Senin, 26 April 2021

17 KEGIATAN POSITIF SELAMA BULAN RAMADHAN DITENGAH PENDEMI COVID-19

Edisi Senin, 26 April 2021 M / 14 Ramadhan 1442 H

Menjalani puasa di bulan suci Ramadhan dua tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi yang sangat memprihatinkan akibat terus meluasnya wabah virus COVID-19 menjadi perhatian khusus bagi seluruh umat muslim di dunia termasuk Indonesia.

Pandemi COVID-19 telah membuat orang berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup. Dampak pandemi COVID-19 tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Aspek kehidupan tiap orang secara psikologis, sosial, bahkan spiritual ikut diuji saat ini. 

Berdasarkan data Worldometer. Info sampai hari ini 26 April 2021 pukul 17.17 wabah Covid-19 telah menginfeksi 147.840.332 umat manusia dengan 3.123.764 diantaranya meninggal. Bahkan India tengah mengalami Tsunami Covid-19, dengan mencatat angka infeksi harian tertinggi dudunia selama pendemi dan hari ini 354.531 penduduknya terpapar Covid-19 sehingga total sudah 17.313.163 penduduknya terinfeksi, dengan 195.123 diantaranya meninggal. Badai Covid-19 di India salah satu diantaranya disebabkan Varian Covid-19 yang cepat menular yaitu B.1617.

Puasa sesunguhnya merupakan ibadah untuk menahan diri. Banyak anjuran dalam pencegahan COVID-19 tercermin dalam ibadah puasa. Kita diminta untuk menahan diri dari keluar rumah kecuali untuk urusan kebutuhan pokok. Kita perlu menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang diperlukan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi akan berakhir. 

Menjalankan puasa Ramadhan dapat membentuk benteng dari paparan COVID-19. Hal itu sesuai dengan makna dan anjuran syariat Islam, puasa akan melahirkan kesehatan dan puasa adalah perisai pelindung diri. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya yang artinya “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” 

Dengan kita berpuasa yang benar, akan melahirkan imunitas tubuh dan mencegah paparan COVID-19. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya “Puasa itu adalah junnah/perisai pelindung diri selagi tidak dirusak dengan kebohongan dan menggunjing orang lain.”

Oleh karena itu bulan ramadhan sudah selayaknya diisi dengan kegiatan yang positif, halal, berpahala, dan bermanfaat untuk orang lain dalam rangka mendekatkan diri dan menyempurnakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menurut berbagai sumber syariat islam berikut 17 kegiatan positif selama bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan walaupun masih ditengah pendemi Covid-19.

1. Membaca Al Qur’an Bersama 

“Bulan Ramadhan, bulan yang mulia yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk yang benar bagi manusia dan penjelasan penjelasan di dalamnya mengenai petunjuk itu dan menjadi pembeda (antara yang hak atau yang benar dan yang bathil atau yang salah)” (Al-Baqarah: 185).

Salah satu kegiatan positif yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan sebagai cara menambah pahala di bulan Ramadhan ialah mengaji atau membaca Al Qur’an bersama, hal itu bisa dilakukan dengan keluarga atau dengan teman teman sekumpulan (tentu dengan menjaga jarak mencegah covid-19). Membaca Al Qur’an bersama akan menjadikan lebih berilmu sebab akan saling mengingatkan jika ada kekurangan atau kesalahan dan dapat memahami maknanya bersama sama.

2. Kegiatan Sedekah 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: “Sebaik baik sebuah sedekah adalah sedekah yang dilakukan pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi). Hadits tersebut menjelaskan bahwa sebaik sebaik sedekah ialah yang dilakukan di bulan yang mulia, yaitu di bulan Ramadhan, namun dengan adanya hadits tersebut bukan berarti yang dilakukan di bulan lain tidak baik sedekahnya.

Kegiatan positif yakni yang berhubungan dengan pahala bersedekah di bulan Ramadhan yang bisa dilakukan ialah dengan memotivasi sesama untuk memperbanyak sedekah dan menyalurkan sedekah tersebut kepada yang membutuhkan seperti fakir miskin dan anak anak yatim piatu yang kekurangan, tentu saja boleh untuk mendahulukan orang terdekat atau tetangganya terlebih dahulu sebagai wujud keutamaan bersedekah kepada yang terdekat dahulu.

3. Shalat Tarawih Berjamaah 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda : “Barang siapa umatku yang mampu menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman kepada Allah dan ia mengharap pahala indah dari Allah maka ia akan diampuni dosa dosanya atau kesalahannya yang telah lalu.” Menghidupkan malam bulan Ramadhan yang dimaksud ialah dengan melakukan amal baik misalnya shalat tarawih secara berjamaah.

Tentu ada diantara kita yang sepanjang hari sibuk dengan rutinitas dunia hingga tak pernah mengetahui atau bergaul dengan tetangga dekatnya sendiri, bulan ramadhan bisa menjadi moment untuk meingkatkan silaturahmi, yakni dengan shalat tarawih bersama tetangga di masjid sehingga terjalin hubungan yang damai namun tetap harus memperhatikan protokol kesehatan sosial distancing ditengah wabah corona yang masih melanda.

4. Memperbanyak Doa 

Sudah selayaknya bulan ramadhan digunakan untuk berdoa, kita bisa memotivasi teman teman kita untuk mendoakan kebaikan satu sama lain atau mendoakan saudara saudara kita sesama muslim yang mungkin saat ini sedang dalam kondisi susah karena berada dalam  peperangan atau terdampak bencana covid 19  sehingga mereka tidak bisa menjalankan ibadah di bulan ramadhan senyaman kita sehingga kita mendapatkan keajaiban doa di bulan ramadhan.

5. Memberi Makan pada Yang Tidak Mampu 

“Barang siapa umat islam yang memberi ifthar atau makanan minuman (untuk berbuka puasa) orang orang yang sedang berpuasa ramadhan maka baginya akan mendapatkan pahala seperti orang baik yang juga berpuasa tanpa dikurangi atau dihilangkan sedikitpun pahalanya.” (Bukhari Muslim). Memberi makan orang yang puasa akan mendapat pahala puasa pula.

Itulah kesimpulan dari hadits tersebut, ketahuilah bahwa tidak semua orang memiliki kemudahan untuk makan dan minum seperti kita, banyak orang di luar sana yang bahkan masih merasa lapar ketika waktunya berbuka puasa karena tidak ada yang bisa dimakan sama sekali, sebab itu jika memang kita mampu, luangkan rezeki untuk berbagi kepada sesama yang kekurangan dan pahami mengenai pahala menyantuni anak yatim di bulan ramadhan.

6. I’Tikaf 

I’tikaf artinya ialah berdiam diri di dalam masjid atau mushalla atau tempat yang tenang untuk beribadah guna mendekat dan melakukan kebaikan kepada Allah. I’tikaf itu menurut Rasulullah disunahkan baik bagi lelaki dan perempuan, semasa ramadhan pun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam selalu beri’tikaf dengan sungguh sungguh,

yaitu terutama pada hari hari 10 (sepuluh) malam ramadhan yang terakhir serta para wanita yang menjadi istri Beliau pun menjadi turut ikut beliau, yaitu ikut I’tikaf bersama dengan niat karena Allah. Dan hendaknya orang islam yang melaksanakan I’tikaf itu melakukan sesuatu yang bermanfaat seperti memperbanyak bacaan dzikir, memahami dan banyak mengucap istigfar, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, berdoa kebaikan untuk dunia akherat, shalat sunnah dan sebagainya.

7. Aktif Mengingatkan Zakat Fitrah 

Di akhir bulan Ramadhan yang mulia, kita mengetahui bahwa Allah mewajibkan kepada setiap muslim laki laki dan perempuan untuk harus mengeluarkan zakat fitrah sebagai ibadah untuk penyempurna puasa ramadhan yang dilakukannya. Sebagai umat muslim, kita bisa mengingatkan kepada keluarga atau sahabat terdekat, atau lebih baik jika turut aktif membantu dan menjadi panitianya.

8. Umroh 

“Umroh yang dilakukan pada bulan Ramadhan ialah memiliki pahala seperti haji bersamaku.”. Begitulah sabda Rasulullah. Barang siapa yang umroh,  dan niat karena Allah, bukan karena ingin pamer atau ingin dipuji manusia maka akan mendapatkan pahala yang mulia, sedang yang melakukan karena ingin dipuji dan pamer semata hanya akan mendapat rasa lelah dan kebaikan yang dilakukannya sia sia.

Namun untuk ramadhan tahun ini masjidil Haram di Mekah dan masjid Nabawi di Madinah masih ditutup akibat covid-19, kita berdoa wabah ini segera berakhir dan otoritas setempat kembali membukanya di sisa Ramadhan tahun ini.

 9. Memperbanyak Kebaikan 

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap amal baik di bulan ramadhan, apapun itu, baik amalan yang berhubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, atau yang berhubungan dengan kebaikan untuk orang lain, akan dilipatgandakan pahalanya hingga 70 kali dibanding hari hari di bulan basa. Tentunya jika dilakukan dengan ikhlas. Sebaiknya banyak lakukan kebaikan walaupun hanya minimal seperti tersenyum kepada orang lain.

10. Kasih Sayang dengan Orang Tua 

Kegiatan positif lain yang bisa dilakukan ialah dengan lebih memperhatikan dan menyayangi orang tua, jangan lupa setiap hari terkadang kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri hingga sedikit sekali mengingat dan mendoakan orang tua. Perbanyak aktifitas mendoakan kebaikan untuk orang tua, berbuka dan sahur bersama, membelikan orang tua baju atau sesuatu yang beliau suka, dan membagi rezeki untuk orang tua untuk digunakan sebagai keperluan Lebaran.

11. Berbuat Baik pada Keluarga 

Jangan lupa juga untuk berbuat baik pada keluarga, jangan hanya sibuk berbuka puasa bersama dengan teman teman hingga lupa dan jarang berbuka puasa dengan keluarga sendiri, tentu ada kalanya mengadakan acara buka puasa bersama keluarga terdekat seperti dengan paman dan bibi, nenek kakek, keponakan, dan saudara terdekat lainnya.

Untuk ramadhan tahun ini, ditengah pendemi covid-19, sangat dianjurkan cukup berbuka puasa bersama keluarga. 

12. Puasa Lahir dan Batin 

Dari Abu Hurairah ia pernah berkata, bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Barang siapa umat islam yang berpuasa ramadhan dengan ikhlas yakni hanya karena imannya kepada Allah dan berharap pahala akherat, maka akan diampuni dosa dosanya atau kesalahannya yang telah lalu”. (HR Bukhari dan Muslim). 

Biasakan untuk puasa lahir batin, yakni menahan lapar haus dan menahan hawa nafsu serta menjauhi perbuatan maksiat, sehingga puasa mendapat pahala yang sempurna, tidak hanya mendapat lapar dan haus saja.

13. Shalat Malam 

“Shalat malam atau shalat tahajud itu dua raka’at, dan apabila ada salah seorang darimu merasa khawatir akan masuk shubuh, maka hendaklah ia melakukan shalat satu raka’at yaitu witir sebagai pengganjil dari shalat malam yang dilakukannya.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Di bulan ramadhan, perbanyak untuk melakukan shalat tahajud, lakukan juga aktifitas yang lebih positif seperti mengajak keluarga dan mengingatkan teman teman (lewat Wa/video call) untuk juga melakukannya sehingga jika menjadi kebiasaan nantinya akan selalu dilaksanakan di tiap malam, tidak hanya di bulan ramadhan saja.

14. Buka Puasa Bersama secara virtual 

“Manusia (yakni umat islam) yang senantiasa baik ialah yang selama mereka puasa ramadhan mereka bersegera dalam berbuka puasa.”  (HR Bukhari dan Muslim). Bukan sebuah larangan dalam islam jika ingin menjalankan acara buka puasa bersama terlebih jika ditambah dengan kebaikan seperti mengajak orang orang yang tidak mampu.

Tentunya aktifitas positif ini tetap harus menjaga jarak dan mendahulukan ajaran islam, yakni jangan sampai diisi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat seperti menggosip, terlambat shalat maghrib dan isya’, dan bergadang yang tidak penting. Lebih baik isi kegiatan dengan amalan amalan islam yang baik.

Agenda buka puasa juga bisa kita adakan bersama teman-teman dengan menggunakan aplikasi video call. Iftar virtual bisa menjadi alternatif yang menyenangkan untuk tetap bersilaturahmi bersama dengan kerabat dan keluarga besar yang kita cintai ditengah pendemi Covid-19.

15. Mendengar Ceramah Islam 

“Apa apa atau sesuatu yang telah aku larang tinggalkanlah, dan juga segala sesuatu yang telah aku perintahkan lakukanlah dengan benar semampu kamu dengan niat karena Allah, karena sesungguhnya hal yang membinasakan orang orang kafir sebelum kamu adalah mereka itu banyak bertanya dan juga banyak menyelisi serta menentang Nabi Nabi mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits tersebut dapat diambil pelajaran bahwa banyak orang yang masuk neraka karena tidak mengikuti perintah Nabi, sebab itu sebagai umat muslim kita harus memperbanyak wawasan islami seperti mendengarkan ceramah Para da'i baik lewat televisi maupun media sosial (menghindari covid-19) sehingga mengerti apa saja yang benar dan yang salah dan terhindar dari jalan yang sesat.

16. Donasi untuk orang yang kurang beruntung 

Jika anda ingin berbagi di bulan Ramadhan ini di tengah wabah corona, pertimbangkan untuk menyumbangkan uang, pakaian layak pakai yang sudah tidak kita pakai, atau makanan berbuka untuk badan amal setempat. Atau carilah bank dan organisasi yang dapat mengambil barang sumbangan dari rumah ke rumah untuk menghindari kita pergi ke luar rumah.

Atau kita bisa memesan makanan melalui layanan  aplikasi ojek online. Ketika driver ojol tiba membawa pesanan makanan, kita bisa menyerahkan sajian untuk berbuka puasa seperti, kurma, dan sebotol air.

17. Batasi waktu di media sosial 

Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar atau lockdown semuanya harus dikerjakan dirumah saja dan untuk menghindari rasa bosan, biasanya orang akan memilih untuk membuka jejaring media sosial. Sehingga tidak mengherankan penggunaan media sosial akhir-akhir ini telah melonjak tajam secara global, menurut data yang diberikan oleh Statista.

Pada Ramadhan ini, daripada menghabiskan berjam-jam untuk membuka Twitter, Instagram atau Youtube, lebih baik manfaatkan waktu untuk menyempurnakan ibadah, merenungkan apa saja yang sudah kita perbuat, introspeksi diri, berdoa mohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan juga membaca Al-Qur'an.

Itulah beberapa kegiatan positif selama bulan Ramadhan di tengah pandemi COVID-19. Berdoa, berusaha, dan selalu berpikir positif adalah inti dari menjaga kesehatan dalam masa krisis ini.  Semoga mudah dipahami oleh anda dan dapat menjadi wawasan islami yang berkualitas. 

Semoga bermanfaat....

Minggu, 25 April 2021

17 AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG EKONOMI

Edisi Ahad, 25 April 2021 M / 13 Ramadhan 1442 H

Ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan tersebut kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan.

Kata "ekonomi” berasal dari kata Yunani “oikos” yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan “nomos”, atau "peraturan, aturan, hukum,". Secara garis besar, ekonomi  diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi (ekonom) adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja. (Wikipedia)

Ekonomi syariah atau sering disebut juga dengan Ekonomi Islam adalah bentuk percabangan ilmu ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Ekonomi syariah melandaskan pada syariat Islam, yang berasal dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Hukum-hukum yang melandasai prosedur transaksi sepenuhnya untuk kemaslahatan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat ini tidak diukur dari aspek materil saja, namun juga mempertimbangkan dampak sosial, mental dan spiritual serta dampaknya pada lingkungan.

Pada artikel tausiah kali ini kita akan mencoba membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan ekonomi. Simak selengkapnya di bawah ini.

1. Q.S. Al-Qashash : 26 

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Q.S. Al-Qashash : 26)

2. Q.S. Al-Qashash : 27 

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik." (Q.S. Al-Qashash : 27)

3. Q.S. Yunus : 88 

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami - akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih." (Q.S. Yunus : 88)

4. Q.S. At-Taubah : 24 

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At-Taubah : 24)

5. Q.S. Saba’ : 12 

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Q.S. Saba’ : 12)

6. Q.S. Saba’ : 13 

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (Q.S. Saba’ : 13)

7. Q.S. At-Taubah : 28 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah : 28)

8. Q.S. Al-Baqarah : 247 

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 247)

9. Q.S. Al-Israa’ : 6 

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. (Q.S. Al-Israa’ : 6)

10. Q.S. Al-Kahf : 34 

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat" (Q.S. Al-Kahf : 34)

11. Q.S. Al-Baqarah : 275 

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-Baqarah : 275)

12. Q.S. An-Nuur : 37 

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Q.S. An-Nuur : 37)

13. Q.S. Ar-Ruum : 37 

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Q.S. Ar-Ruum : 37)

14. Q.S. Saba’ : 39 

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (Q.S. Saba’ : 39)

15. Q.S. Al-Baqarah : 198 

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Baqarah : 198)

16. Q.S. An-Nisaa’ : 29 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Q.S. An-Nisaa’ : 29)

17. Q.S. Ali ‘Imran : 14 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. Ali ‘Imran : 14)

Itulah berbagai ayat Al-Quran yang membahas mengenai ilmu ekonomi. Semoga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita. Di dalam ekonomi kita tidak hanya disuruh untuk mencari uang, uang dan uang. Kita tidak disuruh untuk mencari pendapatan yang sangat besar. Tetapi di dalam ekonomi kita diajarkan untuk mengelola keuangan dan harta benda yang ada pada kita. Kita diajarkan memperoleh keuntungan yang besar. Tetapi ingat, semua itu tetap dalam batasan syariat. Tidak boleh harta haram dan riba. Jadi kita bukan hanya sekedar menjadi pelaku ekonomi biasa, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang bertaqwa. Dan keuntungan yang paling besar adalah surga. Semua harta benda itu sangat tidak ada apa-apanya dengan surga. Maka sudah sepantasnya kita berniaga, berbisnis dan melakukan aktifitas ekonomi lainnya yang dengannya dapat memasukkan kita ke dalam surga.

Semoga bermanfaat....

Sabtu, 24 April 2021

17 AMALAN SUNNAH PUASA RAMADHAN YANG BISA MENAMBAH PAHALA DAN MENGISI WAKTU LUANG

Edisi Ahad, 25 April 2021 M / 13 Ramadhan 1442 H

Secara hakikat, Ramadhan adalan bulan untuk membakar semua dosa-dosa. Di bulan ini umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Barang siapa yang mengerjakannya didasari iman dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah) maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Di bulan ini, pahala amal ibadah juga dilipatgandakan. Orang yang mengerjakan ibadah sunnah pahalanya diganjar pahala ibadah wajib. Sedangkan pahala ibadah wajib ganjarannya dilipatgandakan.

Amalan sunnah ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan juga bisa menjadi penghasil pahala di bulan suci. Amalan sunnah puasa Ramadhan ini juga bisa jadi pengisi waktu luang dan bertambah pahala.

Berikut 17 amalan sunnah puasa Ramadhan :

1. Mempercepat (ta’jil) buka puasa jika sudah yakin masuk waktu berbuka (yakni terbenamnya matahari). 

Jika ragu, maka kita harus berhati-hati dengan menunda sebentar buka puasa sampai merasa yakin dengan masuknya waktu berbuka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَاتَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الفِطْرَ. متفق عليه

“Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mempercepat berbukanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Sahur, walaupun dengan seteguk air. 

Masuk waktu sahur mulai pertengahan malam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

تَسَحَّرُوْا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ. صحيح

“Bersahurlah walaupun dengan seteguk air.” (Shahih)

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً. متفق عليه

“Bersahurlah karena sesungguhnya dalam sahur itu ada barakah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِكُمْ وَبَيْنَ صِيَامِ أَهْلِ الكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحرِ .رواه أحمد في المسند

Pembeda antara puasa kalian dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Ahmad dan al-Musnad)

3. Mengakhirkan waktu sahur malam. 

Disunnahkan untuk berhenti makan sebelum terbitnya fajar seukuran membaca 50 ayat (seperempat jam). Hal ini berdasarkan hadits riwayat Zaid:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُوْرِ؟ قَالَ: قَدْر خَمْسِيْنَ آيَة. متفق عليه

“Kami sahur bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku (perawi) bertanya, ‘Berapakah waktu itu jarak antara adzan dan sahur? Zaid menjawab, ‘Seukuran (membaca) 50 ayat (al-Qur’an).” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Berbuka dengan ruthab (kurma muda) 

Jika tidak ada maka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air zamzam, jika tidak ada maka dengan air biasa, jika tidak ada maka dengan makanan manis yang masak tanpa menggunakan api (seperti madu atau kismis), jika tidak ada maka makanan manis yang masak dengan api. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam :

يفْطرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسا حَسَوَاتٍ مِنَ المَاءِ. صحيح أبي داود

“Berbuka dengan beberapa ruthab (kurma basah) sebelum shalat. Jika tida ada ruthab, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada maka beliau berbuka dengan air.” (Shahih Abu Dawud)

5. Berdoa saat berbuka 

Doa buka puasa yang terpendek adalah: “Allahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘ala rizqika afthartu”.

Selain doa di atas, terdapat riwayat lain tentang doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. 

Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam jika berbuka, membaca doa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوْقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ. صحيح أبي داود

“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah pasti pahala (puasa) insya Allah.” (Shahih Abu Dawud)

Terkait fadhilah doa saat berpuasa, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يفْطرُ وَالإِمَامُ العَادِلُ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ. صحيح الترمذي

“Tiga orang yang doanya tidak ditolak: Orang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terdzalimi.” (Shahih al-Turmudzi)

6. Memberi makan untuk orang yang berbuka. 

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

7. Jika berhadats besar, disunnahkan mandi janabah/mandi besar sebelum terbit fajar. 

Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ. متفق عليه

“Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pernah memasuki waktu fajar dalam keadaan junub dari istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Mandi di malam hari setiap ba’da Maghrib di bulan Ramadhan 

Dalam sebuah riwayat dari Abu Bakr, beliau Shallallahu 'alaihi wasallam berkata,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ.

“Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. ” (HR. Abu Daud no. 2365)

Walaupun dalam hadits dibolehkan mandi saat berpuasa, namun sebaiknya dilakukan setelah waktu magrib, karena tubuh menjadi lebih segar dan juga supaya lebih giat untuk qiyamul lail (tarawih, tadarrus, dan lain-lain).

9. Melaksanakan shalat Tarawih selama bulan Ramadhan. 

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. متفق عليه

“Barangsiapa menghidupkan (malam Ramadhan) karena iman dan mengharap (ridha Allah), maka akan diampuni baginya dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

10. Senantiasa melaksanakan shalat Witir. 

Shalat Witir pada bulan Ramadhan mempunyai kekhususan hukum yaitu:

a. Disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah.

b. Disunnahkan bagi imam untuk memperkeras bacaan.

c. Disunnahkan untuk membaca qunut pada separuh kedua bulan Ramadhan.

11. Memperbanyak bacaan Al-Qur’an. 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ وَأَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَيُعْرِضُ عَلَيْهِ القُرْآنَ. رواه البخاري

“Rasulullah adalah orang yang paling baik dalam melakukan kebaikan dan paling baik dalam Ramadhan saat ditemui oleh Jibril dan ia membacakan al-Qur’an kepada Nabi.” (HR. Bukhari)

12. Memperbanyak melakukan Sholat sunnah 

"Allah akan menulis untuknya sejuta perbuatan baik dan menghapus sejuta perbuatan buruk dan membesarkannya satu juta tingkatan. ” (Tirmidzi)

Dari hadits ini jelas bahwa melafalkan sholat sunnah khusus ini membantu menulis sejuta perbuatan baik dan pada saat yang sama menghapus jutaan perbuatan buruk yang juga datang dengan peningkatan dalam jutaan tingkat spiritualitas dengan mengerjakan sholat sunah seperti shalat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tasbih, dan sebagainya.

13. Memperbanyak amal-amal shalih 

Bulan ramadhan diisi dengan amalan amalan shalih seperti shadaqah, shilaturrahmi, menghadiri majlis taklim/pengajian, i’tikaf, umrah, menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan maksiat, memperbanyak doa, dan sebagainya.

14. Lebih meningkatkan semangat ibadah pada 10 hari terakhir 

Mengejar lailatul qadar pada malam-malam tersebut, terutama pada tanggal-tanggal ganjilnya. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu'anha :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ العَشْرَ الأَوَاخِرَ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ المَئْزَرَ. متفق عليه

“Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam jika memasuki 10 hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau menghidupkan malam, membangunkan istri beliau, dan meninggalkan hubungan suami istri (untuk dipergunakan ibadah). (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Lebih memperbanyak dalam menafkahi keluarganya. 

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu” (HR. Bukhari 56 dan Muslim 1628).

16. Meninggalkan banyak bergurau,terutama yang mengandung ejekan. 

Jika diejek oleh seseorang, harus segera ingat bahwa dirinya sedang berpuasa.

فَإِنْ امُرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ. رواه مسلم

“Jika seseorang menghina atau menengkarinya, maka hendaknya orang yang berpuasa itu mengatakan. ‘Sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” (HR. Muslim)

17. Banyak berinfaq dan shadaqah 

Dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR Al Bukhari).

Hadits tersebut memberikan faidah kepada kita bahwa kedermawanan hendaknya lebih di tingkatkan lagi di bulan Ramadlan.

Amalan sunnah puasa Ramadhan  ini sesuai hukumnya sunnah, bila dikerjakan akan mendapat pahala, tak dikerjakan juga tidak apa-apa.

Semoga bermanfaat....