلْتَتَوَضَّأْ

Dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, berliau bersabda : Laki-laki manapun yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah berwudhu. Dan perempuan manapun yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah berwudhu. (H.R. Daruquthni no. 544, Baihaqi no. 652, Ahmad no. 7275).

13. Disunnahkan Orang Yang Adzan Berwudhu 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤَذِّنُ إِلاَّ مُتَوَضِّئٌ

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Janganlah menyerukan adzan kecuali orang yang telah berwudhu. (H.R. Tarmidzi no. 200, Baihaqi no. 1932).

14. Keutamaan Do’a Setelah Berwudhu 

وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلغُ  أَوْ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ قَالَ : أَشْهَدُ أنْ لَّا إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ . وَزَادَ التِّرْمِذِيُّ :  اَللهم اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhu Dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam Beliau bersabda: Tidaklah salah seorang diantara kamu berwudhu dengan sempurna, lalu membaca: ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOH, WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA ROSUULUH, kecuali dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, sehingga ia masuk dari pintu mana saja  yang ia kehendaki. Diriwayatkan Muslim. Dan Tirmidzi menambahkan: ALLOOHUMMAJ’ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOH HIRIIN. (Riyadush shalihin hal. 294)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَامِنْ عَبْدٍ وَلَا امْرَأَةٍ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ، ثُمَّ قَرَأَ بَعْدَهُ :( إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) إِلٰى آخِرِهَا، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالٰى بِكُلِّ حَرْفٍ مِنْهَا مِائَةَ دَرَجَةٍ، وَخَلَقَ اللهُ تَعَالٰى مِنْ كُلِّ قَطْرَةٍ قَطَرَتْ مِنْ وُضُوْئِهِ مَلَكًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ إِلٰى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang hamba ataupun wanita yang berwudhu lalu ia membaguskan wudhunya, kemudian membaca (INNAA ANZALNAAHU FII LAILATIL QODR) sampai akhirnya, kecuali Allah Ta'ala memberi dia setiap huruf seratus derajat, dan Allah Ta'ala memciptakan dari setiap tetes yang menetes dari wudhunya seorang malaikat yang memintakan ampun untuk dia sampai hari kiamat. (Tankihul Qoul Al-Hatsits, syarah lubabul hadits hal.38). 

15. Makan Daging Tidak Membatalkan Wudhu 

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي جَعْفَرُ بْنُ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ أَنَّ أَبَاهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ ذِرَاعًا يَحْتَزُّ مِنْهَا فَدُعِيَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَامَ فَطَرَحَ السِّكِّيْنَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Ja'far bin Amru bin Umayyah bahwanya bapaknya telah berkata : Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memakan daging paha lalu memotongnya. Kemudian beliau diserukan untuk shalat. Maka Beliau berdiri lalu meletakkan pisau kemudian shalat tanpa berwudlu lagi. (H.R. Bukhari no. 675).

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِىِّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ ، فَأَكَلَ مِنْهَا ، فَدُعِىَ إِلَى الصَّلاَةِ ، فَقَامَ فَطَرَحَ السِّكِّيْنَ فَصَلَّى ، وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Ja'far bin Amru bin Umayyah Adl-Dlamri dari Bapaknya ia berkata : Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memotong-motong pundak kambing dan memakannya. Ketika panggilan shalat tiba, beliau langsung meletakkan pisaunya lalu melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi. (H.R. Bukhari no.5422). 

16. Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudlu 

عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Dari Hammam bin Munabbih bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudlu. Seorang laki-laki dari Hadlramaut berkata : Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab : Kentut baik dengan suara atau tidak. (H.R. Bukhari no. 135).

17. Hadits keutamaan membaguskan wudhu 

عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ بِطَهُوْرٍ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْمَقَاعِدِ فَتَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَهُوَ فِي هٰذَا الْمَجْلِسِ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ هٰذَا الْوُضُوْءِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَغْتَرُّوْا

Utsman bin 'Affan ketika sedang bersuci, dia duduk di atas bangku lalu berwudlu' dengan membaguskan wudlu'nya, kemudian dia berkata; "Saya pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wasallam berwudlu di tempat ini, beliau membaguskan wudlu'nya lalu beliau bersabda: 'Barangsiapa berwudlu seperti ini kemudian mendatangi masjid dan shalat dua raka'at, lalu duduk, maka akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu." Ustman berkata; Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: 'Dan janganlah kalian tertipu.' (H.R. Bukhari no. 6433).

Semoga bermanfaat....

Jumat, 04 Maret 2022

17 KEUTAMAAN AIR WUDHU LUAR BIASA ISTIMEWA

Edisi Sabtu, 5 Maret 2022 M / 2 Sya'ban 1443 H. 

Wudhu sudah menjadi hal yang sangat dekat dengan umat muslim, sebab manjadi salah satu cara untuk bersuci saat akan menunaikan ibadah dalam agama islam. Wudhu juga menjadi cara yang suci sebelum menginjak sajadah dan memakai mukena, saat sholat atau melakukan ibadah suci dan menjadi salah satu sunnah sebelum tidur serta yang lain.

Wudhu merupakan salah satu cara bersuci selain mandi. Wudhu atau bersuci dari hadats kecil juga menjadi syarat sahnya shalat. Adapun dalil yang mendasari perintah wudhu sebelum shalat adalah surat al-Maidah ayat 6: 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ  

“Wahai orang yang beriman, bila kalian hendak shalat, basuhlah wajah kalian, tangan kalian hingga siku, usaplah kepala kalian, dan (basuhlah) kaki kalian hingga mata kaki,”

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam ternyata juga melakukan wudhu sebelum tidur dan menjadi kebiasaan baik serta membawa pengaruh yang baik juga untuk seseorang yang melakukannya.

Berikut ini ulasan selengkapnya mengenai keutamaan wudhu yang luar biasa istimewa sebelum tidur yang wajib anda ketahui. 

1.Di doakan oleh malaikat 

Melakukan wudhu sebelum tidur akan memberikan keutamaan berupa doa yang di panjatkan malaikat yang mengikutinya sehingga segala dosa yang di lakukan orang yang sudah berwudhu di malam hari akan di ampuni.

2. Mati dalam keadaan syahid di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Sesorang yang sudah berwudhu sebelum ia pergi tidur dan di saat ia meninggal atau mati, maka ia akan mati dalam keadaan syahid di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Dalam artian seseorang yang sudah melakukan wudhu pada malam sebelum tidur maka akan menapatkan posisi tinggi di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

3. Merileksasi otot 

Berwudhu sebelum tidur juga berguna untuk merileksasikan otot sebelum akhirnya beristirahat.

Hal ini juga di buktikan pada ilmu kedokteran jika percikan air dalam wudhu yang di lakukan umat muslim adalah cara untuk mengendurkan otot kaku karena lelah beraktivitas sehari penuh.

Sehingga wudhu sebelum tidur bisa di kategorikan sebagai cara hidup sehat menurut Islam.

4.Bersih dari noda dosa 

Setiap kali selesai melakukan wudhu, maka ini juga menggantikan orang tersebut juga sudah bersih dari Noda-Noda dosa yang sudah di perbuat namun pastikan anda melakukan cara berwudhu yang benar sehingga bisa memperoleh banyak manfaat dari wudhu tersebut.

5.Anggota wudhu bercahaya saat kiamat 

Saat hari kiamat nanti, seseorang yang rajin berwudhu seperti wudhu saat malam hari sebelum tidur maka seperti salah satu amalan sebelum tidur.

Menurut Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam ini akan di bedakan dengan umat muslim yang lainnya sebab cahaya akan tampak dari anggota tubuhnya tersebut.

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya,karena bekas wudhu’.” ( HR. AL Bukhari no.136 dan Muslim no. 246).

6. Mengangkat derajat di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Seseorang yang sudah mendapatkan derajat tinggi di hadapan sesama manusia bukan menjadi jaminan juga akan memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Dengan melakukan wudhu seperti sebelum tidur yang juga merupakan cara tidur Rasulullah, maka akan di sempurnakan yakni di angkat derajat yang tinggi di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

7. Dikabulkan permintaannya 

Seseorang yang melakukan wudhu sebelum tidur dan juga berzikir, maka saat bangun tidur di pagi hari dan memanjatkan permintaan, niscaya permintaan tersebut akan di kabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

“ Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau yang di riwayatkan dari sahabat Al Barra’ bin ‘Azib, bahwasannya beliau berkata:

“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah sebagaiman wudhu’mu untuk shalat.”

[ HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710].

8. Bersama dengan malaikat sampai terbangun 

Seseorang yang melakukan wudhu sebelum tidur juga akan terus bersama dengan malaikat sampai terbangun nantinya di pagi hari dan malaikat juga akan mendoakan dan mermohon ampunan untuk orang yang sudah besuci sebelum tidur tersebut.

9. Mencerahkan kulit wajah 

Wudhu juga dapat mencerahkan kulit wajah sebab akan menghilangkan kotoran yang melekat pada wajah akan terlihat lebih bersih dan cerah saat bangun pagi.

10. Mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Berwudhu juga menjadi salah satu bentuk ibadah yang tinggi sebab dengan berwudhu maka kita juga menjaga diri agar senantiasa bersih.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala sangat menyukai dan menyayangi kebersihan sehingga seseorang yang melakukan wudhu sebelum tidur juga bisa di gunakan sebagai cara mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

11. Disunahkan Nabi 

Sahabat Nabi yakni al Bara’bin Azib Radhiyallau'anhu pernah mengatakan jika Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda pada dirinya, “ Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

12. Mengatasi insomnia 

Insomnia merupakan kondisi seseorang yang mengalami kesulitan untuk tidur dan tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa namun juga menimpa seseorang di usia remaj.

Dengan berkurangnya waktu tidur, maka beberapa organ di dalam tubuh akan mengalami gangguan.

Melakukan wudhu sebelum tidur bisa menjadi cara terbaik untuk bersuci dan juga membantu seseoang lebih cepat untuk tidur.

13. Menstabilkan detak jantung 

Saat berwudhu yang menjadi cara hidup sehat menurut islam, ini berarti kita membasahi hampir seluruh bagian dari tubuh dengan air dan ini bisa menstabilkan detak jantung dalam keadaan normal.

Masalah ini juga sudah diteliti oleh seseorang dokter bernama Ahmad Syauqy seorang ahli dalam bidang penyakit dalam dan juga penyakit luar di london.

14. Menstimulasi syaraf pusat 

Seorang profesor bernama Leopold Warner Von Ehrenfels yang merupakan seorang psikiater dan juga ahli dalam bidang neurology dari Austria juga menyatakan.

Jika di saat seseorang sedang berwudhu dengan membasahi dahi, tangan dan juga kaki, maka hal tersebut secara tidak langsung juga akan membangunkan dan menstimulus syaraf pusat dan menjadi cara menenangkan hati dalam islam.

15. Mencegah penyakit hidung 

Pada saat beristisnaq yakni menghirup air dalam hidung di saat sedang berwudhu sangat baik untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit atau masalah pada hidung.

16. Mencerahkan kulit 

Wudhu yang di lakukan sebelum tidur juga akan mencerahkan kulit dan menjadi cara mempercantik diri menurut islam karena cara kerja wudhu yang bisa menghilangkan noda membandel di area kulit wajah.

Kotoran-Kotoran tersebut akan hilang dan bisa tidur dalam keadaan bersih sehingga bisa bangun pagi dengan muka yang cerah dan segar.

17. Tenang dan nyaman saat tidur 

Melakukan wudhu sebelum tidur juga akan memberikan perasaan yang tenang dan lebih rileks.

Khususnya jika di lakukan juga dengan membaca doa sebelum tidur dan juga melakukan zikir sebelum tidur sehingga membuat tidur semakin lebih dan tenang.

Wudhu tidak hanya menjadi suatu hal yang wajib di lakukan umat muslim ketika ingin sholat atau beribadah saja, namun ada banyak keutamaan menjaga wudhu dan juga kandungan manfaat yang terkandung di dalam wudhu dan bisa di rasakan oleh pelakunya sehingga berwudhu haruslah di jadikan kebiasaan salah satu cara kita beribadah pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Semoga bermanfaat....