Minggu, 03 April 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN AHLAQ YANG BAIK (BAGIAN 1)

Edisi Senin, 4 April 2022 M / 2 Ramadhan 1443 H. 

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam di utus dengan bekal akhlak yang mulia dan menjadi teladan yang luhur. Tidak lain hal ini karena memang Rasulullah di utus di bumi untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Menata dan meningkatkan peradaban hidup manusia. Rasulullah bersabda:

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur." (HR. al-Baihaqi). 

Perintah dan anjuran berbudi pekerti mulia tertuang sangat jelas dalam beberapa sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam. Sangat banyak sekali kita temukan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam yang menenkankan pentingnya berperilaku dengan akhlak yang mulia, menjaga segala tingkah laku sesuai dengan norma dan etika, baik etika kita pada Allah, maupun terhadap sesama. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda:

 اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya: "Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Susullah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka ia dapat menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan perilaku dan akhlak yang baik." (HR. at-Tirmidzi). 

Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam yang berkaitan dengan ahlaq yang baik :

1. Kejujuran itu Akan Membimbing Pada Kebaikan 

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari Abdullah dia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan mengantarkan pada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Seseorang yang memelihara kebohongan, maka ia akan dicatat sebagai pembohong (pendusta).  (H.R. Muslim no. 6705, Tirmidzi no. 2099 dan lainnya). 

2. Bila Hati Baik Maka Baiklah Seluruh Badan 

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ وَأَهْوَى النُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Dari An-Nu'man bin Basyir dia berkata, saya mendengar dia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda (Nu'man sambil menujukkan dengan dua jarinya kearah telinganya) : Sesungguhnya yang halal telah nyata (jelas) dan yang haram telah nyata. Dan di antara keduanya ada perkara yang tidak jelas (subhat), yang tidak diketahui kebanyakan orang, maka barang siapa menjaga dirinya dari melakukan perkara yang meragukan, maka selamatlah agama dan harga dirinya, tetapi siapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, maka dia terjatuh kepada keharaman. Tak ubahnya seperti gembala yang menggembala di tepi pekarangan, dikhawatirkan ternaknya akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja itu memiliki larangan, dan larangan Allah adalah sesuatu yang diharamkannya. Ketahuilah, bahwa dalam setiap tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh badannya, namun jika segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah ia adalah hati. (H.R. Muslim no. 4178, Tirmidzi no. 1246).

3. Niat Baik Dicatat Satu Kebaikan 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ فَلَا تَكْتُبُوْهَا عَلَيْهِ فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا سَيِّئَةً وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوْهَا حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا عَشْرًا

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Allah berfirman : Apabila hamba-Ku berkeinginan untuk kejelekan maka janganlah kamu mencatatnya, namun jika dia mengamalkannya maka tulislah sebagai satu kejelekan. Dan apabila dia berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka tulislah ia sebagai satu kebaikan, maka jika dia melakukannya maka tulislah ia sebagai sepuluh kebaikan. (H.R. Muslim no. 349).

4. Perintah Taat Kepada Pemimpin 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

Dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam, beliau bersabda : Dengar dan taatlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang berambut keriting seperti buah kismis. (H.R. Bukhari no. 693).

5. Anjuran Mengatakan Insya Allah 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ لأُطِيْفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِيْنَ امْرَأَةً تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلاَمًا يُقَاتِلُ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَقِيْلَ لَهُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللهُ فَلَمْ يَقُلْ. فَأَطَافَ بِهِنَّ فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلاَّ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ. قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكًا لِحَاجَتِهِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, Sulaiman bin Daud pernah berkata, Sungguh aku akan menggilir tujuh puluh isteriku dalam semalam, yang nantinya masing-masing mereka akan melahirkan anak yang akan berjuang di jalan Allah, maka dikatakan kepadanya : Ucapkanlah Insya Allah. Namun dia tidak mengucapannya, dan dia tetap menggilir mereka semua. Ternyata tidak ada seorang pun dari mereka yang melahirkan kecuali satu orang yang melahirkan anak yang cacat (setengah manusia). Abu Hurairah melanjutkan, Maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam  bersabda : Seandainya dia mengucapkan Insya Allah, maka dia tidak akan melanggar sumpahnya dan akan mendapatkan apa yang dihajatkannya. (H.R. Muslim no. 4378).

6. Cintailah Sekedarnya dan Bencilah Sekedarnya 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًا مَا

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda :  Cintailah orang yang kamu cintai sekedarnya saja, boleh jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti kamu akan membencinya. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi orang yang sekarang kamu benci suatu hari nanti kamu akan mencintainya. (H.R. Thabrani no. 643, Tirmidzi no. 2128).

7. Janganlah mencari-cari kesalahan 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلَا تَحَسَّسُوْا وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا تَنَافَسُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu, janganlah mencari-cari kesalahan, janganlah saling bersaing, janganlah saling mendengki, janganlah saling memarahi, dan janganlah saling membelakangi (memusuhi). Tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. (H.R. Muslim no. 6701).

8. Anjuran berziarah kubur 

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Dulu aku melarang kamu berziarah kubur, akan tetapi sekarang berziarahlah kubur. (H.R. Muslim no. 2305).

9. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara 

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَقَاطَعُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Dari Anas bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Janganlah kalian jangan saling dengki, saling marah, dan jangan pula saling memutuskan hubungan satu sama lain. Tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. (H.R. Muslim no. 6696).

10. Janganlah saling memarahi dan saling mendengki 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Janganlah saling memarahi, saling mendengki, saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari. (H.R. Muslim no. 6690).

11. Ajarilah orang yang akan meninggal dengan La ilaha illallah 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Ajarilah olehmu kepada orang yang akan meninggal diantara kalian La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah). (H.R. Muslim no. 2164, Ibnu Majah no. 1511 dan lainnya). 

12. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya 

 عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : الْمُؤْمِنُ آلِفٌ مَأْلُوفٌ ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ.

Dari Jabir radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bahwasanya belia bersabda : Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah, dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (H.R. Thabrani no. 5949 ). 

13. Sembuhkanlah penyakitmu dengan shadaqah 

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَدَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ وَأَعِدُّوْا لِلْبَلاءِ الدُّعَاءَ.

Dari Abdullah ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Bersihkanlah hartamu dengan zakat, sembuhkanlah penyakitmu dengan shadaqah, dan persiapkanlah doa untuk (menolak) balak. (H.R. Thabrani no. 10044, dalam Mu'jam Al-Kabir). 

14. Anjuran Mendinginkan Deman dengan Air 

عَنْ عَبَايَةَ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ جَدِّهِ رَافِعِ بْنِ خَدِيْجٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اَلْحُمَّى مِنْ فَوْحِ جَهَنَّمَ فَابْرُدُوْهَا بِالْمَاءِ

Dari Abayah bin Rifa'ah dari kakeknya Rafi' bin Khadij dia berkata, saya mendengar Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Demam berasal dari hembusan nerakan Jahannam maka dinginkanlah ia dengan air. (H.R. Bukhari no. 5726).

15. Membersihkan Tempat Tidur Bila Mau Tidur 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُوْلُ بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Dari Abu Hurairah dia berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Apabila seseorang dari kalian hendak tidur, maka hendaklah ia mengibaskan di atas tempat tidurnya dengan kain sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya. Lalu mengucapkan doa : BISMIKA RABBII WADHA'TU JANBII WABIKA ARFA'UHU, IN AMSAKTA NAFSII FARHAMHAA, WAIN ARSALTAHAA FAHFAHZH-HAA BIMAA TAHFAZHU BIHI 'IBAADAKASHSHAALIHIIN (Dengan nama-Mu Wahai Tuhanku, aku baringkan punggungku dan atas nama-Mu aku mengangkatnya, dan jika Engkau menahan diriku, maka rahmatilah daku, dan jika Engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang shalih). (H.R. Bukhari no. 6320).

16. Tidak Memberi Pelajaran Tiap Hari Supaya Tidak Bosan 

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيْسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Dari Abu Wa'il berkata : bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata : Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku ingin kalau anda memberi pelajaran kepada kami setiap hari, dia berkata : Sungguh aku enggan melakukannya, karena aku takut membuat kalian bosan, dan aku ingin memberi pelajaran kepada kalian sebagaimana Nabi Shallallahu alaihi Wasallam memberi pelajaran kepada kami karena khawatir kebosanan akan menimpa kami. (H.R. Bukhari no. 70).

17. Anjuran Sujud Syukur 

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُوْرٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلهِ

Dari Abu Bakrah dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam, bahwa apabila terdapat perkara yang menyenangkan atau beliau dibei kabar gembira maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah. (H.R. Abu Daud no. 2776).

Semoga bermanfaat....

Sabtu, 02 April 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PUASA (BAGIAN 3)

Edisi Ahad, 3 April 2022 M / 1 Ramadhan 1443 H. 

Perhitungan tahun Komariyah setiap tahun berbeda sekitar sebelas hari dengan tahun Syamsiyah (penghitungan tahun dengan cara mengamati matahari). Dengan demikian, bulan Ramadhan setiap tahun akan maju sebelas hari dibandingkan dengan tahun Syamsiyah. Dalam waktu sekitar 36 tahun, maka seorang muslim telah berpuasa dalam berbagai masa dan musim. Berpuasa dalam hari-hari pendek, hari-hari panjang, dalam musim panas, musim dingin dan musim-musim lainnya. Kenyataan ini akan menambah ketahanan mental dan fisik dari mereka yang melaksanakan puasa dan memperkaya pengalaman rohani dan pembentukan fisik dalam kehidupan sehari-hari. 

Puasa yang diwajibkan kepada kita, sebagai generasi akhir zaman adalah meninggalkan makan, minum, bercampur dengan istri, dan segala yang membatalkannya sejak fajar di waktu Shubuh sampai terbenamnya matahari di waktu Maghrib. Dengan niat mencari keridhaan Allah, beriman kepada-Nya dan kepada syariat-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan mengaharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 37 dan Muslim: 1268. teks hadits riwayat al-Bukhari). 

Dalam ibadah puasa, manusia muslim dibentuk agar dapat meningkatkan kesabaran, ketabahan, peningkatan daya tahan mental maupun fisik. Rasa haus dan lapar dikala berpuasa dapat meningkatkan solidaritas dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin yang ditimpa kesulitan dan anak-anak yatim yang terlantar. Ibadah puasa dapat menjadikan manusia mampu mengendalikan amarah dan hawa nafsunya, sehingga ia tidak terjerumus dalam kehancuran dan kehinaan.

Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam yang berkaitan dengan puasa :

1. Puasa Sunnah Asy-syura 

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ وَسُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Dari Abu Qatadah berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, ditanya tentang puasa hari Asyura, Maka beliau menjawab : Ia dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu". (H.R. Muslim no. 2804).

2. Puasa Di bulan Muharram 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ   قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata; Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: "Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat Fardlu, ialah shalat malam."  (H.R. Muslim no. 2812).

3. Puasa Sunnah Arafah 

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ وَسُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu berkata : "Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah (tanggal 9 dzulhijjah), Maka beliau menjawab : Ia dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang". (H.R. Muslim no. 2804).

4. Junub waktu puasa 

عَنْ عُرْوَةَ وَأَبِى بَكْرٍ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا  كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ { جُنُبًا } فِى رَمَضَانَ، مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ

Dari Urwah dan Abu Bakar, Aisyah radhiyallahu anha   berkata : Nabi Shallallahu alaihi Wasallam pernah mendapati fajar keadaan junub di bulan Ramadhan (kesiangan), bukan karena mimpi (dikarenakan jima'), lalu beliau mandi dan berpuasa. (H.R. Bukhari no. 1930, Muslim no. 2646).

5. Keberkahan Makan Sahur 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السُّحُوْرِ بَرَكَةً

Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata; Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: "Makan sahurlah kalian, karena (makan) di waktu sahur itu mengandung barakah." (H.R. Muslim no. 2603).

6. Puasa yang utama adalah puasa Daud 

عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو الْمَلِيحِ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِيكَ زَيْدٍ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فَحَدَّثَنَا أَنَّ النَّبِىَّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ذُكِرَ لَهُ صَوْمِى ، فَدَخَلَ عَلَىَّ ، فَأَلْقَيْتُ لَهُ وِسَادَةً مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيْفٌ ، فَجَلَسَ عَلَى الأَرْضِ ، وَصَارَتِ الْوِسَادَةُ بَيْنِى وَبَيْنَهُ ، فَقَالَ لِى  أَمَا يَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ . قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ . قَالَ خَمْسًا . قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ سَبْعًا . قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ تِسْعًا . قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ  إِحْدَى عَشْرَةَ . قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ لاَ صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ ، شَطْرَ الدَّهْرِ، صِيَامُ يَوْمٍ ، وَإِفْطَارُ يَوْمٍ

Dari Abu Qilabah ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abul Malih ia berkata; saya pernah menemui Abdullah bin Amru bersama bapakmu, maka ia pun menceritakan bahwasanya; Telah dituturkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam mengenai puasaku. Maka beliau pun menemuiku, lalu aku memberikan beliau bantal dari kulit berisi sabut, namun beliau duduk di atas lantai hingga posisi bantal itu tepat berada antara aku dan beliau. Kemudian beliau bertanya kepadaku: Tidakkah cukup bagimu untuk berpuasa tiga hari (dalam setiap bulannya)? saya menjawab, Wahai Rasulullah, bagaimana kalau lima hari? Saya bertanya lagi, Wahai Rasulullah, bagaimana kalau tujuh hari? Saya berkata lagi, Wahai Rasulullah, bagaimana kalau sembilan hari? Saya berkata lagi, Wahai Rasulullah, bagaimana kalau sebelas hari? Saya berkata; Wahai Rasulullah… Akhirnya Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: Tidak ada puasa yang lebih utama dari puasa Dawud, yaitu puasa setengah masa (tahun), yakni, puasa sehari dan berbuka sehari. (H.R. Bukhari no. 6277 dan Muslim no. 2798).

7. Rasulullah bersungguh-sungguh untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَتَحَرَّى صَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ.

Dari Aisyah berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam senantiasa bersungguh-sungguh untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. (H.R. Turmudzi no. 750).

8. Hutang puasa orang yang meninggal boleh dibayar walinya 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Dari Aisyah radhiyallahu anha; Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya. (H.R. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 2784).

9. Puasa Syawal 

عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyib Al-Anshari radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya)  seperti puasa setahun. (H.R. Muslim no. 2815).

10. Mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' shalat 

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

Dari Mu'adzah dia berkata, saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' shalat?  Maka Aisyah menjawab : Apakah kamu dari golongan Haruriyah? Aku menjawab, Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya. Dia menjawab : Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' shalat. (H.R. Muslim no 789, Daud 263 dan lainnya). 

11. Makan karena lupa padahal dia sedang puasa 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu menuturkan; Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa menyantap makanan karena lupa padahal dia sedang puasa, hendaklah ia sempurnakan puasanya, sebab Allah-lah yang memberinya makanan dan minuman. (H.R. Bukhari no. 6669).

12. Pernah Rasulullah Melarang Berbekam Pada Saat Puasa 

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِرَجُلٍ يَحْتَجِمُ فِى رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ

Dari Syaddad bin Aus bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam melewati seorang lelaki yang berbekam di bulan Ramadhan, maka beliau bersabda : Berbukalah orang yang membekam dan yang dibekam. (H.R. Ahmad no. 17591, Abu Daud no. 2367 dan lainnya). 

13. Orang Yang Bepergian Boleh Tidak Puasa 

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَسْلَمِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَجِدُ بِى قُوَّةً عَلَى الصِّيَامِ فِى السَّفَرِ فَهَلْ عَلَىَّ جُنَاحٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِىَ رُخْصَةٌ مِنَ اللهِ فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُوْمَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ

Dari Hamzah bin Amr Al-Aslami radhiyallahu anhu bahwasanya ia berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya diriku kuat berpuasa dalam perjalanan, apakah aku berdosa? Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Berbuka itu suatu keringanan dari Allah. Maka barang siapa yang mengambilnya hal itu termasuk kebaikan, dan barang siapa lebih suka berpuasa maka tidak ada dosa baginya. (H.R.Muslim no. 2675).

14. Boleh Berbekam Dalam Keadaan Puasa 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : أَوَّلُ مَا كُرِهَتِ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ فَمَرَّ بِهِ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَفْطَرَ هَذَانِ. ثُمَّ رَخَّصَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ فِى الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ وَكَانَ أَنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ.

Dari Anas bin Malik ia berkata : Pertama kali dimakruhkan berbekam bagi orang yang berpuasa adalah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berbekam dalam keadaan puasa dan Nabi Shallallahu alaihi Wasallam melewatinya, maka beliau bersabda : Dua orang ini berbuka puasa. Kemudian Nabi Shallallahu alaihi Wasallam memberi keringanan berbekam bagi orang yang sedang berpuasa sesudah itu, dan Anas pernah berbekam dalam keadaan puasa. (H.R. Baihaqi no. 8561, Daruquthni no. 2283 dan lainnya). 

15. Yang Membatalkan Pahala Puasa 

عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمِ الْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ

Dari Anas, dari Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda : Lima perkara yang membatalkan (pahala) orang yang berpuasa, yaitu berdusta, ghibah (menyebut kejelekan orang lain), adu domba (menfitnah), sumpah palsu dan melihat dengan syahwat. (Kitab ihya' ulumuddin, Juz I, halaman 454).

16. Puasa Dilarang Berdusta 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda :  Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak peduli (membutuhkan) ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R. Bukhari no. 1903).

17. Boleh Berbekam Ketika Ihram Atau Puasa 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ، وَهُوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi Wasallam berbekam dalam keadaan ihram dan beliau juga berbekam dalam keadaan puasa. (H.R. Bukhari no. 1938).

Semoga bermanfaat...

Jumat, 01 April 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PUASA (BAGIAN 2)

Edisi Sabtu, 2 April 2022 M / 30 Sya'ban 1443 H. 

Ditetapkannya bulan Ramadhan sebagai bulan puasa mengandung hikmah yang sangat besar, karena bulan itu ditetapkan melalui kalender Komariyah (kalender yang mempergunakan peredaran bulan). 

Hikmah yang terkandung di dalamnya, antara lain, pertama, Tahun Komariyah amat kaya dengan fenomena alam, mengandung berbagai faktor kejelasan dan kemustahilan terjadi penyelewengan dan pemalsuan. 

Kedua, perhitungan tanggal dalam peredaran bulan sangat jelas oleh semua orang, baik mereka yang terpelajar ataupun yang sangat awam. Setiap diri manusia bisa mengetahui tanggal berapa sekarang dengan cara melihat bentuk bulan. Tanggal dua, tiga, empat, dan seterusnya bisa diketahui dengan jelas. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan perhitungan matahari. 

Ketiga, dengan mempergunakan kalender Komariyah, maka pelaksanaan puasa Ramadhan oleh umat Islam akan dialami dalam berbagai musim, seperti musim panas, sejuk, dingin atau musim-musim lainnya, sehingga ibadah itu akan dijalani dalam berbagai pengalaman, sesuai dengan perbedaan situasi dan kondisi. 

Memperhatikan kenyataan itu, wajarlah bila Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam memerintahkan untuk memulai puasa Ramadhan atau mengakhirinya dengan melihat bulan. Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “Berpuasalah kamu karena melihat bulan (tanggal awal dari bulan Ramadhan), dan berhari rayalah karena melihatnya (tanggal pertama bulan Syawwal). Bila awan menghalangi (pandangan)mu (sehingga kamu tidak dapat melihat bulan), maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban sebanyak tiga puluh hari”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1776).   

Hadis tersebut mengisyaratkan, bahwa pelaksanaan ibadah dalam ajaran Islam dengan menggunakan tahun Komariyah dirasakan lebih mudah dan dapat dilaksanakan, meskipun oleh orang yang sangat awam.

Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam yang berkaitan dengan puasa :

1. Berpuasa Dan Berhari Raya Karena Melihat Hilal 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah (berhari rayalah), maka jika kalian dihalangi mendung maka berpuasalah tiga puluh hari. (H.R.Muslim no. 2566).

2. I'tikaf Di Luar Bulan Ramadhan Tidak Harus Berpuasa 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ عَلَى الْمُعْتَكِفِ صِيَامٌ إِلاَّ أَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى نَفْسِهِ

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Tidak ada kuajiban bagi orang yang beri'tikaf berpuasa kecuali ia telah mewajibkan atas dirinya sendiri. (H.R. Baihaqi no. 8849, Hakim no. 1555 dan Daruquthni no. 2380).

3. Mandi Junub di Pagi Hari Tidak Membatalkan Puasa 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبٍ الْحِمْيَرِىِّ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ حَدَّثَهُ أَنَّ مَرْوَانَ أَرْسَلَهُ إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ  رَضِىَ اللهُ عَنْهَا يَسْأَلُ عَنِ الرَّجُلِ يُصْبِحُ جُنُبًا أَيَصُوْمُ فَقَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ لاَ مِنْ حُلُمٍ ثُمَّ لاَ يُفْطِرُ وَلاَ يَقْضِى

Dari Abdullah bin Ka'b Al-Himyari bahwa Abu Bakar telah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah diutus oleh Marwan kepada Ummu Salamah radhiyallahu anha untuk menanyakan tentang seorang laki-laki yang mendapati waktu pagi dalam keadaan junub, apakah ia boleh berpuasa. Maka Ummu Salamah menjawab : Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam pernah mendapati waktu subuh dalam keadaan junub karena jima', bukan karena mimpi. Namun beliau tidak Ifthar (berbuka) dan tidak pula mengqadha (mengganti) puasanya. (H.R. Muslim no. 2647).

4. Denda Berjimak di Siang Hari Bulan Puasa 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ. قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى فِى رَمَضَانَ. قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً. قَالَ لاَ. قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ. قَالَ لاَ. قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا. قَالَ لاَ. قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِىَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ. فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا. قَالَ أَفْقَرَ مِنَّا فَمَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا. فَضَحِكَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata : Seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallahu alaihi Wasallam dan berkata : Celaka diriku wahai Rasulullah. Beliau bertanya : Apa yang telah mencelakakanmu? Laki-laki itu menjawab : Saya telah menggauli isteriku di siang hari pada bulan Ramadlan. Beliau bertanya : Sanggupkah kamu untuk memerdekakan budak? Ia menjawab : Tidak. Beliau bertanya lagi : Sanggupkan kamu berpuasa dua bulan berturut-turut? Ia menjawab : Tidak. Beliau bertanya lagi : Sanggupkah kamu memberi makan kepada enam puluh orang miskin? Ia menjawab : Tidak. Abu Hurairah berkata : Kemudian laki-laki itu pun duduk, lalu diberi Nabi Shallallahu alaihi Wasallam satu keranjang berisi kurma. Maka beliau pun bersabda : Bersedekahlah dengan kurma ini. Laki-laki itu pun berkata : Adakah orang yang lebih fakir dari kami. Karena tidak ada penduduk di sekitar sini yang lebih membutuhkannya dari pada kami. (Mendengar ucapan itu), maka Nabi Shallallahu alaihi Wasallam tertawa hingga gigi taringnya terlihat. Akhirnya beliau bersabda : Pulanglah dan berilah makan keluargamu dengannya. (H.R. Muslim no. 2651, Bukhari no. 6711).

5. Anjuran berpuasa di bulan Sya'ban 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا  قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ. فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam biasa berpuasa sehingga aku menyangka beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka sehingga aku menyangka beliau tidak berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak melihat beliau berpuasa satu bulan lebih banyak dari pada di bulan sya'ban. (H.R. Bukhari no. 1969, Muslim no. 2777).

6. Rasulullah banyak berpuasa di bulan Sya'ban 

عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا عَنْ صِيَامِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ قَدْ صَامَ. وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ قَدْ أَفْطَرَ. وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيْلاً.

Dari Abu Salamah ia berkata, saya pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu'anha tentang puasa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, maka ia pun berkata : Beliau sering berpuasa hingga kami mengira bahwa beliau akan puasa seterusnya. Dan beliau sering berbuka (tidak puasa) sehingga kami mengira beliau akan berbuka (tidak puasa) terus-menerus. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa terus sebulan penuh kecuali Ramadlan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak dari pada puasanya di bulan Sya'ban. Beliau berpuasa pada bulan Sya'ban hingga sisa harinya tinggal sedikit. (H.R. Muslim no. 2778).

7. Anjuran shalat pada malam nishfu Sya'ban dan puasa pada siangnya 

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا يَوْمَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Ali bin Abi Thalib ia berkata,  Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Apabila tiba malam nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya. Karena sesungghnya (rahmat) Allah turun di saat tenggelamnya matahari ke langit yang paling bawah, lalu berfirman : Adakah yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rezeki kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya rezeki, Adakah yang sakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Allah akan mengkabulkan hajat hambanya yang memohon pada waktu itu) adakah yang demikian sampai terbit fajar. (H.R.Ibnu Majah no 1451).

8. Larangan puasa satu atau dua hari sebelum bula Ramadhan 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ رَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melaksanakannya. (H.R. Bukhari no. 1914).

9. Berpuasa dan berhari raya karena melihat hilal 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam menceritakan tentang bulan Ramadhan lalu Beliau bersabda : Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal dan jangan pula kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya (jumlah hari disempurnakan). (H.R. Bukhari no. 1906).

10. Wanita haid diperintahkan untuk mengqodho puasa 

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

Dari Mu'adzah dia berkata, saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, Kenapa gerangan wanita yang haid mengqodho puasa dan tidak mengqodho shalat?  Maka Aisyah menjawab : Apakah kamu dari golongan Haruriyah? Aku menjawab, Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya. Dia menjawab : Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqodho puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqodho shalat. (H.R. Muslim no 789, Daud 263 dan lainnya). 

11. Wanita hamil dan menyusui mendapat keringanan untuk tidak berpuasa 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَجُلٌ مِنْ بَنِي عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ أَغَارَتْ عَلَيْنَا خَيْلُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدْتُهُ يَتَغَدَّى فَقَالَ ادْنُ فَكُلْ فَقُلْتُ إِنِّيْ صَائِمٌ فَقَالَ ادْنُ أُحَدِّثْكَ عَنِ الصَّوْمِ أَوِ الصِّيَامِ إِنَّ اللهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلَاةِ وَعَنِ الْحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Dari Anas bin Malik seorang lelaki dari bani Abdullah bin Ka'ab berkata, Pasukan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam menyerbu kaum kami secara diam-diam, lalu saya mendatangi beliau dan ternyata beliau sedang makan siang, lantas beliau bersabda : Mendekat dan makanlah. saya menjawab, saya sedang berpuasa, beliau bersabda lagi : Mendekatlah niscaya akan saya jelaskan kepadamu tentang puasa, sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mewajibkan puasa atas musafir dan memberi keringanan separoh shalat untuknya juga memberi keringan bagi wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. (H.R. Tirmidzi no. 719, Ahmad no. 19563).

12. Keharusan niat puasa pada malam harinya 

عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Dari Hafshah istri Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malamnya sebelum fajar terbit (shubuh), maka tiada puasa baginya. (H.R. Abu Daud no. 2456, Baihaqi no. 8161 dan lainnya). 

13. Boleh niat di pagi hari ketika puasa sunnah 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ. فَقُلْنَا لاَ. قَالَ فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ. ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ أَرِيْنِيْهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا. فَأَكَلَ

Dari Aisyah Ummul Mu'minin ia berkata : Pada suatu hari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam datang ke (rumah) saya, beliau bertanya : Adakan makanan padamu? Kami menjawab : Tidak ada apa-apa. Beliau lalu bersabda : Kalau begitu baiklah, sekarang saya puasa. Kemudian pada hari lain beliau datang pula, Lalu kami berkata : Ya Rasulullah, kita telah diberi hadiah kue haisun. Maka beliau bersabda : Mana kue itu. Sebenarnya saya dari pagi puasa. Lalu beliau makan kue itu.  (H.R. Muslim no. 2771).

14. Makan dan minum saat puasa karena lupa 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Barang siapa lupa, sedangkan ia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah puasanya disempurnakan, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberi makan dan minum kepadanya. (H.R. Muslim no. 2772).

15. Muntah waktu puasa 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ذَرَعَهُ الْقَىْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bersabda : Barang siapa terpaksa muntah, tidaklah wajib mengqodho puasanya, dan barang siapa yang mengusahakan muntah, maka hendaklah ia mengqodho puasanya. (H.R. Tirmidzi no. 724, Ahmad no. 10737 dan lainnya). 

16. Orang yang sudah tua boleh tidak puasa 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُِِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata : Orang lanjut usia diperbolehkan berbuka dengan memberi makan setiap hari seorang miskin, ia tidak wajib mengqodho. (H.R. Abu Daud no. 8578, Daruquthni no. 2105 dan lainnya). 

17. Anjuran menyegerakan berbuka puasa 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Dari Sahal bin Sa'ad, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda :  Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa. (H.R. Bukhari no. 1957, Muslim no. 2608).

Semoga bermanfaat....