Jumat, 03 Maret 2023

KALAM ULAMA HABIB ALI BIN MUHAMMAD BIN HUSEIN AL-HABSYI (BAGIAN 1)

Edisi Jum'at, 3 Maret 2023 M / 10 Sya'ban 1444 H.

Habib Ali bernama lengkap Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi lahir di Qasam pada Jumat 24 Syawwal 1259 H/18 November 1843 M sebuah kota di negeri Hadhramaut. Ketika usia beliau menginjak 68 tahun, beliau mengarang sebuah kitab maulid yang diberi nama Simtud Durar. Sebuah kitab maulid yang masyhur dan penuh berkah hingga kini dibaca di Hadramaut, Indonesia, dan Afrika. Beliau mengarang kitab ini pada Kamis, 26 Shafar 1327 dan menyempurnakannya pada 10 Rabi'ul awwal 1327 Hijriyah.

Habib Ali merupakan anak dari Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi. Adapun nasab Habib Ali adalah Ali bin Muhammad bin Husein bin 'Abdullah bin Syeikh bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Ahmad Shahib Asy-Syi'b bin Muhammad Asghar bin Alwi bin Abu Bakar al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khali' Qasam bin 'Alwi bin Muhammad bin Alw bin Ubaidillah bin al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad Nagib bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin 'Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah az-Zahra binti Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bin Abdillah.

Pada saat usia 7 tahun, ayah Habib Ali hijrah ke Mekah bersama tiga anaknya yang lain, yaitu Abdullah, Ahmad dan Husein. Sementara itu, di usia 11 tahun, beliau bersama ibundanya pindah ke Seiwun, supaya dapat memperdalam ilmu fiqih dan ilmu-ilmu lainnya, sesuai perintah Habib Umar bin Hasan bin Abdullah Al Haddad. Di usia 17 tahun, Habib Ali pergi ke Mekah atas perintah ayahnya dan tinggal di sana selama dua tahun. Setelah itu, Habib Ali kembali ke Seiwun sebagai seorang alim dan ahli pendidikan. Berikut ini adalah beberapa diantara kalam beliau :

1. Yang selalu memperlambat terkabulnya do’a seorang hamba adalah karena harapan yang rendah : mengharapkan sesuatu dari makhluk. Angkatlah pandanganmu secara keseluruhan kepada zat yang dibutuhkan semua makhluk. Maka akan tampak tanda-tanda terkabulnya do’a. (Wasiat untuk Sayyid Muhammad bin Syaikh bin Abdullah Musawwa).

2. Wahai saudaraku, berprasangka baiklah kepada Tuhan, wujudkanlah kebenaran janji-Nya, dan rasakanlah kebesaran nikmat-Nya. Cukuplah bagi kita firman Allah, seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Aku bersama prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sesukamu”. (Wasiat untuk Ahmad bin Ali bin Abdillah Makarim).

3. Jika seorang hamba memedulikan penyakit hati seperti penyakit badan, niscaya mereka akan mendapatkan tabib dihadapan mereka. Tetapi, sedikit sekali yang membahas masalah ini, karena mereka telah dikuasai nafsu dan akal. (Wasiat untuk Sayyid Muhammad bin Syaikh bin Abdullah Musawwa).

4. Jika tidak ada ketamakan dan tak ada satu makhlukpun keluar dari lingkaran jejak Nabi Saw, tidak akan ada manusia mengejar dunia yang fana ini atau berpaling dari kebahagiaan negeri akhirat yang kekal. (Wasiat untuk Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Abdullah as-saggaf).

5. Tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada prasangka baik, karena didalam prasangka baik terdapat keselamatan dan keberuntungan. Didalam keluasan rahmat Allah sirnalah amalmu seperti amal setiap makhluk. Di dalam rahasia Allah, yang dititipkan pada makhluk-Nya, terdapat sesuatu yang mengharuskan untuk berkeyakinan bahwa semua makhluk  adalah mulia (Wasiat untuk Sayyid Abdullah bin Abdurrahman bin Muthahhar).

6. Keteguhan yang sempurna berbeda-beda. Keteguhan dalam perkataan berbeda dengan keteguhan dalam perbuatan. Keteguhan perbuatan berbeda dengan keteguhan dalam beramal. Keteguhan dalam beramal berbeda dengan keteguhan dalam mencari. Keteguhan dalam mencari berbeda dengan keteguhan dalam apa yang dicari. Sedangkan hakekatnya secara utuh dan merupakan kedudukan yang terakhir, adalah tidak memalingkan pandangan dari Allah sekedip matapun bahkan yang lebih cepat dari itu. (Wasiat untuk Sayyid Muhammad bin Hamid bin Umar bin Muhammad bin Saggaf al-Shafi al-Saggaf).

7. Janganlah kamu putuskan kehadiranmu ditempat-tempat yang baik karena alasan kesibukan dunia. Hati-hatilah, karena itu merupakan tipudaya syetan. Hadirkanlah Allah ketika sendirian, sembahlah Dia, seakan melihat-Nya, dan jika tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (Wasiat untuk Muhammad bin Abdullah bin Zain bin hadi Ba Salamah).

8. Tutuplah mata dari perhiasan dunia dan segala kenikmatan fana yang dimiliki budak-budaknya serta kenikmatan yang akan terputus. Sesungguhnya semuanya seperti kau saksikan bahwa dunia ini cepat berpindah dan dekat kefanaannya (Wasiat untuk Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muthahhar).

9. Jadikanlah al-Qur’an dan dzikir kepada Allah bacaan  sehari-harimu. Bertafakur lah terhadap rahmat Allah. Jika mungkin setiap waktu hanya ada antara dirimu dan Tuhan, dan pada saat itu telitilah diri sendiri. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Telitilah dirimu, sebelum kalian diteliti”. Seseorang yang meneliti dirinya didunia, perhitungan baginya akan lebih ringan diakherat kelak. (Wasiat untuk Sayyid Hasan bin Ali bin Toha al-Habsyi)

10. Orang yang lalai mengira bahwa dirinya mencapai kelezatan dunia tanpa mengetahui bahwa sebenarnya kemanisan dunia bercampur dengan kepahitannya. Sedangkan kehidupan indah yang sebenarnya adalah berpaling dari dunia, kemudian masuk ke hadhirat Yang Maha Kaya dengan sifat faqir, miskin, lalu memetik sesuatu yang indah dari tempat itu (Wasiat untuk keluarga al-Kaff).

11. Kerjakan segala perintah Allah dan tinggalkan larangan-Nya. Jangan sampai Allah melihatmu melakukan apa yang dilarang-Nya, atau kehilanganmu pada perintah-Nya. Bangkitlah untuk memenuhi hak Allah. Bersemangatlah melakukan sesuatu yang membuat para salaf (pendahulu yang saleh) mulia. (Wasiat untuk putrinya, al arifah billah Khadijah).

12. Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan qurb (kedekatan) kepada Allah, air telaga dari celah wishal (persatuan dengan Allah), dan pengetahuan pada puncak tujuan. (Wasiat untuk pencintanya, Ahmad bin Ali bin Abdillah Makarim).

13. Motivasi taubat sangat banayak, tetapi yang paling kuat adalah renungan (fikr).  Renungkanlah berbagai nikmat dari Allah kepadamu sejak engkau berupa mani menjadi manusia yang lahir ke alam ini dan berbagai nikmat lainnya yang kau peroleh hingga saat ini. Renungkanlah nikmat Allah yang engkau terima dalam setiap pertumbuhanmu. Sebab dalam setiap nafas terdapat nikmat yang banyak sekali. Andai kata tidak ada nikmat itu, maka engkau tidak akan pernah  terwujud. Jika engkau renungkan nikmat ini, maka dalam dirimu akan muncul rasa cinta kepada Allah. Karena, sudah menjadi watak hati untuk mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dan pada hakikatnya yang berbuat baik kepadamu adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.”

14. Merenung juga akan membuahkan rasa malu. Jika engkau renungkan berbagai nikmat yang diberikan Allah maka engkau akan malu menggunakan berbagai nikmat itu untuk bermaksiat kepada-Nya. Apakah pantas kebaikan engkau balas dengan keburukan ? Ini tanda yang paling membuktikan bahwa manusia sangat zalim dan bodoh. Jika engkau perhatikan pelbagai nikmat yang didberikan Allah kepadamu dan engkau merasa malu untuk membalasnya dengan keburukan, maka engkau akan menyesali semua keburukan yang pernah engkau lakukan setelah itu dalam dirimu akan timbul tekad untuk berbuat baik dimasa mendatang.

15. Barangsiapa menghafal maulidku (Simthud Durar) atau menulisnya dari awal hingga akhir, Allah Subhanahu Wa Taala akan membukakan pintu rahmat-Nya sehingga ia menjadi pandai.

16. Mustahil kalian menginginkan sorga dan selamat dari siksa neraka jika kalian tidak mengetahui jalan yang dapat menghantarkan kalian ke sorga dan tidak memperoleh penuntun yang menunjukkan jalan tersebut kepada kalian. Carilah penunjuk jalan dan perkuatlah keyakinan kalian.

17. Wahai manusia, jika kau lihat dirimu senang pada kebaikan dan bersemangat untuk beramal, maka itu merupakan tanda bahwa kau adalah seorang ahlil khair.

Semoga bermanfaat....

Kamis, 02 Maret 2023

KALAM ULAMA KH. SYAMSUL ARIFIN, S.AG,M.FIL.I BIN H.SUKERI

Edisi Kamis, 2 Maret 2023 M / 9 Sya'ban 1444 H.

H. Syamsul Arifin, S.Ag., M.Fil.I  bin H. Sukeri, lahir di Amuntai, Kamis, 13 Agustus 1970 M  atau bertepatan dengan tanggal 10 Jumadil Akhir 1390 H. Beliau adalah Alumni S-2 IAIN Antasari  jurusan Filsafat  Islam (Tasawuf), dengan tesis berjudul : “Spritualitas Sosiologis: Simbol-simbol Haji dalam Pandangan Ali Syari’ati”. 

Saat ini beliau juga menjadi pendidik di Pondok pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, Kalimantan Selatan. Selain itu juga beliau aktif memberikan tausiah dan materi dakwah di beberapa Majelis Taklim. Sedangkan Alamat rumah beliau di Jalan Pembalah Batung, Kelurahan Paliwara (Dekat Langar "Nurul Huda" Paliwara, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan 71418.

Berikut ini adalah beberapa diantara kalam beliau :

1. “Orang yang muttaqin dalam hubungannya dengan Allah selalu muwaffaqah yaitu sifatnya, tingkah lakunya, apapun yang muncul dari orang itu selalu sesuai dengan aturan Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi muttaqin adalah orang yang setiap perilakunya, tingkah lakunya, apapun yang muncul dari dia semuanya itu sesuai dengan aturan Allah”.

2. “Takutlah kamu atau bertakwalah kamu kepada Allah di manapun kamu berada. Jadi dalam pandangan orang muttaqin keberadaan dirinya itu selalu dalam pengawasan Allah. Kalau untuk muraqabah atau kedekatan perasaan adalah (merasa) selalu diintip, selalu diawasi. Contoh, sehebat apapun hotel atau semewah apapun gedung, tak ada CCTV sampai ke kamar tidur, sampai ke WC, tidak ada. Tetapi Allah mempunyai “CCTV” full time 24 jam selalu hadir dimanapun kita berada, ada jejak rekamnya. Jadi, Muttaqin adalah orang yang selalu dekat, merasa diitihi, diintip ooleh Allah, sehingga ketika dimanapun posisinya dia selalu merasa Allah senantiasa melihatnya”

3. “Hati namanya Bashirah. Ketika seseorang mampu menjaga kedua matanya maka Allah akan membukakan bashirah (hatinya). Sehingga, ada orang yang tahu dan melihat sesuatu yang orang lain kada melihat. Kenapa ? Karena ia mampu menjaga matanya. Ketika seseorang mampu menjaga lisannya (dari) ucapan-ucapan yang kada boleh kada baik, maka nanti Allah akan berbicara kepada dia. Buktinya, perintah Allah kepada Maryam untuk melakukan puasa (shaum) “bicara” (tidak berbicara). Ketika seseorang mampu puasa bicara maka Allah akan berbicara kepadanya. Dan ketika Maryam mampu melakukan puasa bicara, apa yang terjadi ? maka Allah berbicara kepadanya melalui Isa as yang bapandir lantang kaya orang tuha padahal hanyar dilahirkan”

4. “Ketika seseorang mampu memuasakan lidahnya dari ucapan-ucapan yang kada baik, kada bermanfaat, maka Allah akan berbicara kepadanya”

5. “Orang yang takut kepada Allah. Maka berbicaranya selektif, bapandernya itu baaturan”

6. “Kalau kita mengirim chat “WhatsApp (WA)” ke group tertentu, yang anggotanya katakanlah 30 orang, kemudian yang kita kirim itu kontennya (isinya) berupa “hoax”, maka kita telah berdusta kepada 30 orang”

7. “Jangan pernah mengemukakan kejelekan kita kepada seseorang, akan turun posisi kita ke bawah. Ketika kita curhatkan kekurangan kita kepada Allah, maka posisi kita akan naik, tetapi, apabila kita sebutkan kekurangan kita pada manusia, posisi kita akan jatuh”

8. “Indikasi hasad itu adalah tidak mensyukuri nikmat. Kalau dia mensyukuri nikmat yang dia dapat maka dia tidak akan hasad dengan orang lain. Kita jangan melihat jumlah nikmat yang diberikan, tetapi kita harus menyadari bahwa kita diberikan nikmat. Apabila kita menghitung, melihatnya tu dari jumlah, maka seseorang akan suka membandingkannya dengan orang lain.Contoh, seorang ayah yang menyangui anaknya sekolah, 10 ribu misalnya, dan di kelasnya itu rata-rata kakawanannya basangu 15 ribu. Maka apabila si anak melihat kepada jumlah, maka inya akan baucap : “Anu bah ai kakawanan ulun 15 ribu barataan basangu”. Adalah inya berterima kasih. Kada. Karena inya melihat jumlah. Tetapi ketika ia merasa diberi, merasa diunjuki, diunjuki abah, diunjuki mama, maka dia akan baucap : terima kasih abah”.

9. “Penyakit hati akan menghalangi seseorang untuk bisa bertemu dengan Allah”

10. “Dapat berada ditempat yang mulia dalam kegiatan yang mulia merupakan suatu kenikmatan besar yang luar biasa”

11. “Tidak ada satupun kitab dimuka bumi ini yang paling banyak dibaca oleh manusia selain al-Qur’an, tidak ada satupun bacaan dimuka bumi ini yang paling banyak dihafal manusia selain al-Qur’an, tidak ada satupun bacaan dimuka bumi ini yang dipelajari redaknya kecuali al-Qur’an, tidak satupun bacaan dimuka bumi ini yang diatur tatacara membacanya selain al-Qur’an, dan tidak ada bacaan dimuka bumi ini yang dipelajari sejarahnya, dimana turunnya, bagaimana sesuatunya kecuali al-Qur’an”

12. “Al-Quran adalah petunjuk terbaik bagi manusia. Kenapa? (karena) Allah pencipta manusia (tentu) Allah tahu persis siapa manusia, kemudian Allah turunkan undang-undang, syari’at dalam bentuk al-Qur’an. Semua hukum dalam al-Qur’an paling tepat, cocok untuk manusia”

13. “Ada 4 macam persaudaraan yang oleh al-Qur’an di sebutkan, yaitu persaudaraan kemakhlukan, bahwa kita ini makhluk diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sama semuanya. Kemudian ukhuwwah insaniyah, bahwa kita bersaudara kemanusiaan, meski lahir dari orang tua yang berbeda, tetapi diruntut ke atas akan ketemu pada Adan dan Hawa, jadi kita sebenarnya bersaudara. Kemudian ukhuwwah wathaniyah, saudara karena satu Negara. Kemudian ada ukhuwwah Islamiyah, yaitu persaudaraan yang diikat oleh agama”.

14. “Ukhuwwah dalam bentuk apapun akan melahirkan suatu persatuan dan quwwah, kekuatan”.

15. “Bagi kita orang beriman, kita menyakini apapun yang terjadi itu semua kehendak-Nya, itu semua merupakan takdir Allah Subhanahu wa ta’ala. “Wa kaana amrulillah qadaran maqduuran (Qs. Al-Ahzab (33) : 38), apa yang Allah takdirkan, Allah tentukan semua pasti akan terjadi. Namun kemudian, kita sebagai orang beriman, apapun yang terjadi semuanya akan melahirkan kebaikan bagi kita semua. Disinilah kemudian, yang meng ‘ajibkan Rasul. “Ajaban li amril mu’mini, inna amrahu kullahu khairun wa laisa dzaka li ahadin illa lil mu’mini. Inna ashaabathu sarra-u syakara, fakaana khairaanlahu, wa in ashaabathu dharra-u shabara, fakaana khairaanlahui” (HR. Muslim). Kalimat ‘ajaban, dimana perkara orang mu’min itu menakjubkan, ketika mereka ditimpa sesuatu yang menyenangkan, syakara, mereka bersyukur, maka ini menjadi suatu kebaikan bagi mereka; dan jika mereka ditimpa ashaabathu dharra-u, (seperti) musibah, bala, bencana (lalu) shabara, mereka sabar, maka (hal itu) melahirkan kebaikan juga baginya. Sarra dan dharra, kebaikan dan kemudharatan ini semua menunjukkan kekuasaan Allah. 

16. “Inna fii dzaalika la ayaatin likulli shabbaarin syakuuri” (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sabar lagi banyak bersyukur) (QS. Luqman : 31).  Semuanya itu tanda-tanda kekuasaan Allah, semua diperuntukkan bagi orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”.

17. “Ketika seseorang menyatakan beriman kepada Allah, maka Allah akan uji imannya itu., Allah akan coba keimanan yang dinyatakannya. “Ahasibannaasi ay yutrakuu ay yaquuluu amanaa wahum la yuftanuun” (Qs. Al-Ankabuut ayat 2) “Apakah kamu mengira bahwa kamu dibiarkan saja mengatakan beriman sementara mereka belum lagi diuji”. Artinya apa? Ketika seorang menyatakan beriman kepada Allah maka ujian menjadi konsekuensi logis yang akan didapatkan”.

Semoga bermanfaat...

Rabu, 01 Maret 2023

KALAM ULAMA KH. IBRAHIM SARMAN

Edisi Rabu, 1 Maret 2023 M / 8 Sya'ban 1444 H.

KH. Ibrahim Sarman lahir di Desa Sungai Limas Kecamatan Haur Gading Amuntai , Kalimantan Selatan pada tahun 1950 M (1369 H). Beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren “Darussalam” Martapura pada tahun 1972, setelah itu banyak mengaji “baduduk” dengan beberapa ulama di beberapa kampung.

KH. Ibrahim saat ini di samping mengajar sekaligus menjadi pimpinan Pondok Pesantren “Raudhatul Muta’allimin” yang didirikan oleh Muallim KH. Jahri di Desa Teluk Haur Kecamatan Haur gading, mengajarkan kitab “Dalilul Falihin Syarah kitab Riuadhus shalihin” pengajian rutin di Majelis Ta’lim al-Ma’arif. Dirumah beliau sendiri juga membuka majelis dengan mengkaji kitab fiqih “Riyadul Bariyah”, serta kitab tauhid “Fathul Majid”. 

Berikut ini adalah diantara beberapa kalam beliau :

1. Ibadah itu dengan baniat, amun kada baniat kada sah, amun kada sah kada dikatakan ibadah. Contohnya sembahyang atau berwudhu, bila kada baniat kada sah. Mandi wajib, mun kada baniat kada sah mandinya, alias kada dingarani ibadah, dan itu juga yang disebut amal. Gawian sembahyang tu ia amal, gawian ba udhu tu amal jua. Ibadah dengan baniat itu mensahkan ibadahnya dahulu, sesudah jadi ibadah, disebut orang itu amal shaleh, nangitu perlu pulang keikhlasan. Sesudah sah ibadah disebut amal, nah amal ini memerlukan pulang keikhlasan supaya ada nilai pahalanya. Kalau tidak ikhlas kada jadi bapahala. Jadi shiddqul qashdi iktu ibadahnya dengan niat, bila kada baniat tentu kada sah. Bila sudah baniat sah sudah disebut amal shaleh, supaya bapahala dilakukan dengan ikhlas pula”.

2. “Bagaimana cara beribadah supaya ikhlas? Apabila takutan maninggalakan (suatu kewajiban, atau yang sunnah, pen). “Nanti aku disiksa bila maninggalakan”. Nah kita disiksa tu nang kada hakun. Nah (apabila) kaya itu perasaan hati kita, itu ngarannya gawian kita tu ikhlas. Nang mandorong kita baibadah tu ilmu pengetahuan seperti itu tadi. Lalu kita manggawi ini (kewajiban) bujur-bujur takutan lawan Allah, takutan lawan siksanya Allah, sebab amun kada digawi disiksa-Nya. Lamun digawi bapahala, sorga balasannya. Tapi kita nang kada handak dahulu nang nyata dahulu adalah siksaannya yang kada hakun. Nah yang seperti ini ikhlas tu, yaitu ikhlas orang awwam. Kada wani lawan siksanya Allah. Atau yang seperti ini sunnat gawiannya, sunnat ini bapahala, bila bapahala ini balasannya sorga. Nah aku handak sorga tu pang. Lalu manggawi nang sunnat tu karena Allah. (seperti) Nang kusembahyangkan sunnat zuhur itu niat mensahkan ibadahnya, nang mambangkitakan kita ini mau manggawi nang disuruh Allah itu wajib/sunnat karena maunting handak taganang dipahalanya itu, dan kada wani maninggalakan karena akan disiksa, nah seperti itulah cara kita untuk ikhlas”.

3. “Hati kita ini bisa mati, bisa hidup, bisa hidup tapi taguring. Mun hati itu hidup (apabila) mandangar nasehat-nasehat agama tu ada tu barasa inya, lamun hati mati kada mandangar tu, hatinya tu kada mandangar mati pang, atawa (hatinya) guring kada mandangar jua. Bila dihidupkan Tuhan tu hidup serta kada taguring, mandangar nasehat lalu masuk, bilanya masuk takarujut hati tu : kada kapingin kada lagi nangkaya halam, kada tahu pang (saat itu), ini umpama. Nah tu ada ngarannya masuk, inya (hati) hidup, inya kada taguring. Supaya hati hidup jangan guring, amalannya adalah “ Ya hayyu ya qayyum” 40 x tapi ingat waktunya hampir terbit matahari”.

4. “Maksud ahya-llahu qalbah adalah Allah bukakan dengan mengenal Allah akan dadanya, maksudnya hatinya. Inya mun kada tabuka kada ma’rifat. Bila kita yakin, I’tiqad kita tu yakin, “jazam” nang kada bagarak lagi tuh, nang kita yakinkan itu bujur, dalilnya tahu, nah itu (yang seperti ini) ma’rifat sudah. Ma’rifat menurut sifat 20”.

“apabila setiap waktu atau setiap saat hati kita ini terbuka, sampai ingatan kita tu lawan Allah. Kita mendapat kaya (seperti ini) memang ini sudah, ini dihati bukan dipandir. Tasipak tunggul, Innalillah, langsung ingat mati han sampai pikirannya kepada Allah tu, ini ngarannya ma’rifat. Kawa sembahyang, ini taufik dan hidayah dari Allah (sehingga) kawa baibadah, han sampai pikiran lawan Allah, kaya ini dulu ma’rifat kita orang awam, kaya ini dahulu. Nyaman makan, Alhamdulillah, bukan muntung haja baucap tapi hatinya juga ingat. Sampai hati kita nih ingat lawan Allah Ta’ala nih, nang ini ngarannya ma’rifat. Inilah maksud dibukakan Tuhan akan hati. “Tang ta ingat ha” (kepada Allah). Kaya ini pang kisahnya hati nang dibukakan Tuhan, nang kada dibukakan Tuhan tu kada ingat pang”.

5. “Malihat sidin bapandir (berbicara) tang (seketika) ingat ha lawan Tuhan, dan apabila sidin bapandir, ma’rifat tu isinya. Tu Allah ta’ala nang ma ungapakan muntung (yang menggerakan mulut) sidin. Kalu ada nang kaya itu tang ingat ja kita (kepada Allah), berarti sidin tu wali. Tapi kada usah dipandir. Kenapa maka nang kaya itu ? Kenapa apabila maningau (melihat) seseorang (wali Allah, pen) tang langsung  ingat ha lawan Tuhan. Aneh. Jadi mun sudah rancak (sering) tatamu sidin umpamanya (orang seperti sedemikian), tang ingat ha lawan Allah, maka paparakiai lagi, papatuhiai, minta do’akan. Rahasianya ngitu haja”.

6. “Babisa-bisa saurangai lagi, minta sumbahyang hajatkah, minta do’a lawan orang, bagus haja pang, tapi nang harat (yang hebat) tu saurangai babisa-bisa. Bertadarru’, munajat kepada Allah. Do’a tu kada mesti “Allahumma-Allahumma” pang, tapi hati kita tu bapandir (berkata-kata). Tangah malam bangun bawa sumbahyang tahajjud, sembahyang hajat, lalu hati kita ni dibawa munajat kepada Allah. Merendahklan diri, tadarru’ kepada Allah dan banyak-banyak mengingat Allah, baca La haula wala quwwata illa billah, baca istighfar, dan diantara fadhilatnya adalah dapat mengeluarkan daripada kesusahan dunia”.

7. “Nyaman ja berkomunikasi lawan Tuhan tu kada ngalih (tidak sulit) , kada salang picik mamicik pang (tidak perlu menekan-nekan nomor), sa apa nomornya, langsung saja, jadi baandak saja sudah. Selama kita tidak menginginkan segera, segera, segera ngitu, (maka) kabul”

8. “Sesudah menunaikan sifat kehambaan bagi hak Allah Ta’ala, sesudah kita menunaikan ubudiyah kita, beribadah, imbah (selesai) sembahyang lalu kita berdo’a, atau imbah babacaan nangapakah, amalan-amalan lainnya bagus berdo’a imbahnya (setelahnya). Jika membaca shalawat 100 kali, istighfar 100 kali, umpama, lalu imbahnya berdo’a. (Semestinya) memang begitu. Sesudah menunaikan sifat ubudiyah seorang hamba tu bagi hak Allah Ta’ala, yaitu beribadat”.

9. “Semua amal ibadah ada haja fadhilatnya (yaitu) mengkaffaratkan dosa-dosa. Seperti berwudlu mengkiffaratkan, napa hajakah (apa saja) amal ibadah tu mengkaffaratkan dosa”

10. “Bila (meminta) masuk sorga tu sama artinya meminta mati dalam keadaan beriman. Kita ulangi, meminta keberuntungan dengan masuk sorga sama artinya kita meminta mati di dalam keadaan Husnul Khatimah”

11. “Kadang-kadang amal ni amal baik tetapi tidak di redhai Tuhan, lalu amal baik ini membawa kepada ujub, membawa kepada takabbur, nangitu amal nang kada diredhai. Kadang-kadang bisa haja sayyiat tetapi membawa kepada kebaikan, maksudnya lalu inya pacah hatinya, manyasal manggawi dosa itu, lalu inya bataubat nashuha, nah ini ngaranya sayyiat yang membawa kepada keredhaan Allah Subhanahu wa ta’ala”

12. “Pertama, bila menggunakan pandangaran kepada sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, itu termasuk kejahatan pandangaran. Kedua, kada hakum mandangarakan pandangarannya tu kepada kebenaran, ilmu pengetahuan agama, ceramah agama, kada hakun tu pang naitu tamasuk juga pada kejahatan pandangaran. Tidak menggunakan penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, padahal inya malihat, tetapi pikirannya kadada, karena kekurangan ilmu kah atau hatinya kah yang tatutup, naitu tamasuk kejahatan pada penglihatan. Mamandir sesuatu nang pacing manjadi dosa,atau pander nang sia-sia, nang kadada gunanya gasan dunia dan akhirat, naitu tamasuk juakadalam kejahatan lidah”.

13. Nikmat agama nang paling besar adalah nikmat iman, karena sebab iman inilah nang menyebabkan tidak kekal di dalam neraka. (maka)  nikmat agama tu jangan kitakada ingat setiap malam hari bila handak guring mentafakkuri : “Alhamdulillah ya Allah, aku ini masih diberi tetap beriman sampai hari ini, dan selanjutnya ulun harapakan jangan diambil nikmat agama”. (ini) adalah jalan usaha kitasupaya nikmat iman, nikmat agama ini selalu tetap ditetapkan Allah sampai kepada ke akhirat, sampai mati tetap beriman. Mengharap lawan Tuhan, tetapi kita jua bausaha. Ya usahanya antara lain kitasyukuri, kita pelajari, kita amalkan. Kitasyukurilah nikmat Agama Allah. Nah itulah cara-cara kita untuk agar nikmat agama itu tidak diambil oleh Allah”.

14. “Bila kita manggawi (suatu perbuatan) ingat (bahwa hal tersebut) menjunjung perintah Allah, maka gawian tersebut bernilai ibadah. Karena, suatu amalan bila tidak disertai ilmu, ditolak, artinya, tidak menjadi nilai ibadah”.

15. “Tasyaddud  itu panjang kalam pamandirannya (bertele-tele) panjang do’a, tetapi kadada hadir dihatinya. Muntung ja parapak-parapak, tapi hatinya (lalai) kemana-manakah. Itu ngarannya mu’tadi (melampaui batas dalam berdo’a, pen). Tuhan kada suka itu”

16. “Orang berdo’a tu, sudah lagunya, sifat keadaan  zahirnya tu sudah tadharru’, merendahkan diri, menampakkan keadaan seorang hamba. Bakijim ha pulang, batunduk, yaitu menampakkan kehambaan kepada  Allah, bukan kepada makhluk”.

17. “Orang beriman itu redha menerima hukum-hukum Islam, inya (dia) kada merasa sempit oleh karena hukum-hukum Islam”.

"Salah satu siasat atau upaya untuk menambali (menutupi) kekurangan amaliah kita, akibat kelalaian-kelalaian kita, yang pertama adalah dengan memperbanyak membaca shalawat, yang kedua adalah memperbanyak tasbih dengan ucapan :  Subhanallahi 'adada khalqihi, subahanallahi ridha nafshihi, subhanallahi zinata 'arsyihi, subhanallahi midada kalimatihi".

Semoga bermanfaat...