Kamis, 03 Maret 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT (BAGIAN 10)

Edisi Jum'at, 4 Maret 2022 M / 1 Sya'ban 1443 H. 

Pada mulanya, tidak ada larangan berbincang dan melakukan apa saja saat seseorang sedang melakukan shalat. Orang itu dapat menyempurnakan shalatnya setelah bincang dan aktivitasnya selesai di tengah shalatnya. Tetapi setelah terbiasa melakukan shalat dan telah merasakan kebesaran Allah yang “diajak” munajat dalam shalat, para sahabat dilarang berbicara dan melakukan aktivitas apapun sambil melakukan shalat. Kalau tetap melakukan itu, shalat mereka dianggap batal. Perihal shalat sambil berbicara dan main-main, Surat Al-Baqarah ayat 238 diturunkan. (Sya’ban M Ismail, 2015 M/1436 H: 58-59). 

Imam Ahmad dan Imam Bukhari meriwayatkan cerita sahabat Zaid bin Arqam yang mengatakan, “Dulu kami bercakap-cakap pada saat melakukan shalat sampai ayat itu turun dan kami diperintahkan untuk berdiam dan kami dilarang untuk berbicara.” (Sya’ban M Ismail, 2015 M/1436 H: 59). 

Adapun pelajaran yang dapat diambil, kata Ismail, adalah bahwa anak-anak yang mulai belajar membiasakan shalat, lalu berbicara, dan main-main, tidak perlu ditegur. Kita, lanjut Ismail, perlu menyikapinya dengan lemah lembut. Sikap yang sama terhadap anak-anak ditujukan kepada orang yang baru memeluk agama Islam dan menganjurkan mereka untuk membiasakan shalat dengan lemah lembut. (Sya’ban M Ismail, 2015 M/1436 H: 59). Wallahu a’lam.

Berikut ini beberapa Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang membicarakan tentang Shalat :

1. Dasar Shalat Qadha 

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ إِنَّ الْمُشْرِكِيْنَ شَغَلُوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ

Abdullah bin Mas'ud berkata : Orang orang Musyrik telah menyibukkan Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dari melaksanakan empat waktu shalat, pada hari perang Khandaq sampai malam berlalu dengan kehendak Allah. Kemudian beliau memerintahkan Bilal (untuk mengumandangkan adzan), maka Bilal pun mengumandangkan adzan dan Iqamat. Beliau kemudian melaksanakan shalat zhuhur, kemudian Bilal iqamat lalu beliau shalat ashar. Kemudian Bilal iqamat lalu beliau shalat maghrib. Kemudian Bilal iqamat lalu beliau melaksanakan shalat isyak. (H.R. Tirmidzi no. 179, Nasa'i no. 661, Baihaqi no. 1967, dan lainnya). 

2. Shalat Wajib Baca Fatihah 

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari Ubadah bin Shamit, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tidak sah shalatnya bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah. (H.R. Bukhari no. 756, Muslim no. 900).

3. Mendapat Satu Rakaat Bila Mengikuti Rukuk Imam 

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

Dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi Shallallahu alaihi Wassalam sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi Wassalam, Maka beliau bersabda : Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali. (H.R. Bukhari no. 783).

4. Sujud Sahwi Karena Ragu Jumlah Rakaat 

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

Dari Abu Sa'id Al-Khudri dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang pasti (yaitu yang sedikit). Kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Dan jika, ternyata shalatnya memang empat rakaat maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan. (H.R. Muslim no. 1300).

5. Sujud Sahwi Karena Rakaatnya Kurang Dalam Shalat 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنِ اثْنَتَيْنِ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ أَقُصِرَتِ الصَّلاَةُ أَمْ نَسِيْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ. فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ. فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى اثْنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُوْدِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam menyelesaikan shalatnya yang baru dua rakaat, Dzul Yadain berkata kepada Beliau : Apakah shalat diqashar atau anda lupa, wahai Rasulullah? Maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berkata : Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain? Orang-orang menjawab : Benar. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri dan mengerjakan shalat dua rakaat yang kurang tadi kemudian memberi salam. Kemudian Beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi kemudian mengangkat kepalanya. (H.R. Bukhari no. 1228).

6. Sujud Sahwi Karena Kelebihan Rakaat Shalat 

عَنْ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَلَمَّا سَلَّمَ قِيْلَ لَهُ أَزِيْدَ فِى الصَّلاَةِ قَالَ  وَمَا ذَاكَ. قَالُوْا صَلَّيْتَ خَمْسًا. فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

Dari Abdullah, bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wassalam (suatu ketika) shalat Zhuhur lima rakaat. Ketika beliau ucapkan salam, ditanyakan kepada beliau : Apakah rakaat shalat bertambah? Beliau menjawab: Mengapa demikian?  Mereka menjawab : Anda shalat lima rakaat.  Lalu Nabi bersujud dua kali. (H.R. Muslim no. 1309).

7. Anjuran Sujud Sahwi Jika Tidak Melakukan Tasyahud Awal 

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ مِنْ بَعْضِ الصَّلَوَاتِ ثُمَّ قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ وَنَظَرْنَا تَسْلِيْمَهُ كَبَّرَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ التَّسْلِيْمِ ثُمَّ سَلَّمَ

Dari Abdullah bin Buhainah dia berkata : Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam mengimami kami shalat. Setelah dua rakaat, beliau langsung berdiri tanpa duduk (tasyahud awal), dan jamaah makmum turut pula berdiri mengikuti beliau. Tatkala shalat telah selesai, dan kami sedang menunggu-menunggu beliau mengucapkan salam, ternyata beliau bertakbir, lalu bersujud dua kali ketika duduk sebelum salam, setelah itu barulah beliau mengucapkan salam. (H.R. Muslim no. 1297, Abu Daud no. 1036).

8. Sujud Tilawah Hukumnya Sunnah 

عَنْ رَبِيْعَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْهُدَيْرِ التَّيْمِىِّ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَكَانَ رَبِيْعَةُ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ عَمَّا حَضَرَ رَبِيْعَةُ مِنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُوْرَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُوْدِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ. وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ. وَزَادَ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا إِنَّ اللهَ لَمْ يَفْرِضِ السُّجُوْدَ إِلاَّ أَنْ نَشَاءَ

Dari Rabi'ah bin Abdullah Al-Hudair At-Taimiy. Berkata, Abu Bakar : Rabi'ah adalah orang yang paling baik dalam mengisahkan segala hal yang berasal dari majelis Umar bin Al-Khaththob radhiyallahu'anhu saat hari Jum'at, ia membaca surah An-Nahl dari atas mimbar hingga ketika sampai pada ayat sajdah, dia turun dari mimbar lalu melakukan sujud tilawah. Maka orang-orang pun turut melakukan sujud. Kemudian pada waktu shalat Jum'at berikutnya dia membaca surat yang sama hingga ketika sampai pada ayat sajdah dia berkata : Wahai sekalian manusia, kita telah membaca dan melewati ayat sajdah. Maka barang siapa yang sujud, benarlah dia. Namun yang tidak melakukan sujud tidak ada dosa baginya. Dan Umar radhiyallahu'anhu tidak melakukan sujud. Nafi' menambahkan dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhu : Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud tilawah. Kecuali siapa yang mau silakan melakukannya. (H.R. Bukhari no. 1077).

9. Sujud Tilawah Karena Bacaan Ayat Sajdah 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّوْرَةَ فِيْهَا السَّجْدَةُ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُنَا مَوْضِعَ جَبْهَتِهِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhu berkata : Nabi Shallallahu alaihi Wassalam pernah membacakan untuk kami satu surat yang berisi ayat sajdah. Kemudian Beliau sujud. Lalu kami pun sujud hingga ada seorang diantara kami yang tidak mendapatkan tempat untuk meletakkan keningnya. (H.R. Bukhari no. 1075).

10. Anjuran Sujud Syukur 

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُوْرٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلهِ

Dari Abu Bakrah dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam, bahwa apabila terdapat perkara yang menyenangkan atau beliau dibei kabar gembira maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah. (H.R. Abu Daud no. 2776).

11. Anjuran Menunggu Shalat di Masjid 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ فَقَالَ رَجُلٌ أَعْجَمِيٌّ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ الصَّوْتُ يَعْنِي الضَّرْطَةَ

Dari Abu Hurairah berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Seorang hamba akan selalu dihitung shalat selama ia di masjid menunggu shalat dan tidak berhadats. Lalu ada seorang laki-laki non-Arab berkata : Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab : Suara, yaitu kentut. (H. R. Bukhari no. 176).

12. Nabi Keadaan Junub Saat Mau Mengimami Shalat 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ وَعُدِّلَتْ الصُّفُوْفُ قِيَامًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَامَ فِي مُصَلَّاهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا مَكَانَكُمْ ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu berkata : Qamat untuk shalat telah dikumandangkan dan shaf telah diluruskan, lalu keluarlah Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam Setelah sampai di tempat shalat beliau baru teringat bahwa beliau sedang junub, lalu berkata, kepada kami : Tetaplah di tempat kalian. Maka beliau kembali lalu mandi. Kemudian datang dalam keadaan kapalanya basah. Lalu beliau bertakbir, maka kamipun shalat bersamanya. (H.R. Bukhari no. 275).

13. Shalat Jum'at Bagi Perempuan 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَعْدَانٍ عَنْ جَدَّتِهِ قَالَتْ قَالَ لَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ إِذَا صَلَّيْتُنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مَعَ الْإِمَامِ فَصَلِّيْنَ بِصَلَاتِهِ، وَاِذَا صَلَّيْتُنَّ فِي بُيُوْتِكُنَّ فَصَلِّيْنَ أَرْبَعًا

Dari Abdullah bin Ma’dan dari neneknya, beliau menceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah memberikan nasehat kepada kami (para wanita) : Apabila kalian pada hari Jumat ikut shalat bersama imam (Jum'atan) maka shalatlah sebagaimana shalatnya imam (dua rakaat). Dan jika kalian shalat di rumah, shalatlah empat rakaat. (H.R. Ibn Abi Syaibah no. 5154, Abdurrazaq no. 5273).

14. Makmum Masbuq dalam Shalat Jum'at 

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الْجُمُعَةَ، وَمَنْ لَمْ يُدْرِكِ الرَّكْعَةَ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

Dari Ibnu Mas'ud ia berkata : Siapa yang mendapatkan satu rakaat (bersama imam Juma't) maka dia mendapatkan Jum'atan. Dan siapa yang tidak mendapatkan rakaat imam maka dia harus shalat Zhuhur. (H.R. Ath-Thabrani dalam Mu'jam Al-Kabir no. 9431, Abdurrazaq no. 5477).

15. Surat yang Dibaca Ketika Shalat Jum'at dan Shalat Ied 

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِى الْعِيْدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيْدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ

Dari An-Nu’man bin Basyir, adalah Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam biasa membaca dalam dua Ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”. An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari Ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (H.R. Muslim no. 2065).

16. Tata Cara Berangkat dan Pulang Shalat Hari Raya 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ

Dari Jabir ia berkata : Nabi Shallallahu alaihi Wassalam apabila di waktu hari raya biasanya mengambil jalan yang berlainan. (H.R.Bukhari no. 986).

17. Shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah 

عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَلِّمْنِى وَأَوْجِزْ. قَالَ إِذَا قُمْتَ فِى صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِى أَيْدِى النَّاسِ

Dari Abu Ayyub dia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi Wassalam seraya berkata : Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku (ilmu) yang singkat padat. Beliau bersabda :  Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan kamu sesali. Dan kumpulkan rasa keputus asaan dari apa yang di miliki orang lain. (H.R. Ibnu Majah no. 4310, Ahmad no. 24213).

Semoga bermanfaat....

Rabu, 02 Maret 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT (BAGIAN 9)

Edisi Kamis, 3 Februari 2022 M / 29 Rajab 1443 H. 

Menurut Ismail, kata “shalat” sering disebutkan dalam Al-Qur’an sebelum peristiwa Isra’ dan Mir’aj. Kalau diteliti dari perjalanan hidup Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam, banyak sekali riwayat yang menyebutkan aktivitas shalat Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Sedangkan waktu dan tata cara shalat sebelum peristiwa Isra’ dan Mir’aj 10 Hijriyah tidak tercatat dalam sejarah. Bisa jadi melacak jejaknya menjadi upaya sia-sia. Yang mungkin kita bayangkan bahwa shalat adalah sarana bertawajuh kepada Allah. Kata “shalat” dalam pengertian bangsa Arab adalah doa. 

Yang jelas, kata Ismail, shalat umat Islam sebelum Isra’ dan Mir’aj dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan argumentasi bahwa orang-orang musyrik Makkah mengejek shalat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam dan sahabatnya. Sedangkan shalat yang dikenal sekarang ini diwajibkan oleh Allah tanpa perantara malaikat pada peristiwa Isra’ dan Mir’aj. Jibril kemudian menerangkan ketentuan waktu shalat tersebut dengan melakukan shalat bersama Nabi Muhammad dan sahabatnya yang menjadi ketentuan awal dan akhir waktu shalat hingga saat ini. 

Ismail juga mengutip jumlah rakaat shalat pada awal-awal Islam, yaitu sebanyak dua rakaat setiap kalinya selain maghrib yang berjumlah tiga rakaat sejak semula. Tetapi kemudian jumlah rakaatnya ditambah menjadi 4 rakaat saat bermukim sehingga shalat zuhur, ashar dan isya berjumlah empat rakaat dan tetap dua rakaat saat berperjalanan sebagaimana asal tasyri’.” (Sya’ban M Ismail, 2015 M/1436 H: 58).

Berikut ini beberapa Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam tentang shalat :

1. Pahala Shalat Jama'ah Bila Rumahnya Jauh dari Masjid 

عَنْ أَبِي مُوْسَى قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي يُصَلِّي ثُمَّ يَنَامُ

Dari Abu Musa berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam shalat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh dalam perjalanannya menuju masjid. Dan orang yang menunggu shalat hingga dia melaksanakan shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang melaksanakan shalat kemudian tidur. (H.R. Bukhari no. 651).

2. Keutamaan Menunggu Shalat Jama'ah 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ اَللهم اغْفِرْ لَهُ اَللهم ارْحَمْهُ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Para Malaikat berdo'a untuk salah seorang dari kalian selama dia masih pada posisi tempat shalatnya dan belum berhadats, Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat. Dimana tidak ada yang menghalangi dia untuk kembali kepada keluarganya kecuali shalat itu. (H.R. Bukhari no. 659).

3. Dihitung Shalat Ketika Menunggu Shalat Jamaah 

عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ هَلِ اتَّخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا فَقَالَ نَعَمْ أَخَّرَ لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِ إِلَى شَطْرِ اللَّيْلِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ بَعْدَ مَا صَلَّى فَقَالَ صَلَّى النَّاسُ وَرَقَدُوْا وَلَمْ تَزَالُوْا فِي صَلَاةٍ مُنْذُ انْتَظَرْتُمُوْهَا قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى وَبِيْصِ خَاتَمِهِ

Dari Humaid berkata, Anas bin Malik ditanya : Apakah Rasulullah ada mengenakan cincin?' Maka dia menjawab : Ya. Beliau pernah mengakhirkan shalat Isya hingga pertengahan malam, kemudian selesai shalat beliau menghadap ke arah kami seraya bersabda : Manusia sudah selesai shalat dan tidur, sementara kalian akan senantiasa dalam hitungan shalat kalian menunggu pelaksanaannya. Anas bin Malik berkata : Sungguh saat itu aku melihat kilau sinar cincin beliau. (H.R. Bukhari no. 661).

4. Larangan Mendahului Gerakan Imam 

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ لَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ

Dari Muhammad bin Ziyad, aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika ia mengangkat kepalanya sebelum Imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai? (H.R. Bukhari no. 691).

5. Paling Banyak Hafalan Al-Qur'annya yang Jadi Imam 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ الْعُصْبَةَ مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا

Dari Abdullah bin Umar berkata : Ketika rombongan Muhajirin yang pertama sampai di Ushbah, suatu tempat di Quba', sebelum kedatangan Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mengimami shalat mereka adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah. Dia adalah seorang sahabat yang paling banyak bacaan (hafalan) Al-Qur'annya di antara mereka. (H.R. Bukhari no. 692).

6. Makmum Shalat Selalu Dapat Pahala 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Para imam shalat memimpin kalian. Maka jika dia benar, mereka mendapat pahala dan kalian juga mendapatkan bagian pahalanya. Namun bila dia salah kalian tetap mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa. (H.R. Bukhari no. 694).

7. Larangan Menjawab Salam Ketika Shalat 

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ كُنْتُ أُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيَّ فَلَمَّا رَجَعْنَا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ لَشُغْلًا

Dari Abdullah radhiyallahu anhu berkata : Aku pernah memberi salam kepada Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda ketika Beliau sedang shalat, maka beliau membalas salamku. Ketika kami kembali (dari negeri An-Najasyi), aku memberi salam kembali kepada beliau, namun beliau tidak membalas salamku. Kemudian beliau berkata : Sesungguhnya dalam shalat terdapat kesibukan. (H.R. Bukhari no. 1216).

8. Nabi Tidak Melakukan Shalat Wajib di Atas Kendaraan 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيْعَةَ أَنَّ عَامِرَ بْنَ رَبِيْعَةَ أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ ، يُوْمِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ

Dari Abdullah bin Amir bin Rabi'ah, bahwa Amir bin Rabi'ah mengabarkannya berkata : Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib. (H.R. Bukhari no. 1097).

9. Boleh shalat Sunnah di Atas Kendaraan 

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ سَالِمٌ كَانَ عَبْدُ اللهِ يُصَلِّى عَلَى دَابَّتِهِ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُسَافِرٌ ، مَا يُبَالِى حَيْثُ مَا كَانَ وَجْهُهُ . قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَيُوْتِرُ عَلَيْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوْبَةَ

Dari Ibnu Syihab berkata, telah berkata, Salim : Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu ketika bepergian pernah shalat malam di atas tunggangannya ke arah mana saja tunggangannya menghadap. berkata, Ibnu Umar radhiyallahu anhu : Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam melaksanakan shalat sunnat diatas tunggangan beliau ke arah mana saja menghadap dan juga melaksanakan shalat witir di atasnya. Hanya saja beliau tidak melaksanakan yang demikian untuk shalat wajib. (H.R. Bukhari no. 1098).

10. Nabi Pernah Shalat Mengenakan Alas Kaki 

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ يَزِيْدَ الْأَزْدِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ: أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟ قَالَ نَعَمْ

Dari Sa’id bin Zaid Al-Azdiy ia berkata, saya bertanya kepada Anas bin Malik : Apakah Nabi Shallallahu alaihi Wassalam itu shalat dengan mengenakan alas kaki (sandal)? Anas menjawab : Ya. (H.R. Bukhari no. 386).

11. Manfaat Datang Lebih Awal Ketika Shalat Jum'at 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلَائِكَةُ يَكْتُبُوْنَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Pada hari jum'at, pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid terdapat para malaikat yang mencatat orang yang datang lebih awal dan seterusnya hingga apabila imam sudah duduk (di atas mimbar) lembaran catatan itu ditutup lalu mereka mendengarkan dzikir (khathbah tersebut). (H.R. Bukhari no. 3211).

12. Musafir Boleh Jadi Imam Shalat 

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ غَزَوْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَهِدْتُ مَعَهُ الْفَتْحَ فَأَقَامَ بِمَكَّةَ ثَمَانِىَ عَشْرَةَ لَيْلَةً لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ وَيَقُولُ يَا أَهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ

Dari Imran bin Hushain ia berkata : Abu berperang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam aku ikut bersamanya dalam penaklukan Mekah, lalu beliau menetap di Mekah delapan belas malam, beliau tidak shalat kecuali dua rakaat, dan beliau bersabda : Wahai penduduk negeri (Mekah) hendaknya engkau shalat empat rakaat, karena kami adalah para musafir. (H.R. Abu Daud no. 1231, Baihaqi no. 5708).

13. Musafir Boleh Mengqashar Shalat 

عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَقُلْتُ إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعاً وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ قَالَ تِلْكَ سُنَّةُ أَبِى الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Musa bin salamah ia berkata : Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Mekah. Maka aku (Musa) katakan : Sesungguhnya kami (para musafir) jika shalat di belakang kalian (yang mukim) tetap melaksanakan shalat empat rakaat (tanpa qashar). Namun ketika kami kembali ke perjalanan kami, kami melaksanakan shalat dua rakaat (dengan diqashar). Ibnu Abbas mengomentari : Itulah sunnah Abul Qashim (Rasulullah) Shallallahu alaihi Wassalam (H.R. Ahmad  no. 1890, Al-Mu'Jam Al-Kabir Lil Thabrani no. 12724).

14. Nabi mencintai shalat yang dijaga kesinambungannya 

عَنْ أَبِى سَلَمَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا حَدَّثَتْهُ قَالَتْ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُوْلُ خُذُوْا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيْقُوْنَ، فَإِنَّ اللهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا، وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُوْوِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ  وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا

Dari Abu Salamah bahwa Aisyah radhiyallahu anha menceritakan kepadanya, katanya :  Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam tidak pernah melaksanakan puasa lebih banyak dalam sebulan selain bulan Sya'ban, yang beliau melaksanakan puasa bulan Sya'ban seluruhnya. Beliau bersabda : Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan berpaling (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu berpaling (dari mengerjakan amal) itu. Dan shalat yang paling Nabi Shallallahu alaihi Wassalam cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Dan Beliau bila sudah biasa melaksanakan shalat (sunnat) beliau menjaga kesinambungannya. (H.R. Bukhari no. 1970).

15. Anjuran shalat ghaib 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تُوُفِّىَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ مِنَ الْحَبَشِ فَهَلُمَّ فَصَلُّوا عَلَيْهِ. قَالَ فَصَفَفْنَا فَصَلَّى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَنَحْنُ صُفُوفٌ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu ia berkata, Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Hari ini telah meninggal seorang laki-laki yang shaleh di negeri Habsyi, maka berkumpul dan shalatlah kamu untuk dia. Jabir berkata : Lalu kami membuat shaf, kemudian Nabi Shallallahu alaihi Wassalam shalat untuk mayat itu, sedangkan kami bershaf-shaf. (H.R. Bukhari no. 1320, Ahmad no. 14515).

16. Anjuran shalat pada malam nishfu Sya'ban dan puasa pada siangnya 

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا يَوْمَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Ali bin Abi Thalib ia berkata,  Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Apabila tiba malam nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya. Karena sesungghnya (rahmat) Allah turun di saat tenggelamnya matahari ke langit yang paling bawah, lalu berfirman : Adakah yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rezeki kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya rezeki, Adakah yang sakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Allah akan mengkabulkan hajat hambanya yang memohon pada waktu itu) adakah yang demikian sampai terbit fajar. (H.R.Ibnu Majah no 1451).

17. Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudlu 

عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Dari Hammam bin Munabbih bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudlu. Seorang laki-laki dari Hadlramaut berkata : Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab : Kentut baik dengan suara atau tidak. (H.R. Bukhari no. 135).

Semoga bermanfaat...

Selasa, 01 Maret 2022

17 KUMPULAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT (BAGIAN 8)

Edisi Rabu, 2 Maret 2022 M / 28 Rajab 1443 H. 

Adapun waktu shalat lima waktu disebutkan oleh Al-Qur’an secara garis besar (mujmal) pada Surat Ar-Rum ayat 17-18. Adapun keterangan waktu shalat secara rinci didapatkan dari riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang asalnya juga terdapat pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam pada riwayat tersebut mengatakan, “Suatu hari Jibril mengimamiku shalat selama dua hari. Ia shalat zuhur bersamaku… di akhir shalat Subuh Jibril kemudian menoleh kepadaku, ‘Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para nabi sebelum kamu. Waktu shalat ada di antara keduanya (awal dan akhir waktu).’” (Al-Qaththan, 2012 M/1433 H: 140). 

Ketentuan shalat lima waktu dapat ditemukan keterangannya melalui hadits fi’li (al-bayanul fi’li). Jibril mengimami Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dalam ibadah shalat lima waktu selama dua hari berturut-turut. Keduanya melakukan shalat pada awal waktu (zuhur, ashar, maghrib, isya, dan subuh) pada hari pertama dan pada akhir waktu (zuhur, ashar, maghrib, isya, dan subuh) pada hari kedua. “Wahai Muhammad, waktu shalat ada di antara keduanya (awal dan akhir waktu tersebut).” (M Sulaiman Al-Asyqar, Af’alur Rasul wa Dalalatuha alal Ahkamis Syar’iyyah, [Yordan, Darun Nafa’is: 2015 M/1436 H], juz I, halaman 93). 

Sya’ban M Ismail mengatakan, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dan sahabatnya melakukan ibadah shalat sebelum ibadah shalat diwajibkan pada malam Isra’ dan Mir’aj 10 Hijriyah. Al-Qur’an telah menyebutkan ibadah shalat di awal-awal masa kerasulan seperti pada surat pertama, Surat Al-Alaq ayat 9-10 dan Surat Al-Qiyamah ayat 31-32 yang diturunkan sebelum peristiwa Isra’ dan Mir’aj. (Sya’ban M Ismail, Tarikhut Tasyri Al-Islami Marahiluhu wa Mashadiruhu, [Kairo, Darus Salam: 2015 M/1436 H], halaman 57-58).

Berikut ini beberapa Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang menyebutkan tentang Shalat :

1. Orang Buta Boleh Jadi Imam Shalat 

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَخْلَفَ ابْنَ أُمِّ مَكْتُوْمٍ يَؤُمُّ النَّاسَ وَهُوَ أَعْمَى.

Dari Anas bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi Wassalam meminta Ibnu Ummi Maktum menggantikan beliau mengimami orang banyak. padahal ia orang buta. (H.R. Abu Daud no. 595 dan Ahmad no. 13341).

2. Shalat Hari Raya Tanpa Adzan Dan Iqamah 

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Dari Jabir bin Samurah ia berkata : Saya telah menunaikan shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam tidak hanya sekali atau dua kali (lebih dari dua kali), yakni (beliau menunaikannya) tanpa adzan dan iqamah. (H.R.Muslim no. 2088).

3. Anjuran Shalat Dua Raka'at Meskipun Imam Telah Naik Mimbar 

عَنْ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدْ خَرَجَ اْلإِمَامُ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

Dari Amru ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdulah bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wassalam berkhutbah seraya bersabda : Jika salah seorang dari kalian datang untuk mengerjakan shalat Jum'at, sementara imam telah keluar (naik mimbar), hendaklah ia shalat dua raka'at. (H.R. Muslim no. 2059).

4. Menyuruh Anak Shalat Ketika Umur Tujuh Tahun 

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Dari Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya. (H.R. Abu Daud no. 495).

5. Meluruskan Shaf atau Barisan 

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

Dari Anas, dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Luruskan barisanmu, sesungguhnya meluruskan barisan termasuk mendirikan shalat. (H.R. Bukhari no. 723).

6. Nabi Shalat Beralaskan Tikar 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ، فَأَكَلَ مِنْهُ فَقَالَ قُوْمُوْا فَلأُصَلِّىَ بِكُمْ. فَقُمْتُ إِلَى حَصِيْرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُوْلِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْيَتِيْمُ مَعِى، وَالْعَجُوْزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ

Dari Anas bin Malik bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuknya. Beliau lantas memakannya lalu bersabda : Berdirilah kalian, aku akan pimpin shalat kalian. Maka aku berdiri di tikar milik kami yang sudah hitam lusuh akibat sering digunakan. Tikar itu kemudian aku perciki dengan air, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri diatasnya. Maka aku dan anak yatim yang tinggal bersama kami merapatkan shaf di belakang beliau sedangkan nenek kami berdiri di belakang kami. Nabi Shallallahu alaihi Wassalam kemudian shalat memimpim kami sebanyak dua rakaat. (H.R. Bukhari no. 860).

7. Nabi Dapat Melihat Sahabat di Belakangnya Ketika Shalat 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّى بِنَا النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً ثُمَّ رَقِىَ الْمِنْبَرَ، فَقَالَ فِى الصَّلاَةِ وَفِى الرُّكُوعِ إِنِّى لَأَرَاكُمْ مِنْ وَرَائِى كَمَا أَرَاكُمْ

Dari Anas bin Malik berkata : Nabi Shallallahu alaihi Wassalam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau naik mimbar dan bersabda : Sesungguhnya saat shalat dan rukuk, aku dapat melihat kalian dari belakangku sebagaimana sekarang aku melihat kalian. (H.R. Bukhari no. 419).

8. Nabi Shalat Sunnah di Atas Kendaraannya 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ، فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيْضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

Dari Jabir bin Abdullah berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam shalat diatas tunggangannya menghadap kemana arah tunggangannya menghadap. Jika beliau hendak melaksanakan shalat yang fardlu, maka beliau turun lalu shalat menghadap kiblat. (H.R. Bukhari no. 400).

9. Awal Ditetapkannya Shalat Adalah Dua Rakaat 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ قَالَتْ فَرَضَ اللهُ الصَّلاَةَ حِيْنَ فَرَضَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِى الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ، فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ، وَزِيَدَ فِى صَلاَةِ الْحَضَرِ

Dari Aisyah Ibu kaum Mu'minin, ia berkata : Allah telah mewajibkan shalat, dan awal diwajibkannya adalah dua rakaat dua rakaat, baik saat mukim atau saat dalam perjalanan. Kemudian ditetapkanlah ketentuan tersebut untuk shalat safar (dalam perjalanan), dan ditambahkan lagi untuk shalat di saat mukim. (H.R. Bukhari no. 350).

10. Dianjurkan baca ayat Al-Qur'an dalam shalat dzuhur dan ashar 

عَنْ أَبِى مَعْمَرٍ قَالَ قُلْتُ لِخَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ أَكَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ . قَالَ قُلْتُ بِأَىِّ شَىْءٍ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ قِرَاءَتَهُ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

Dari Abu Ma'mar ia berkata : Aku bertanya kepada sahabat Khabbab bin Al-Arat : Apakah Nabi Shallallahu alaihi Wassalam biasa membaca ayat di dalam shalat dzuhur dan ashar? Ia menjawab : Ya. Kemudian aku bertanya : Melalui apa kalian mengetahui bacaannya? Ia menjawab : Melalui goyangan janggutnya. (H.R. Bukhari no. 761).

11. Ancaman meninggalkan shalat wajib dengan sengaja 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ جِهَارًا

Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Barang siapa yang meninggalkan shalat (wajib) dengan sengaja maka ia telah menjadi kafir secara nyata. (H.R. Thabrani no. 3348 dalam kitab Al-Mu'jam Al-Ausath). 

12. Tempat shalat yang utama bagi wanita 

عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

Dari Abdullah, dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya dari pada shalatnya di kamarnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya dari pada di bagian lain di rumahnya (H.R. Abu Daud no. 570, Baihaqi no. 5567).

13. Wanita lebih baik shalat di rumah 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسْاجِدَ وَ بُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam  bersabda : Janganlah kamu melarang istri-istrimu (pergi shalat ke) masjid, namun (shalat) di rumah mereka lebih baik bagi mereka. (H.R. Ibnu Khuzaimah no. 1684).

14. Anjuran shalat di masjid yang terdekat 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّ الرَّجُلُ فِى الْمَسْجِدِ الَّذِى يَلِيْهِ وَلَا يَتَّبِعُ الْمَسَاجِدَ

Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Hendaknya seseorang shalat di masjid yang dekat dengannya, dan jangan mencari-cari masjid lain. (H.R. Thabrani dalam kitab Jami' Al-Ahadits, Juz XVIII, halaman 343).

15. Orang yang diberi keringanan tidak shalat Jum'at 

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Shalat Jum'at hak wajib bagi setiap orang muslim dengan berjamaah kecuali empat golongan, yaitu : Budak, seorang wanita, anak kecil dan orang sakit. (H.R. Abu Daud no. 1069, Baihaqi no. 5787).

16. Musafir tidak wajib shalat Jum'at 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ عَلَى مُسَافِرٍ جُمُعَةٌ

Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Tidak ada (kewajiban) atas orang musafir (bepergian jauh) shalat Jum'at.  (H.R. Thabrani no. 237 dalam Al-Mu'jam Al-Kabir). 

17. Keutamaan Shalat Berjama'ah 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda : Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat. (H.R. Bukhari no. 645).

Semoga bermanfaat....