Jumat, 23 Juni 2023

PERISTIWA PENTING DI BULAN DZULHIJJAH

Edisi Jum'at, 23 Juni 2023 M / 4 Dzulhijjah 1444 H.

Dalam kalender Hijriyyah, bulan Dzulhijjah biasa disebut dengan bulan haji. Bulan ini juga termasuk satu di antara bulan-bulan haram (mulia). Dalam kitab Tahdzib al-Asma’ disebutkan bahwa secara harfiah, dzulhijjah terdiri dari dua kata, yaitu dzu yang artinya pemilik dan al-hijjah yang berarti haji. Dinamakan Dzulhijjah karena sejak zaman Jahiliyyah, orang-orang Arab telah melakukan ibadah haji untuk melestarikan ajaran Nabi Ibrahim.

Beberapa hari yang akan datang kita akan melalui salah satu momen agung dan mulia dalam Islam, mulai dari 10 awal bulan dzulhijjah, hari Arafah, idul-adha hingga hari tasyrik. Mungkin banyak dari kita yang sudah khatam mengenai keutamaan dan kemuliaan bulan ini. Disamping juga identik dengan ritual haji karena termasuk dari bulan haji dan puncak pelaksanaan ibadah haji serta bulan hari raya, bulan ini juga termasuk dari salah satu bulan haram yang diharamkan menumpahkan darah di dalamnya dan seluruh amal kebaikan hingga amal keburukan pada bulan ini akan dilipatgandakan dosa maupun pahalanya. Sebelum bulan ini berakhir, baiknya kita merefresh kembali ingatan kita dan menambah wawasan kita, betapa bulan ini sejak dahulu menjadi saksi akan manis dan getirnya perjuangan Rasulullah dalam medakwahkan ajaran Islam.

Dalam kitab Durrat al-Nasihin, Ibnu Abbas meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. bahwasanya di bulan ini terjadi berbagai peristiwa besar di antaranya,

1. Nabi Adam diampuni Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Tanggal 1 Dzulhijjah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni kesalahan Nabi Adam. Kesalahan inilah yang menyebabkan Nabi Adam dan istrinya diusir dari surga setelah memakan buah terlarang. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 1 Dzulhijjah, niscaya akan diampuni dosa-dosa kecilnya.

2. Nabi Yunus dikeluarkan dari dalam perut Ikan 

Tanggal 2 Dzulhijjah, do’a Nabi Yunus dikabulkan Allah dan dikeluarkan dari dalam perut ikan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada hari kedua di bulan Dzulhijjah, pahalanya sebanding dengan berpuasa selama satu tahun tanpa mendurhakai Allah.

3. Doa Nabi Zakaria dilahirkan 

Kemudian tanggal 3 Dzulhijjah, Allah mengabulkan do’a Nabi Zakariya yang menginginkan seorang putra. Padahal Nabi Zakariya waktu itu sudah berumur 120 tahun. Setelah beliau mengetahui Maryam, puteri angkatnya selalu mendapat rizki dari Allah, berupa buah-buahan musim dingin, maka tergugahlah hati Nabi Zakariya untuk berdoa’ kepada Allah agar diberi keturunan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 3 Dzulhijjah, semua keinginannya akan dikabulkan Allah.

4. Maryam melahirkan Nabi Isa 

Tanggal 4 Dzulhijjah, Nabi Isa dilahirkan oleh ibunya, Maryam di sudut kota Batlehem dalam kedaan sehat, meski sempat menggegerkan kaumnya. Pasalnya, ia terlahir dari seorang yang masih perawan. Barang siapa yang berpuasa di hari keempat dari bulan Dzulhijjah, maka Allah akan menghilangkan kesusahan hidup dan kefakirannya, dan kelak di hari kiamat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mulia.

5. Nabi Musa lahir dan diasuh dilingkungan Firaun 

Tanggal 5 Dzulhijjah, Nabi Musa dilahirkan dengan nama Yakubad di desa Uksur, Mesir. Beliau kemudian diasuh oleh Fir’aun dan berbelok menentang Fir’aun karena keangkuhan dan kesombongannya. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 5 Dzulhijjah, niscaya akan dihindarkan dari sifat munafik dan siksa kubur.

6. Pintu kebaikan dibukakan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam 

Tanggal 6 Dzulhijjah, Allah membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 6 Dzulhijjah, Allah akan menurunkan rahmat-Nya dan terhindar dari siksa selama-lamanya.

7. Pintu-pintu Neraka ditutup dan dikunci 

Tanggal 7 Dzulhijjah, pintu-pintu neraka ditutup dan dikunci, dan baru akan dibuka setelah hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 7 Dzulhijjah, maka akan terhindar dari 30 pintu kesusahan dan dibukakan baginya 30 pintu kemudahan.

8. Allah perintahkan Nabi  Ibrahim untuk membangun Kabah 

Tanggal 8 Dzulhijjah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Ketika bangunan Ka’bah telah jadi, Nabi Ibrahim merenung apakah yang ia lakukan mendapat pahala atau tidak. Maka disebutlah hari kedelapan dari bulan Dzulhijjah dengan yaum al-tarwiyah yang artinya hari merenung dan berfikir.

Ada yang mengatakan Nabi Ibrahim bermimpi mendapat tugas dari Allah untuk menyembelih Ismail. Maka, seharian Nabi Ibrahim berfikir apakah perintah itu benar-benar dari Allah atau dari Setan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah, Allah akan memberinya pahala yang nilainya hanya Allah yang tahu.

9. Nabi Ibrahim yakin mimpinya dari Allah 

Lalu tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim yakin betul bahwa mimpinya di malam kesembilan itu benar-benar dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bukan dari Setan. Hari ini disebut yaumu arafah karena tempat yang digunakan untuk menyembelih Nabi Ismail dinamakan Arafah. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama satu tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang.

10. Diwajibkannya Haji dan Beberapa Ketentuan Terkait Haji 

Pada bulan Dzulhijjah ini Rasulullah memerintahkan Abu Bakr untuk menjadi pemimpin dan penanggung jawab kaum muslimin yang hendak berhaji ke Baitullah. Abu Bakr membawa rombongan dari Madinah sebanyak 300 lelaki dan 20 ekor hewan sembelihan guna disembelih ketika haji. Pada bulan ini juga diberlakukan ketetapan baru bagi pelaksanaan ibadah haji yang menyelisihi tradisi jahiliyah terdahulu dan berlaku hingga hari zaman, yaitu “Orang musyrik tidak diperkenankan lagi untuk melaksanakan haji setelah tahun ini dan tidak boleh lagi thawaf dalam keadaan bertelanjang di sekitar Baitullah!” Ini terjadi pada tahun 9 hijriyah. Ketentuan itu dimaklumatkan tepat hari raya idul-adha, 10 dzulhijjah tahun 9 hijriyah. Pada tahun ini syariat ibadah haji diwajibkan bagi kaum muslimin sekali seumur hidup. Syariat ini akan tetap berlaku hingga akhir zaman. Pada bulan ini juga Nabi mengumumkan pemutusan janji dengan seluruh orang musyrik Arab dan memberi mereka waktu selama 4 bulan saja untuk menyerah. Ini Allah abadikan di awal surat at-Taubah atau surat al-Baraah.

11. Masuk Islamnya Umar bin al-Khathab 

Pada dasarnya, ketika berbicara tentang Umar, pembahasannya menjadi lebih personalistik, bukan sebuah peristiwa. Namun persona Umar mau tidak mau diakui oleh sejarah amat berpengaruh terhadap perjuang Islam dan kaum muslimin. Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Kami terus merasa mulia (tidak lagi merasa disepelekan) semenjak Umar masuk Islam.” (Thabaqat Ibn Saad III/204). Ini merupakan pengaruh yang amat besar bagi perjuangan Islam era awal yang masih diliputi dengan banyaknya pelecehan dan penyiksaan bagi umat Islam, dimana keislaman Umar menjadi pukulan besar bagi kaum musyrikin Makkah waktu itu. Sebab, salah seorang pemuka dan tokoh yang sangat mereka segani dan mereka hormati ternyata berpindah haluan kepada musuh yang sangat mereka benci. Kaum muslimin pada saat itu baru bisa melaksanakan shalat terang-terangan di Masjidil-Haram setelah sebelumnya selalu diintimidasi dan diganggu setelah Umar masuk Islam. Umar masuk Islam pada tahun keenam setelah kenabian atau tahun ke 7 sebelum hijriyah pada bulan dzulhijjah. Waktu itu Umar masih berusia 26 tahun. Ibn Masud mengatakan: “Keislaman Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat (dari Allah).” (Thabaqat Ibn Saad III/204)

12. Awal Keislaman Kaum Anshar 

Hijrahnya Nabi ke Madinah dan berhasilnya Nabi menjadikan Madinah sebagai pusat kekuatan dan basis pergerakan dakwah Islam bukanlah terjadi kebetulan dan tiba-tiba begitu saja. Namun juga melalui beberapa tahapan dan proses yang lumayan panjang. Dimulai semenjak 3 tahun sebelum hijriyah atau 10 tahun setelah kenabian.

Sudah seperti biasanya, pada bulan Dzulhijjah berbagai kabilah bangsa Arab berdatangan ke Hijaz guna melaksanakan ibadah haji. Mulai dari proses thawaf di Makkah hingga pelemparan jumrah di Mina, tepatnya di hari-hari tasyrik. Pada saat itulah Rasulullah mulai menawarkan diri beliau dan ajaran yang beliau bawa ke berbagai kabilah yang beliau temui. Semuanya menolak dan mengatakan: “Sukumu dan keluargamu sendiri yang jauh lebih mengenalmu ternyata tidak mau jadi pengikutmu!” Hingga muncullah 6 orang dari Kabilah Khazraj berasal dari Yatsrib (nama kuno kota Madinah) dan berhasil masuk Islam dengan izin Allah. Pertemuan itu terjadi di bukit Aqabah, Mina dan berlanjut dengan pengutusan Mush’ab bin Umair oleh Rasulullah untuk mendakwahkan Islam di Yatsrib.

13. Baiat Aqabah Pertama 

Peristiwa merupakan peristiwa lanjutan dakwah Islam di Yatsrib juga sebagai pra hijrah Nabi ke Madinah. Ini terjadi pada tahun berikutnya, yaitu tahun ke 2 sebelum hijriyah atau tahun ke 12 setelah kenabian. Terjadi di bulan yang sama, yaitu dzulhijjah. Di momen yang sama yaitu haji dan di tempat yang sama, yaitu bukit Aqabah di Mina. Peristiwa ini terjadi tanpa sepengetahuan kaum musyrik Quraisy. Rasulullah ditemui oleh 10 orang dari kabilah Khazraj dan 2 orang dari kabilah Aus. Perlu diketahui bahwa kota Madinah sebelum Nabi hijrah dihuni oleh dua kabilah besar selaku pribumi asli, yaitu Khazraj dan Aus. Kedua kabilah ini terus dilanda perang satu sama lainnya selama kurang lebih 2 abad. Selain itu, di Madinah juga terdapat kaum Yahudi yang sedang menanti kedatangan Mesiah atau utusan terakhir yang akan muncul dari bukit Paran (daerah Jazirah Arab), dimana ia tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Muhammad sendiri. Setelah mereka tahu Nabi Muhammad berasal dari bangsa Arab, mereka pun mendustakan beliau. Baiat sendiri adalah ikrar atau janji setia yang menjadi bukti atas komitmen mereka terhadap Islam dan ajaran Islam. Isi baiat pertama ini mirip dengan baiat untuk kaum wanita yang terdapat di akhir surat al-Mumtahanah.

14. Baiat Aqabah Kedua 

Baiat ini juga terjadi pada waktu, tempat, dan momen yang sama. Namun setahun setelah baiat Aqabah pertama. Ini terjadi pada setahun sebelum hijriyah (tepatnya 3 bulan sebelum Nabi hijrah) atau tahun ke 13 setelah kenabian. Baiat ini dihadiri oleh 73 orang penduduk Yatsrib, dengan rincian 62 orang dari kabilah Kahzraj (60 lelaki dan 2 wanita) dan 11 orang dari kabilah Aus. Ke 73 orang tersebut diwakilkan oleh 7 orang dari kabilah Kahzraj dan 3 orang dari kabilah Aus. Bedanya, baiat ini bukan lagi sekedar baiat untuk komitmen di atas ajaran Islam. Tetapi juga baiat dalam arti militer dan politik, yaitu ikrar setia hingga mati untuk membela Rasulullah, loyal terhadap perintah beliau, mendengar dan taat terhadap seluruh istruksi beliau, baik dalam keadaan sulit maupun lapang, baik dalam hal-hal yang disukai maupun yang dibenci. Ini merupakat baiat perang atau baiat kenegaraan. Nabi membaiat seluruh yang hadir satu persatu dengan menjabat tangannya masing-masing, kecuali 2 orang wanita dari kabilah Khazraj yang datang bersama suami mereka. Beliau membaiat kedua orang itu hanya dengan ucapan, karena beliau tidak mau menyentuh wanita yang tidak halal bagi beliau. Ketika peristiwa baiat ini, Nabi ditemani oleh pamannya sendiri Abbas bin Abdul-Muthalib, hanya saja Abbas pada saat itu belum masuk Islam. Sebelum peristiwa pembaiatan, Abbas kembali menekankan agar kabilah Khazraj dan Aus benar-benar komitmen dan setia pada baiat mereka setelah mereka membaiat Nabi.

15. Eksekusi Atas Pengkhianatan Yahudi Bani Quraidzhah 

Rasulullah dan para shahabat mengadakan pengepungan kurang lebih 40 hari terhadap salah satu kabilah kaum Yahudi, yaitu Bani Quraizhah akibat pengkhianatan mereka terhadap umat Islam. Di awal hijrahnya Nabi ke Madinah, beliau telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum Yahudi yang berdomisili di sekitar Madinah. Namun tatkala terjadi perang Ahzab atau perang Khandaq yang bahkan namanya pun dijadikan sebagai nama surat di al-Quran, Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan dengan memberikan akses masuk kepada kaum musyrik melalui gerbang mereka ke Madinah, padahal Nabi dan para shahabat sudah bersusah payah menggali parit besar disekeliling kota Madinah atas usul Salman al-Farisi agar dapat menangkal infiltirasi aliansi pasukan (Ahzab) yang sudah bersiap-siap menyerang Madinah dan mengepungnya. Dengan izin Allah, pengepungan dan infiltirasi itu gagal setelah Allah kirimkan angin kencang untuk memorak-morandakan perkemahan aliansi pasukan kaum musyrikin Arab, ditambah kurangnya kepercayaan yang berhasil dibangun antara Bani Quraizhah dengan pasukan musyrik Makkah. Rasulullah mengepung dan memerangi kaum Yahudi Bani Quraizhah di perkampungan mereka semenjak bulan dzulqadah, sementara mereka hanya bisa bersembunyi di benteng mereka karena takut. Mereka mau berdamai dengan Rasulullah dengan syarat yang memutuskan sanksi atas pengkhianatan mereka adalah sahabat karib mereka dari kaum Anshar bernama Sa’ad bin Muadz, bukan Rasulullah. Tidak dinyana, Saad bin Muadz menjatuhkan hukuman mati bagi seluruh kaum lelaki dan menjadikan wanita serta anak-anak sebagai tawanan. Maka dieksekusilah 600 orang dari Bani Quraizhah, sementara anak-anak dan wanita dijadikan tawanan. Pengeksekusian itu terjadi pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun ke-5 hijriyah.

16. Pengiriman Surat Kepada Raja-Raja 

Salah satu yang membedakan antara Rasulullah dan risalah beliau dengan para rasul sebelum beliau adalah Rasulullah diutus untuk seluruh manusia, sebagai rahmat bagi semesta alam, dan risalah beliau berlaku hingga akhir zaman, sementara rasul-rasul dahulu hanya sebatas bagi kaumnya saja atau obyek dakwah yang Allah berikan kepadanya. Risalah mereka juga sifatnya temporer karena akan dan pasti dihapus setelah diutusnya Rasulullah. Beranjak dari sinilah Rasulullah mulai mengirimkan surat kepada raja-raja yang hidup semasa dengan beliau, termasuk kepada para pemimpin imperium super power yang menguasai dunia kala itu, yakni Romawi dan Persia. Butuh keberanian dan kejantanan tingkat tinggi untuk menulis surat kepada kaisar kedua imperium tersebut. Apatah lagi bagi para shahabat yang menjadi utusan pengantar surat kepada kedua kaisar itu, begitu juga kepada raja-raja lainnya. Ini terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun ke-6 H selepas beliau pulang dari Hudaibiyah dan selesai menghadapi perjanjian dengan kaum musyrikin Makkah ketika itu. Pada setiap surat yang beliau kirim, beliau bubuhkan cap stempel dalam bentuk cincin yang berisi kalimat “Muhammad Rasulullah”.

17. Haji Wada 

Haji Wada merupakan haji pertama sekaligus terakhir yang dilaksanakan oleh Rasulullah semenjak beliau hijrah ke Madinah.  Sebab, para ulama sepakat Rasulullah hanya berhaji sekali saja seumur hidup beliau semenjak ibadah haji diwajibkan. Dikatakan wada (perpisahan), karena pada saat haji inilah Rasulullah berkhutbah menyampaikan garis-garis besar ajaran Islam yang beliau bawa berikut kesempurnaannya dan menyampaikan tanda-tanda perpisahannya kepada umat Islam saat itu. Sebab, 3 bulan selepas itu Nabi Muhammad pun menghadap kepada Tuhannya Allah Azza Wa Jalla setelah selesai menyampaikan risalah-Nya yang agung di dunia ini. Beliau menyampaikan wasiat terakhir beliau di padang Arafah ketika khutbah Arafah di hari Arafah, 9 dzulhijjah tahun ke 10 hijiriyah. Diantara pesan beliau yang terakhir itu ialah agar kaum muslimin tidak berpecah belah dan tidak saling membunuh satu sama lainnya. Sebuah wasiat yang seharusnya dijadikan renungan oleh setiap muslim hari ini, terlepas dari apa saja latar belakang yang dianutnya dan agar menjadikan Islam sebagai tujuan dan ambisi hidupnya. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau kelak di surga-Nya Azza wa Jalla.

Aamiin... 

Semoga bermanfaat...

Kamis, 22 Juni 2023

AYAT AL-QUR'AN TENTANG NABI IBRAHIM (BAGIAN 4)

Edisi Kamis, 22 Juni 2023 M / 3 Dzulhijjah 1444 H.

Pada kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam ibadah haji berawal ketika beliau mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk membangun Ka'bah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan ibadah haji untuk pertama kali. Setelah selesai membangun Ka'bah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyerukan pada manusia untuk melaksanakan haji.

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai onta yang kurus. Mereka akan datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. al-Hajj: 27).

Tradisi penyelenggaraan ibadah haji di kalangan Bangsa Arab terus berlangsung sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam sampai Allah mengutus Nabi Muhammad  Shallallahu alaihi wasallam. Hanya saja mereka (bangsa Arab) mengubah banyak ajaran Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam. Mereka menyekutukan Allah dengan patung dan berhala. Mereka menempatkan berhala di punggung dan sekitar Ka’bah, di bukit Shafa, dan di bukit Marwa. Mereka meyakini berhala dan patung itu sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka mengubah syi’ar-syiar haji dan menyembelih binatang ternak dengan nama selain-Nya. (Khudari Bek, 1995 M/1415 H: 30).

Pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memperbarui syariat Nabi Ibrahim alaihissalam dan meluruskan kekeliruan orang-orang musyrik. Allah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat suci umat Islam. Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

“Siapa saja memasukinya (Baitullah) amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (Surat Ali Imran ayat 97).

Berikut ini adalah kelanjutan dari ayat Al Qur'an yang menyebutkan Nabi Ibrahim Alaihissalam :

1. Q.S. Al-Hajj : 26 

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. (Q.S. Al-Hajj : 26)

2. Q.S. Al-Hajj : 43 

وَقَوْمُ إِبْرَاهِيمَ وَقَوْمُ لُوطٍ

dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, (Q.S. Al-Hajj : 43).

3. Q.S. Al-Hajj : 78 

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Q.S. Al-Hajj : 78).

4. Q.S. Al-‘Ankabuut : 16 

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabuut : 16).

5. Q.S. Al-‘Ankabuut : 31 

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ

Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim." (Q.S. Al-‘Ankabuut : 31).

6. Q.S. Al-Ahzaab : 7 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh. (Q.S. Al-Ahzaab : 7).

7. Q.S. Ash-Shaffaat : 83 

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Q.S. Ash-Shaffaat : 83)

8. Q.S. Ash-Shaaffaat : 104 

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ

Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, (Q.S. Ash-Shaaffaat : 104)

9. Q.S. Ash-Shaaffaat : 109 

سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

(yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (Q.S. Ash-Shaaffaat : 109)

10. Q.S. Shaad : 45 

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Q.S. Shaad : 45).

11. Q.S. Asy-Syuuraa : 13 

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Q.S. Asy-Syuuraa : 13).

12. Q.S. Az-Zukhruf : 26 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, (Q.S. Az-Zukhruf : 26)

13. Q.S. Adz-Dzaariyaat : 24 

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 24).

14. Q.S. An-Najm : 37 

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ

dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Q.S. An-Najm : 37).

15. Q.S. Al-Hadiid : 26 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ ۖ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al-Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik. (Q.S. Al-Hadiid : 26)

16. Q.S. Al-Mumtahanah : 4 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (Q.S. Al-Mumtahanah : 4).

17. Q.S. Al-A’laa : 19 

صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ

(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (Q.S. Al-A’laa : 19). 

Itulah berbagai ayat Al-Quranul Karim yang menyebutkan tentang Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalaam. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan dan khazanah keilmuan kita seputar Al-Quran dan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Semoga bermanfaat...

Rabu, 21 Juni 2023

AYAT AL-QUR'AN TENTANG NABI IBRAHIM (BAGIAN 3)

Edisi Rabu, 21 Juni 2023 M / 2 Dzulhijjah 1444 H.

Dalam Al-Quran Allah sebut Ibrahim Alaihissalaam sebagai Khalilan (kesayangan-Nya). Lantas apa sebab hingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memilih Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai nabi kesayangan-Nya dan menjadikan ia sebagai Khalil (orang yang dicintai-Nya)? Dari sekian banyak kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang ada dalam Al-Quran, beliau tercatat sebagai sosok pribadi yang hanif (lurus), santun, penyayang, cerdik, demokratis, visioner, dan toleran. Nabi Ibrahim Alaihissalam lurus dalam berkeyakinan. Santun dalam berdakwah. Penyayang kepada umatnya. Cerdik dalam berdebat. Mempunyai pandangan jauh ke depan. Serta toleran dalam keberagaman.

Nabi Ibrahim Alaihissallaam merupakan seorang yang hanif. Lurus dalam berkeyakinan. Ia tak seperti masyarakat pada zamannya yang banyak menyembah berhala, bintang, bulan, dan matahari. Di saat kaumnya menyembah berhala, bintang, bulan, dan matahari, justru ia sendiri yang menyatakan bahwa dirinya benar-benar seorang yang lurus dalam berkeyakinan dan berlepas diri dari menyembah kepada selain Allah. 

Alhasil, agama yang lurus adalah agama Nabi Ibrahim Khalilullah. Yaitu agama lurus yang jauh dari kemusyrikan. Jauh dari kebatilan. Sehingga dengan demikian, seseorang yang mengikuti agama Ibrahim, berarti ia telah memilih agama yang fitrah (suci). Fitrah adalah suatu keadaan di mana Allah telah menciptakan manusia menurut  keadaannya itu, yaitu tunduk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, lagi bijaksana, Yang Maha Esa itu tiada sekutu bagi-Nya. (Kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li Ma’ani Al-Quranul Azim: Wahbah Zuhaili dkk, Darul Fikr Damaskus, 1416 H). Berikut ini adalah kelanjutan ayat Al Qur'an yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim Alaihissalaam :

1. Q.S. Ibrahim : 35 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Q.S. Ibrahim : 35)

 2. Q.S. Al-Hijr : 51 

وَنَبِّئْهُمْ عَنْ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ

Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. (Q.S. Al-Hijr : 51)

3. Q.S. An-Nahl : 120 

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (Q.S. An-Nahl : 120).

4. Q.S. An-Nahl : 123 

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. An-Nahl : 123)

5. Q.S. Maryam : 41 

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (Q.S. Maryam : 41).

6. Q.S. Maryam : 46 

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama." (Q.S. Maryam : 46).

7. Q.S. Maryam : 58 

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Q.S. Maryam : 58).

8. QS. Asy-Syu'ara'69 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.

(Q.S. Asy-Syu'ara' 69).

9. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 51 

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 51).

10. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 52 

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" 

(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 52). 

قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".

(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 54).

11. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 56 

قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".

(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 56).

12. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 58 

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 58)

13. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 60 

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ." (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 60).

14. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 62 

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ

Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 62).

 15. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 63 

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".

(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 63).

16. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 66 

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"

(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 66).

17. Q.S. Al-Anbiyaa’ : 69 

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 69).

Itulah berbagai ayat Al-Quranul Karim yang menyebutkan tentang Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalaam. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan dan khazanah keilmuan kita seputar Al-Quran dan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Semoga bermanfaat...