Jumat, 23 September 2022

17 MUKJIZAT ANGKA DALAM AL-QUR'AN

Edisi Jum'at, 23 September 2022 M / 26 Shafar 1444 H. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surat al-Baqarah, ayat 23: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah paling tidak satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Dan pada ayat berikutnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: ”Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

Pada dasarnya bahasa Alquran sedemikian fasih dan indah sehingga setiap orang yang walaupun sedikit memahami bahasa arab, dengan membaca ataupun mendengar lantunan ayat, dengan sendirinya akan memahami bahwa tidak ada satu orator pun yang dapat berbicara dengan bahasa yang sedemikian rupa fasihnya. Bahasa dan ucapan fasih tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. 

Mukjizat Alquran tidak terbatas pada pengetahuan-pengetahuan mendalam berupa ilmu logika, sosial, keindahan serta kefasihan bahasa dan ilmu tentang rahasia alam gaib yang sangat menakjubkan. Setiap hari terungkap bidang-bidang baru dari keajaiban-keajaiban Alquran. Sebagai contoh hingga kini terdapat 17 hal tentang mukjizat angka dalam Alquran yang di jelaskan melalui program computer. 17 hal tersebut sebagai berikut:

1. Kata ( Imam) dengan arti pemimpin Ilahi baik kata tersebut berbentuk “plural” maupun “singular”, diulang 12 kali dalam Alquran, hal ini relevan dengan riwayat yang berbunyi ”Jumlah para Imam setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah 12 orang” yang dinukil dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam oleh kalangan Syiah dan Sunni. Surat Yaasiin ayat 12 :” Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh)”, merupakan contoh dari ayat-ayat yang terdapat kata imam di dalamnya.

2. Kata “syahr” yang berarti bulan, diulang 12 kali dalam Alquran sesuai dengan jumlah bulan-bulan dalam tahun.

3. Kata “Yaum” yang berarti hari, diulang 365 kali dalam Alquran sesuai dengan jumlah hari dalam setahun dalam hitungan miladi.

4. Kata “Sajada” yang berarti telah bersujud, baik kata tersebut berbentuk kata kerja lampau ataupun kata kerja yang sedang atau akan di lakukan, diulang 34 kali di dalam Alquran. Jumlah tersebut sama dengan jumlah sujud-sujud shalat wajib sebab dalam setiap hari ada 17 rakaat shalat wajib dan terdapat dua sujud dalam setiap rakaatnya.

5. Kata “Rajul” yang berarti lelaki sama seperti kata “Imraah” yang berarti perempuan, masing-masing 24 kali digunakan dalam Alquran

6. Kata “ Malaaikah” bermakna malaikat dan kata “Syaitan” bermakna setan atau jin, masing-masing disebutkan 88 kali dalam Alquran.

7. Kata “istiadzah” yang artinya berlindung dan kata iblis yang berarti setan 11 kali digunakan dalam Alquran.

8. Kata “akhirah” yang berarti akhirat dan kata “dunya” yang berarti dunia masing-masing 115 kali disebutkan dalam Alquran.

9. Kata “Alhasanaat” yang berarti kebaikan-kebaikan dan “Assaiyiaat” yang berarti kejelekan masing-masing disebutkan 180 kali dalam Alquran.

10. Kata “Alhayaah” yang berarti kehidupan dan “Almaut” yang berarti kematian masing-masing 145 kali disebutkan dalam Alquran.

11. Kata “Arsala” bermakna telah mengutus, diulang 513 kali dalam Alquran dan nama 28 nabi yang disebutkan dalam Alquran juga diulang 513 kali secara keseluruhan.

12. Kata “Ar Rusul” bermakna para nabi dan kata “An Naas” bermakna orang-orang, masing-masing diulang 368 kali dalam Alquran.

13. Kata “Ar Raqbah” bermakna keinginan dan kata “ Ar Rahbah” bermakna ketakutan masing-masing 8 kali diulang dalam Alquran.

Nama mulia Rasulullah ( Muhammad dan Ahmad ) 5 kali diulang secara keseluruhan dalam Alquran (4 kali nama Muhammad dan 1 kali nama Ahmad ) dan kata “selawat” yang bermakna ucapan selawat yang banyak ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan keluarganya juga diulang 5 kali dalam Alquran.

14. Kata “Itsar” yang berarti berkorban untuk orang lain dan kata syah yang berarti pelit masing-masing 5 kali diulang dalam aqur’an.

15. Kata “Suruur” yang berarti kebahagiaan dan kata “huzn” yang berarti kesedihan masing-masing 4 kali disebutkan daam Alquran.

16. Kata “Al har” yang berarti panas dan kata “Al bard” yang berarti dingin masing-masing 4 kali diulang dalam Alquran.

17. Istilah “Hizbullah” yang berarti penolong Allah dan istilah “Hizbussyaitan” yang bermakna pengikut setan, masing-masing diulang 3 kali dalam Alquran.

Semoga bermanfaat....

Kamis, 22 September 2022

17 HAL YANG HARUS DIKETAHUI MUADZIN

Edisi Kamis, 22 September 2022 M / 25 Shafar 1444 H. 

Adzan adalah sebuah ibadah. Tanpa kumandang adzan, masjid sepi dari jemaah. Dengan adzan, seseorang yang tak mengetahui waktu shalat, menjadi mengetahui. Seseorang yang disibukkan dengan kegiatan tertentu, saat mendengar adzan, menyudahi kegiatannya dan melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. Adakah lagu lain yang semerdu kumandang adzan? Adakah lagu lain yang mampu menandingi nilai magis dan spiritual adzan? Adakah lagu lain yang mampu menghentikan kesibukan seseorang?

Dengan berbagai kelebihan-kelebihan adzan tersebut, tentu sangat layak jika orang-orang yang mengumandangkannya dijanjikan hal-hal yang begitu berharga? Bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberikan janji-janji yang sangat manis kepada seorang muadzin dalam beberapa haditsnya.

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

Artinya, “Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian atasnya, niscaya mereka akan melakukan undian,” (HR Bukhari dan Muslim).

Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh Muadzin. Ya, muadzin adalah orang atau beberapa orang terpilih di masjid yang bertugas untuk mengumandangkan panggilan ibadah, yaitu “Adzan” dan “Iqamah”.

Nah, berikut ini adalah 17 hal yang harus diketahui oleh Muadzin:

1. Melaksanakan tugas dengan sukarela 

Hendaklah Muadzin menunaikan tugas mengumandangkan Adzan dan iqomah dengan sukarela bukan karena di beri imbalan atau menerima bayaran.

2. Bersuara nyaring dan enak didengar 

Hendaklah orang yang mengumandangkan Adzan suaranya nyaring dan bagus agar dapat didengar oleh orang banyak dan enak didengar.

3. Mengetahui waktu-waktu shalat 

Muadzin orang yang benar-benar mengetahui waktu shalat dan orang yang dipercaya supaya adzan dapat dikumandangkan pada awal waktu.

4. Bacaannya Tartil 

Hendaklah Muadzin membaca adzan dengan tartil dengan cara melambatkan bacaan adzan dan mempercepat bacaan iqomah.

5. Suci dari hadas 

Muadzin suci dari hadas besar dan hadas kecil. menurut ulama syafi’iyah Muadzin yang tidak dalam keadaan suci hukumnya sah tetapi makruh. menurut ulama Hanafiyah, Imam Ahmad dan lain-lain, bahwa Muadzin yang tidak dalam keadaan suci hukumnya sah dan tidak makruh.

6. Suci dari najis 

Badan dan pakaian Muadzin harus suci dari najis

7. Berdiri di tempat tinggi 

Hendaklah Muadzin berdiri di suatu tempat yang tinggi agar lebih dapat didengar oleh orang banyak. Jika ditempat Adzan terdapat pengeras suara, maka Muadzin hendaknya menggunakan pengeras suara tersebut.

8. Menghadap kiblat 

Pada saat mengumandangkan adzan dan iqomah Muadzin menghadap kiblat. Hal ini di katakan juga oleh Ibnu Mundzir bahwa menghadap kiblat ketika adzan adalah termasuk sunah, karena semua Muadzin Rasulullah ketika adzan menghadap kiblat. Jika Muadzin melaksanakan adzan tidak menghadap kiblat, adzannya tetap sah tetapi makruh.

9. Memalingkan muka 

Hendaklah Muadzin memalingkan muka, leher dan dada ke kanan ketika membaca Hayya alashsolah dan memalingkannya ke kiri ketika membaca Hayya alalfalah.

Dalilnya adalah hadits berikut:

“Berkata Abu Juhaifah: Ketika Bilal Adzan kuikuti mulutnya ke sana dan kemari yakni ke kanan dan ke kiri sewaktu membaca hayya alashsholah dan hayya alalfalah.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim). 

10. Memasukkan jari ke telinga 

Hendaklah Muadzin memasukan dua anak jari ke dalam dua telinganya ketika membaca Adzan.

11. Mengeraskan suara 

Muadzin mengeraskan suaranya walaupun dalam keadaan sendirian.

12. Tidak berbicara ketika adzan dan iqamat 

Muadzin tidak berbicara ketika sedang adzan dan iqomah.

13. Mengucapkan ‘Ashalatu khairum minnanaum pada adzan shalat subuh 

Hendaklah Muadzin mengucapkan ‘Ashalatu khairum minannaum‘ 2 kali pada adzan subuh.

14. Membaca Iqamat setelah imam tiba 

Muadzin membaca iqomah ketika imam telah masuk di masjid atau mushala untuk mendirikan sholat. Jika imam telah tiba di masjid ketika adzan sedang di kumandangkan, maka Muadzin menunggu isyarat imam. 

15. Memberi jarak antara adzan dan iqamat 

Hendaklah Muadzin memberi jarak antara adzan dan iqomah untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang ingin sholat berjama’ah. Perlu kita ketahui bahwa di syariatkan adzan adalah untuk keperluan ini dan kalau tidak demikian akan percuma keberadaan adzan.

16. Boleh mengumandangkan adzan saja 

Hendaklah Muadzin yang megumandangkan adzan juga yang melakukan iqomah. Tetapi boleh juga iqomah di bacakan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Ziyad bin Al-Harist. Ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang melakukan adzan, maka ia pula yang melakukan iqomah.” (H.R Tirmidzi). 

17. Membaca doa 

Setelah Muadzin melakukan adzan maupun iqomah, hendaknya membaca doa setelah adzan maupun iqomah.

Itulah 17 hal yang harus diketahui muadzin.

Semoga bermanfaat....

Rabu, 21 September 2022

17 KESALAHAN BACAAN SURAT AL-FATEHAH YANG UMUM DILAKUKAN

Edisi Rabu, 21 September 2022 M / 24 Shafar 1444 H. 

Membaca Alquran termasuk ke dalam ibadah paling utama di antara ibadah-ibadah lainnya.

Surat pertama dalam Alquran adalah surat Al-Fatihah, yaitu surat yang terdiri dari tujuh ayat dan membacanya termasuk salah salah satu rukun shalat.

Namun, dalam membaca surat Al-Fatihah ini mungkin masih banyak yang salah, khususnya terkait dengan tajwidnya karena itu, umat Islam harus terus belajar memperbaikinya.

Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْمَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya.”

Dalam artikelnya di laman alukah, Ahmad Mamduh Al-Sharqawi, telah menjelaskan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat membaca surat Al-Fatihah, antara lain :

1. Tidak melafalkan atau melupakan basmalah, yaitu:

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

2. Ketika membaca huruf Ba’ tidak menggerakkan rahang ke bawah, khususnya dalam kata “Bismi”

3. Menutup bibir saat mengucapkan huruf Ra’ pada kata “ Al-Rahman Al-Rahim ” 

4. Banyak orang yang terlalu memanjangkan bacaannya secara tajwid. Seharusnya hanya dibaca panjang dua harakat, yang merupakan panjang mad thabi'i (mad asli), tapi justru dibaca panjang dengan empat atau lima harakat. Seperti pada kata-kata, لِلَّهِ  -  الْعَالَمِينَ 

5. Membaca taskin (dimatikan) kata: "Rabbi" dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

Bacaaan yang benar adalah memperjelas harakat kasrahnya. 

Membaca taskin (dimatikan) kata: "Maliki" dalam kalimat مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, dan yang benar adalah memperjelas harakat kasrahnya. 

6. Tidak menekankan tasydid pada huruf "Dal dalam kata الدِّين. Seolah-olah membaca huruf ta’, sehingga bisa mengubah maknanya. 

7. Membaca taskin (dimatikan) huruf dal pada kata: “نعبدْ", dan yang benar adalah نعبدُ dengan memperjalas harkat dhommahnya.  Dan ada orang yang memperpanjang harkat dhommahnya, dengan mengucapkan, نعبدو, dan membaca seperti itu salah. 

8. Tidak menekankan tasydid huruf ya’ dalam kata إيَّاك,  seolah-olah dia membaca "إيَاك " (tanpa tasydid). 

Arti kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ yang benar adalah “Hanya Allah yang kami sembah dan hanya kepada Allah lah kami meminta pertolongan. Tapi, kalau tasydid huruf ya’-nya  tidak ditekankan bisa berubah makna menjadi, “Kami menyembah sinar matahari, dan kami meminta pertolongan sinar matahari.” Karena itu, harus hati-hati dalam membaca ini. 

9. Tidak memperjelas harkat kasrah dalam huruf alif dalam kata " اهدنا ", dan juga tidak memperjelas huruf Ha’.

10. Mengganti huruf Tha’ menjadi ta’ dalam kata الصِّرَاطَ , sehingga dia membacanya menjadi اهدنا الصراتَ (menggunakan huruf ta’). 

Mengganti huruf shad dengan huruf syin dalam kata الصِّرَاطَ, sehingga dia membacanya menjadi "الشراط " (menggunakan huruf syin). 

Mengganti huruf sin menjadi huruf shad dalam kata الْمُسْتَقِيمَ, sehingga dia membacanya menjadi "المصتقيم" 

Mengganti huruf ta’ menjadi tha’ dalam kata الْمُسْتَقِيمَ, sehingga dia membacanya menjadi "المسطقيم"

Mengganti huruf dzal menjadi huruf za’ dalam kata  الَّذِينَ, sehingga dia membacanya menjadi  "الزين" 

11. Dia memasukkan harakat dhommah pada huruf Ta’  dalam kata أَنْعَمْتَ, sehingga dia membacanya menjadi "أنعمتُ". Dan ini adalah kesalahan yang bisa mengubah artinya sepenuhnya. 

12. Beberapa orang ada yang membaca ghunnah (mendengung) pada huruf nun dalam kata أَنْعَمْتَ, dan itu tidak diperbolehkan. 

13. Huruf Ghin pada kata غَيْرِ seharusnya dibaca tebal, tapi banyak yang membacanya tipis. 

Jika Anda ingin mengetahui pengucapan yang benar, bacalah seperti dalam kata غليظ

14. Kesalahan umum selanjutnya adalah mengganti huruf dha’ menjadi dal pada kalimat الْمَغْضُوبِ, sehingga membacanya menjadi "المغدوب", atau mengubah suara huruf ghin dalam kata tersebut menjadi suara huruf qaf atau huruf kha’.

15. Banyak yang salah saat membaca huruf mim dalam kata عَلَيْهِمْ وَلاَ. Seharusnya saat mim sukun bertemu dengan huruf waw dalam kalimat tersebut dibaca Idhhar (jelas), tapi justru banyak orang membacanya samar. 

16. Membaca tebal huruf lam dalam kata وَلاَ, seharusnya dibaca tipis. 

17. Menghilang bacaan mad dalam kalimat الضَّالِّينَ, sehingga dia seolah-olah membacanya menjadi  "الضالين".  Hukum bacaan kalimat ini adalah mad lazim mutsaqqal kilmi, sehingga harus dibaca panjang enam harakat. 

Atau, ada ada juga orang membacanya kalimat ini menjadi " الدالين أو الطالين أو الظالي ", sehingga semua itu mengubah arti sepenuhnya.

Semoga bermanfaat....